Mendikdasmen Dorong Pendidikan Jurnalistik dan Literasi Media Diperkuat di Sekolah

oleh -27 Dilihat
oleh
Mendikdasmen Dorong Pendidikan Jurnalistik dan Literasi Media Diperkuat di Sekolah

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mendorong penguatan pendidikan jurnalistik dan literasi media di lingkungan sekolah. Menurutnya, kedua bidang tersebut penting untuk memperluas ruang belajar sekaligus membuka lebih banyak pilihan profesi bagi generasi muda. Sekolah tidak hanya perlu membekali siswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengenal berbagai keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk kemampuan mengolah informasi dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Penguatan pendidikan jurnalistik dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler. Siswa dapat dilibatkan dalam pengelolaan majalah sekolah, buletin, laman informasi, maupun produksi konten digital yang mendidik. Dari kegiatan tersebut, mereka belajar mencari data, melakukan wawancara, memeriksa kebenaran informasi, menulis berita, serta menyusun laporan secara sistematis. Proses ini membantu siswa memahami bahwa informasi yang disampaikan kepada publik harus didukung fakta dan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

Mendikdasmen menegaskan bahwa jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi sarana bagi siswa untuk belajar menulis, berpikir kritis, berkomunikasi, dan mengembangkan kemampuan diri. Keterampilan itu bermanfaat tidak hanya bagi mereka yang kelak memilih profesi sebagai wartawan atau pekerja media, tetapi juga bagi siswa yang menekuni bidang pendidikan, pemerintahan, bisnis, teknologi, dan sektor lainnya. Kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas serta memahami karakter media menjadi bekal penting dalam kehidupan profesional.

Melalui literasi media yang kuat, siswa diharapkan mampu membedakan informasi faktual, opini, dan konten yang menyesatkan. Mereka juga dapat menggunakan media secara lebih bijak, produktif, dan etis. Dengan demikian, sekolah berperan dalam menyiapkan generasi yang tidak sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan mampu menghasilkan karya dan berpartisipasi dalam ruang publik secara bertanggung jawab.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai profesi wartawan sebagai pekerjaan yang mulia sekaligus sangat dibutuhkan masyarakat. Menurutnya, wartawan menjalankan tanggung jawab publik dengan menghadirkan informasi yang dapat membantu masyarakat memahami berbagai peristiwa secara lebih utuh. Pekerjaan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan penyampaian berita, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan pendidikan yang penting dalam kehidupan demokratis.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa wartawan memiliki sejumlah fungsi strategis. Pertama, wartawan mengabarkan informasi mengenai peristiwa, kebijakan, dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Informasi yang disampaikan secara akurat dan berimbang membantu publik mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar dugaan. Kedua, wartawan berperan mencerahkan masyarakat dengan memberikan konteks, penjelasan, dan sudut pandang yang dapat mengurangi kesalahpahaman. Di tengah arus informasi digital yang sangat cepat, fungsi ini menjadi semakin penting.

Selain itu, wartawan juga menjalankan fungsi pendidikan. Melalui pemberitaan yang bermutu, media dapat memperluas wawasan, membangun kemampuan berpikir kritis, dan mendorong masyarakat memahami persoalan secara objektif. Jurnalisme juga diharapkan memupuk rasa nasionalisme, lain dengan menghadirkan informasi yang memperkuat kepedulian terhadap bangsa, menjaga persatuan, serta mendorong partisipasi warga dalam kehidupan bernegara. Karena itu, pendidikan jurnalistik dan literasi media perlu diperkuat, terutama di lingkungan sekolah, agar generasi muda mampu memahami proses produksi berita sekaligus menyikapi informasi secara bertanggung jawab.

Pandangan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti ketika berkunjung ke kantor PWI Pusat di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Kunjungan itu dilakukan dalam rangka menjadi narasumber pada program siniar PWI Channel. Kehadirannya menegaskan pentingnya hubungan dunia pendidikan dan ekosistem pers dalam membentuk masyarakat yang informatif, kritis, dan memiliki kepedulian kebangsaan.

