Peta Satelit Tunjukkan Sebaran CO di Indonesia, BRIN Jelaskan Pemicu dan Risikonya

oleh -528 Dilihat
oleh
Peta Satelit Tunjukkan Sebaran CO di Indonesia, BRIN Jelaskan Pemicu dan Risikonya

Jakarta | Citra satelit NASA menampilkan sebaran karbon monoksida (CO) di sejumlah wilayah Indonesia. Pada peta yang dirujuk dalam laporan ini, keberadaan gas tersebut terlihat tersebar di berbagai bagian wilayah, dengan area berwarna merah gelap menjadi penanda visual yang paling mencolok. Gambaran itu memberi perhatian pada luas area yang ditampilkan, sekaligus menunjukkan bagaimana kondisi atmosfer dipetakan melalui pengamatan dari satelit.

Hingga Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, warna merah gelap masih tampak pekat pada citra tersebut. Tampilan peta menjadi dasar untuk mengamati sebaran CO sebagaimana direpresentasikan oleh citra NASA pada waktu itu. Perubahan warna dan letak area pada peta dapat membantu pembaca mengenali bagian wilayah yang ditandai dalam visualisasi, tetapi informasi yang tersedia di sini terbatas pada gambaran citra tersebut.

Penting untuk membedakan tampilan visual pada peta dari keterangan mengenai kadar gas yang terukur. Warna merah gelap dalam citra, sebagaimana disampaikan dalam laporan, menggambarkan konsentrasi CO yang tampak pekat pada visualisasi. Namun, bahan yang tersedia tidak menyertakan angka konsentrasi, hasil pengukuran di permukaan, ataupun rincian teknis lain yang memungkinkan pembaca menyimpulkan tingkat paparan di lokasi tertentu. Karena itu, citra sebaiknya dibaca sebagai gambaran sebaran yang ditunjukkan oleh pengamatan satelit, bukan sebagai laporan pengukuran langsung bagi setiap wilayah.

Visualisasi ini juga tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab sebaran maupun dampak yang sedang terjadi. Informasi tentang pemicu dan risiko memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang atau peneliti, termasuk konteks waktu dan kondisi yang relevan. Pada tahap ini, temuan utama yang dapat disampaikan adalah bahwa citra NASA memperlihatkan sebaran karbon monoksida di Indonesia, dan hingga Sabtu pagi area berwarna merah gelap masih terlihat menonjol pada peta. Dengan batas informasi tersebut, pembaca dapat memahami apa yang ditampilkan tanpa menganggapnya sebagai bukti mengenai kadar aktual atau kondisi kesehatan masyarakat.

Albertus Sulaiman, peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa sebaran karbon monoksida (CO) yang terlihat pada peta satelit berkaitan dengan kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah Indonesia. Titik kebakaran yang menjadi pemicu tidak terbatas pada satu pulau, melainkan tersebar dari Kalimantan dan Sumatra hingga Papua. Dengan demikian, pola sebaran CO perlu dipahami dengan memperhatikan keberadaan kebakaran di beberapa kawasan tersebut, bukan hanya satu lokasi. Peta satelit memberi gambaran mengenai keberadaan gas di atmosfer, sedangkan penjelasan mengenai kebakaran membantu menerangkan salah satu pemicunya.

Menurut Albertus, pembakaran gambut yang berlangsung tidak sempurna dapat menghasilkan CO. Proses tersebut menjadi relevan ketika lahan gambut terbakar, karena pembakaran yang tidak tuntas melepaskan gas ini ke udara. Keterangan itu menjelaskan hubungan kebakaran gambut dan kemunculan CO dalam sebaran yang diamati. Namun, penjelasan tersebut tidak berarti bahwa seluruh CO yang terdeteksi di berbagai wilayah hanya berasal dari pembakaran gambut. Sumber pemicu yang disebutkan mencakup kebakaran lahan dan hutan di berbagai titik, sementara kondisi pembakaran gambut merupakan salah satu proses yang dapat menghasilkan gas tersebut.

Albertus juga mengingatkan bahwa sebaran CO yang mencapai wilayah Jawa tidak serta-merta hanya berasal dari kebakaran gambut di Kalimantan. Kebakaran gunung yang terakumulasi dengan polusi udara turut disebut berkontribusi menghasilkan CO di wilayah Jawa. Karena itu, keberadaan CO di kawasan tersebut tidak tepat jika dijelaskan hanya dengan satu sumber atau satu lokasi kebakaran. Penjelasan BRIN menempatkan beberapa pemicu yang disebutkan dalam konteks sebaran antardaerah: kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua, serta kebakaran gunung yang berpadu dengan polusi udara untuk wilayah Jawa. Uraian ini membantu membedakan proses pembentukan CO dan pola persebarannya yang tampak pada pengamatan satelit.

