Asap Karhutla Mulai Menipis, Kualitas Udara Palembang Berangsur Pulih

oleh -61 Dilihat
oleh
Asap Karhutla Mulai Menipis, Kualitas Udara Palembang Berangsur Pulih

Palembang | Kualitas udara di Palembang mulai menunjukkan perbaikan setelah lebih dari dua bulan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan terbaru di Stasiun Talang Betutu mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 berada pada kategori sedang, sebuah perkembangan yang lebih baik dibandingkan kondisi dalam beberapa pekan sebelumnya.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 09.00 WIB, kadar PM2.5 tercatat sebesar 51,4 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut turun dibandingkan hasil pengukuran satu jam sebelumnya, yakni 69,1 mikrogram per meter kubik. Penurunan ini menjadi indikasi bahwa paparan partikel di udara setempat berkurang pada waktu pemantauan tersebut.

Perubahan itu terasa berarti setelah Palembang berulang kali mengalami kualitas udara yang jauh lebih buruk selama periode kabut asap. Pada pekan-pekan sebelumnya, indeks kualitas udara di kota ini kerap mencapai level berbahaya. Karena itu, catatan kategori sedang menandai pergeseran dari kondisi yang sangat mengkhawatirkan, meski belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa dampak asap telah sepenuhnya berakhir.

Kategori sedang tetap perlu disikapi dengan kehati-hatian. Konsentrasi PM2.5 menunjukkan jumlah partikel kecil yang dapat terhirup, dan kondisi udara dapat berubah mengikuti cuaca, arah angin, serta aktivitas kebakaran di wilayah sekitar. Satu hasil pengukuran pada satu jam tertentu juga belum menggambarkan kualitas udara sepanjang hari atau kondisi di setiap kawasan Palembang.

Warga dapat terus memantau informasi kualitas udara dan memperhatikan kondisi kesehatan, khususnya anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung. Jika udara kembali terlihat berkabut atau menimbulkan iritasi, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan dan menggunakan pelindung yang sesuai dapat membantu membatasi paparan. Data Talang Betutu pada pagi itu memberi kabar lebih baik, tetapi pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan perbaikan berlangsung konsisten dan risiko dari asap kebakaran lahan terus menurun.

Perubahan arah angin menjadi salah satu faktor cuaca yang membantu kualitas udara Palembang berangsur pulih. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa angin kini bergerak dari tenggara ke selatan, lalu menuju utara. Pola pergerakan ini berpengaruh terhadap arah sebaran asap dari pusat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Sebelumnya, sebaran asap dari wilayah karhutla dapat terdorong ke arah Palembang, sehingga kota tersebut menerima paparan asap. Dengan arah angin yang kini bergerak ke utara, sebagian besar asap dari pusat karhutla tidak lagi terdorong masuk ke Palembang. Perubahan jalur angin itu mengurangi kemungkinan asap bergerak menuju kota dan membantu menekan paparan yang dirasakan di wilayah tersebut.

Pergerakan angin tidak menghentikan karhutla, tetapi dapat menentukan ke mana asap yang dihasilkan bergerak. Karena itu, perubahan arah angin menjadi penjelasan penting atas berkurangnya asap yang mengarah ke Palembang. Dalam kondisi saat ini, aliran angin dari tenggara ke selatan dan kemudian ke utara membawa sebaran asap menjauh dari jalur yang sebelumnya dapat mengarah ke kota. Dampaknya, jumlah asap yang masuk ke Palembang berkurang dan kualitas udara berangsur membaik.

Keterangan Wandayantolis menekankan hubungan arah angin dan paparan asap, bukan perubahan pada sumber karhutla. Selama pola angin tersebut berlangsung, sebagian besar sebaran asap dari Kabupaten Ogan Komering Ilir tidak terdorong menuju Palembang. Faktor ini membantu menjelaskan mengapa kondisi udara di kota mulai pulih secara bertahap. Dengan demikian, pergeseran arah angin menjadi unsur cuaca yang mendukung penurunan paparan asap di Palembang, meskipun asap tetap berasal dari pusat karhutla yang disebutkan. Pemantauan terhadap arah pergerakan angin tetap relevan untuk memahami kemungkinan sebaran asap berikutnya dan perubahan paparan di kota, tanpa mengabaikan keterangan bahwa pola saat ini mengurangi dorongan asap menuju Palembang.

