Kesaksian Ofisial Persib U-18 Setelah Bus Rombongan Diserang di Batang

oleh -95 Dilihat
oleh
Kesaksian Ofisial Persib U-18 Setelah Bus Rombongan Diserang di Batang

Kota Bandung | Rombongan Persib U-18 mengalami serangan saat berhenti di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu malam, 11 Oktober 2026. Peristiwa tersebut melibatkan sejumlah oknum suporter yang disebut berinisial J. Berdasarkan keterangan awal, serangan tidak hanya menimbulkan kepanikan di anggota rombongan, tetapi juga berujung pada kekerasan terhadap ofisial tim, penjarahan barang, serta kerusakan pada bus yang digunakan untuk perjalanan.

Bus Persib U-18 berhenti di rest area tersebut dalam rangka beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Lokasi itu pada saat bersamaan juga digunakan oleh kelompok suporter J yang baru menyaksikan pertandingan tim mereka di Yogyakarta. Rombongan Persib memilih tempat tersebut secara acak untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidak menyadari keberadaan kelompok suporter yang berada di area yang sama.

Situasi kemudian berubah ketika kelompok suporter tersebut diduga mengetahui identitas rombongan yang berada di dalam bus. Serangan berlangsung dengan tindakan kekerasan terhadap ofisial, sementara sejumlah barang milik rombongan dilaporkan diambil secara paksa. Bus juga mengalami kerusakan akibat aksi tersebut, sehingga insiden tidak berhenti pada perselisihan antarsuporter, melainkan mencakup dugaan tindak pidana terhadap individu dan fasilitas kendaraan.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi di ruang publik yang semestinya memberikan rasa aman bagi setiap pengguna jalan untuk beristirahat. Kesaksian resmi dari ofisial Persib U-18 diharapkan dapat menjelaskan urutan kejadian, kondisi anggota rombongan, serta dampak yang ditimbulkan setelah serangan. Informasi mengenai pelaku, kerugian, dan langkah hukum selanjutnya tetap perlu menunggu hasil pemeriksaan serta keterangan resmi dari pihak berwenang.

Pandu Persada menjadi salah satu korban dalam penyerangan terhadap bus rombongan Persib U-18 di Batang. Dalam kesaksiannya, Pandu menceritakan bahwa ia turun dari bus bersama rekannya, Ridwan. Keduanya sempat mendapat peringatan agar lebih berhati-hati karena situasi di sekitar kendaraan mulai terlihat tidak aman. Namun, Pandu mengaku tidak terlalu menghiraukan peringatan tersebut. Ia merasa tidak melakukan atau mengganggu apa pun terhadap kelompok suporter yang berada di lokasi.

Ketika hendak kembali ke bus, Pandu melihat kendaraan rombongan telah dikerumuni sejumlah orang. Pada saat yang sama, ia menyaksikan Ridwan ditarik oleh salah satu suporter. Pandu kemudian berusaha melerai dan meminta Ridwan segera masuk ke dalam bus. Upaya itu membuatnya terpisah dari rekannya dan tertinggal seorang diri di tengah situasi yang semakin kacau.

Pandu melanjutkan, dirinya kemudian diminta membuka jersey Persib yang dikenakannya. Setelah itu, ia mengaku dikeroyok dan diminta segera pergi dari lokasi. Kesaksian tersebut menggambarkan kepanikan yang dialaminya ketika berusaha menjauh dari kerumunan, sementara bus dan rekan-rekannya sudah tidak lagi berada dalam jangkauannya.

Setelah jatuh, Pandu berusaha mencari tempat untuk berlindung. Ia kemudian menuju area tambal ban yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Petugas di tempat tersebut memberikan bantuan dan perlindungan kepadanya. Dengan bantuan itu, Pandu akhirnya berhasil menyelamatkan diri dari situasi tersebut. Kesaksian Pandu menjadi bagian penting dalam menggambarkan bagaimana serangan itu membuat anggota rombongan terpisah dan harus mencari keselamatan masing-masing.

Pelatih Persib U-18, Tito Agung Setiawan, menjelaskan bahwa situasi di sekitar bus berubah tegang ketika sejumlah suporter J masuk ke dalam kendaraan. Mereka disebut mendatangi rombongan, mengonfrontasi ofisial dan pemain, serta melontarkan intimidasi dan provokasi agar para pemain turun dari bus. Meski menghadapi tekanan tersebut, ofisial memilih menenangkan situasi dan meminta seluruh anggota rombongan tidak terpancing. Pemain juga diarahkan untuk tetap berada di tempat demi menghindari benturan yang lebih besar.

