Kabut Asap Batasi Operasional Penerbangan di Sorong, Dua Pesawat Dialihkan

oleh -48 Dilihat
oleh
Kabut Asap Batasi Operasional Penerbangan di Sorong, Dua Pesawat Dialihkan

SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Dua penerbangan di Bandara Deo Sorong, Papua Barat Daya, dialihkan pada Kamis, 8 Oktober 2026, akibat gangguan jarak pandang yang dipicu kabut asap. Kondisi tersebut membuat operasional penerbangan tidak dapat berjalan normal, terutama bagi pesawat yang hendak mendarat di bandara tujuan.

Manajer Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong, Hery Purnomo, menjelaskan bahwa satu penerbangan diarahkan ke Bandara Rendani, Manokwari, sedangkan penerbangan lainnya dialihkan ke Bandara Frans Kaisiepo, Biak. Pengalihan dilakukan sebagai langkah keselamatan karena jarak pandang di sekitar Bandara Deo belum mendukung proses pendaratan secara optimal.

Penerbangan yang menuju Biak merupakan pesawat kargo dengan rute Makassar-Sorong. Sementara itu, penerbangan yang diarahkan ke Manokwari adalah Batik Air yang melayani rute Jakarta-Sorong. Kedua pesawat tersebut semula dijadwalkan tiba di Sorong, tetapi harus mengubah tujuan sementara hingga kondisi atmosfer memungkinkan penerbangan dilanjutkan secara aman.

Gangguan akibat kabut asap tidak hanya berdampak pada pesawat yang masih berada dalam perjalanan. Sejumlah pesawat yang telah berada di landasan Bandara Deo juga mengalami keterlambatan keberangkatan menuju tujuan masing-masing. Penundaan tersebut diberlakukan untuk menyesuaikan operasional dengan perkembangan jarak pandang dan memastikan seluruh tahapan penerbangan memenuhi aspek keselamatan.

Petugas AirNav bersama pihak bandara terus memantau kondisi udara dan pergerakan pesawat. Keputusan mengenai keberangkatan maupun kedatangan akan disesuaikan dengan informasi terbaru di lapangan. Penumpang disarankan mengikuti pemberitahuan dari maskapai terkait perubahan jadwal, lokasi pesawat, serta kemungkinan penyesuaian rute selama kabut asap masih membatasi aktivitas penerbangan di Sorong.

AirNav Indonesia Cabang Sorong tetap menjalankan pelayanan navigasi penerbangan sesuai standar operasional prosedur yang berlaku. Pelayanan tersebut mencakup penyampaian informasi mengenai kondisi penerbangan kepada maskapai dan pilot, termasuk ketika jarak pandang di wilayah bandar udara berada di bawah ambang minimum yang ditetapkan. Dalam situasi seperti ini, informasi yang akurat dan diperbarui menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan penerbangan.

Informasi mengenai cuaca dan jarak pandang disediakan berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi Kelas I Domine Eduard Osok Sorong. Data tersebut menjadi rujukan dalam penyampaian kondisi terkini kepada pihak-pihak terkait dalam operasional penerbangan. AirNav menyampaikan informasi itu melalui pelayanan navigasi, sehingga maskapai dan penerbang dapat mengetahui keadaan yang memengaruhi penerbangan di sekitar Sorong.

Sesuai keterangan Hery, keputusan untuk mengalihkan penerbangan berada di tangan pilot atau penerbang. AirNav tidak menetapkan pengalihan tersebut, melainkan berperan menyampaikan informasi mengenai kondisi penerbangan, termasuk perubahan cuaca dan jarak pandang. Informasi itu diberikan sebagai bagian dari pelaksanaan tugas pelayanan navigasi berdasarkan prosedur yang berlaku.

