Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Dalam sesi perdagangan tersebut, IHSG sempat anjlok 1,74 persen dan berada di level 5.832,76. Posisi itu mencerminkan penurunan sebesar 103,39 poin dibandingkan level perdagangan sebelumnya. Pergerakan indeks menjadi perhatian karena penurunan berlangsung cukup signifikan dalam satu hari perdagangan.
Selain mencatat pelemahan pada level indeks, perdagangan saham pada hari itu juga diikuti oleh aktivitas transaksi di pasar modal. Berdasarkan data perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai 123,95 juta lot. Sementara itu, nilai transaksi saham berada di angka Rp2.644,42 miliar. Data tersebut menggambarkan jumlah aktivitas perdagangan yang berlangsung sepanjang sesi, tanpa mengubah fakta bahwa IHSG tetap berada dalam tekanan.
Dengan demikian, catatan perdagangan Selasa menunjukkan bahwa IHSG ditutup atau bergerak pada level 5.832,76 setelah mengalami penurunan 103,39 poin. Pelemahan tersebut setara dengan 1,74 persen, sementara volume perdagangan mencapai 123,95 juta lot dan nilai transaksi menembus Rp2.644,42 miliar. Angka-angka ini menjadi gambaran utama kondisi perdagangan saham domestik pada 13 Oktober 2026, ketika indeks berada di zona merah sepanjang pengamatan yang dilaporkan.
Tekanan terhadap IHSG pada perdagangan tersebut terutama berasal dari pelemahan sejumlah sektor dengan kapitalisasi dan pengaruh besar terhadap pergerakan indeks. Sektor keuangan menjadi pemberat utama setelah turun 1,05 persen. Penurunan ini menunjukkan meningkatnya tekanan jual pada saham-saham perbankan dan emiten terkait jasa keuangan, yang kemudian ikut memperlemah sentimen pasar secara keseluruhan. Ketika sektor ini bergerak negatif, kemampuan indeks untuk bertahan di zona positif menjadi lebih terbatas.
Selain sektor keuangan, sektor material dasar juga melemah 0,89 persen, sedangkan sektor teknologi terkoreksi 0,84 persen. Pelemahan pada kedua sektor tersebut menambah luas tekanan pasar, khususnya ketika investor cenderung mengurangi eksposur pada saham-saham yang sensitif terhadap perubahan sentimen global. Kombinasi penurunan di tiga sektor itu menjadi faktor langsung yang menekan IHSG, meskipun kondisi masing-masing emiten tetap dipengaruhi oleh kinerja dan prospek bisnisnya.
Sejumlah saham tercatat menjadi pemberat indeks dalam sesi tersebut. Di antaranya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA). Daftar tersebut mencerminkan adanya tekanan pada saham perbankan, telekomunikasi, teknologi mobilitas, serta perusahaan yang bergerak di bidang energi dan industri pendukung.
Di tengah dominasi tekanan jual, beberapa saham tercatat menjadi penopang koreksi atau membantu menahan pelemahan indeks. Saham tersebut meliputi PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO), PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk. (BIKE), dan PT Petrosea Tbk. (PTRO). Posisi sebagai penopang tidak berarti menghapus penurunan IHSG, melainkan menunjukkan bahwa masih terdapat saham yang bergerak relatif lebih kuat ketika mayoritas pasar berada di bawah tekanan.
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kelompok Houthi dari Yaman kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi pada Senin, 12 Oktober 2026. Serangan tersebut berlangsung ketika konflik yang meluas dari perang Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko gangguan keamanan di kawasan. Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan adanya ancaman serangan baru, sehingga perhatian investor tertuju pada kemungkinan eskalasi berikutnya.
Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Selain menargetkan wilayah perkotaan, Houthi juga mengarahkan serangan terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur strategis Arab Saudi. Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global, terutama karena gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi persepsi risiko di pasar komoditas. Kenaikan harga minyak dapat terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar, meskipun arah dan besarnya dampak tetap bergantung pada perkembangan serangan serta respons negara-negara terkait.
Arab Saudi terlibat dalam konflik Yaman sebagai upaya menekan Houthi, yang memiliki posisi strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi lalu lintas energi dan perdagangan internasional. Di tengah situasi yang memburuk, Iran menawarkan diri sebagai mediator, sedangkan Uni Emirat Arab menyerukan penguatan kerja sama keamanan di negara-negara Teluk. Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan adanya upaya diplomatik untuk mencegah konflik meluas dan menjaga stabilitas kawasan.
Amerika Serikat juga menjadi faktor penting dalam perhitungan risiko geopolitik. Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam serangan terhadap Houthi. Namun, hingga perkembangan terakhir, belum terdapat tanda bahwa Amerika Serikat telah memulai operasi militer. Ketidakpastian mengenai respons Washington dapat membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dan meningkatkan sensitivitas terhadap pergerakan harga minyak serta aset berisiko.
Pasar keuangan Indonesia masih menghadapi sejumlah tekanan setelah perdagangan sebelumnya. Perhatian investor tertuju pada perkembangan konflik global, pergerakan harga komoditas, penguatan indeks dolar, serta isu Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kombinasi sentimen tersebut menjadi pertimbangan dalam aktivitas perdagangan karena berpotensi memengaruhi persepsi terhadap risiko pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Harga minyak dunia meningkat hampir US$2 per barel pada Senin, 12 Oktober 2026. Kenaikan itu berlangsung setelah serangan terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan. Kontrak minyak Brent ditutup naik US$1,93 atau 1,8 persen menjadi US$106,65 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,89 atau 2 persen ke posisi US$93,74 per barel.
Sentimen di pasar energi turut dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar. Di sisi lain, pasar mencermati tambahan pasokan setelah Donald Trump mengumumkan peningkatan ekspor diesel Rusia. Pengumuman mengenai gencatan senjata Rusia-Ukraina untuk serangan terhadap infrastruktur energi juga menjadi bagian dari perhatian pelaku pasar ketika menilai prospek pasokan komoditas dan risiko geopolitik.
Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati, menyampaikan bahwa isu pasar masih berkaitan dengan MSCI dan tetap membayangi pergerakan IHSG. Pasar mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Selain itu, terdapat perhatian terhadap kemungkinan pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan berlangsung pada semester II 2027. Isu tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor, tanpa mengesampingkan pengaruh konflik global, harga minyak, dan dinamika indeks dolar terhadap pasar keuangan domestik.
Baca juga: IHSG Tertekan 1,31% pada Awal Perdagangan, Pasar Dibayangi Sentimen Global | ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel di Tengah Gejolak Pasar Global | Bahlil Ungkap Diplomasi Indonesia Mencari Pasokan Minyak Mentah di Tengah Gejolak Global







