JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Empat penerbang tempur TNI Angkatan Udara dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin berhasil menuntaskan penerbangan solo menggunakan pesawat tempur Rafale pada Senin, 5 Oktober. Penerbangan tersebut menjadi bagian penting dari proses pengoperasian Rafale oleh para penerbang Indonesia, karena dilaksanakan secara mandiri setelah mereka mengikuti tahapan yang ditetapkan dalam program konversi.
Kegiatan itu merupakan terbang solo konversi batch C pesawat tempur Rafale. Dalam penerbangan ini, keempat penerbang menyelesaikan tahapan penerbangan tanpa didampingi penerbang lain di dalam pesawat. Pencapaian tersebut menandai keberhasilan mereka dalam menjalankan salah satu tahapan penting untuk mengoperasikan pesawat tempur Rafale secara solo.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana menyampaikan bahwa empat penerbang Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin telah melaksanakan terbang solo konversi batch C Rafale pada Senin, 5 Oktober. Keterangan tersebut menegaskan bahwa penerbangan solo itu telah diselesaikan oleh seluruh penerbang yang mengikuti tahapan tersebut.
Keberhasilan empat penerbang ini memperlihatkan bahwa tahapan konversi menuju pengoperasian Rafale dapat dilaksanakan sesuai proses yang ditetapkan. Terbang solo menjadi bagian penting dalam perjalanan penerbang tempur TNI AU untuk menguasai pengoperasian pesawat tersebut. Dengan rampungnya penerbangan pada batch C, keempat penerbang Indonesia telah menyelesaikan kegiatan solo yang menjadi bagian dari tahapan pengoperasian Rafale di Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin.
Empat penerbang tempur dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin berhasil menyelesaikan tahapan terbang solo dalam rangkaian konversi pesawat tempur Rafale. Keempat personel tersebut adalah Mayor Pnb M. Reza Sapta N., Mayor Pnb Fero Ahmando, Mayor Pnb M. Teguh Eko P., dan Kapten Pnb Ghazi Umar Marsuq. Pencapaian ini menandai salah satu tahapan penting bagi para penerbang dalam memahami serta mengoperasikan pesawat yang menjadi bagian dari penguatan kemampuan tempur TNI Angkatan Udara.
Mayor Pnb M. Reza Sapta N. merupakan salah satu penerbang yang menyelesaikan misi solo tersebut. Ia menjalani tahapan penerbangan bersama tiga penerbang lain dari Skadron Udara 12, yaitu Mayor Pnb Fero Ahmando, Mayor Pnb M. Teguh Eko P., dan Kapten Pnb Ghazi Umar Marsuq. Keempatnya menjalankan proses secara bertahap sesuai dengan rangkaian pembinaan dan pelatihan yang ditetapkan dalam program konversi.
Keberhasilan Mayor Pnb Fero Ahmando, Mayor Pnb M. Teguh Eko P., Kapten Pnb Ghazi Umar Marsuq, serta Mayor Pnb M. Reza Sapta N. menyelesaikan terbang solo memperlihatkan kesiapan penerbang tempur Skadron Udara 12 untuk melanjutkan tahapan penguasaan Rafale. Dalam konteks operasional, kemampuan terbang secara mandiri menjadi bagian penting sebelum para penerbang mengikuti latihan dan misi dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Mereka tetap tercatat sebagai penerbang tempur Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, dengan pengalaman dan kualifikasi yang terus dikembangkan melalui latihan berkelanjutan.
Keberhasilan empat penerbang Skadron 12 TNI AU dalam menuntaskan misi solo Rafale merupakan hasil dari rangkaian persiapan yang dilakukan secara bertahap. Sebelum menjalankan penerbangan secara mandiri, para penerbang harus melewati proses latihan yang dirancang untuk membangun pemahaman, kesiapan, dan kemampuan dalam mengoperasikan pesawat tempur tersebut. Setiap tahapan menjadi bagian penting untuk memastikan mereka mampu menjalankan tugas penerbangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Rangkaian persiapan tersebut mencakup pelatihan di Prancis. Melalui tahapan ini, para penerbang memperoleh pembekalan yang berkaitan dengan pengoperasian Rafale. Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh kemudian menjadi dasar bagi mereka untuk melanjutkan persiapan pada tahap berikutnya. Pelatihan di luar negeri itu tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan proses pematangan kemampuan yang dilakukan setelah para penerbang kembali menjalani persiapan di Indonesia.
Di Indonesia, para penerbang juga mengikuti simulasi penerbangan sebagai bagian dari persiapan menuju misi solo. Simulasi tersebut membantu menguji kesiapan mereka sebelum benar-benar melaksanakan penerbangan secara mandiri. Tahapan latihan dan simulasi itu menunjukkan bahwa pencapaian misi solo tidak diperoleh secara langsung, tetapi melalui proses yang berurutan dan terukur. Setelah menyelesaikan terbang solo, keempat penerbang dinyatakan sah sebagai penerbang pesawat tempur Rafale. Status tersebut menandai terpenuhinya tahapan penting dalam proses penguasaan pesawat dan menjadi pengakuan atas kesiapan mereka untuk menerbangkan Rafale secara mandiri. Dengan demikian, penerbangan solo menjadi hasil akhir dari persiapan yang mencakup pelatihan di Prancis serta simulasi penerbangan di Indonesia, tanpa mengabaikan tahapan yang telah mereka lewati sebelumnya.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Marsma TNI Abdul Haris, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan empat penerbang Skadron Udara 12 TNI AU dalam merampungkan misi solo menggunakan pesawat tempur Rafale. Keberhasilan tersebut dinilai mencerminkan kesungguhan para penerbang dalam menjalani proses peningkatan kemampuan, sekaligus menunjukkan kesiapan personel dalam mengoperasikan alat utama sistem senjata modern.
Apresiasi itu juga diberikan atas disiplin, profesionalisme, dan ketelitian yang ditunjukkan selama pelaksanaan misi. Setiap penerbangan menggunakan pesawat tempur berteknologi tinggi menuntut penguasaan prosedur, kemampuan mengambil keputusan, serta koordinasi yang baik. Karena itu, pencapaian empat penerbang tersebut menjadi bagian penting dari proses membangun kesiapan operasional satuan.
Marsma TNI Abdul Haris berharap para penerbang terus mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan tempur. Penguasaan terhadap pesawat, sistem persenjataan, taktik, serta prosedur operasi perlu dipelihara melalui latihan yang berkesinambungan. Kesiapan tersebut diperlukan agar para penerbang mampu menjalankan tugas pertahanan udara secara profesional, cepat, dan tepat sesuai tuntutan operasi.
Menurutnya, kemampuan tempur tidak berhenti setelah satu misi berhasil diselesaikan. Para penerbang harus terus mengembangkan kompetensi, menjaga kebugaran, memperkuat pemahaman terhadap karakteristik alutsista, dan mempertahankan standar keselamatan penerbangan. Upaya berkelanjutan itu menjadi landasan untuk memastikan kesiapan personel ketika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas.
Keberhasilan misi solo Rafale diharapkan turut memperkuat kesiapan operasional Skadron Udara 12 dalam mengawaki alat utama sistem senjata modern. Kesiapan tersebut mencakup kemampuan personel dan satuan untuk mengoperasikan, merawat, serta memanfaatkan alutsista sesuai fungsi dan tuntutan penugasan. Dengan demikian, Skadron Udara 12 dapat terus mendukung tugas TNI AU dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.


