IHSG Melemah pada Awal Perdagangan, Pasar Mencermati Keputusan Bank Sentral dan Data Global

oleh -154 Dilihat
oleh
IHSG Melemah pada Awal Perdagangan, Pasar Mencermati Keputusan Bank Sentral dan Data Global

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada awal perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Hingga pukul 09.21 WIB, indeks berada di level 5.225,65, turun 56,66 poin atau 1,07% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan pagi itu berlangsung berlawanan arah dengan kondisi sesaat setelah pembukaan, ketika IHSG sempat bergerak naik sebelum tekanan jual mendorong indeks berbalik turun.

Pada awal sesi, IHSG dibuka di level 5.305,20. Indeks kemudian sempat menguat dan mencapai titik tertinggi pagi di 5.320,90. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Setelah menyentuh level tertinggi, IHSG mulai bergerak melemah secara bertahap seiring meningkatnya tekanan jual. Penurunan berlangsung hingga indeks mencapai titik terendah pada pukul 09.18 WIB, yakni 5.223,90.

Setelah menyentuh level tersebut, indeks mengalami pemantulan dan kembali bergerak ke kisaran 5.232. Pergerakan selanjutnya cenderung mendatar, dengan IHSG berada di sekitar level itu hingga pukul 09.21 WIB. Meski sempat pulih dari posisi terendah intraperdagangan, indeks masih tercatat turun lebih dari satu persen pada waktu pemantauan tersebut. Rentang pergerakan dari level pembukaan hingga titik tertinggi dan terendah menunjukkan perubahan arah yang cukup cepat pada awal sesi.

Aktivitas transaksi di pasar saham pada periode tersebut tercatat sekitar 44,48 juta lot, dengan nilai transaksi sekitar Rp1,89 triliun. Data ini menggambarkan perdagangan yang telah berlangsung sejak pembukaan hingga waktu pemantauan, ketika indeks masih berada di zona merah. Pergerakan IHSG pada pagi hari dapat terus berubah seiring transaksi berikutnya. Investor juga mencermati perkembangan pasar dan informasi ekonomi yang tersedia, tanpa mengabaikan bahwa data pada pukul 09.21 WIB hanya mencerminkan kondisi indeks pada saat itu, bukan hasil akhir perdagangan hari ini.

Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Namun, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Gubernur Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, mencerminkan perbedaan pandangan di para pejabat mengenai langkah yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

The Fed menyatakan inflasi masih berada pada tingkat tinggi dan membuka kemungkinan penyesuaian suku bunga lebih lanjut. Meski demikian, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan berikutnya. Ia menegaskan bahwa bank sentral tetap berupaya mengembalikan inflasi ke sasaran 2%. Sikap tersebut membuat pelaku pasar perlu mencermati data ekonomi dan pernyataan pejabat sebelum menarik kesimpulan tentang waktu maupun besaran perubahan suku bunga selanjutnya.

Warsh juga menilai ekonomi Amerika Serikat semakin kuat. Proyeksi pertumbuhan untuk semester pertama 2026 direvisi menjadi 2,4%, sebuah gambaran yang dapat memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Di sisi lain, tingkat bunga yang tinggi meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan. Beban tersebut berpotensi membatasi investasi, termasuk pendanaan proyek pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan yang membutuhkan modal besar. Dampaknya dapat menjalar ke pasar global melalui perubahan ekspektasi pertumbuhan dan aliran dana.

Pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 80%, menunjukkan bahwa keputusan mempertahankan bunga belum menghapus kekhawatiran atas pengetatan lanjutan. Pergerakan obligasi turut mencerminkan respons tersebut: imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042% setelah keputusan diumumkan. Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS dapat mendorong investor menilai ulang daya tarik aset di negara lain, termasuk Indonesia. Karena itu, respons pasar domestik akan bergantung bukan hanya pada keputusan The Fed, melainkan juga pada data inflasi, prospek ekonomi, dan komunikasi kebijakan berikutnya.

