APTISI dan Kemdiktisaintek Rampungkan Akademi Kepemimpinan bagi Rektor PTS

oleh -61 Dilihat
oleh
APTISI dan Kemdiktisaintek Rampungkan Akademi Kepemimpinan bagi Rektor PTS

Jakarta | Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menuntaskan Aptisi Executive Rector Leadership Academy (AERLA) angkatan I. Program kepemimpinan bagi rektor perguruan tinggi swasta (PTS) ini berlangsung selama tiga hari, pada 21–23 Oktober 2026. Penyelesaian angkatan perdana tersebut menandai dimulainya upaya terarah untuk memperkuat kapasitas para pemimpin kampus swasta di Indonesia.

AERLA dirancang sebagai ruang pengembangan kompetensi yang relevan dengan tantangan pengelolaan perguruan tinggi. Rektor dan pimpinan PTS perlu mengambil keputusan strategis di tengah perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, tuntutan mutu akademik, serta kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berkembang. Karena itu, penguatan kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan administrasi kampus, tetapi juga mencakup kemampuan menetapkan arah institusi, mengelola sumber daya, membangun budaya mutu, dan memastikan keberlanjutan organisasi.

Kolaborasi APTISI dan Kemdiktisaintek melalui akademi ini menempatkan peningkatan kapasitas pimpinan sebagai salah satu bagian penting dari penguatan pendidikan tinggi. Pimpinan yang memiliki wawasan tata kelola dan kepemimpinan yang memadai diharapkan dapat mendorong kampus menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara lebih efektif. Pengembangan kapasitas tersebut juga dapat membantu perguruan tinggi menyesuaikan strategi institusional dengan dinamika sektor pendidikan tinggi.

Angkatan pertama AERLA diproyeksikan menjadi langkah awal program strategis jangka panjang. Sasaran pengembangannya mencakup 70.000 pimpinan PTS di seluruh Indonesia, sehingga manfaat program diharapkan dapat menjangkau lebih luas daripada peserta satu angkatan. Perluasan akses pengembangan kepemimpinan berpotensi memperkuat praktik tata kelola di berbagai kampus, dengan tetap memperhatikan perbedaan skala, kebutuhan, dan konteks masing-masing institusi.

Dengan rampungnya kegiatan perdana, perhatian berikutnya tertuju pada keberlanjutan program dan penerapan pembelajaran di lingkungan kampus. Dampak AERLA akan bergantung pada kemampuan peserta menerjemahkan wawasan yang diperoleh menjadi kebijakan dan praktik nyata. Jika dilaksanakan secara konsisten, akademi kepemimpinan rektor ini dapat menjadi sarana untuk mendukung peningkatan mutu PTS sekaligus memperkuat tata kelola pendidikan tinggi swasta secara bertahap.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengapresiasi inisiatif Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dalam menyelenggarakan Akademi Kepemimpinan bagi rektor perguruan tinggi swasta (PTS). Menurutnya, penguatan kapasitas pemimpin perguruan tinggi merupakan langkah penting untuk mendukung tata kelola institusi yang lebih baik dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Program ini dinilai memberi ruang bagi para rektor untuk memperluas wawasan, bertukar pengalaman, serta membahas berbagai tantangan yang dihadapi dalam memimpin PTS di tengah perubahan dunia pendidikan.

Brian juga memandang kegiatan tersebut sebagai kesempatan bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menyosialisasikan program dan kebijakan pemerintah secara langsung kepada para rektor. Komunikasi langsung dinilai dapat membantu peserta memahami arah kebijakan, prioritas kementerian, dan berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh perguruan tinggi swasta. Pada saat yang sama, forum ini membuka peluang dialog sehingga informasi tidak hanya disampaikan satu arah, melainkan dapat dibahas berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata masing-masing institusi.

Kemdiktisaintek berharap pelaksanaan Akademi Kepemimpinan dapat berlanjut pada angkatan berikutnya agar manfaatnya menjangkau lebih banyak pimpinan PTS. Brian berharap para peserta tidak berhenti pada penerapan pengetahuan di perguruan tinggi masing-masing. Mereka juga diharapkan membagikan pengalaman, wawasan, dan praktik kepemimpinan yang diperoleh kepada rektor lain di wilayahnya. Dengan demikian, dampak program dapat meluas melalui pertukaran pengetahuan antarpimpinan dan memperkuat jejaring perguruan tinggi swasta di berbagai daerah.

