Jakarta | Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyampaikan bahwa sedikitnya 77 merek dunia telah membeli produk atau komponen yang berasal dari Indonesia. Pernyataan ini menyoroti bahwa peran Indonesia dalam perdagangan internasional tidak terbatas pada penjualan barang jadi bermerek lokal. Berbagai produk, bahan, dan bagian yang dibuat di dalam negeri juga dapat masuk ke proses produksi perusahaan global, lalu menjadi bagian dari barang yang dipasarkan lintas negara. Jumlah tersebut memberi gambaran tentang luasnya hubungan pelaku industri nasional dan pembeli internasional. Namun, angka itu juga mengundang perhatian pada perlunya mengenali perusahaan, pemasok, serta jenis produk yang membentuk keterhubungan tersebut secara lebih terperinci.
Nama-nama yang disebut sebagai contoh dalam paparan itu mencakup Airbus dan Tesla, serta merek seperti Kopiko, On, dan Nike. Contoh tersebut memperlihatkan beragamnya perusahaan dan merek yang dikaitkan dengan pembelian produk atau komponen dari Indonesia. Keterlibatan pemasok nasional dapat berlangsung pada tahap berbeda dalam rantai pasok, termasuk penyediaan bagian yang kemudian digunakan dalam produksi maupun barang yang siap dipasarkan. Dengan demikian, produk Indonesia dapat hadir dalam kegiatan usaha global meskipun konsumen tidak selalu mengetahui asal setiap komponen. Informasi mengenai 77 merek itu memberi konteks bagi upaya untuk memperkenalkan kontribusi industri nasional kepada masyarakat dan calon mitra dagang, sekaligus menunjukkan peluang memperkuat hubungan pemasok Indonesia dengan pembeli dunia.
Informasi mengenai para pembeli tersebut akan dihimpun dalam buku We Buy from Indonesia. Buku itu dirancang untuk memuat testimoni para pembeli dan menunjukkan bagaimana produk nasional terlibat dalam rantai pasok global. Kesaksian langsung diharapkan memberi gambaran tentang pengalaman perusahaan yang memperoleh barang atau komponen dari Indonesia, serta membuat kontribusi para pemasok lebih terlihat. Anindya menyampaikan keterangan itu saat membuka Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Pengumpulan informasi dan testimoni tersebut menjadi cara untuk mendokumentasikan hubungan dagang yang telah terjalin, sekaligus memperlihatkan ruang bagi produk dan kapasitas industri Indonesia untuk terus berpartisipasi dalam pasar internasional.
Anindya Bakrie melihat pembelian produk atau komponen oleh perusahaan global sebagai peluang strategis bagi pelaku usaha Indonesia. Permintaan dari perusahaan internasional dapat membuka akses ke pasar yang lebih luas sekaligus memberi ruang bagi produsen dalam negeri untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok dunia. Peluang ini, menurut pandangannya, tidak seharusnya dipahami hanya sebagai transaksi sesaat, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun hubungan usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan kontribusi Indonesia dalam produksi global.
Ketika perusahaan dunia membeli produk dari Indonesia, produsen lokal memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar internasional. Namun, peluang tersebut perlu diikuti langkah nyata agar partisipasi tidak berhenti pada komponen atau volume yang sudah diterima saat ini. Anindya menekankan bahwa tantangan selanjutnya bukan sekadar mempertahankan pasar yang telah diperoleh. Pelaku usaha juga perlu berupaya meningkatkan jumlah komponen yang diproduksi serta memperbesar penjualannya kepada pembeli global.
Peningkatan kapasitas produksi dan penjualan memerlukan kesiapan usaha untuk merespons kebutuhan pembeli secara konsisten. Dengan memperluas jenis maupun jumlah komponen yang dapat dipasok, perusahaan Indonesia berpotensi memperdalam keterlibatannya dalam jaringan pasokan internasional. Langkah itu juga dapat memperkuat posisi produsen lokal dalam hubungan bisnis dengan perusahaan global, selama peluang pasar diikuti kemampuan untuk memenuhi permintaan. Bagi Anindya, besarnya aktivitas ekspor Indonesia menjadi konteks penting dalam melihat ruang pertumbuhan tersebut. Ia menyatakan bahwa ekspor Indonesia sekitar US$300 miliar per tahun. Angka itu menunjukkan skala perdagangan yang telah berlangsung, sementara peningkatan kontribusi pelaku usaha dalam rantai pasok dunia tetap menjadi sasaran yang perlu dikejar. Karena itu, fokus berikutnya adalah mengubah peluang pembelian global menjadi peningkatan produksi dan penjualan yang lebih luas. Perhatian pada pertumbuhan komponen yang dipasok dapat membantu usaha Indonesia beranjak dari sekadar mempertahankan pasar menuju partisipasi yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan perusahaan internasional. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya hadir sebagai pemasok yang telah dikenal, tetapi juga berpeluang menambah nilai dan memperkuat keterhubungan Indonesia dengan jaringan produksi global.