Pengalaman pribadi Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa aktivitas menulis dapat memberikan manfaat yang panjang dalam perkembangan seseorang. Sejak bersekolah, ia telah merasakan pentingnya menulis sebagai sarana untuk mengolah gagasan dan menyampaikan pikiran. Ketertarikan tersebut kemudian berlanjut ketika ia mengikuti pers kampus saat menjadi mahasiswa. Keterlibatan itu menjadi bagian dari proses yang memperkaya pengalamannya dalam menyusun informasi, memahami persoalan, serta mengomunikasikan pandangan kepada orang lain.

Bagi Abdul Mu’ti, pengalaman jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan tulisan. Aktivitas tersebut juga membantu mengasah cara berpikir kritis. Seseorang dituntut untuk mencermati persoalan, memahami informasi, serta melihat suatu peristiwa dari berbagai sudut pandang sebelum menyampaikan gagasan. Proses itu membentuk kebiasaan untuk tidak menerima informasi secara begitu saja, melainkan menilainya secara lebih teliti dan bertanggung jawab.

Keterampilan jurnalistik juga dinilai mendukung kemampuan menyampaikan gagasan secara lancar dan terstruktur. Melalui kegiatan menulis, siswa dapat belajar menata pikiran, memilih informasi yang relevan, dan menyusun pesan agar lebih mudah dipahami. Kemampuan tersebut penting karena komunikasi yang baik diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk ketika seseorang melanjutkan perjalanan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Atas dasar itu, penguatan pendidikan jurnalistik dan literasi media di sekolah dipandang memiliki kaitan dengan upaya memperluas pilihan profesi bagi siswa. Setiap siswa perlu memperoleh kesempatan untuk mengenali kemampuan, minat, dan cara berkomunikasinya, sehingga pilihan masa depan tidak dibatasi oleh pemahaman yang sempit mengenai pekerjaan. Semakin beragam keterampilan yang berkembang, semakin luas pula kemungkinan profesi yang dapat dipertimbangkan. Jurnalistik, dalam hal ini, tidak hanya memperkenalkan aktivitas menulis, tetapi juga membangun kecakapan berpikir dan berkomunikasi yang dapat berguna dalam beragam pilihan karier.

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti ke PWI Pusat. Kunjungan tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan insan pers dan dunia pendidikan. Akhmad Munir berharap literasi media dapat dihadirkan secara lebih sistematis di sekolah dengan melibatkan wartawan sebagai narasumber dan pendamping pembelajaran.

Menurut PWI Pusat, wartawan memiliki pengalaman praktis dalam mengajarkan cara memperoleh, memeriksa, dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab. Pengetahuan tersebut penting bagi siswa yang setiap hari berhadapan dengan beragam berita dan konten digital. Karena itu, PWI menyambut positif dorongan Mendikdasmen untuk menghidupkan kembali program pelatihan literasi media dan jurnalistik bagi pelajar. Kegiatan semacam ini dapat memperkenalkan dasar-dasar penulisan berita, verifikasi fakta, etika jurnalistik, serta pemahaman terhadap perbedaan informasi, opini, dan disinformasi.

Penguatan pendidikan jurnalistik di sekolah juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Program yang berkelanjutan dapat dikembangkan melalui lokakarya, kunjungan ke ruang redaksi, pembentukan klub jurnalistik, dan pendampingan karya tulis siswa. Dengan pendekatan tersebut, pelajar memperoleh ruang untuk berlatih menulis sekaligus belajar menggunakan media secara aman, kritis, dan beretika.

Dalam kesempatan itu, Akhmad Munir menyerahkan buku profil biografinya yang berjudul “Langkah Sunyi Menuju Puncak” kepada Abdul Mu’ti sebagai kenang-kenangan. Pemberian buku tersebut turut menandai kedekatan dialog PWI dan Kemendikdasmen dalam mendorong kemajuan pendidikan.

Sinergi kedua lembaga diharapkan mampu memperkuat ekosistem literasi nasional. Kolaborasi itu dapat membantu generasi muda menyaring informasi secara bijak, menghadapi disinformasi, serta tumbuh sebagai pribadi yang kritis, cakap menulis, dan memiliki karakter nasionalisme yang kuat. Melalui pendidikan media yang terarah, sekolah dapat menjadi ruang penting untuk membangun budaya informasi yang sehat dan bertanggung jawab.