Ketegangan kemudian meningkat setelah bus dilempari batu dari luar. Lemparan tersebut menyebabkan beberapa kaca bus pecah, sementara serpihannya mengenai sejumlah pemain dan ofisial yang berada di dalam kendaraan. Tito menyampaikan bahwa kondisi itu membuat rombongan harus lebih berhati-hati karena keselamatan seluruh anggota tim berada dalam risiko. Para pemain berusaha menjauh dari bagian bus yang kacanya pecah, sedangkan ofisial berupaya menjaga mereka tetap tenang selama situasi belum terkendali.

Menurut keterangan Tito, jersey Persib yang dikenakan Pandu diduga menjadi salah satu pemicu penyerangan. Pakaian tersebut diduga menarik perhatian pihak yang berada di sekitar rest area dan kemudian memunculkan konfrontasi terhadap rombongan. Namun, informasi itu disampaikan sebagai dugaan berdasarkan situasi yang dialami di lokasi. Tito menegaskan bahwa rombongan tidak melakukan tindakan provokatif dan memilih menahan diri meskipun mendapat tekanan serta serangan terhadap bus.

Setelah keadaan memburuk, bus dipaksa meninggalkan rest area untuk mencari tempat yang lebih aman sekaligus mendapatkan bantuan. Rombongan kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian terdekat. Polresta Batang menindaklanjuti laporan itu dengan menjemput Pandu, yang tertinggal di Rest Area KM 360. Langkah tersebut dilakukan ketika tim berupaya memastikan seluruh pemain dan ofisial terdata serta dapat melanjutkan perjalanan dalam kondisi yang lebih aman.

Pandu berharap aparat kepolisian dapat mengusut penyerangan terhadap bus rombongan Persib U-18 secara tuntas. Menurutnya, proses penyelidikan penting dilakukan untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi seluruh pihak yang terlibat, serta memastikan peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Berdasarkan kabar yang diterimanya, salah seorang yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut telah ditangkap. Namun, proses pengungkapan perkara masih menghadapi kendala karena para pelaku disebut menutup wajah ketika melakukan aksi, sehingga sulit dikenali melalui pengamatan langsung maupun rekaman yang tersedia.

Peristiwa itu juga meninggalkan dampak psikologis bagi para pemain Persib U-18. Sejumlah pemain disebut mengalami trauma setelah bus yang mereka tumpangi diserang dalam perjalanan. Rasa takut dan kecemasan tersebut menjadi perhatian tim karena para pemain masih harus mengikuti rangkaian kompetisi di luar kota. Mereka dituntut tetap berkonsentrasi menjalani pertandingan, sementara pengalaman yang baru dialami berpotensi memengaruhi kondisi mental dan rasa aman selama perjalanan.

Situasi tersebut membuat tim perlu memperoleh dukungan yang lebih kuat dari berbagai pihak. Pengamanan bukan hanya diperlukan ketika pertandingan berlangsung, melainkan juga saat rombongan berangkat, berpindah tempat, dan kembali ke daerah asal. Koordinasi panitia kompetisi, klub, aparat keamanan, serta pemerintah daerah dinilai penting untuk memetakan risiko dan menentukan langkah pencegahan di setiap lokasi yang akan didatangi.

Tito meminta agar rombongan Persib U-18 mendapatkan pendampingan selama menjalani pembinaan dan mengikuti kompetisi. Ia juga berharap terdapat perwakilan TNI dan Polri yang dapat memberikan rasa aman kepada para pemain, pelatih, dan ofisial. Kehadiran personel keamanan diharapkan mampu mencegah potensi gangguan sekaligus membantu tim memulihkan kepercayaan diri setelah insiden tersebut. Dengan perlindungan dan penanganan yang memadai, agenda pembinaan pemain muda dapat tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan seluruh rombongan.

Baca juga: Rombongan Persib EPA U-18 Diserang di Batang, Manajemen Desak Pelaku Diproses | Rombongan Persib U18 Diduga Diserang di Rest Area Batang, Bus Rusak dan Barang Tim Dijarah | Insiden di Rest Area Batang, Rombongan Persib U-18 Jadi Korban Penyerangan dan Penjarahan