Dengan demikian, pelayanan navigasi AirNav dan keputusan operasional penerbangan memiliki fungsi yang berbeda. AirNav bertugas menyediakan serta menyampaikan informasi yang diperlukan untuk mendukung keselamatan dan kelancaran navigasi. Sementara itu, pilot atau penerbang menggunakan informasi tersebut dalam menentukan tindakan operasional penerbangan, termasuk mempertahankan rute atau mengalihkan pesawat. Maskapai dan awak pesawat tetap menjadi pihak yang mengambil keputusan terkait pelaksanaan penerbangan berdasarkan kondisi yang dihadapi serta informasi yang diterima.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Deo Sorong, Ahmad Bisri, menjelaskan bahwa kabut asap berdampak langsung pada jarak pandang di wilayah Sorong. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jarak pandang merupakan salah satu pertimbangan penting dalam operasional penerbangan, terutama ketika pesawat hendak mendarat atau lepas landas. Asap yang menumpuk di atmosfer membuat udara tampak berkabut dan mengurangi kejernihan pandangan dari permukaan hingga area sekitar bandar udara.

Ahmad menerangkan, angin dominan dari arah tenggara membawa asap dari wilayah yang memiliki banyak titik panas menuju Sorong. Pergerakan massa udara tersebut menyebabkan konsentrasi asap meningkat, khususnya pada pagi hari ketika kondisi atmosfer cenderung lebih stabil. Pada Rabu, jarak pandang terburuk tercatat sekitar 1.000 meter, yakni sejak pukul 06.05 hingga 07.00 WIT. Sementara itu, pada Kamis pagi, jarak pandang sempat berada pada angka 1.500 meter sekitar pukul 07.00 WIT. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa intensitas kabut asap dapat berfluktuasi dalam waktu singkat.

Dalam kondisi cuaca kering, kabut asap dapat membuat jarak pandang berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer, bergantung pada kepadatan asap, arah angin, dan stabilitas udara. Situasi ini berpotensi membatasi operasional penerbangan serta mendorong maskapai melakukan penyesuaian demi keselamatan. Hingga 8 Oktober 2026, tercatat 1.463 titik panas di Papua Barat Daya sejak awal Oktober. Jumlah titik panas terbanyak terdeteksi di Kabupaten Sorong Selatan, sehingga wilayah tersebut menjadi salah satu sumber asap yang perlu dipantau. Data titik panas dan perkembangan jarak pandang terus menjadi rujukan dalam mengevaluasi kondisi penerbangan di Sorong.

Dampak kabut asap juga dirasakan Garuda Indonesia pada rute Jakarta-Sorong. Kondisi jarak pandang yang belum stabil membuat maskapai perlu menyesuaikan waktu penerbangan demi menjaga keselamatan dan mengurangi kemungkinan pesawat dialihkan ke bandar udara lain. Penyesuaian tersebut berlaku selama kondisi kabut asap masih memengaruhi operasional penerbangan di Sorong.

General Manager Garuda Indonesia Cabang Sorong, Nadia Anisa, menjelaskan bahwa waktu penerbangan disesuaikan selama kabut asap berlangsung. Dalam tiga hari terakhir, pesawat Garuda Indonesia baru dapat mendarat di Sorong sekitar pukul 11.00 WIT. Sejalan dengan kondisi itu, jadwal keberangkatan dari Jakarta yang biasanya ditetapkan pada pukul 00.10 diubah menjadi pukul 05.00.

Menurut Nadia, perubahan jadwal dilakukan untuk menghindari kemungkinan pengalihan penerbangan sekaligus membantu penumpang mengatur perjalanan lanjutan setibanya di Sorong. Dengan waktu kedatangan yang lebih dapat diperkirakan, penumpang memiliki kesempatan untuk menyesuaikan transportasi, agenda, maupun penerbangan berikutnya. Maskapai tetap memantau perkembangan jarak pandang dan kondisi cuaca sebelum menentukan pelaksanaan penerbangan.

Gangguan terhadap jadwal juga tercatat pada penerbangan rute Sorong-Jakarta. Pada Senin, Selasa, dan Rabu, masing-masing terdapat satu penerbangan yang mengalami keterlambatan sekitar lima hingga enam jam. Keterlambatan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya berdampak pada penerbangan yang hendak mendarat di Sorong, tetapi juga memengaruhi keberangkatan pesawat dari bandara tersebut.

Penumpang disarankan memeriksa kembali informasi penerbangan melalui kanal resmi Garuda Indonesia sebelum menuju bandara. Perubahan waktu keberangkatan dan kedatangan dapat dilakukan mengikuti hasil pemantauan terbaru, sehingga penumpang perlu menyiapkan waktu perjalanan secara fleksibel dan mengantisipasi perubahan pada jadwal penerbangan lanjutan.