Dua Risiko yang Dinilai Paling Mengancam Kelangsungan Hidup Manusia Abad Ini

oleh -107 Dilihat
oleh
Dua Risiko yang Dinilai Paling Mengancam Kelangsungan Hidup Manusia Abad Ini

Jakarta | Survei besar yang melibatkan puluhan pakar kesehatan dunia memetakan 17 ancaman utama yang dapat dihadapi manusia sepanjang abad ini. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal kedokteran The Lancet dan memuat penilaian mengenai berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi kelangsungan hidup manusia. Hasil pemetaan ini memperlihatkan bahwa ancaman pada abad ini perlu dipahami secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan kemungkinan terjadinya, tetapi juga berdasarkan besarnya dampak yang mungkin ditimbulkan. Publikasi mengenai temuan survei tersebut tersedia pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Di 17 ancaman yang dipetakan, sebagian dinilai memiliki kemungkinan relatif kecil untuk terjadi. Namun, peluang yang rendah tidak berarti risiko tersebut dapat diabaikan. Apabila terjadi, dampaknya dapat sangat besar dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia. Karena itu, penilaian terhadap ancaman tidak cukup dilakukan dengan melihat seberapa sering atau seberapa mungkin suatu peristiwa berlangsung. Besarnya konsekuensi juga menjadi pertimbangan utama dalam menentukan risiko yang patut mendapatkan perhatian.

Temuan para pakar menunjukkan adanya perbedaan kemungkinan dan dampak dalam menilai ancaman bagi manusia. Risiko yang jarang terjadi tetap dapat menjadi perhatian utama apabila akibatnya sangat luas. Perspektif tersebut menjadi bagian penting dari pemetaan yang diterbitkan The Lancet, karena membantu menempatkan setiap ancaman berdasarkan dua unsur tersebut. Dengan demikian, survei ini menyajikan gambaran mengenai 17 risiko utama yang dapat dihadapi manusia sepanjang abad ini, termasuk risiko dengan kemungkinan relatif kecil tetapi konsekuensi yang sangat besar. Hasil penelitian itu dipublikasikan pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Tim peneliti yang dipimpin Profesor Christopher JL Murray dari Universitas Washington menempatkan dua risiko ekstrem sebagai ancaman yang secara teoritis dapat mengakhiri peradaban manusia. Penilaian tersebut tidak menyatakan bahwa salah satu peristiwa telah terjadi, melainkan menggambarkan kemungkinan terburuk apabila perkembangan teknologi, keputusan politik, dan kegagalan pengawasan berlangsung tanpa kendali. Kedua risiko itu adalah kecerdasan buatan yang lepas kendali dan konflik nuklir berskala luas.

Risiko pertama berkaitan dengan kecerdasan buatan yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahami, mengarahkan, dan membatasi tindakannya. Dalam skenario ekstrem, sistem AI dapat dimanfaatkan untuk merancang strategi berbahaya, mempercepat pengembangan teknologi destruktif, atau membantu aktor tertentu menciptakan senjata biologis. Ancaman tersebut menjadi lebih serius apabila agen biologis dapat dibuat atau dimodifikasi dengan bantuan AI, kemudian disebarkan secara cepat melalui jaringan global. Peneliti menilainya sebagai kemungkinan hipotetis yang memerlukan pencegahan, bukan sebagai bukti bahwa senjata semacam itu telah digunakan.

Risiko kedua adalah konflik nuklir. Ketegangan negara-negara bersenjata nuklir, salah perhitungan, atau keputusan yang diambil dalam situasi krisis dapat, menurut skenario penelitian, berkembang dari bentrokan terbatas menjadi perang nuklir berskala luas. Dampaknya tidak hanya berupa kehancuran langsung di wilayah yang terkena serangan. Ledakan besar, kebakaran, dan gangguan atmosfer berpotensi mengurangi produksi pangan serta mengacaukan rantai pasok internasional.

Dalam gambaran terburuk, krisis pangan tersebut dapat meluas ke berbagai benua, meningkatkan kelaparan, penyakit, perpindahan penduduk, dan ketidakstabilan sosial. Karena itu, temuan tim Murray lebih tepat dipahami sebagai peringatan berbasis risiko mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi, bukan ramalan. Penguatan tata kelola AI, pengendalian senjata biologis, komunikasi antarpemerintah, serta upaya mengurangi kemungkinan perang nuklir dipandang penting untuk mencegah skenario ekstrem tersebut.

