Arahan Awal Candra Sasongko untuk Jajaran Polresta Surakarta

oleh -124 Dilihat
oleh
Arahan Awal Candra Sasongko untuk Jajaran Polresta Surakarta

Serang | Kepemimpinan di Polresta Surakarta berganti. AKBP Candra Sasongko kini memimpin institusi tersebut, menggantikan Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo. Pergantian ini ditandai dengan serah terima jabatan yang dipimpin Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan pada Kamis (16/10) di Mapolda Jawa Tengah. Dalam agenda tersebut, Candra menerima tongkat komando untuk melanjutkan tugas kepolisian di wilayah Surakarta, sementara Catur beralih ke penugasan baru di tingkat pusat.

Catur mendapat penugasan sebagai analis dan advokasi hukum kepolisian madya tingkat III di Divkum Polri. Perubahan jabatan ini menjadi bagian dari rotasi personel di lingkungan kepolisian. Bagi Polresta Surakarta, pergantian pucuk pimpinan menandai dimulainya masa kepemimpinan baru sekaligus kesinambungan tanggung jawab institusi dalam menjalankan fungsi pelayanan, perlindungan, dan penegakan hukum. Sertijab juga menjadi kesempatan bagi pimpinan baru untuk memahami kondisi organisasi serta melanjutkan pekerjaan yang telah berjalan.

Dengan resmi menerima amanah tersebut, Candra akan memimpin jajaran Polresta Surakarta dalam melaksanakan tugas kepolisian di wilayahnya. Peran kapolresta mencakup koordinasi personel dan pelaksanaan program kerja, termasuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Pada saat yang sama, penempatan Catur di Divkum Polri membawa pengalaman yang telah dimilikinya ke bidang analisis dan advokasi hukum kepolisian. Rangkaian pergantian ini memperlihatkan pembagian penugasan yang berbeda, dengan masing-masing pejabat menjalankan tanggung jawab sesuai posisi barunya.

Upacara serah terima yang dipimpin langsung Kapolda Jawa Tengah tersebut menjadi penanda formal peralihan kepemimpinan. Setelah prosesi berlangsung, fokus organisasi berada pada pelaksanaan tugas sehari-hari dan penyesuaian di bawah komando Candra. Masyarakat dapat mencermati perkembangan kepemimpinan baru melalui kegiatan dan layanan kepolisian yang diselenggarakan di Surakarta. Sementara itu, Catur memulai tanggung jawabnya di Divkum Polri sebagai analis dan advokasi hukum kepolisian madya tingkat III. Dengan demikian, perubahan jabatan di Polresta Surakarta berlangsung seiring penempatan baru bagi pejabat sebelumnya.

Dalam apel perdananya pada Senin (19/10) di Mapolresta Solo, Candra Sasongko menyampaikan pesan mengenai pentingnya komunikasi dan kerja bersama di lingkungan Polresta Surakarta. Ia menyoroti bahwa kegagalan organisasi biasanya terjadi ketika komunikasi dan tindakan tidak berjalan seiring. Pesan tersebut menjadi arahan awal bagi jajaran untuk memperhatikan hubungan penyampaian informasi dan pelaksanaan tugas sehari-hari. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya berlangsung melalui penyampaian pesan, tetapi juga perlu selaras dengan langkah yang diambil oleh setiap personel dan bagian.

Candra meminta jajaran Polresta Surakarta meningkatkan komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi. Ketiganya disampaikan sebagai unsur yang perlu diperkuat dalam menjalankan tugas organisasi. Komunikasi membantu memastikan informasi dapat disampaikan dan dipahami, sementara kolaborasi mendorong kerja bersama. Koordinasi diperlukan agar tindakan yang dilakukan dapat berjalan selaras. Arahan ini menekankan bahwa pelaksanaan tugas tidak berdiri sendiri; hubungan antarpersonel dan antarbagian juga perlu mendapat perhatian. Pesan tersebut disampaikan kepada jajaran dalam apel sebagai bagian dari komunikasi awal kepemimpinannya di Mapolresta Solo.

Penekanan pada keselarasan komunikasi dan tindakan menjadi inti dari arahan itu. Ketika informasi dan pelaksanaan tidak sejalan, menurut Candra, organisasi biasanya dapat mengalami kegagalan. Karena itu, ia meminta jajaran memperbaiki dan menjaga komunikasi, sekaligus meningkatkan kolaborasi serta koordinasi dalam pekerjaan. Arahan tersebut menggarisbawahi perlunya memastikan pesan yang disampaikan terhubung dengan langkah nyata, serta kerja bersama dapat berlangsung secara terkoordinasi. Dalam konteks tugas Polresta Surakarta, perhatian pada tiga aspek itu menjadi pesan pertama yang ia berikan kepada personel. Arahan tersebut disampaikan tanpa merinci alasan khusus di balik penekanannya, maupun menjabarkan langkah teknis tertentu. Pokok yang disampaikan adalah bahwa komunikasi, kolaborasi, koordinasi, dan tindakan perlu berjalan seiring dalam organisasi.

