Banjir dan Longsor Melanda Sembilan Wilayah di Sumatera Utara

oleh -61 Dilihat
oleh
Banjir dan Longsor Melanda Sembilan Wilayah di Sumatera Utara

Kabupaten Deliserdang | Banjir dan tanah longsor melanda sembilan kabupaten/kota di Sumatera Utara setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur sejumlah wilayah. Daerah yang terdampak meliputi Deli Serdang, Binjai, Medan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Langkat, Padanglawas Utara, Simalungun, dan Asahan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hujan lebat dapat memicu bencana di berbagai kawasan, baik perkotaan maupun wilayah kabupaten. Informasi mengenai sebaran kejadian tersebut disampaikan oleh Sri Wahyuni Pancasilawati, Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumatera Utara.

Hingga informasi disampaikan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat banjir dan longsor tersebut. Meski demikian, sejumlah warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke lokasi yang dinilai lebih aman. Pengungsian dilakukan sebagai langkah untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan warga di tengah dampak bencana. Kondisi ini membuat perhatian terhadap kebutuhan dasar dan keamanan masyarakat terdampak menjadi hal penting, terutama bagi mereka yang belum dapat kembali ke rumah. BPBD Sumut menjadi sumber informasi terkait kejadian dan kondisi penanganan darurat di wilayah-wilayah tersebut.

Hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu yang perlu diwaspadai, karena dapat meningkatkan risiko genangan, banjir, maupun longsor di daerah yang rentan. Sebaran kejadian di sembilan kabupaten/kota juga memperlihatkan luasnya wilayah yang perlu dipantau saat cuaca buruk berlangsung. Warga di kawasan terdampak diharapkan mengikuti informasi dan arahan dari petugas setempat, khususnya apabila diminta menjauh dari area berbahaya atau berpindah ke tempat aman. Sementara itu, informasi mengenai jumlah korban, kondisi pengungsi, serta perkembangan penanganan dapat berubah seiring pembaruan dari pihak berwenang. Pernyataan Sri Wahyuni Pancasilawati menjadi rujukan untuk keterangan awal mengenai daerah yang terdampak. Dengan belum adanya laporan korban jiwa, keselamatan warga dan pemantauan situasi tetap menjadi perhatian utama dalam menghadapi dampak bencana ini.

Longsor dan banjir terjadi di Kabupaten Deli Serdang sejak 28 Oktober 2026, dengan dampak berbeda di sejumlah kecamatan. Pada hari tersebut, longsor di Desa Panen, Kecamatan Biru Biru, tepatnya di Jalan Sarilaba, memutus akses jalan. Jalur itu dilaporkan lumpuh total sehingga warga tidak dapat melintas seperti biasa. Kejadian ini menambah gangguan mobilitas di wilayah yang juga terdampak banjir.

Banjir di Deli Serdang berdampak pada Kecamatan Bangun Purba, Sunggal, Delitua, Tanjung Rejo, dan Hamparan Perak. Salah satu titik yang mengalami kerusakan berada di tanggul Sungai Sei Putih, Desa Punden Rejo, Dusun II. Tanggul tersebut rusak dengan lebar sekitar lima meter. Ketinggian air di kawasan terdampak mencapai 70 sentimeter, sementara sejumlah warga dilaporkan mengungsi. Kerusakan tanggul dan genangan membuat keadaan warga memerlukan perhatian, terutama untuk memastikan keselamatan serta kebutuhan dasar mereka selama berada di pengungsian.

Di Kota Medan, banjir mulai terjadi pada 28 Oktober 2026 sekitar pukul 23.20 WIB. Dampak dilaporkan meluas ke Medan Tuntungan, Medan Maimun, Medan Johor, dan Medan Helvetia. Ketinggian air di sejumlah titik berada pada kisaran 20 hingga 150 sentimeter, menunjukkan perbedaan tingkat genangan antarlokasi. Data sementara mencatat 603 warga mengungsi. Mereka menempati beberapa lokasi pengungsian, termasuk masjid dan kantor lurah. Nama tempat penampungan secara khusus tidak tersedia dalam rincian yang diberikan.

Situasi di kedua wilayah memperlihatkan bahwa bencana terjadi dalam rentang waktu berdekatan, tetapi memunculkan persoalan yang beragam: akses jalan terputus akibat longsor, tanggul rusak, permukiman tergenang, dan warga harus meninggalkan rumah. Perkembangan ketinggian air serta kondisi tanggul perlu terus dipantau, sementara informasi mengenai akses dan tempat pengungsian penting disampaikan kepada warga. Data jumlah pengungsi masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti pendataan lanjutan serta keadaan di lapangan.

