JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, David Headley, co-founder sekaligus managing director Goldsboro Books, membawa kabar mengenai salah satu koleksi langka yang akan diperkenalkan dan ditawarkan kepada publik. Koleksi tersebut merupakan edisi pertama Harry Potter yang ditandatangani langsung oleh J.K. Rowling. Informasi ini menjadi perhatian karena buku tersebut termasuk bagian dari koleksi bernilai tinggi yang diperkenalkan Goldsboro Books dalam agenda mereka di Jakarta.
Menurut David, buku itu dahulu dibelinya dengan harga 12,99 pound sterling. Jika dikonversikan pada nilai saat ini, harga pembelian tersebut setara dengan sekitar Rp250 ribu. Namun, seiring meningkatnya minat terhadap barang koleksi sastra dan kelangkaan edisi pertama yang memiliki tanda tangan penulis, nilai buku tersebut kini diperkirakan mencapai sekitar 12.000 dolar AS.
Nilai tersebut setara dengan kisaran Rp180 juta hingga Rp200 juta, bergantung pada kurs yang berlaku. Perbedaan yang sangat besar harga pembelian awal dan perkiraan nilai sekarang menunjukkan bagaimana karya sastra tertentu dapat berkembang menjadi aset koleksi dengan nilai ekonomi tinggi. Faktor sejarah kepemilikan serta tanda tangan penulis turut menjadikan buku itu sebagai salah satu koleksi yang menarik perhatian.
David menyampaikan informasi tersebut saat ditemui awak media di kawasan Kuningan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa koleksi langka tersebut menjadi bagian dari kabar yang dibawa Goldsboro Books untuk diperkenalkan di Jakarta. Kehadiran edisi pertama Harry Potter bertanda tangan J.K. Rowling memperlihatkan perhatian terhadap pasar buku langka sekaligus membuka kesempatan bagi kolektor di Indonesia untuk mengenal lebih dekat koleksi bernilai internasional.
Selain koleksi edisi pertama Harry Potter, David juga memiliki buku langka karya Roald Dahl berjudul Danny, the Champion of the World. Buku tersebut merupakan edisi pertama yang diperolehnya setelah melalui pencarian selama bertahun-tahun. Proses mendapatkannya tidak mudah karena buku dalam kondisi dan edisi yang diinginkan jarang muncul di pasaran. Ketika kesempatan akhirnya datang, David harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melengkapi koleksinya.
Bagi David, nilai buku tersebut tidak hanya terletak pada usia atau kelangkaannya, tetapi juga pada kedudukannya dalam sejarah sastra anak-anak. Karya Roald Dahl dikenal memiliki daya tarik lintas generasi, sehingga edisi pertamanya terus diburu oleh kolektor di berbagai negara. Sampul, tahun penerbitan, kondisi fisik, serta kelengkapan buku menjadi faktor yang turut menentukan tingkat kelangkaan dan harganya.
David mengatakan masih ada sejumlah buku anak-anak tertentu yang hingga kini ingin ia dapatkan. Namun, beberapa di antaranya belum dapat dibeli karena harga edisi pertamanya sangat mahal di pasaran. Kondisi tersebut membuatnya harus menunggu kesempatan yang tepat, sekaligus mempertimbangkan dengan cermat nilai dan anggaran sebelum mengambil keputusan.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa mengoleksi buku edisi pertama membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemampuan untuk mengenali peluang. Tidak semua judul langka bisa segera ditemukan, sementara harga dapat berubah bergantung pada kelangkaan, kondisi, serta permintaan kolektor. Karena itu, pencarian sering berlangsung bertahun-tahun sebelum sebuah buku benar-benar masuk ke koleksi pribadi.
Koleksi Danny, the Champion of the World menjadi salah satu contoh perjalanan tersebut. Kehadirannya memperlihatkan luasnya minat David terhadap karya sastra anak-anak, di luar seri Harry Potter. Meski demikian, informasi mengenai buku-buku lain yang masih ia cari tidak berarti seluruh judul tersebut akan dijual atau dipamerkan di Jakarta. Penyebutan koleksi itu lebih menggambarkan perjalanan pribadi dan tantangan dalam memperoleh buku-buku langka.
