Protes Biaya Hidup di Prancis Berujung Kerusuhan, 1.200 Orang Ditangkap

oleh -122 Dilihat
oleh
Protes Biaya Hidup di Prancis Berujung Kerusuhan, 1.200 Orang Ditangkap

Kota Paris | Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyatakan bahwa 1.200 orang ditangkap dalam aksi protes nasional pada Sabtu (17/10), sementara 150 polisi mengalami luka-luka. Ia menyampaikan angka tersebut saat mengunjungi petugas yang dikerahkan di pusat kota Paris, setelah bentrokan dan penjarahan berlangsung sepanjang hari. Lecornu mengatakan bahwa jumlah korban yang tidak lebih tinggi merupakan sebuah keajaiban, mengingat situasi di lapangan dan intensitas kekerasan yang terjadi.

Pernyataan itu menggambarkan eskalasi tajam dari demonstrasi yang pada awalnya digelar untuk menentang lonjakan inflasi dan meningkatnya biaya hidup. Aksi yang berangkat dari keresahan ekonomi tersebut berubah menjadi kekerasan jalanan dengan intensitas ekstrem. Di sejumlah lokasi, bentrokan demonstran dan aparat berlangsung beriringan dengan penjarahan, sehingga operasi pengamanan harus dilakukan selama berjam-jam.

Jumlah penangkapan menunjukkan besarnya skala penindakan dalam rangkaian protes nasional tersebut. Namun, angka itu juga mencerminkan luasnya gangguan yang dihadapi aparat ketika demonstrasi berubah menjadi kerusuhan. Sebanyak 150 polisi dilaporkan terluka, meski informasi yang disampaikan Lecornu tidak merinci tingkat keparahan cedera maupun kondisi masing-masing petugas. Kunjungan perdana menteri ke personel di Paris dilakukan setelah mereka dikerahkan untuk menangani kericuhan di pusat kota.

Ucapan Lecornu mengenai kemungkinan korban yang lebih banyak menegaskan bahwa pemerintah memandang kejadian itu sebagai situasi yang sangat berbahaya. Ungkapan bahwa jumlah korban tidak lebih tinggi merupakan keajaiban bukan berarti dampak bentrokan dapat dianggap ringan: ratusan petugas dan ribuan orang terlibat dalam penanganan maupun proses penangkapan, sementara penjarahan menambah kerusakan dan tekanan terhadap keamanan publik.

Perubahan dari protes atas kenaikan harga menjadi kerusuhan juga memperlihatkan bagaimana tuntutan ekonomi dapat berkembang menjadi krisis ketertiban ketika ketegangan meningkat. Meski pemicu awalnya adalah beban biaya hidup, jalannya aksi kemudian didominasi bentrokan dan tindakan kekerasan. Pemerintah kini menghadapi dua persoalan sekaligus: merespons keresahan masyarakat terkait inflasi serta menangani konsekuensi hukum dan keamanan dari kekacauan yang terjadi sepanjang hari.

Aksi protes yang berlangsung di Prancis berubah menjadi bentrokan dan kerusakan di sejumlah kota. Kementerian Dalam Negeri memperkirakan 550 ribu orang mengikuti demonstrasi, sementara serikat pekerja CGT menyebut jumlah peserta mencapai 800 ribu. Ketegangan meningkat ketika polisi berupaya membubarkan massa. Petugas menggunakan gas air mata dan meriam air, sedangkan sebagian pengunjuk rasa melemparkan benda serta menembakkan kembang api ke arah polisi. Insiden tersebut menimbulkan kerusakan di jalanan dan memicu gangguan keamanan di berbagai wilayah.

Di Paris, Wali Kota Emmanuel Grégoire mengatakan sejumlah ruas jalan rusak setelah kelompok pemuda bertopeng membakar mobil-mobil yang terparkir dan menjarah toko. Puluhan tempat usaha dari beragam jenis dilaporkan menjadi sasaran, mulai dari toko ritel hingga usaha lain, di Paris maupun kota-kota besar dan menengah. Aksi penjarahan juga dilaporkan terjadi di Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg. Kerusakan pada toko serta kendaraan memperlihatkan bahwa dampak kerusuhan meluas melampaui titik-titik utama demonstrasi.

Bangunan pemerintahan dan fasilitas umum turut terdampak. Sejumlah kantor balai kota di beberapa wilayah mengalami kerusakan, dengan insiden paling parah terjadi di Limoges. Balai kota yang telah berdiri lebih dari 140 tahun itu sebagian besar hancur akibat kebakaran. Di Marseille dan Lille, balai kota dibobol dan dirusak. Sementara itu, kompleks kepolisian di Bordeaux menjadi sasaran perusakan, dan kantor layanan pariwisata di Lyon dibakar. Rentetan kejadian tersebut menambah beban pemulihan bagi pemerintah daerah, selain kerugian yang dialami pemilik usaha dan warga. Aparat perlu menilai tingkat kerusakan, mengamankan lokasi, serta memastikan layanan publik dapat kembali berjalan. Perbedaan angka kehadiran yang disampaikan pemerintah dan serikat pekerja juga menunjukkan skala mobilisasi yang besar, meskipun jumlah peserta tidak dengan sendirinya menjelaskan siapa yang terlibat dalam kekerasan. Dengan demikian, laporan mengenai aksi damai dan insiden perusakan perlu dibedakan saat menggambarkan keseluruhan demonstrasi.