Banjir juga dilaporkan terjadi di Kota Binjai, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kabupaten Langkat. Ketiga wilayah tersebut mengalami genangan sejak 28 Oktober, ketika hujan berintensitas tinggi menjadi pemicu banjir di Binjai. Informasi yang tersedia menunjukkan kejadian berlangsung di lokasi berbeda, sehingga kondisi dan dampak di setiap wilayah perlu dipahami berdasarkan laporan masing-masing. Hingga pendataan dilakukan, belum ada rincian menyeluruh mengenai jumlah rumah terdampak di Binjai. Petugas masih mengumpulkan informasi untuk mengetahui skala dampak banjir di kota tersebut.

Di Kabupaten Mandailing Natal, banjir mulai terjadi pada 28 Oktober sekitar pukul 23.00 WIB. Lokasi yang disebut terdampak berada di Kecamatan Huta Bargot dan Kecamatan Panyabungan Utara. Waktu kejadian pada malam hari menjadi bagian dari laporan mengenai perkembangan banjir di dua kecamatan tersebut, tetapi informasi yang tersedia belum merinci dampak pada rumah atau warga. Karena itu, belum dapat disampaikan jumlah kerusakan maupun jumlah pengungsi. Keterangan yang dapat dipastikan pada tahap ini terbatas pada waktu kejadian dan wilayah yang dilaporkan mengalami banjir.

Sementara itu, di Kabupaten Langkat, banjir sejak 28 Oktober berdampak pada Kecamatan Serapit dan Kecamatan Besitang. Laporan tersebut menambah wilayah terdampak di Sumatera Utara, bersama Binjai dan Mandailing Natal. Namun, rincian mengenai kondisi genangan, rumah yang terdampak, ataupun warga yang harus mengungsi tidak tersedia dalam informasi yang menjadi dasar laporan ini. Dengan demikian, angka kerusakan dan jumlah pengungsi tidak dapat dipastikan atau disimpulkan. Pendataan di Binjai masih berlangsung, sedangkan keterangan untuk Mandailing Natal dan Langkat yang tersedia menyebut lokasi serta waktu kejadian tanpa menyertakan angka dampak. Perkembangan lebih lanjut perlu merujuk pada pembaruan resmi setelah informasi lapangan dihimpun dan diverifikasi. Untuk sementara, laporan ini menegaskan bahwa banjir terjadi di tiga wilayah tersebut sejak 28 Oktober, dengan cakupan lokasi yang telah disebutkan, tanpa menyamakan dampak atau tingkat keparahan di masing-masing daerah. Keterangan yang terbatas perlu dibaca secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesan bahwa jumlah rumah, kerusakan, atau pengungsi telah diketahui.Di Kabupaten Tapanuli Selatan, longsor terjadi di Jalan Lintas Sipirok–Tarutung. Petugas masih menangani lokasi kejadian. Kondisi ini membuat jalur tersebut perlu diwaspadai oleh masyarakat yang melintas, terutama selama penanganan berlangsung. Informasi yang tersedia belum merinci dampak lebih lanjut, sehingga pengguna jalan sebaiknya memperhatikan situasi di lapangan dan mengikuti arahan petugas. Penanganan di lokasi menjadi bagian penting untuk mengetahui kondisi akses serta memastikan langkah yang diperlukan sebelum perjalanan dapat berlangsung dengan aman.

Di Kabupaten Padanglawas Utara, longsor terjadi pada 28 Oktober 2026 sekitar pukul 11.00 WIB di Desa Sipaho Simpang Barumun, Kecamatan Halongonan. Material longsor merusak akses jalan yang menghubungkan desa. Kerusakan tersebut menghambat pergerakan warga dan penggunaan jalur penghubung setempat. Warga yang bergantung pada jalan itu perlu mempertimbangkan kondisi akses sebelum bepergian. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai tingkat kerusakan maupun durasi penanganan, tetapi kondisi jalur perlu dipantau agar dampak terhadap aktivitas masyarakat dapat diketahui.

Di Kabupaten Simalungun, longsor dilaporkan terjadi pada 27 Oktober sekitar pukul 22.00 WIB. Hujan membuat tanah di tebing menjadi labil, lalu material longsor menutup badan jalan. Akibatnya, akses masyarakat terganggu. Penutupan jalan oleh material menghambat perjalanan warga yang menggunakan ruas tersebut, sehingga kondisi di lokasi perlu diperhatikan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hujan dapat meningkatkan risiko longsor pada tebing yang tanahnya tidak stabil. Pengguna jalan di sekitar lokasi perlu berhati-hati saat melintas dan mengikuti informasi terbaru mengenai akses jalan.

Sementara itu di Kabupaten Asahan hujan berdampak pada beberapa titik di Desa Silau Jawa dan Desa Sei Kopas Kecamatan BP.

Baca juga: Ops Cipkon KRYD, IPTU Pius Andreas Pimpin Patroli Mobile di Wilayah Hukum Polsek Cikupa | Dugaan Pelecehan terhadap Sembilan Siswa SD di Deli Serdang Diselidiki | Hujan Kembali Membasahi Sejumlah Wilayah Indonesia, BMKG Ingatkan Risiko Bencana