Goldsboro Books memiliki tim khusus yang oleh David disebut sebagai “pemburu buku”. Sebutan tersebut menggambarkan peran mereka dalam mencari edisi-edisi langka yang memiliki tempat penting dalam koleksi buku. Tim ini berkeliling dunia untuk menemukan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan koleksi Goldsboro Books. Pencarian tersebut menjadi bagian dari proses yang berlangsung sebelum buku langka ditawarkan kepada para pembeli.
Setelah edisi-edisi langka ditemukan, buku-buku tersebut ditujukan bagi toko Goldsboro Books di London. Dengan demikian, koleksi yang kemudian diperkenalkan kepada publik tidak hadir secara kebetulan, melainkan melalui proses pencarian yang dilakukan secara khusus. Keterangan David memperlihatkan bahwa di balik setiap buku langka terdapat perhatian terhadap proses penemuan dan pemilihannya. Perjalanan tim “pemburu buku” menjadi salah satu bagian penting dalam menghadirkan koleksi tersebut di toko.
Informasi ini juga membantu memberikan gambaran mengenai bagaimana Goldsboro Books memperoleh edisi-edisi yang jarang ditemukan. Sebelum pembeli dapat melihat dan mempertimbangkan buku-buku itu, terdapat tim yang bertugas menjelajahi dunia untuk mencarinya. Peran tersebut menunjukkan adanya upaya khusus dalam mengumpulkan edisi langka untuk Goldsboro Books di London. Karena itu, koleksi yang diperkenalkan di Jakarta dapat dipahami sebagai hasil dari rangkaian pencarian yang telah dilakukan sebelumnya. Penjelasan mengenai tim ini menyoroti proses di balik hadirnya buku langka, tanpa mengurangi perhatian pada buku-buku yang akhirnya ditawarkan kepada pembeli. Dengan adanya tim khusus tersebut, pencarian edisi langka menjadi bagian tersendiri dari perjalanan koleksi, sejak ditemukan hingga sampai kepada khalayak melalui toko Goldsboro Books.
Peluang Goldsboro Books membuka toko offline di Indonesia mulai mendapat perhatian setelah kehadiran koleksi buku langka mereka di BBW Books pada tahun ini. Namun, rencana tersebut belum berada pada tahap pelaksanaan penuh. David menyampaikan bahwa gagasan untuk menghadirkan toko fisik di Indonesia memang sudah ada, tetapi Goldsboro Books masih perlu memahami respons pembaca dan karakter pasar lokal sebelum mengambil keputusan lebih jauh.
Menurut David, dirinya dan Andrew telah membicarakan kemungkinan tersebut. Pembahasan itu mencakup cara memperkenalkan koleksi edisi pertama, menentukan jenis buku yang paling diminati, serta membangun hubungan dengan pembaca dan kolektor di Indonesia. Meski demikian, rencana pembukaan toko tidak akan dilakukan secara sekaligus. Penjualan buku-buku langka melalui BBW Books menjadi langkah awal untuk menguji segmentasi pasar secara bertahap.
Pendekatan tersebut memungkinkan Goldsboro Books mengamati minat konsumen terhadap berbagai kategori, mulai dari sastra populer hingga karya dengan nilai koleksi yang lebih khusus. Respons terhadap harga, format edisi, serta tingkat kelangkaan buku dapat menjadi pertimbangan penting sebelum perusahaan menyiapkan operasional toko offline. Dengan demikian, kehadiran di BBW Books berfungsi sebagai sarana pengenalan sekaligus pengumpulan informasi pasar, bukan semata-mata kegiatan penjualan.
Goldsboro Books juga menawarkan sejumlah edisi pertama lain bagi pembaca dan kolektor. Di antaranya adalah Taipei Story karya R.F. Kuang dan Sweetest Fiend karya Raven Kennedy. Kehadiran judul-judul tersebut memperlihatkan luasnya pilihan koleksi yang dapat diperkenalkan kepada pasar Indonesia, sembari memberi ruang bagi Goldsboro Books untuk menilai perkembangan minat sebelum merealisasikan rencana toko fisik.


