Hasto Kristiyanto Tanam Mangrove di Malang dan Tekankan Perlindungan Pesisir

oleh -734 Dilihat
oleh
Hasto Kristiyanto Tanam Mangrove di Malang dan Tekankan Perlindungan Pesisir

Malang | Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengunjungi kawasan konservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Malang Selatan, Jawa Timur, pada Sabtu (17/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Hasto hadir bersama jajaran DPP PDI Perjuangan, yakni Andreas Eddy Susetyo, Tri Rismaharini, dan Eriko Sotarduga. Kehadiran mereka menjadi bagian dari kegiatan yang berfokus pada penanaman mangrove dan perlindungan kawasan pesisir.

Rangkaian kegiatan diawali dengan berkeliling kawasan konservasi. Hasto dan rombongan melihat kondisi lingkungan di CMC Tiga Warna serta meninjau pembibitan mangrove yang berada di area tersebut. Peninjauan itu memberi kesempatan kepada para tamu untuk menyaksikan tahapan awal penyediaan tanaman sebelum mangrove ditanam di kawasan pesisir. Setelah melihat pembibitan, rombongan melanjutkan kegiatan dengan menanam mangrove bersama warga.

Keterlibatan warga dalam kegiatan penanaman memperlihatkan bahwa upaya menjaga lingkungan pesisir dapat dilakukan secara bersama-sama. Mangrove merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir, sementara kawasan konservasi menyediakan ruang bagi perlindungan dan pemulihan lingkungan. Karena itu, kegiatan seperti peninjauan pembibitan dan penanaman dapat menjadi cara untuk menaruh perhatian pada keberlanjutan kawasan, sekaligus mengajak berbagai pihak terlibat dalam menjaga lingkungan.

Dalam kunjungan di Malang Selatan ini, Hasto dan jajaran partai mengikuti tahapan kegiatan secara langsung, mulai dari melihat kawasan hingga menanam mangrove bersama warga. CMC Tiga Warna menjadi lokasi berlangsungnya kegiatan tersebut, dengan pembibitan dan area konservasi sebagai bagian yang ditinjau rombongan. Peristiwa ini menempatkan perlindungan pesisir sebagai perhatian utama, melalui tindakan nyata berupa penanaman mangrove. Kehadiran warga bersama para pejabat partai juga menunjukkan pelaksanaan kegiatan secara kolaboratif, tanpa terpisah dari masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi.

Setelah menanam mangrove di kawasan pesisir Malang, Hasto Kristiyanto membuka aplikasi peta pada telepon selulernya. Ia menggunakan peta tersebut untuk mencatat titik koordinat tanaman yang baru ditanam. Langkah itu membuat lokasi tanaman dapat dikenali secara lebih tepat, bukan hanya berdasarkan gambaran umum kawasan tempat kegiatan berlangsung. Pencatatan koordinat menjadi bagian sederhana dari kegiatan penanaman, sekaligus memberi penanda digital atas posisi tanaman tersebut.

Hasto menyampaikan bahwa kini ia mengetahui dan telah mencatat koordinat lokasi tanaman itu. Dengan catatan tersebut, ia dapat menemukan titik persis tempat mangrove ditanam apabila suatu saat ingin memeriksanya. Pernyataannya menekankan manfaat mengetahui posisi yang akurat: lokasi tidak perlu dicari hanya dengan mengandalkan ingatan atau penjelasan mengenai area sekitarnya. Catatan koordinat membantu menunjukkan tempat yang dimaksud secara spesifik, sehingga tanaman yang ditanam dapat dibedakan dari titik lain di kawasan pesisir.

Ia tidak menjelaskan jenis aplikasi peta yang digunakan, dan tidak menyebutkan adanya jadwal atau rencana pengecekan lanjutan. Karena itu, pencatatan ini dapat dipahami sebatas upaya menandai lokasi tanaman agar dapat ditemukan kembali jika diperlukan. Pernyataan tersebut juga tidak memastikan bahwa pemeriksaan sudah dilakukan; Hasto menyampaikan bahwa koordinat yang dicatat akan memungkinkannya menemukan posisi tanaman bila ingin melihatnya. Dengan demikian, inti keterangannya adalah hubungan penanaman, pencatatan lokasi, dan kemudahan untuk mengenali titik yang sama di kemudian hari.

Dalam konteks kegiatan penanaman mangrove, kemampuan menemukan kembali lokasi tertentu dapat membantu seseorang mengingat bagian pesisir yang menjadi tempat penanaman. Namun, informasi yang disampaikan Hasto berfokus pada pengalaman pribadinya mencatat koordinat melalui aplikasi peta di telepon seluler. Ia mengatakan bahwa sekarang sudah mengetahui dan menyimpan posisi tanaman tersebut, sehingga dapat menuju lokasi persisnya apabila ingin memeriksa. Keterangan ini menjaga perhatian pada tindakan yang benar-benar disebutkan: mencatat titik setelah menanam dan mengetahui cara menemukan kembali titik tersebut, tanpa menambahkan klaim mengenai pemantauan, pertumbuhan mangrove, atau hasil pemeriksaan berikutnya.

Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa penanaman mangrove di Malang tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial yang selesai setelah bibit ditanam. Menurutnya, upaya tersebut perlu menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan untuk merawat alam dan melindungi kawasan pesisir. Melalui gerakan Merawat Pertiwi, PDI Perjuangan mendorong kepedulian lingkungan diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk menjaga ekosistem mangrove dan memastikan tanaman yang ditanam dapat tumbuh. Komitmen itu membutuhkan keterlibatan banyak pihak serta perhatian yang berkesinambungan. Dengan begitu, kegiatan penanaman tidak berhenti pada dokumentasi acara, tetapi berlanjut menjadi pemeliharaan kawasan dan kebiasaan merawat lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasto menjelaskan, mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami pantai. Akar-akar yang rapat membantu meredam gelombang dan mengurangi dampak abrasi, sehingga garis pantai lebih terlindungi dari pengikisan. Fungsi ini semakin berarti ketika wilayah pesisir menghadapi tekanan perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Ekosistem mangrove juga menyediakan habitat bagi berbagai biota laut. Kawasan tersebut menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi sejumlah jenis organisme. Karena itu, menjaga mangrove turut mendukung keberlangsungan kehidupan laut. Perlindungan ekosistem ini, menurut Hasto, bukan hanya soal mempertahankan pepohonan, melainkan merawat hubungan penting daratan, laut, dan makhluk hidup yang bergantung padanya.

Selain melindungi pantai dan menjadi ruang hidup biota, mangrove berperan dalam menyerap serta menyimpan karbon. Kemampuan tersebut menjadikannya bagian penting dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan menghadapi perubahan iklim. Hasto memandang perlindungan mangrove sebagai kepentingan ekologis sekaligus sosial. Bagi masyarakat pesisir, kondisi alam yang terjaga berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber penghidupan, termasuk kegiatan yang bergantung pada laut dan lingkungan pantai. Kerusakan ekosistem dapat membawa dampak bagi kehidupan warga, sedangkan pesisir yang sehat memberi dasar bagi aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, merawat mangrove berarti menjaga lingkungan sekaligus mendukung kehidupan masyarakat pesisir. Gerakan Merawat Pertiwi mengajak kepedulian itu diteruskan melalui perawatan dan perlindungan yang konsisten.

Sehari sebelum kegiatan penanaman mangrove, Jumat (16/10/2026), Hasto Kristiyanto menyampaikan kritik mengenai kebakaran hutan dan lahan saat menjawab pertanyaan media di Malang Selatan. Ia menilai persoalan kebakaran yang terus berulang belum berhasil diselesaikan oleh pemerintah. Dalam pandangannya, kejadian tersebut tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi juga membawa dampak langsung bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Hasto menyoroti penderitaan warga Kalimantan dan Sumatera akibat kebakaran, seraya menyatakan bahwa keadaan itu semestinya mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Hasto juga menggambarkan kebakaran hutan dan lahan sebagai persoalan yang mencoreng wajah politik kekuasaan dan pemerintahan. Penilaian tersebut ia sampaikan sebagai kritik terhadap cara pemerintah menangani kejadian yang berulang, bukan sebagai kesimpulan independen yang telah diverifikasi dalam pernyataan ini. Ia menyebut dampaknya dirasakan hingga ke negara tetangga, yakni Singapura, Malaysia, dan Brunei. Dengan menyebut wilayah lintas negara itu, Hasto menekankan bahwa persoalan kebakaran tidak berhenti pada batas daerah tempat api muncul, tetapi dapat menjadi perhatian lebih luas. Pernyataan tersebut menempatkan dampak terhadap warga dan reputasi pemerintahan sebagai dua hal yang, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi.

Dalam penilaiannya, persoalan utama juga berkaitan dengan kurangnya antisipasi, koordinasi, dan mitigasi. Hasto menyoroti bahwa para pakar telah mengingatkan potensi El Niño ekstrem serta risiko munculnya titik api di lahan gambut. Ia mempertanyakan kesiapan pemerintah menghadapi peringatan tersebut dan mendorong agar langkah pencegahan dilakukan sebelum kebakaran meluas. Menurut Hasto, peringatan dini semestinya diikuti koordinasi yang memadai dan upaya mitigasi yang terencana, khususnya di kawasan yang dinilai memiliki risiko. Kritik ini menjadi bagian dari pandangannya tentang penanganan kebakaran hutan dan lahan yang berulang.

Baca juga: BMKG Minta Warga Pesisir Gelombang hingga 4 Meter dan Rob | Satyawan Pudyatmoko Pimpin Badan Nasional untuk Pengelolaan Gambut dan Mangrove