Pelaku pasar juga menantikan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi personal (personal consumption expenditures/PCE) Amerika Serikat untuk September, yang dijadwalkan pada Kamis, 29 Oktober, pukul 19.30 WIB. Data ini penting karena PCE menjadi salah satu ukuran inflasi utama yang dipantau Federal Reserve (The Fed) dalam menilai tekanan harga dan menentukan arah kebijakan suku bunga. Karena itu, hasil terbaru berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral AS.

Sebagai pembanding, inflasi PCE AS pada Agustus tercatat 3,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti—yang tidak memasukkan harga pangan dan energi—berada di 3,0%. Untuk September, proyeksi menunjukkan PCE inti naik 0,3% secara bulanan, lebih cepat dibandingkan kenaikan 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diperkirakan mencapai 3,1%, meningkat dari 3,0% pada bulan sebelumnya. Jika angka aktual sejalan atau lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat menilai tekanan inflasi masih bertahan. Sebaliknya, hasil yang lebih lunak dapat mengubah perkiraan mengenai ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Selain inflasi, investor akan mencermati data klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir 24 Oktober. Data sebelumnya, untuk pekan yang berakhir 17 Oktober, memperlihatkan klaim awal turun 6.000 menjadi 194.000, menurut Departemen Tenaga Kerja AS. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pertengahan Juli dan berada di bawah ekspektasi 200.000. Pergerakan terbaru ini memberi gambaran bahwa pasar tenaga kerja masih relatif solid.

Klaim yang rendah juga mengindikasikan perusahaan belum melakukan pemutusan hubungan kerja secara luas. Laba korporasi dan permintaan domestik yang tetap menopang aktivitas ekonomi turut membantu menahan PHK. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan perekrutan akan menguat. Biaya energi yang tinggi di tengah perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian mengenai suku bunga, serta perubahan kebijakan perdagangan masih membayangi keputusan perusahaan. Kombinasi data inflasi dan tenaga kerja ini dapat memberi petunjuk penting mengenai keseimbangan risiko ekonomi AS, sekaligus menjadi perhatian bagi investor di pasar saham Indonesia.

Agenda kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) menjadi salah satu fokus investor pada perdagangan hari ini. Keputusan suku bunga dijadwalkan diumumkan pukul 20.15 WIB, kemudian disusul konferensi pers pada pukul 20.45 WIB. Konsensus pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga pembiayaan utama di 2,65% dan suku bunga fasilitas deposito di 2,50%. Dengan perkiraan tersebut, perhatian pelaku pasar kemungkinan tidak hanya tertuju pada keputusan resmi, tetapi juga pada penjelasan yang menyertainya. Pernyataan para pejabat ECB dapat memberi petunjuk mengenai penilaian bank sentral terhadap kondisi ekonomi kawasan dan arah kebijakan pada pertemuan berikutnya.

Pasar mencermati bagaimana ECB menimbang risiko inflasi yang masih berkaitan dengan tekanan biaya energi terhadap tanda-tanda perlambatan pertumbuhan. Nada komunikasi mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut dapat menjadi sorotan, terutama jika bank sentral menilai tekanan harga belum mereda secara memadai. Sebaliknya, perhatian pada melemahnya aktivitas ekonomi dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap ruang dan kebutuhan perubahan kebijakan. Namun, arah kebijakan tidak dapat dipastikan hanya dari konsensus suku bunga atau satu pernyataan. Isi konferensi pers, termasuk penjelasan tentang risiko dan data yang menjadi dasar penilaian, akan membantu pasar memperbarui perkiraan mereka.

Perubahan nada ECB berpotensi menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam pergerakan euro dan obligasi Eropa, serta dalam penilaian relatif terhadap dolar AS. Respons pasar tetap bergantung pada isi keputusan dan komunikasi bank sentral, juga perkembangan indikator lain yang muncul pada waktu berdekatan.