Pasar Smartphone Global Tertekan, Samsung Tetap Memimpin Pengiriman 2026

oleh -121 Dilihat
oleh
Pasar Smartphone Global Tertekan, Samsung Tetap Memimpin Pengiriman 2026

Jakarta | Pengiriman smartphone global pada kuartal III 2026 tercatat turun 22% menjadi 255,3 juta unit. Angka tersebut menandai penurunan terdalam yang disebut dalam laporan dan menunjukkan betapa kuatnya tekanan yang sedang dihadapi industri ponsel dunia. Pelemahan ini bukan sekadar perubahan kecil dari satu periode ke periode berikutnya, melainkan sinyal bahwa permintaan dan dinamika pasar global sedang mengalami tantangan serius.

Penurunan pengiriman dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, seperti konsumen yang menunda pembelian, siklus penggantian perangkat yang semakin panjang, serta kondisi ekonomi yang membuat rumah tangga lebih berhati-hati membelanjakan uang. Persaingan antarmerek dan perubahan strategi penjualan juga dapat memengaruhi jumlah perangkat yang dikirim ke pasar. Namun, angka agregat tersebut perlu dibaca sesuai cakupannya: data ini menggambarkan pasar smartphone global, bukan ukuran khusus untuk Indonesia.

Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan dunia tetap relevan karena pasar lokal terhubung dengan rantai pasok, strategi produsen, dan tren teknologi internasional. Perubahan permintaan di berbagai kawasan berpotensi memengaruhi pilihan model yang tersedia, waktu peluncuran produk, maupun pendekatan harga dari merek-merek yang beroperasi di dalam negeri. Meski demikian, dampaknya tidak selalu langsung atau seragam, sebab kondisi konsumen dan persaingan di Indonesia memiliki karakter tersendiri.

Karena itu, penurunan global ini sebaiknya menjadi konteks untuk memahami arah industri, bukan dasar untuk menyimpulkan bahwa pengiriman ponsel di Indonesia juga turun dengan persentase yang sama. Angka 255,3 juta unit mencakup pengiriman di seluruh dunia pada kuartal III, sementara kinerja pasar nasional memerlukan data terpisah. Dengan skala penurunan yang disebut paling dalam, laporan tersebut menegaskan bahwa produsen menghadapi lingkungan yang lebih sulit, dan perkembangan pada kuartal berikutnya akan penting untuk menunjukkan apakah tekanan itu berlanjut atau mulai mereda.

Menurut IDC, tekanan yang dialami pasar smartphone global berakar pada krisis memori yang dipicu lonjakan kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI) sejak akhir tahun sebelumnya. Permintaan memori untuk mendukung pengembangan dan penggunaan teknologi tersebut meningkat, sementara biaya komponen ikut terdorong naik. Kondisi ini menjadi hambatan bagi industri perangkat, karena memori merupakan bagian penting dalam produksi smartphone. Dampaknya tidak hanya terasa pada struktur biaya vendor, tetapi juga memengaruhi kemampuan mereka mempertahankan volume pengiriman di tengah pasar yang sedang tertekan.

Direktur Riset Senior Perangkat Global IDC, Nabila Popal, menyatakan bahwa pasar belum mencapai titik terendah. Pernyataan itu menggambarkan bahwa tekanan yang ada belum tentu segera mereda, seiring biaya memori yang terus meningkat. Sejak tahun lalu, biaya memori telah melonjak hingga 350 persen dan kenaikannya masih berlanjut. Perubahan tersebut menambah beban yang harus ditanggung vendor, ketika mereka menghadapi biaya produksi lebih tinggi dan kondisi pengiriman yang sulit dipertahankan.

Kenaikan biaya memori menekan margin vendor sekaligus volume pengiriman smartphone. Ketika komponen utama menjadi jauh lebih mahal, ruang perusahaan untuk menyerap tambahan biaya menjadi terbatas. Pada saat yang sama, tekanan biaya dapat memengaruhi kemampuan vendor dalam menjaga jumlah perangkat yang dikirim ke pasar. Dengan demikian, krisis memori bukan hanya persoalan kenaikan harga komponen, tetapi juga faktor yang memperberat prospek industri perangkat global dalam beberapa tahun mendatang.

IDC memperkirakan hambatan pertumbuhan akan berlanjut hingga 2027, sementara pemulihan paling lambat baru terjadi pada 2028. Jangka waktu tersebut menunjukkan bahwa pelaku industri perlu bersiap menghadapi tekanan yang lebih panjang, bukan menganggap kenaikan biaya sebagai gangguan sementara. OEM perlu beradaptasi dengan perubahan struktural permanen dalam dinamika biaya. Penyesuaian terhadap kondisi baru menjadi penting ketika biaya memori terus meningkat dan memengaruhi margin maupun pengiriman. Prospek pasar, menurut proyeksi tersebut, tetap dibayangi tantangan sebelum pemulihan dapat berlangsung.

