Angga Putra Pratama Dorong Dialog Soal Konser Andrea Bocelli

oleh -232 Dilihat
oleh
Angga Putra Pratama Dorong Dialog Soal Konser Andrea Bocelli

Jakarta | Angga Putra Pratama, Wasekjen Bidang Hukum, Pertahanan dan Keamanan PB HMI, menilai rencana konser Andrea Bocelli perlu dibicarakan secara terbuka dan proporsional. Menurutnya, ruang diskusi yang jernih memungkinkan masyarakat menimbang berbagai aspek acara tersebut tanpa terburu-buru menyederhanakan persoalan menjadi pilihan mendukung konser atau mengabaikan isu lain. Perbedaan pandangan, katanya, merupakan bagian dari percakapan publik yang wajar, selama disampaikan dengan pertimbangan yang matang dan saling menghormati. Ia menyampaikan pandangan itu dalam keterangan di Jakarta pada Kamis.

Dalam pembahasan, Angga mendorong agar diplomasi budaya turut diperhitungkan. Kehadiran seniman internasional dapat membuka ruang pertemuan lintas masyarakat dan menjadi sarana pertukaran budaya. Namun, nilai tersebut bukan berarti seluruh kritik harus dikesampingkan. Penyelenggara, pemangku kepentingan, dan masyarakat dapat membicarakan tujuan acara, pesan yang ingin disampaikan, serta konteks sosial yang menyertainya. Dengan begitu, penilaian terhadap konser tidak hanya bertumpu pada siapa yang tampil, tetapi juga pada bagaimana acara itu direncanakan dan dipahami publik.

Ia juga mengajak publik melihat kemungkinan dampak bagi pengembangan industri kreatif. Acara berskala besar dapat melibatkan pekerja seni, kru produksi, pelaku usaha, dan sektor pendukung lainnya. Kesempatan ekonomi dan profesional tersebut patut masuk dalam pertimbangan, tanpa menutup ruang untuk menilai risiko maupun tanggung jawab sosial penyelenggara. Pada saat yang sama, solidaritas terhadap Palestina tetap menjadi perhatian yang penting. Angga menekankan perlunya membicarakan solidaritas itu secara serius, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk meniadakan pembahasan mengenai kebudayaan dan industri kreatif. Sebaliknya, kepentingan ekonomi dan hiburan pun tidak semestinya digunakan untuk meremehkan kepedulian terhadap warga Palestina.

Pendekatan dialog, menurut Angga, dapat membantu publik menghindari polarisasi dan mendorong keputusan yang mempertimbangkan beragam nilai. Setiap pihak dapat menyampaikan keberatan, menjelaskan sikap, serta mencari bentuk komunikasi yang menghormati prinsip kemanusiaan sekaligus memberi ruang bagi pertukaran budaya. Pembahasan terbuka juga memberi kesempatan kepada penyelenggara untuk menjawab pertanyaan secara transparan. Dengan menimbang diplomasi budaya, peluang bagi industri kreatif, dan solidaritas terhadap Palestina secara bersamaan, masyarakat dapat membangun percakapan yang lebih seimbang dan memahami kompleksitas isu ini tanpa menutup pintu bagi kepentingan lain.

Angga Putra Pratama menegaskan bahwa solidaritas terhadap rakyat Palestina tetap menjadi komitmen moral sekaligus politik Indonesia. Sikap tersebut bukan respons sesaat terhadap perkembangan tertentu, melainkan bagian dari prinsip yang telah lama dinyatakan dalam kebijakan luar negeri dan pandangan kebangsaan. Ia menilai dukungan bagi kemerdekaan Palestina sejalan dengan amanat konstitusi, yang menolak penjajahan dan mendorong terwujudnya ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial. Karena itu, menurutnya, komitmen tersebut bersifat harga mati dan tidak semestinya dikurangi oleh perbedaan pendapat mengenai agenda budaya atau hiburan. Pendirian ini juga menuntut konsistensi dalam menyampaikan dukungan kemanusiaan maupun mengambil keputusan publik.

Dalam pandangannya, dukungan terhadap penyelenggaraan konser Andrea Bocelli tidak otomatis berarti mengesampingkan penderitaan warga Palestina atau mengabaikan isu kemanusiaan. Dua hal itu berada dalam ranah yang berbeda dan tidak harus dijadikan pilihan yang saling meniadakan. Kegiatan seni dapat berlangsung, sementara perhatian publik dan diplomasi Indonesia terhadap Palestina tetap dipertahankan. Angga mendorong agar perdebatan tidak berhenti pada penilaian bahwa kehadiran konser merupakan tanda melemahnya solidaritas. Sebaliknya, masyarakat dan penyelenggara dapat membahas konteks acara secara terbuka, termasuk nilai yang dibawa, pesan yang disampaikan, serta dampaknya. Dialog yang jernih membantu menghindari kesimpulan tergesa-gesa dan memberi ruang bagi berbagai kepentingan untuk dipahami secara utuh.