Selain dua risiko yang dinilai paling mengancam kelangsungan hidup manusia pada abad ini, terdapat sejumlah skenario lain yang secara teori dapat menimbulkan kerusakan global. Tabrakan asteroid berukuran besar, misalnya, berpotensi memicu gelombang kejut, kebakaran luas, tsunami, serta perubahan iklim mendadak. Rangkaian dampak tersebut dapat mengganggu produksi pangan dan menyebabkan kepunahan dalam skala besar. Letusan gunung berapi super juga memiliki kemungkinan serupa. Material vulkanik yang tersebar ke atmosfer dapat mengurangi sinar matahari, menurunkan suhu bumi, dan mengacaukan sistem pertanian selama bertahun-tahun.

Meskipun daya rusaknya sangat besar, kedua peristiwa tersebut tidak ditempatkan sebagai prioritas utama penelitian untuk abad ini. Pertimbangannya terutama berkaitan dengan probabilitas. Tabrakan asteroid yang cukup besar untuk mengancam peradaban diperkirakan sangat jarang, sementara letusan gunung berapi super juga memiliki interval kejadian yang amat panjang. Dengan demikian, ancaman itu tetap penting untuk dipantau dan dipahami, tetapi peluang terjadinya sebelum 2100 dinilai terlalu kecil dibandingkan risiko lain yang lebih mungkin berlangsung dalam rentang waktu yang sama.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa besarnya dampak saja tidak cukup untuk menentukan prioritas. Para peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan terjadinya, kecepatan perkembangan ancaman, serta peluang manusia untuk mencegah atau mengurangi akibatnya. Risiko dengan peluang lebih tinggi, meskipun tidak secara langsung memusnahkan umat manusia, dapat menghasilkan kerugian kesehatan dan sosial yang jauh lebih besar jika tidak segera ditangani.

Di luar dua risiko ekstrem itu, terdapat 15 ancaman besar lainnya yang diperkirakan mampu menghilangkan lebih dari satu miliar tahun kehidupan sehat manusia hingga 2100. Ukuran ini mencakup tidak hanya kematian, tetapi juga tahun-tahun hidup yang hilang akibat penyakit, kecacatan, dan penurunan kualitas hidup. Besarnya dampak tersebut disebut setara dengan sekitar dua kali dampak pandemi COVID-19. Karena itu, penelitian dan kebijakan tidak semestinya hanya berfokus pada skenario kepunahan, melainkan juga pada ancaman yang lebih mungkin terjadi dan berpotensi menimbulkan penderitaan luas.

Temuan mengenai dua risiko yang dinilai dapat mengancam kelangsungan hidup manusia pada abad ini tidak semata-mata dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan. Peringatan tersebut terutama berfungsi sebagai ajakan agar masyarakat dan para pengambil keputusan memahami besarnya tantangan yang sedang dihadapi. Dengan mengenali risiko secara lebih terbuka, berbagai pihak memiliki kesempatan untuk menyiapkan kebijakan, memperkuat kerja sama, dan mencegah keadaan berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Christopher JL Murray menekankan bahwa hal yang paling mencolok dari temuan itu adalah manusia masih memiliki kendali untuk mengatasi ancaman tersebut. Artinya, masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi yang ada saat ini. Pilihan terkait kebijakan publik, pengelolaan sumber daya, kesehatan, lingkungan, serta keamanan dapat memengaruhi arah perkembangan risiko. Kemampuan untuk bertindak masih tersedia, tetapi peluang itu bergantung pada kesediaan para pemimpin untuk mengambil keputusan yang tepat dan tidak menunda respons.

Keputusan para pemimpin pada masa kini akan turut menentukan nasib generasi mendatang. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat saat ini, tetapi juga oleh anak-anak dan kelompok yang belum lahir, yang mungkin harus menghadapi konsekuensi dari keputusan yang dibuat hari ini. Karena itu, langkah pencegahan perlu dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar agenda jangka pendek atau kepentingan satu negara.

Sumber menyebut para ahli menyarankan tiga langkah mendesak untuk merespons ancaman tersebut. Namun, rincian mengenai langkah-langkah itu tidak tersedia dalam bahan yang ada, sehingga tidak tepat untuk menambahkan atau menafsirkannya secara spekulatif. Pesan utamanya tetap jelas: risiko besar bukan alasan untuk menyerah, melainkan dorongan untuk bertindak berdasarkan bukti, memperkuat kolaborasi, dan menggunakan kendali yang masih dimiliki manusia sebelum pilihan-pilihan tersebut menjadi semakin terbatas.

Baca juga: Kabut Asap Karhutla Membatasi Aktivitas Warga Samarinda dan Mengancam Kesehatan Anak | Pencalonan Budi Gunadi Sadikin di WHO Dinilai Dorong Reformasi Kesehatan Global | Sumatera Utara Dinilai Konsisten Mendukung Pembinaan Timnas Usia Muda