Penurunan kepekatan asap di Palembang tidak hanya dipengaruhi oleh berkurangnya sumber asap atau perubahan arah angin. Keadaan lapisan udara di atas permukaan juga berperan dalam menentukan apakah asap tertahan dekat tanah atau dapat menyebar ke ketinggian yang lebih besar. Salah satu faktor yang membantu proses tersebut ialah lapisan inversi yang tipis dan berada relatif dekat dengan permukaan. Dalam kondisi demikian, hambatan terhadap gerakan udara vertikal tidak terlalu tebal, sehingga asap memiliki peluang untuk terdispersi ke atmosfer yang lebih tinggi.

Wandayantolis menjelaskan mekanisme ini dengan menekankan bahwa lapisan inversi dapat membatasi pencampuran udara secara vertikal. Namun, ketika lapisan inversinya tipis dan letaknya dekat permukaan, pengaruh penahanannya terhadap asap lebih terbatas. Asap yang sebelumnya terkonsentrasi di lapisan udara rendah dapat terbawa naik dan bercampur dengan udara pada ketinggian lebih tinggi. Penyebaran ini membuat konsentrasi asap di dekat permukaan tanah menurun, sehingga kondisi udara yang dirasakan masyarakat dapat berangsur membaik. Mekanisme tersebut merupakan proses penyebaran, bukan berarti seluruh partikel asap langsung lenyap dari atmosfer.

Perubahan kondisi lapisan udara ini turut mendukung berkurangnya kepekatan asap yang teramati, tetapi tidak berdiri sendiri. Perkembangan kualitas udara tetap dipengaruhi oleh jumlah asap yang masih dilepaskan, cuaca, serta pergerakan dan pencampuran massa udara. Karena itu, menipisnya asap di permukaan perlu dipahami sebagai tanda bahwa konsentrasi lokal dapat menurun, bukan kepastian bahwa risiko paparan sudah berakhir. Asap masih mungkin bertahan atau berpindah ke wilayah lain, dan kondisi dapat berubah kembali apabila sumber emisi meningkat atau pola atmosfer berubah. Pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan paparan dan memberikan dasar bagi masyarakat dalam menyesuaikan kegiatan di luar ruangan.Prakiraan cuaca menunjukkan peluang hujan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan meningkat. Kondisi ini diharapkan membantu memperbaiki kualitas udara secara bertahap, karena hujan dapat membersihkan partikel asap yang masih berada di atmosfer. Seiring berkurangnya asap karhutla dan bertambahnya potensi hujan, udara di Palembang diperkirakan terus berangsur pulih. Meski demikian, perbaikan dapat berlangsung berbeda di setiap daerah, bergantung pada kondisi cuaca setempat dan sebaran asap.

Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, OKU Selatan, OKU, OKU Timur, Ogan Ilir, OKI, PALI, serta Kota Palembang. Sementara itu, hujan ringan diprakirakan turun di Musi Rawas, Pagar Alam, Empat Lawang, Lahat, Lubuklinggau, dan Prabumulih. Sebaran prakiraan tersebut menjadi salah satu faktor yang memberi harapan bagi pemulihan kualitas udara, terutama apabila hujan turun di wilayah yang terdampak asap dan berlangsung dengan cakupan memadai.

Namun, peluang hujan tidak serta-merta menjamin seluruh wilayah terbebas dari asap dalam waktu singkat. Karena itu, pemantauan kondisi atmosfer dan kualitas udara tetap diperlukan, sementara langkah penanganan karhutla terus berjalan. Hujan yang turun dapat membantu menekan partikel di udara, tetapi efektivitasnya dipengaruhi oleh intensitas, durasi, serta lokasi kejadian. Masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi cuaca dan kualitas udara terbaru, khususnya ketika aktivitas luar ruang dilakukan.

Untuk memaksimalkan potensi awan hujan, tim gabungan juga melakukan penyemaian bahan melalui operasi modifikasi cuaca dan menggunakan teknik dry ice. Upaya tersebut ditujukan untuk mendukung terbentuknya hujan dengan memanfaatkan awan yang tersedia. Wandayantolis menyatakan penyemaian dry ice telah dilakukan pada pagi itu untuk membuka lapisan inversi. Lapisan tersebut dapat menahan pergerakan udara dan membuat asap terperangkap, sehingga pembukaannya diharapkan membantu mengurangi kepekatan asap secara berkelanjutan.

Baca juga: PB IDI Soroti Ancaman Kesehatan dari Asap Karhutla dan Desak Penanganan Cepat | BNPB Tambah Dukungan Udara untuk Tangani Karhutla di Lima Gunung Jawa Timur | Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla di Gunung Bromo hingga Ijen, Water Bombing dan OMC Ditambah