Lima vendor smartphone teratas sama-sama mencatat penurunan pengiriman tahunan, menandakan tekanan yang meluas di pasar global. Di tengah pelemahan tersebut, Samsung masih menempati posisi pertama dengan pengiriman 57,8 juta unit dan pangsa pasar 22,6%. Namun, capaian itu lebih rendah dibandingkan kuartal III tahun sebelumnya, ketika perusahaan mengirimkan 61,4 juta unit dan menguasai 18,7% pasar. Dengan demikian, volume Samsung turun 5,8% secara tahunan, meski pangsa pasarnya tercatat lebih tinggi. Perubahan pangsa ini menunjukkan bahwa perbandingan kinerja tidak hanya ditentukan oleh jumlah perangkat yang dikirim, tetapi juga oleh perkembangan total pasar dan hasil para pesaing dalam periode yang sama.

Apple berada tepat di urutan kedua, dengan pengiriman 57,3 juta unit. Jumlah tersebut turun 4% dibandingkan 59,7 juta unit pada periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan pergerakan di vendor papan atas, penyusutan volume Apple tidak menghalangi kenaikan pangsa pasarnya. Pangsa perusahaan itu mencapai 22,4%, meningkat dari 18,2% setahun sebelumnya. Angka ini menempatkan Apple sangat dekat dengan Samsung dalam hal pangsa pasar, sementara keduanya tetap menghadapi penurunan jumlah unit yang dikirim. Perbedaan hasil tersebut memperlihatkan bahwa posisi relatif sebuah merek dapat menguat meskipun penjualan atau pengiriman absolutnya belum kembali tumbuh.

Selisih pengiriman kedua perusahaan kini sangat tipis: Samsung hanya unggul sekitar 0,5 juta unit atas Apple. Kedekatan angka itu membuat persaingan di puncak pasar semakin ketat, tetapi data periode ini tetap menempatkan Samsung sebagai pemimpin pengiriman. Apple belum melampaui Samsung berdasarkan jumlah unit yang dikirim, walaupun jaraknya menyempit dan pangsa pasarnya meningkat. Karena itu, pembacaan angka sebaiknya memisahkan tiga ukuran yang berbeda: peringkat vendor, volume pengiriman, dan pangsa pasar. Samsung memimpin pada volume dengan 57,8 juta unit, sedangkan Apple berada di posisi kedua dengan 57,3 juta unit. Keduanya mengalami kontraksi tahunan, sehingga kenaikan pangsa tidak serta-merta berarti pertumbuhan pengiriman. Gambaran ini menegaskan bahwa pasar smartphone sedang tertekan, sementara persaingan dua pemimpin berlangsung dalam jarak yang semakin rapat.

Di bawah dua vendor teratas, persaingan pasar smartphone global menunjukkan tekanan yang lebih besar pada sejumlah merek besar. Xiaomi berada di peringkat ketiga dengan pengiriman 30,7 juta unit. Angka tersebut menandai penurunan tahunan sebesar 29,2%, sehingga perusahaan itu mengalami kontraksi yang cukup tajam dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi ketiga memperlihatkan bahwa Xiaomi masih mempertahankan tempat di vendor dengan volume pengiriman terbesar, meskipun jumlah unit yang dikirimkan berkurang signifikan.

Oppo menempati urutan keempat, dengan pengiriman sebanyak 25,6 juta unit dan penurunan tahunan 34,5%. Persentase penurunan ini lebih besar daripada yang dicatat Xiaomi maupun Vivo. Perbedaan tersebut menggambarkan bahwa tekanan tidak terbagi merata di para vendor, meski ketiganya sama-sama menghadapi pelemahan volume. Data pengiriman ini menjadi salah satu indikator mengenai perubahan kondisi pasar, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan faktor khusus yang menyebabkan hasil setiap perusahaan berbeda.

Vivo berada di posisi kelima setelah mengirimkan 19,1 juta unit. Pengiriman tersebut turun 31,5% secara tahunan. Dengan demikian, ketiga merek yang berada pada peringkat ketiga hingga kelima sama-sama mencatat kontraksi dua digit, sementara urutan mereka tetap mencerminkan perbedaan skala pengiriman. Xiaomi mempertahankan volume tertinggi di kelompok ini, disusul Oppo dan Vivo. Perbandingan angka-angka tersebut memberikan gambaran jelas tentang besarnya tekanan yang dialami vendor di luar posisi teratas dalam pasar smartphone global.

IDC menilai periode disrupsi juga dapat membuka peluang bagi munculnya pemenang.

Baca juga: Emas Tertekan Sepanjang Pekan saat Prospek Suku Bunga AS Membayangi | Kristomei Sianturi Resmi Memimpin BNPB Usai Dilantik Prabowo | IHSG Tertekan hingga 11,15 Persen Setelah Perdagangan Kembali Dibuka