Rinjani Travel Mart 2026 Bidik Transaksi Paket Wisata hingga Rp20 Miliar

oleh -79 Dilihat
oleh
Rinjani Travel Mart 2026 Bidik Transaksi Paket Wisata hingga Rp20 Miliar

MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Barat kembali menyiapkan Rinjani Travel Mart (RTM) sebagai forum promosi dan penguatan bisnis pariwisata daerah. Kegiatan RTM ke-7 dijadwalkan berlangsung pada 13–15 Oktober 2026. Agenda ini mempertemukan pelaku usaha pariwisata di Nusa Tenggara Barat dengan calon pembeli dari berbagai pasar, sehingga diharapkan mampu mendorong penjualan paket wisata secara langsung maupun melalui kerja sama lanjutan.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, ASITA NTB menetapkan target awal nilai transaksi penjualan paket wisata hingga Rp20 miliar. Nilai tersebut mencakup berbagai produk perjalanan yang ditawarkan oleh pelaku usaha, mulai dari paket wisata alam, budaya, dan bahari hingga layanan perjalanan terpadu. Target itu diharapkan tidak berhenti pada angka awal, tetapi dapat meningkat dan mencapai sekitar Rp30 miliar setelah seluruh proses negosiasi serta tindak lanjut penjual dan pembeli diselesaikan.

Peluang pencapaian target tersebut dinilai terbuka karena RTM 2026 akan diikuti oleh calon buyers yang beragam. Keberagaman peserta pembeli memungkinkan pelaku usaha memperkenalkan produk kepada segmen pasar dan jaringan bisnis yang lebih luas. Selain memperbesar potensi transaksi selama acara, pertemuan tersebut juga dapat menghasilkan kontrak kerja sama, pemesanan paket wisata, serta peluang promosi berkelanjutan bagi destinasi-destinasi di Nusa Tenggara Barat.

Ketua ASITA NTB Sellywati menyampaikan optimismenya terhadap capaian transaksi RTM tahun ini. Menurutnya, komposisi calon buyers yang beragam menjadi salah satu alasan utama munculnya keyakinan bahwa target transaksi dapat terpenuhi, bahkan berpeluang melampaui sasaran awal. Optimisme tersebut sekaligus mencerminkan harapan ASITA NTB agar Rinjani Travel Mart terus berkembang sebagai ruang pertemuan bisnis yang efektif dan memberikan dampak lebih besar bagi industri pariwisata daerah.

Rinjani Travel Mart (RTM) 2026 akan mempertemukan sekitar 100 buyers dan sellers dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara. Peserta mancanegara yang tercantum dalam agenda tersebut berasal dari Jepang, Amerika Serikat, China, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Timor Leste. Kehadiran pelaku usaha dari pasar domestik maupun internasional diharapkan memperluas peluang kerja sama serta membuka akses pemasaran bagi produk pariwisata di Nusa Tenggara Barat.

Forum ini dirancang sebagai ruang pertemuan bagi pelaku industri pariwisata, mulai dari agen perjalanan, biro wisata, hotel, pengelola destinasi, hingga penyedia layanan pendukung lainnya. Melalui pertemuan bisnis, buyers dan sellers dapat memperkenalkan produk, menyusun kerja sama, dan melakukan transaksi paket wisata secara langsung. Model pertemuan tersebut juga memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memahami kebutuhan pasar, menyesuaikan penawaran, serta membangun jaringan dengan mitra baru.

Destinasi unggulan di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa menjadi salah satu fokus utama RTM 2026. Kedua pulau itu memiliki beragam potensi, seperti wisata alam, bahari, budaya, dan petualangan yang dapat dikemas menjadi paket perjalanan untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Promosi melalui forum bisnis diharapkan mampu meningkatkan visibilitas destinasi sekaligus mendorong lebih banyak wisatawan memilih Nusa Tenggara Barat sebagai tujuan perjalanan.

Animo peserta yang tinggi menjadi dasar optimisme terhadap capaian transaksi tahun ini. Rencana kehadiran buyers dari berbagai negara menunjukkan bahwa minat terhadap produk wisata daerah masih terbuka luas. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) menilai kondisi tersebut dapat mendukung peningkatan penjualan paket wisata dibandingkan pelaksanaan RTM sebelumnya, yang mencatat transaksi sebesar Rp15 miliar. Dengan jumlah dan keragaman peserta yang lebih luas, RTM 2026 ditargetkan mampu membukukan transaksi paket wisata hingga Rp20 miliar.

