ICP September 2026 Menanjak ke US$112,81 di Tengah Gejolak Pasar Minyak Global

oleh -115 Dilihat
oleh
ICP September 2026 Menanjak ke US$112,81 di Tengah Gejolak Pasar Minyak Global

Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) untuk September 2026 sebesar US2,81 per barel. Penetapan tersebut merupakan keputusan resmi pemerintah yang tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia bulan September 2026. Dengan keputusan ini, nilai ICP September 2026 resmi ditetapkan pada level US2,81 per barel.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan posisi ICP pada Agustus 2026 yang berada di level US$89,43 per barel. Dengan demikian, rata-rata harga minyak mentah Indonesia meningkat sebesar US$23,38 per barel dalam perbandingan kedua bulan tersebut. Selisih itu menegaskan bahwa penetapan untuk September 2026 berada jauh di atas nilai yang ditetapkan pada bulan sebelumnya.

Perubahan dari US$89,43 per barel pada Agustus menjadi US$112,81 per barel pada September tercantum dalam keputusan Menteri ESDM tersebut. Oleh karena itu, besaran kenaikan US$23,38 per barel menjadi bagian penting dari penetapan ICP September 2026. Keputusan Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 secara resmi memuat harga minyak mentah Indonesia untuk September 2026, termasuk rata-rata ICP sebesar US$112,81 per barel dan perbandingannya dengan posisi Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menjelaskan bahwa kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) September 2026 menjadi US$112,81 per barel mencerminkan dinamika pasar minyak global. Pergerakan harga tersebut tidak terlepas dari ketidakpastian geopolitik yang semakin kuat serta meningkatnya risiko gangguan terhadap pasokan minyak dunia. Kondisi ini membuat pelaku pasar memberikan perhatian lebih besar terhadap keamanan jalur distribusi, kesinambungan produksi, dan kemampuan negara-negara produsen memenuhi kebutuhan global.

Laode menerangkan, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah menjadi faktor penting yang memperbesar kekhawatiran pasar. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi ekspor minyak dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat memengaruhi kelancaran pengiriman dan membentuk sentimen kenaikan harga.

Risiko itu tercermin dari penurunan ekspor minyak mentah yang melewati Selat Hormuz. Volume ekspor melalui rute tersebut sempat turun hingga 28 persen dibandingkan Juli. Penurunan ini menunjukkan bahwa pelaku usaha dan operator pelayaran mulai memperhitungkan ancaman keamanan dalam menentukan rute, jadwal, serta kelangsungan pengiriman komoditas energi.

Selain gangguan terhadap jalur pelayaran, kawasan tersebut juga menghadapi serangan terhadap infrastruktur energi. Salah satu langkah pencegahan dilakukan Arab Saudi dengan menutup sementara pipa East-West setelah terjadi serangan drone. Pipa ini memiliki kapasitas pengangkutan hingga 7 juta barel per hari dan berperan penting dalam mengalihkan distribusi minyak, terutama ketika jalur laut menghadapi risiko.

Menurut Laode, rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa harga ICP dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental dan risiko geopolitik. Ketidakpastian atas keamanan fasilitas energi serta jalur ekspor dapat mendorong premi risiko di pasar minyak global, meskipun perubahan harga tetap bergantung pada perkembangan konflik, respons diplomatik, dan kondisi pasokan berikutnya.

Ketatnya pasokan minyak mentah global tidak hanya dipengaruhi oleh gejolak di pasar minyak, tetapi juga oleh kombinasi kebijakan produksi dan gangguan terhadap infrastruktur energi. Penundaan penyesuaian kuota produksi oleh OPEC menjadi salah satu faktor yang turut membentuk persepsi pasar. Keputusan untuk menunda perubahan kuota tersebut membuat pelaku pasar tetap mencermati kemampuan pasokan dalam memenuhi kebutuhan ketika berbagai risiko operasional masih berlangsung di sejumlah wilayah penting.

Tekanan tambahan datang dari serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia. Gangguan pada fasilitas pengolahan maupun jalur pengiriman dapat menghambat aliran minyak mentah dan produk olahan menuju pasar internasional. Situasi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap keandalan kapasitas ekspor, terutama ketika fasilitas yang terdampak memiliki peran dalam menjaga kelancaran distribusi dari kawasan produsen utama.

Risiko serupa juga muncul di kawasan Laut Merah, yang menjadi jalur penting bagi pergerakan energi dan komoditas global. Serangan terhadap fasilitas serta ancaman keamanan di sekitar rute tersebut menambah ketidakpastian bagi kegiatan pengiriman minyak. Rangkaian gangguan di Rusia dan Laut Merah menunjukkan bahwa tekanan pasokan tidak berasal dari satu titik saja, melainkan terbentuk melalui beberapa hambatan yang terjadi bersamaan pada produksi, pengolahan, dan distribusi.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan harga tercatat terjadi pada seluruh minyak mentah utama dunia. Pergerakan serentak itu mencerminkan meningkatnya risiko pasokan di pasar global, ketika kebijakan produksi OPEC dan gangguan infrastruktur mempersempit ruang penyesuaian pasokan. Pelaku pasar kemudian terus memantau perkembangan serangan, kondisi fasilitas energi, serta keputusan produksi berikutnya untuk menilai keberlanjutan aliran minyak mentah internasional.

Indonesian Crude Price (ICP) untuk Oktober 2026 diproyeksikan masih bertahan pada level tinggi, meskipun mulai melandai dibandingkan capaian September yang mencapai US$112,81 per barel. Perkiraan harga berada dalam kisaran US$98 hingga US$103 per barel. Proyeksi tersebut mencerminkan masih kuatnya pengaruh ketegangan geopolitik, gangguan pasokan, serta perubahan kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak terhadap pasar global. Namun, penurunan menuju kisaran tersebut juga menunjukkan adanya peluang normalisasi setelah gejolak harga minyak yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Laode menegaskan bahwa pemerintah bersama pihak terkait akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia secara berkala. Pemantauan ini diperlukan untuk menentukan langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional, termasuk mengantisipasi dampaknya terhadap biaya impor, penerimaan negara, dan keberlanjutan pasokan bahan bakar. Perkembangan pasar internasional akan menjadi salah satu pertimbangan dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan kepentingan fiskal, kebutuhan masyarakat, dan keberlangsungan kegiatan industri energi.

Di tengah dinamika tersebut, formula ICP dipastikan tetap transparan dan mencerminkan perubahan kondisi pasar internasional. Prinsip ini penting agar penetapan harga dapat dipertanggungjawabkan, baik dalam pengelolaan keuangan negara maupun pelaksanaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. Dengan formula yang terbuka dan berbasis indikator pasar, para pelaku usaha dapat memperoleh kepastian yang lebih baik dalam menyusun perencanaan operasional dan investasi. ICP juga berfungsi sebagai acuan penting untuk menghitung penerimaan negara dari sektor hulu migas serta menetapkan asumsi makro dalam APBN. Melalui pemantauan yang ketat dan penetapan harga yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi sekaligus memperkuat daya tahan perekonomian terhadap perubahan harga minyak dunia.

Baca juga: ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel di Tengah Gejolak Pasar Global | Bahlil Ungkap Diplomasi Indonesia Mencari Pasokan Minyak Mentah di Tengah Gejolak Global | IHSG Tertekan 1,74 Persen, Pasar Dibayangi Gejolak Global dan Isu MSCI