Perluasan ekspor produk Indonesia, menurut Anindya Bakrie, perlu berjalan seiring dengan peningkatan investasi. Akses yang lebih luas ke pasar internasional saja belum cukup apabila kapasitas produksi, kualitas, dan kesiapan pelaku usaha untuk memenuhi permintaan belum berkembang. Investasi dapat mendukung penguatan kemampuan tersebut, sekaligus membantu perusahaan menyesuaikan proses produksi dan standar produk dengan kebutuhan pembeli di berbagai negara. Dengan demikian, upaya mendorong ekspor tidak hanya berfokus pada promosi penjualan, tetapi juga pada penciptaan kondisi yang memungkinkan industri Indonesia memasok pasar secara konsisten. Langkah ini relevan bagi produk yang ingin masuk ke rantai pasok dunia.
Anindya menyebut peluang investasi dapat bersumber dari pasar modal maupun penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Kedua jalur tersebut berpotensi menyediakan dukungan bagi perusahaan dan sektor usaha yang ingin mengembangkan kapasitasnya, meskipun bentuk serta dampaknya dapat berbeda. Pasar modal dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan bagi perusahaan, sedangkan FDI dapat membuka peluang masuknya penanaman modal dari luar negeri. Ketersediaan investasi yang memadai dapat membantu pelaku usaha mempersiapkan produk dan kegiatan produksi untuk menjangkau pembeli internasional. Namun, peluang pembiayaan itu perlu dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan, bukan sebagai jaminan bahwa ekspor atau pembelian produk otomatis meningkat.
Selain investasi, diplomasi ekonomi berperan dalam membuka akses perdagangan melalui hubungan dan kesepakatan dengan mitra luar negeri. Anindya menyebut 25 perjanjian telah berlaku, sementara 15 perjanjian lainnya masih dalam tahap negosiasi, termasuk dengan Uni Eropa. Perjanjian yang berlaku maupun proses negosiasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan perdagangan; hasil dari perundingan yang belum selesai belum dapat dipastikan. Secara bersama, akses pasar, dukungan investasi, dan diplomasi ekonomi dapat membantu memperbesar peluang produk Indonesia untuk diperkenalkan dan dipasarkan di luar negeri. Tujuan yang disampaikan adalah mendorong lebih banyak pembelian produk dari Indonesia, dengan tetap memperhatikan bahwa realisasinya bergantung pada perkembangan pasar dan kesepakatan yang dicapai.
Penekanan Anindya Bakrie bahwa usaha rakyat perlu terhubung dengan rantai pasok industri menempatkan pemerataan manfaat sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi. Ekspor dan investasi dapat membuka peluang besar, tetapi dampaknya akan lebih luas apabila pelaku usaha lokal ikut memasok kebutuhan industri. Keterhubungan tersebut memungkinkan produsen kecil memperoleh akses terhadap permintaan yang lebih stabil, standar mutu yang terarah, serta kesempatan meningkatkan kapasitas. Dengan demikian, kegiatan perdagangan global tidak hanya menguntungkan perusahaan besar atau terkonsentrasi pada sektor tertentu. Usaha dari berbagai daerah juga berpeluang menangkap nilai tambah, selama tersedia jalur kerja sama, pendampingan, dan akses pasar yang memadai.
Penguatan UMKM dan penciptaan lapangan kerja berkualitas menjadi bagian dari upaya membangun pertumbuhan yang lebih inklusif. Kadin mendorong kemitraan yang menghubungkan pelaku usaha sejak tingkat desa dengan industri dan pasar internasional. Bentuknya dapat berupa kemitraan produksi, ketika usaha lokal terlibat dalam pembuatan barang atau komponen sesuai kebutuhan perusahaan. Pengembangan pemasok industri juga penting, termasuk peningkatan kemampuan memenuhi standar, menjaga konsistensi kualitas, dan mengirimkan produk tepat waktu. Selain itu, perusahaan dapat memperluas pembelian dari pelaku usaha lokal dalam rantai pasoknya.
Baca juga: Dari Smelter ke Produk Akhir: DEN Dorong Penguatan Rantai Industri Tambang | Legislator Gerindra Husein Fadlulloh Dorong Potensi Toba Mendunia, Buka Peluang UMKM Tembus Pasar Global | Rafael Struick Fokus Buktikan Diri di Dewa United Sambil Menanti Peluang Timnas



































