IHSG Tertekan 1,31% pada Awal Perdagangan, Pasar Dibayangi Sentimen Global

oleh -65 Dilihat
oleh
IHSG Tertekan 1,31% pada Awal Perdagangan, Pasar Dibayangi Sentimen Global

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada awal perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Pada pukul 09.24 WIB, indeks berada di level 5.858,52. Posisi tersebut menunjukkan penurunan sebesar 77,62 poin atau 1,31% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level 5.936,15. Pelemahan ini menandai pergerakan negatif sejak awal sesi dan menunjukkan bahwa tekanan jual masih cukup kuat di pasar saham domestik.

Penurunan IHSG pada pukul 09.24 WIB juga tercatat lebih dalam dibandingkan kondisi satu menit sebelumnya. Pada pukul 09.23 WIB, indeks turun 1,10% ke level 5.871,03. Dengan demikian, dalam rentang waktu singkat tersebut, IHSG kembali kehilangan sejumlah poin dan bergerak semakin menjauh dari posisi penutupan hari sebelumnya. Perubahan cepat pada awal perdagangan mencerminkan tingginya respons pelaku pasar terhadap berbagai sentimen yang memengaruhi keputusan investasi.

Sebelum memasuki tekanan yang lebih besar, IHSG dibuka di level 5.914,98. Level pembukaan itu sudah melemah 0,36% dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.936,15. Pergerakan setelah pembukaan kemudian memperlihatkan pelemahan yang berlanjut hingga indeks mencapai level 5.858,52. Kondisi tersebut menempatkan perhatian investor pada perkembangan pasar sepanjang sesi perdagangan, terutama karena arah indeks masih dapat dipengaruhi oleh sentimen global dan perubahan persepsi terhadap risiko. Investor cenderung mencermati stabilitas pergerakan indeks, kekuatan transaksi, serta respons saham-saham berkapitalisasi besar untuk menilai kemungkinan berlanjutnya tekanan atau munculnya pemulihan pada perdagangan berikutnya.

Pergerakan IHSG berubah cepat sejak perdagangan dibuka. Pada awal sesi, indeks sempat bergerak menguat dan mencapai level tertinggi 5.918,29. Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama karena tekanan jual segera muncul di pasar. Sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG turun ke area 5.890, menandai berbaliknya arah pergerakan setelah menyentuh posisi tertinggi pada awal perdagangan.

Penurunan itu sempat mereda beberapa menit kemudian. Sekitar pukul 09.03 WIB, indeks memantul ke kisaran 5.913. Pemulihan tersebut masih terbatas dan belum mampu mengembalikan IHSG ke level puncak sebelumnya. Menjelang pukul 09.10 WIB, tekanan jual kembali menguat sehingga indeks bergerak turun ke kisaran 5.873. Perubahan arah yang berlangsung dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pelaku pasar masih merespons perkembangan sentimen dengan hati-hati.

Tekanan berikutnya membawa IHSG ke titik terendah harian pada sekitar pukul 09.12 WIB, yakni level 5.848,50. Posisi tersebut berada sekitar 70 poin di bawah level tertinggi yang dicapai setelah pembukaan. Setelah menyentuh titik tersebut, indeks kembali memantul, tetapi pergerakannya cenderung terbatas pada kisaran 5.870–5.880. Menjelang pukul 09.24 WIB, pelemahan kembali terlihat ketika indeks turun ke area 5.850. IHSG kemudian naik tipis ke sekitar 5.859, meskipun penguatan itu belum menunjukkan perubahan arah yang kuat. Secara keseluruhan, pergerakan pada awal sesi berlangsung fluktuatif, dengan beberapa kali pantulan yang belum mampu menghapus tekanan jual sejak indeks meninggalkan level tertingginya.

Aktivitas perdagangan saham menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pukul 09.24 WIB. Berdasarkan data yang tersedia, volume transaksi telah mencapai 114,94 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp2,36 triliun. Angka tersebut menggambarkan ramainya perpindahan saham pada awal sesi perdagangan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di bawah tekanan.

Sebagai perbandingan, pada pukul 09.00 WIB volume transaksi baru tercatat sebesar 12,78 juta lot, sedangkan nilai transaksi mencapai Rp264,6 miliar. Dalam rentang waktu sekitar 24 menit, volume transaksi meningkat lebih dari delapan kali lipat, sementara nilai transaksi juga bertambah secara tajam hingga mendekati Rp2,4 triliun. Perubahan ini menunjukkan bahwa aktivitas pasar berkembang cepat setelah perdagangan dibuka.

Peningkatan volume dan nilai transaksi tersebut berlangsung bersamaan dengan pelemahan IHSG sebesar 1,31% pada awal perdagangan. Dengan demikian, data pada pukul 09.24 WIB mencatat intensitas transaksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi pada pukul 09.00 WIB. Pergerakan ini tercermin dari bertambahnya jumlah lot yang diperdagangkan dan akumulasi nilai transaksi dalam waktu singkat.

Perbandingan kedua waktu tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika perdagangan selama awal sesi. Pada pukul 09.00 WIB, transaksi masih berada pada tahap awal dengan volume 12,78 juta lot dan nilai Rp264,6 miliar. Dua puluh empat menit kemudian, volume meningkat menjadi 114,94 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp2,36 triliun. Data tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas pasar yang berlangsung seiring tekanan terhadap IHSG, tanpa mengubah rincian angka yang tercatat pada masing-masing waktu pengamatan.

Pergerakan pasar pada awal perdagangan dibayangi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Pada Senin, 12 Oktober 2026, kelompok Houthi dari Yaman dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi. Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Ancaman terhadap fasilitas minyak serta infrastruktur penting Arab Saudi memicu kekhawatiran mengenai kesinambungan pasokan energi global dan meningkatkan persepsi risiko di pasar keuangan.

Perkembangan diplomatik turut menjadi perhatian investor. Iran menawarkan diri sebagai mediator Houthi dan Arab Saudi, sedangkan Uni Emirat Arab menyerukan penguatan kerja sama keamanan di negara-negara Teluk. Sampai saat itu, belum terdapat tanda-tanda operasi militer Amerika Serikat, meskipun Donald Trump sebelumnya menyatakan Washington mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi untuk menyerang Houthi. Ketidakpastian mengenai arah konflik membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Sentimen lainnya datang dari kenaikan harga minyak dunia hampir US$2 per barel pada perdagangan Senin. Kontrak Brent naik US$1,93 atau 1,8% menjadi US$106,65 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,89 atau 2% ke US$93,74 per barel. Kenaikan tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan biaya impor energi. Di sisi lain, analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menyebut pasar masih mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, serta prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan pada semester II-2027. Isu MSCI tersebut masih membayangi pergerakan IHSG karena dapat memengaruhi aliran dana asing dan persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia.

Baca juga: Rupiah Berakhir di Rp17.913 per Dolar AS, Sentimen Global Jadi Perhatian | ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel di Tengah Gejolak Pasar Global | Industri Tertekan akibat Pasokan Gas Menyusut, Pengusaha Soroti Ancaman PHK