Bagi kementerian, kegiatan ini sekaligus menyediakan ruang untuk menerima masukan dari para peserta mengenai kebijakan yang masih perlu diperbaiki. Masukan tersebut, terutama yang berkaitan dengan pelayanan kepada PTS, dapat membantu pemerintah memahami kendala yang muncul dalam pelaksanaan kebijakan serta kebutuhan institusi di lapangan. Dialog dengan rektor memberi kesempatan untuk mengidentifikasi aspek layanan yang perlu ditingkatkan, disederhanakan, atau disesuaikan. Apresiasi terhadap inisiatif APTISI, karena itu, berjalan seiring dengan upaya membangun komunikasi yang terbuka kementerian dan PTS. Masukan yang disampaikan diharapkan menjadi bahan evaluasi dalam penyempurnaan kebijakan dan pelayanan, sehingga hubungan kerja sama dapat semakin responsif terhadap kebutuhan perguruan tinggi.Brian menekankan bahwa memimpin perguruan tinggi swasta (PTS) menuntut pemahaman yang menyeluruh, bukan sekadar kemampuan mengelola organisasi. Seorang rektor perlu menguasai prinsip kepemimpinan sekaligus memahami karakter dunia akademik, dinamika riset, dan tujuan pendidikan. Keempat aspek tersebut saling berkaitan dalam menentukan arah institusi dan mutu keputusan yang diambil. Karena itu, kepemimpinan akademik perlu dibangun melalui wawasan luas, pertimbangan yang matang, serta kesediaan untuk terus belajar menghadapi perubahan.

Dalam menjalankan peran tersebut, pimpinan PTS juga perlu melihat keberhasilan lebih jauh daripada keuntungan materi. Brian mengingatkan pentingnya memperhatikan manfaat sosial yang dihasilkan perguruan tinggi bagi masyarakat. Pendidikan, penelitian, dan kontribusi institusi dapat memberi dampak yang melampaui kepentingan internal kampus, misalnya melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan penyelesaian persoalan yang dihadapi lingkungan sekitar. Orientasi pada manfaat sosial membantu pemimpin menempatkan tujuan akademik dan tanggung jawab publik secara seimbang.

Brian berharap praktik-praktik baik yang telah berjalan di PTS para peserta tidak berhenti sebagai pengalaman individual atau menjadi pengetahuan yang hanya tersimpan di satu institusi. Pengalaman yang terbukti bermanfaat perlu didokumentasikan dan dibagikan kepada pemimpin berikutnya. Dengan demikian, pergantian kepemimpinan dapat disertai kesinambungan pembelajaran, sementara institusi lain memperoleh rujukan yang relevan untuk mengembangkan pendekatan mereka sendiri. Berbagi praktik baik juga membuka ruang untuk menilai kembali cara kerja, mengenali keberhasilan, dan memahami pelajaran dari tantangan yang telah dilalui.

Ketua Umum APTISI, Budi Djatmiko, menggambarkan AERLA sebagai wadah untuk berbagi praktik baik, bertukar pengalaman, dan merumuskan solusi atas tantangan global pendidikan tinggi. Forum semacam ini memungkinkan pimpinan PTS belajar dari konteks yang beragam, sekaligus membangun pemahaman bersama mengenai persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Pertukaran gagasan diharapkan menghasilkan langkah yang dapat diterapkan, bukan berhenti pada pembahasan konseptual.

Menurut Budi, pimpinan PTS perlu memiliki visi yang adaptif dan transformatif serta berorientasi pada dampak nyata. Visi adaptif membantu kampus merespons perubahan, sedangkan pendekatan transformatif mendorong pembaruan yang bermakna. Ukuran kepemimpinan pada akhirnya terlihat dari kemampuan menerjemahkan arah tersebut menjadi peningkatan bagi institusi, sivitas akademika, dan masyarakat.

Budi Djatmiko menyampaikan bahwa peserta akademi memperoleh masukan mengenai kepemimpinan perguruan tinggi dan arah pendidikan menuju 2035. Materi tersebut diharapkan membantu pimpinan memahami perubahan yang perlu diantisipasi, sekaligus menyiapkan institusi agar mampu merespons tantangan pendidikan tinggi pada masa mendatang. Pembahasan kepemimpinan tidak hanya menyangkut pengelolaan organisasi, tetapi juga peran pimpinan dalam menjaga mutu pembelajaran, mengembangkan sumber daya manusia, dan menentukan strategi kampus. Menurut Budi, program dengan substansi serupa telah dijalankan sejak 2014. Namun, baru pada tahun ini kegiatan tersebut diresmikan secara khusus sebagai akademi kepemimpinan. Peresmian itu menjadi penanda penguatan program, bukan awal pertama pelaksanaannya.

Ke depan, APTISI berencana menyelenggarakan pelatihan secara berkelanjutan dan membaginya ke dalam beberapa gelombang. Dengan pola tersebut, kesempatan mengikuti pembekalan dapat diperluas dan disesuaikan dengan kebutuhan berbagai jenjang pengelola perguruan tinggi. Sasaran program mencakup rektor, wakil rektor, dekan, ketua program studi, serta ketua lembaga. Cakupan peserta yang beragam dinilai penting karena keputusan di tingkat universitas, fakultas, program studi, maupun lembaga memiliki keterkaitan dalam menentukan mutu dan perkembangan institusi.

Baca juga: Telkom Rampungkan Buyback Rp36,54 Miliar, Ini Rincian dan Kaitannya dengan Pemisahan Usaha