Candra Sasongko meminta pejabat utama dan para perwira di lingkungan Polresta Surakarta memastikan laporan kepada pimpinan memuat gambaran yang utuh. Informasi mengenai suatu peristiwa atau kejadian memang penting, tetapi tidak cukup jika hanya menjelaskan apa yang terjadi. Laporan juga perlu menerangkan tindakan yang sudah dilakukan anggota setelah menerima informasi atau menangani persoalan tersebut. Dengan begitu, pimpinan dapat mengetahui bukan hanya situasi yang dihadapi, melainkan juga respons kepolisian di lapangan.

Penjelasan mengenai langkah penanganan membantu pimpinan menilai perkembangan suatu perkara dan memahami apakah tindak lanjut masih diperlukan. Anggota diharapkan menyampaikan secara jelas upaya yang telah ditempuh, pihak yang sudah dihubungi, serta kondisi terakhir yang diketahui, sesuai konteks laporan. Pelaporan yang runtut dan faktual dapat mengurangi ketidakjelasan dalam koordinasi. Jika masih ada kendala atau kebutuhan dukungan, hal itu pun dapat disampaikan agar langkah berikutnya bisa dipertimbangkan. Arahan ini menempatkan laporan sebagai sarana komunikasi kerja, bukan sekadar pemberitahuan atas sebuah kejadian.

Selain mendorong pelaporan yang lebih lengkap, Candra menekankan pentingnya menjalankan semangat “polisi bersama masyarakat”. Anggota perlu hadir dan peka terhadap keadaan di lingkungan sekitar, serta tidak bersikap apatis ketika melihat persoalan atau kebutuhan warga. Kepedulian tersebut selaras dengan tugas pelayanan dan pemeliharaan keamanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Sikap tanggap juga perlu diikuti tindakan yang sesuai, kemudian dikomunikasikan melalui jalur pelaporan yang berlaku. Dengan demikian, pimpinan dapat memperoleh informasi mengenai masalah sekaligus respons anggota, sementara masyarakat merasakan kehadiran polisi yang peduli. Pesan ini menegaskan bahwa kualitas kerja tidak hanya terlihat dari kemampuan mengenali peristiwa, tetapi juga dari kesungguhan menindaklanjutinya dan melaporkan prosesnya secara bertanggung jawab.

Menutup arahannya kepada jajaran Polresta Surakarta, Candra Sasongko mengingatkan bahwa setiap anggota perlu menjadi polisi sekaligus pemimpin bagi dirinya sendiri. Pesan tersebut menekankan pentingnya mengelola sikap, menjaga tanggung jawab, dan menjalankan tugas dengan kesadaran pribadi. Menurut ajakan itu, kepemimpinan tidak hanya melekat pada jabatan atau kewenangan formal. Setiap personel dapat memulainya dari cara mengatur diri, menentukan pilihan, serta mempertanggungjawabkan tindakan dalam pekerjaan sehari-hari. Dengan demikian, disiplin dan integritas bukan semata-mata tuntutan dari atasan, melainkan juga komitmen yang perlu tumbuh dalam diri masing-masing anggota.

Candra juga mengajak setiap personel agar mampu menjadi “kapolres” bagi dirinya sendiri. Ungkapan tersebut menjadi cara ringkas untuk menggambarkan tanggung jawab pribadi: setiap orang perlu mampu mengarahkan dirinya, menjaga perilaku, dan memastikan pelaksanaan tugas tetap berada pada koridor yang semestinya. Pesan ini mengajak anggota untuk tidak hanya menunggu arahan, tetapi juga berinisiatif dalam menjaga profesionalisme. Pada saat yang sama, ajakan tersebut tidak menghapus pentingnya kerja bersama dan kepatuhan terhadap organisasi. Sebaliknya, kepemimpinan diri diharapkan mendukung pelaksanaan tugas secara tertib, saling menghormati, serta berorientasi pada tanggung jawab pelayanan kepolisian.

Pesan itu disampaikan oleh perwira yang memiliki pengalaman bertugas di sejumlah wilayah dan bidang kepolisian. Candra merupakan lulusan Akpol 2005. Ia bertugas di Polda Metro Jaya pada 2005–2013, kemudian di Polda Jawa Barat pada 2013–2021, dan juga pernah bertugas di Polda Banten. Pada 2024–2025, ia menjabat Kapolres Serang. Sebelum bertugas di Solo, Candra menjabat Kabagbinkar Biro SDM Polda Jawa Barat. Di media sosial, ia dikenal dengan sapaan “Mbah Con” dan memiliki reputasi sebagai polisi jenaka. Latar pengalaman tersebut menjadi konteks bagi arahannya kepada jajaran, sementara ajakan menjadi pemimpin bagi diri sendiri tetap ditujukan kepada setiap anggota, apa pun tugas dan tanggung jawab yang diemban.