Banjir Meluas di Aceh Barat, 43 Desa pada 10 Kecamatan Terdampak

oleh -71 Dilihat
oleh
Banjir Meluas di Aceh Barat, 43 Desa pada 10 Kecamatan Terdampak

Kabupaten Aceh Barat | Banjir di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, dilaporkan telah merendam 43 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Informasi mengenai kondisi tersebut disampaikan pada Minggu malam, 1 November 2026. Genangan air tercatat meluas hingga puluhan desa, sementara ketinggian air rata-rata di wilayah terdampak berada di atas 30 sentimeter.

Data tersebut menunjukkan bahwa banjir tidak hanya terjadi di satu desa atau kecamatan. Sebanyak 43 desa masuk dalam laporan terdampak, dengan sebaran yang mencakup 10 kecamatan di Kabupaten Aceh Barat. Meski ketinggian genangan dapat berbeda di tiap lokasi, rata-rata permukaan air yang dilaporkan telah melampaui 30 sentimeter.

Waktu pelaporan pada Minggu malam menjadi acuan untuk menggambarkan situasi banjir di Aceh Barat saat itu. Dalam laporan tersebut, jumlah desa yang terendam dan luas sebarannya disebutkan bersama dengan ketinggian air rata-rata. Angka-angka itu memberikan gambaran mengenai cakupan kejadian, tanpa merinci kondisi setiap desa secara terpisah.

Dengan 43 desa terdampak di 10 kecamatan, banjir tercatat menjangkau sejumlah wilayah di kabupaten tersebut. Ketinggian genangan rata-rata lebih dari 30 sentimeter menjadi salah satu informasi utama dalam laporan. Hingga informasi itu disampaikan pada Minggu malam, 1 November 2026, kejadian banjir di Aceh Barat dilaporkan mencakup puluhan desa, dengan sebaran lintas kecamatan. Rincian yang tersedia menegaskan cakupan wilayah dan rata-rata ketinggian air, tanpa menyebut angka lain mengenai dampaknya.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Barat, Dharmawan, menerangkan bahwa banjir yang meluas di wilayah tersebut dipicu oleh hujan berintensitas tinggi. Hujan mulai mengguyur kawasan itu sejak Sabtu malam, 31 Oktober. Hujan deras kemudian berlangsung selama beberapa hari terakhir. Dalam keterangannya, Dharmawan menghubungkan kondisi hujan tersebut dengan meluapnya sejumlah sungai besar di Aceh Barat. Dengan demikian, hujan lebat menjadi pemicu yang disampaikan dalam penjelasan mengenai banjir yang melanda wilayah kabupaten itu. Keterangan tersebut juga menyebut bahwa hujan berlangsung dalam rentang beberapa hari, bukan hanya pada malam pertama ketika hujan mulai turun.

Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Aceh Barat sejak Sabtu malam itu menjadi latar dari meningkatnya debit air di sungai-sungai besar hingga terjadi luapan. Dharmawan menyebut sejumlah sungai dilaporkan meluap setelah hujan deras berlangsung selama beberapa hari terakhir. Di sungai yang disebut dalam keterangannya adalah Krueng Meureubo, yang berada di Kecamatan Pante Ceureumen. Sungai lainnya ialah Krueng Woyla di Kecamatan Sungai Mas. Kedua sungai tersebut termasuk aliran yang dilaporkan meluap dalam kondisi hujan lebat yang terjadi di wilayah Aceh Barat. Keterangan itu menjelaskan pemicu banjir dan sungai yang terdampak luapan, tanpa menyebut penyebab lain.

Durasi hujan deras selama beberapa hari terakhir menjadi bagian penting dari penjelasan Dharmawan mengenai meluasnya banjir. Hujan berintensitas tinggi yang mulai turun pada Sabtu malam, 31 Oktober, disebut mendahului luapan sungai-sungai besar di kabupaten tersebut. Krueng Meureubo di Kecamatan Pante Ceureumen dan Krueng Woyla di Kecamatan Sungai Mas merupakan sungai yang secara khusus dilaporkan meluap. Informasi ini menempatkan hujan lebat sebagai pemicu yang dikaitkan dengan kondisi sungai, berdasarkan keterangan Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat. Tidak ada penyebab lain yang disampaikan dalam keterangan tersebut. Penjelasan Dharmawan berfokus pada hujan yang mengguyur wilayah itu dan luapan sungai yang dilaporkan setelahnya.