Di Saint-Étienne, wilayah selatan Prancis, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya setelah ledakan granat pengendali massa. Insiden itu terjadi di tengah demonstrasi yang diwarnai ketegangan. Korban mengalami cedera berat akibat ledakan tersebut, sementara situasi di sekitar aksi juga melibatkan kelompok pemuda yang bergerak di sejumlah area. Peristiwa ini menambah perhatian terhadap dampak kekerasan yang terjadi selama protes biaya hidup dan bentrokan di jalanan.

Selama demonstrasi dan setelahnya, kelompok-kelompok pemuda terlihat berkeliaran. Mereka sesekali berhadapan dengan polisi, dan ketegangan di kedua pihak muncul di beberapa titik. Sejumlah benda dibakar, sementara toko-toko yang telah tutup menjadi sasaran serangan. Dalam beberapa kejadian, para pelaku masuk ke toko dan mengambil barang-barang di dalamnya. Aksi tersebut berlangsung di tengah suasana tidak menentu, ketika aktivitas usaha terganggu dan aparat berupaya menghadapi kerumunan. Gambaran itu memperlihatkan bahwa kerusuhan tidak hanya terjadi dalam bentuk bentrokan langsung, tetapi juga berupa perusakan dan penjarahan terhadap tempat usaha.

Presiden Emmanuel Macron menanggapi tindakan tersebut melalui platform X. Ia menyatakan bahwa orang-orang yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun menjarah, termasuk balai kota, akan dituntut dan dihukum. Pernyataan itu menegaskan sikap pemerintah terhadap tindakan yang merusak fasilitas dan mengganggu kegiatan masyarakat. Macron secara khusus menyebut berbagai sasaran, mulai dari kantor administrasi hingga toko dan balai kota, dalam pesannya. Respons tersebut disampaikan ketika laporan mengenai kerusuhan dan penangkapan terus menjadi perhatian. Namun, pernyataannya tidak merinci proses hukum yang akan dijalani para pelaku. Di Saint-Étienne, cedera serius yang dialami remaja itu dan tindakan kelompok pemuda menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang memperlihatkan eskalasi di sekitar demonstrasi.

Kerusuhan terbaru di Prancis muncul setelah berminggu-minggu berlangsungnya protes mahasiswa dan menambah ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan enam bulan ke depan untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron. Di tengah situasi tersebut, gerakan Rompi Kuning menyerukan demonstrasi dengan tema kaum muda dan Rompi Kuning. Gerakan ini pernah menjadi sorotan ketika memprotes rencana kenaikan pajak bahan bakar delapan tahun sebelumnya. Kini, biaya hidup yang terus melonjak kembali menjadi keluhan utama warga. Tekanan harga juga terkait dengan perang di Timur Tengah, yang turut mendorong inflasi di Eropa dan berbagai wilayah lain.

Aksi massa tidak hanya berpusat pada persoalan ekonomi. Di Paris, puluhan ribu orang berpawai di bagian timur dan utara kota, meneriakkan slogan yang menentang polisi serta mendesak Macron mundur. Bagi sebagian peserta, demonstrasi menjadi saluran untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap arah politik dan ketimpangan ekonomi. Kamil Alahyan, siswa sekolah menengah berusia 18 tahun, mengatakan pemilu 2027 menjadi salah satu alasan ia ikut turun ke jalan. Ia juga mengungkapkan kekecewaan terhadap politisi yang dianggap berbohong dan kelompok ultra-kaya yang, menurutnya, terus menumpuk kekayaan selama 10 tahun terakhir. Suara seperti itu memperlihatkan bahwa kemarahan demonstran melampaui harga kebutuhan sehari-hari.

Di sejumlah kota, sebagian peserta memakai rujukan sejarah Revolusi Prancis 1789 untuk menggambarkan tuntutan perubahan. Di Marseille, demonstran menyebut aksi mereka sebagai revolusi dan menyerukan perebutan Bastille ketika menerobos kantor wali kota. Seruan tersebut mengaitkan protes masa kini dengan simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang dikenal luas dalam sejarah Prancis. Di La Rochelle, sebuah poster bertuliskan “Revolusi atau mati” turut menyampaikan suasana konfrontatif.

Baca juga: Dendam Berujung Maut: Tiga Tersangka Kasus Jenazah dalam Karung di Tol Bocimi Ditangkap | Pengungkapan Narkotika di Tambora: HM Ditangkap, Sejumlah Barang Disita