Albertus menilai salah satu cara untuk mengurangi sebaran karbon monoksida (CO) di Indonesia adalah mengembalikan hutan gambut ke kondisi alaminya. Pandangan ini menempatkan pemulihan ekosistem sebagai bagian penting dari upaya menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang dapat menghasilkan polutan ketika vegetasi dan bahan organik terbakar. Karena itu, pembahasan mengenai CO tidak hanya berkaitan dengan pemantauan sebaran melalui peta satelit, tetapi juga dengan kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kemungkinan terjadinya kebakaran.

Alasan ekologis yang disampaikan Albertus adalah bahwa gambut dapat memproduksi hujan sendiri. Dalam keadaan alami, fungsi ekosistem tersebut membantu menjaga siklus air dan kelembapan kawasan. Kondisi yang lebih lembap berhubungan dengan kemampuan lahan gambut untuk tetap basah, sementara gambut yang mengering lebih mudah terbakar dan dapat menyimpan api di bawah permukaan. Menurut penjelasan itu, terjaganya fungsi alami gambut dapat membantu mencegah kemarau panjang, sehingga risiko kondisi kering yang mendukung kebakaran dapat ditekan.

Pemulihan gambut dengan demikian dipandang sebagai pendekatan pencegahan jangka panjang, bukan sekadar respons setelah api muncul. Jika ekosistem dikembalikan menuju kondisi alaminya, fungsi hidrologis dan ekologisnya diharapkan dapat bekerja sebagaimana dijelaskan Albertus. Hal ini relevan bagi pengelolaan karhutla karena kebakaran pada lahan gambut dapat berlangsung sulit dikendalikan dan menghasilkan asap yang membawa berbagai polutan, termasuk CO. Namun, pemulihan perlu dipahami sebagai upaya yang berkaitan dengan pengurangan risiko, bukan jaminan bahwa kebakaran atau emisi akan sepenuhnya hilang.

Penjelasan tersebut juga menegaskan pentingnya melihat sebaran CO dalam kaitannya dengan keadaan ekosistem. Peta satelit dapat membantu menunjukkan pola polusi, sementara informasi tentang kondisi gambut memberi konteks mengenai salah satu pemicu yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, perlindungan dan pemulihan lahan gambut dapat menjadi bagian dari pembahasan pencegahan karhutla, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk memahami sumber emisi lain serta melakukan pemantauan kualitas udara. Albertus mengaitkan langkah tersebut dengan kembalinya fungsi alami gambut, termasuk perannya dalam siklus hujan, sebagai dasar untuk menekan risiko kebakaran dan dampak polusi yang menyertainya.

Albertus mengingatkan bahwa karbon monoksida (CO) memiliki karakteristik yang membuat paparannya sulit dikenali: gas ini tidak berwarna dan tidak berbau. Karena itu, seseorang dapat menghirupnya tanpa menyadari keberadaannya, terutama di ruang tertutup atau area dengan ventilasi buruk. CO dapat masuk ke dalam darah dan mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Paparan yang tidak terdeteksi dapat berkembang menjadi keracunan serius, sehingga gas ini kerap dijuluki silent killer atau pembunuh senyap. Dalam keadaan tertentu, paparan CO bahkan berpotensi berujung fatal.

Dampak kesehatan bergantung pada kadar CO yang terhirup, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan seseorang. Mengutip informasi dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), pada konsentrasi rendah, paparan dapat menyebabkan kelelahan pada orang yang sehat. Sementara itu, penderita penyakit jantung dapat mengalami nyeri dada. Gejala semacam ini perlu dipahami sebagai kemungkinan dampak paparan, bukan sebagai dasar untuk mendiagnosis kondisi individu tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.

Pada tingkat konsentrasi sedang, CO dapat memicu gangguan penglihatan dan penurunan fungsi otak. Sejumlah gejala juga bisa menyerupai flu, seperti rasa tidak nyaman yang mungkin mereda setelah seseorang meninggalkan ruangan atau area terpapar. Perbaikan setelah keluar dari lokasi tidak serta-merta membuktikan penyebab gejala, tetapi menjadi alasan untuk memperhatikan potensi bahaya di lingkungan tersebut dan menghindari paparan lanjutan.

Pada konsentrasi tinggi, dampaknya dapat jauh lebih berat. Gejala yang mungkin muncul meliputi pusing, sakit kepala hebat, mual, kebingungan, serta gangguan koordinasi tubuh. Jika paparan berlangsung atau kadarnya sangat tinggi, keracunan CO dapat menyebabkan kematian.

Baca juga: Asap Karhutla Terdeteksi di Jakarta, BMKG Jelaskan Batas Pantauan Satelit | Sebaran Asap Karhutla Terpantau hingga Jakarta, Warga Diimbau Batasi Aktivitas Luar | Karhutla dan Polusi Udara: Membaca Sebaran CO serta Risiko bagi Kesehatan di Indonesia