Wilayah terdampak banjir di Aceh Barat tersebar di 43 desa pada sepuluh kecamatan. Untuk memperjelas cakupan, desa-desa tersebut dapat dibaca berdasarkan kecamatan, dengan pengelompokan wilayah tetap dipertahankan. Rincian berikut mencantumkan seluruh lokasi yang dilaporkan, mulai dari kecamatan dengan beberapa desa terdampak hingga dua desa yang menjadi lokasi tersendiri.

Di Kecamatan Pante Ceureumen, desa terdampak meliputi Keutambang, Lawet, Jambak, Puloe Teungoh, Lango, Canggai, Sikundo, dan Seumantok. Sementara itu, di Kecamatan Sungai Mas, lokasi yang tercatat ialah Tungkop, Kajeung, Lancong, serta Geudong. Kedua kecamatan ini memiliki sebaran desa yang berbeda, sehingga pencatatan berdasarkan wilayah administratif membantu menunjukkan lokasi terdampak secara lebih teratur.

Di Kecamatan Woyla Barat, banjir berdampak pada Cot Rubek, Cot Rambong, Cot Maleh, Napai, Blang Cot Mameh, dan Blang Luah. Adapun di Kecamatan Woyla, desa yang masuk dalam daftar adalah Cot Keumude, Pasi Birah, Aron Tunong, Ie Itam Tunong, Ie Itam Baroh, Ranto Pantang, Blang Mee, Drien Mangko, serta Pasi Ara KB. Kecamatan Woyla tercatat memiliki sembilan desa terdampak, sedangkan Woyla Barat memiliki enam.

Berikutnya, Kecamatan Woyla Timur mencakup Pasie Ara dan Leubok Pantang. Di Kecamatan Arongan Lambalek, desa terdampaknya adalah Peuribu dan Teupin Peuraho. Kecamatan Panton Reu meliputi Meugo Cut, Ujong Raja, serta Meutulang. Penyebutan setiap nama secara terpisah membantu membedakan lokasi antarkecamatan, termasuk desa-desa yang namanya memiliki kemiripan.

Di Kecamatan Kaway XVI, daftar desa terdampak terdiri atas Simpang Peunia, Pasie Jeumpa, Muko, Palimbungan, Tanjong Bungong, Padang Mandang, dan Meunasah Rambut. Dua lokasi lainnya berada di kecamatan berbeda: Pasi Mesjid di Kecamatan Meureubo dan Pasi Leuhan di Kecamatan Johan Pahlawan. Dengan demikian, daftar ini mencakup seluruh 43 desa pada sepuluh kecamatan yang terdampak banjir di Aceh Barat.

Derasnya arus banjir di Aceh Barat dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur. Keterangan tersebut menegaskan bahwa dampak banjir tidak hanya berupa air yang meluas, tetapi juga mencakup kerusakan pada sarana tertentu. Informasi yang tersedia belum merinci semua fasilitas, titik kejadian, maupun bentuk kerusakan di setiap lokasi. Oleh sebab itu, uraian mengenai dampak pada infrastruktur perlu merujuk pada contoh yang secara khusus disebutkan, tanpa memperluasnya menjadi gambaran menyeluruh yang belum didukung keterangan.

Salah satu lokasi yang disebut terdampak adalah Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen. Di desa tersebut, badan jalan dan pagar sekolah dilaporkan tergerus air. Keterangan ini memperlihatkan dua jenis sarana yang terkena arus, yakni bagian jalan serta pagar pada lingkungan sekolah. Namun, tidak tersedia rincian lebih lanjut mengenai panjang badan jalan yang tergerus, bagian pagar yang mengalami kerusakan, ataupun tingkat kerusakan pada masing-masing fasilitas. Informasi yang disampaikan juga tidak menjelaskan apakah kerusakan tersebut telah diperiksa atau ditangani.

Contoh dari Sikundo menjadi catatan spesifik mengenai pengaruh derasnya arus terhadap infrastruktur di wilayah banjir. Meski demikian, laporan yang ada tidak memberikan keterangan tentang kondisi akses jalan lain, sehingga tidak tepat menyimpulkan apakah jalur tersebut masih dapat dilalui atau bagaimana keadaan ruas lain di Aceh Barat. Tidak ada pula rincian mengenai dampak kerusakan itu terhadap kegiatan warga maupun aktivitas sekolah. Dengan batas informasi tersebut, hal yang dapat dipastikan adalah adanya laporan badan jalan dan pagar sekolah tergerus air di Desa Sikundo, serta keterangan umum bahwa arus banjir merusak sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur.

Baca juga: Banjir Meluas di Aceh Barat, 12 Desa Terdampak | Layanan Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir di Trumon Tengah | Banjir di Trumon Tengah, Aceh Selatan Berlakukan Tanggap Darurat 14 Hari