Perubahan fokus kegiatan lapangan menjadi salah satu penanda penting dalam pelaksanaan Rinjani Travel Mart 2026. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, agenda lapangan dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah. Tahun ini, pengenalan destinasi bagi para peserta diarahkan ke Gili Trawangan dan Senaru di Lombok Utara. Pergeseran tersebut menunjukkan upaya memperluas eksposur terhadap berbagai karakter wisata yang dimiliki Nusa Tenggara Barat.

Gili Trawangan dipilih untuk memperkenalkan daya tarik wisata bahari, sementara Senaru menawarkan pengalaman alam dan pintu masuk menuju kawasan Gunung Rinjani. Kedua lokasi itu menjadi fokus kegiatan lapangan, tetapi bukan batas dari produk wisata yang dipasarkan dalam forum tersebut. Penawaran paket tetap mencakup destinasi di seluruh wilayah NTB, sehingga buyers memiliki pilihan perjalanan yang lebih beragam sesuai minat pasar mereka.

Untuk Pulau Lombok, paket yang diperkenalkan tidak hanya mencakup Gili Trawangan dan Senaru, tetapi juga destinasi lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk perjalanan. Keragaman tersebut memungkinkan pelaku industri menyusun perjalanan dengan kombinasi wisata pantai, pegunungan, budaya, kuliner, serta aktivitas rekreasi. Dengan cakupan yang lebih luas, buyers dapat memperoleh gambaran mengenai pilihan perjalanan lintaswilayah, bukan sekadar mengunjungi lokasi yang menjadi pusat kegiatan lapangan.

Penawaran juga menjangkau Pulau Sumbawa, lain melalui paket hiu paus dan kunjungan ke Pantai Lakey di Dompu. Paket hiu paus menghadirkan pengalaman wisata bahari yang khas, sedangkan Pantai Lakey dikenal sebagai salah satu tujuan yang berpotensi menarik wisatawan dengan minat terhadap pesisir dan olahraga selancar. Seluruh paket tersebut dipasarkan kepada buyers dari luar negeri. Strategi ini diharapkan mempertemukan destinasi NTB dengan mitra internasional sekaligus membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha pariwisata di Lombok dan Sumbawa.

ASITA Nusa Tenggara Barat (NTB) berharap penyelenggaraan Rinjani Travel Mart (RTM) 2026 tidak hanya menghasilkan transaksi paket wisata, tetapi juga memperluas dampak positif bagi perkembangan pariwisata daerah. Pertemuan pelaku usaha, pembeli, dan pemangku kepentingan pariwisata diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB melalui promosi destinasi, penguatan jejaring bisnis, serta penyusunan paket perjalanan yang lebih beragam dan kompetitif.

Meningkatnya arus wisatawan akan memberikan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat. Peluang usaha bagi hotel, restoran, biro perjalanan, pemandu wisata, pelaku ekonomi kreatif, transportasi, hingga usaha mikro di sekitar destinasi diharapkan semakin terbuka. Dengan demikian, pertumbuhan industri pariwisata dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan daerah sekaligus memperluas kesempatan kerja dan mendorong kesejahteraan masyarakat setempat.

Harapan tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi NTB, yakni “NTB Makmur Mendunia”, yang menempatkan pariwisata sebagai salah satu program unggulan pembangunan. RTM 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi NTB kepada pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat kolaborasi antarpelaku industri agar pengembangan destinasi berlangsung secara terarah dan memberikan manfaat yang lebih merata.

Ketua Panitia RTM 2026, Dewantoro Umbu Joka, menyampaikan bahwa kegiatan ini turut mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan yang digagas melalui kerja sama regional Bali-NTB-NTT (KR-BNN). Kerja sama tersebut membuka peluang integrasi promosi dan penyusunan perjalanan lintas daerah, sehingga wisatawan dapat memperoleh pengalaman yang lebih lengkap tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan, budaya, dan kepentingan masyarakat lokal.

Pelaku industri pariwisata dari Bali, NTB, dan NTT turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka diharapkan memperkuat konektivitas usaha, memperluas pasar, serta mendorong inovasi produk wisata di masing-masing daerah. Melalui kolaborasi regional yang konsisten, pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah di kawasan tersebut diharapkan terus meningkat secara inklusif dan berkelanjutan.