Angga berpandangan keseimbangan dapat dijaga melalui cara pandang yang proporsional, kebijakan yang jelas, dan pelaksanaan yang bertanggung jawab. Pemerintah maupun pihak penyelenggara perlu memastikan bahwa keputusan terkait kegiatan budaya tidak bertentangan dengan prinsip kemanusiaan, sekaligus menghormati ruang bagi ekspresi seni. Kejelasan sikap juga penting agar publik mengetahui bahwa komitmen Indonesia terhadap Palestina tetap berjalan, bukan sekadar pernyataan tanpa tindak lanjut. Pada saat yang sama, penyelenggaraan acara sebaiknya mempertimbangkan sensitivitas masyarakat, menyampaikan informasi secara terbuka, dan tidak menggunakan isu politik untuk mengalihkan perhatian dari tujuan kegiatan. Dengan pendekatan demikian, diplomasi budaya dapat berjalan berdampingan dengan solidaritas kemanusiaan. Perbedaan pandangan dapat dikelola melalui dialog, tanpa mengaburkan sikap konstitusional Indonesia maupun menyederhanakan persoalan menjadi pertentangan mutlak seni dan kepedulian terhadap Palestina.

Angga Putra Pratama menilai dampak ekonomi konser berskala internasional tidak semestinya dihitung hanya dari jumlah tiket yang terjual atau pendapatan penyelenggara. Acara yang menghadirkan artis seperti Andrea Bocelli dapat menggerakkan berbagai kegiatan sebelum, selama, dan setelah pertunjukan. Pengunjung yang datang dari luar kota atau luar negeri membutuhkan akomodasi, perjalanan, makanan, serta layanan lain. Karena itu, manfaat ekonomi berpotensi mengalir ke banyak pelaku usaha dan pekerja, bukan hanya pihak yang terlibat langsung dalam penjualan tiket.

Sektor perhotelan dapat memperoleh permintaan dari penonton yang menginap, sementara transportasi berperan dalam perjalanan menuju lokasi konser maupun selama mereka berada di kota penyelenggara. Kuliner juga berpeluang mendapat tambahan pelanggan, baik melalui restoran, pedagang makanan, maupun usaha kecil di sekitar tempat acara. Di sisi lain, kegiatan wisata dapat mendorong pengunjung untuk mendatangi destinasi setempat. Jika kunjungan berlangsung lebih lama, belanja pengunjung berpotensi menyebar ke lebih banyak tempat dan memberi manfaat bagi perekonomian lokal.

Rantai penyelenggaraan konser turut membuka kebutuhan terhadap jasa produksi, tata panggung, pencahayaan, dan tata suara. Berbagai kebutuhan teknis itu memerlukan penyedia jasa serta tenaga profesional kreatif yang mampu merancang dan menjalankan pertunjukan. Pekerjaan dapat mencakup persiapan, pelaksanaan, hingga pembongkaran, sehingga peluangnya tidak terbatas pada malam konser. Keterlibatan tenaga lokal dalam produksi dan layanan pendukung dapat membantu memperluas kesempatan kerja sekaligus memberi ruang bagi keahlian kreatif untuk digunakan dalam acara bertaraf internasional.

Menurut Angga, peluang tersebut akan lebih berarti apabila ekosistem acara dirancang secara inklusif. Pekerja kreatif, penyedia jasa, pelaku UMKM, dan usaha pendukung perlu memiliki kesempatan untuk terlibat, bukan sekadar berada di sekitar kegiatan. Perencanaan yang membuka akses bagi pelaku lokal dapat membantu memastikan bahwa belanja dan pekerjaan terkait acara tersebar lebih luas. Dengan demikian, ukuran manfaat konser dapat mencakup keterlibatan serta dampak bagi masyarakat usaha setempat. Pendekatan ini juga mendorong penyelenggara untuk mempertimbangkan kemitraan lokal sejak tahap perencanaan, agar kebutuhan acara dan potensi daerah dapat saling mendukung.

Shoemaker Live menyatakan bahwa konser Andrea Bocelli dalam rangka Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia tetap akan berlangsung sesuai jadwal yang telah diumumkan. Pertunjukan pertama direncanakan pada 31 Oktober 2026 di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Selanjutnya, konser akan digelar pada 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa untuk saat ini kedua lokasi dan tanggal itu tetap menjadi bagian dari rencana penyelenggaraan tur di Indonesia.

Menurut promotor, keputusan untuk melanjutkan rencana konser di dua kota tersebut diambil setelah pihaknya mendengarkan berbagai pandangan, berdialog, dan menerima masukan dari sejumlah pihak. Shoemaker Live menyebut proses itu dilakukan sebagai bagian dari pertimbangan sebelum menetapkan langkah terkait penyelenggaraan acara. Dengan demikian, keterangan mengenai jadwal dan alasan tersebut merupakan penjelasan dari promotor, bukan pandangan yang disampaikan Angga Putra Pratama. Promotor juga menekankan pentingnya komunikasi dengan pihak-pihak terkait dalam mematangkan pelaksanaan acara.

Shoemaker Live turut menyampaikan bahwa pertimbangan keputusan mencakup aspek strategis nasional.

Baca juga: Konser Andrea Bocelli di Magelang dan Jakarta Usung Pesan Perdamaian | Konser dan Agenda Kreatif Dorong Perputaran Ekonomi Jakarta