Bayi Alena Meninggal Setelah Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

oleh -71 Dilihat
oleh
Bayi Alena Meninggal Setelah Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

Surabaya | Bayi bernama Alena, yang baru berusia 24 hari, menjadi perhatian publik setelah beredar informasi bahwa dirinya diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Informasi tersebut ramai diperbincangkan karena kondisi Alena kemudian dilaporkan memburuk. Namun, pemberian telur mentah itu masih merupakan dugaan berdasarkan keterangan yang beredar dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah dibuktikan secara independen.

Alena disebut mengalami kondisi kritis dan menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sejak Jumat (9/10). Selama mendapatkan perawatan, bayi tersebut sempat ditangani di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yakni unit khusus untuk merawat bayi baru lahir atau bayi dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan pemantauan intensif.

Perawatan di NICU umumnya melibatkan pengawasan ketat terhadap pernapasan, denyut jantung, kadar oksigen, suhu tubuh, serta kebutuhan cairan dan nutrisi. Pada bayi yang masih sangat kecil, perubahan kondisi dapat berlangsung cepat sehingga penanganan medis perlu dilakukan secara menyeluruh oleh tim dokter dan tenaga kesehatan. Karena itu, informasi mengenai riwayat makanan, gejala, serta waktu munculnya keluhan menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.

Kabar mengenai dugaan pemberian telur mentah kepada Alena memunculkan perhatian terhadap keamanan makanan bagi bayi, terutama pada usia di bawah enam bulan. Meski demikian, penyebab pasti kondisi kritis yang dialami Alena perlu ditentukan melalui pemeriksaan medis dan keterangan resmi dari pihak rumah sakit maupun keluarga. Masyarakat juga diharapkan tidak langsung menarik kesimpulan atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, mengingat kondisi setiap bayi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor kesehatan.

Informasi mengenai kondisi bayi bernama Alena beredar melalui unggahan di media sosial. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam unggahan tersebut, Alena sebelumnya disebut mengalami demam. Dalam rangkaian informasi yang sama, muncul kabar bahwa Alena kemudian diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Nenek yang dimaksud disebut merupakan ibu dari ayah bayi tersebut.

Pemberian telur mentah itu dikabarkan dilakukan dengan alasan untuk membantu menurunkan demam yang dialami Alena. Namun, informasi tersebut masih bersumber dari unggahan media sosial dan belum menjelaskan secara terperinci mengenai keadaan bayi, bentuk telur yang diberikan, maupun kondisi kesehatan Alena sebelum dan sesudahnya. Karena itu, setiap keterangan yang beredar perlu dipahami sebagai informasi awal yang masih memerlukan verifikasi.

Setelah telur tersebut dikabarkan diberikan, kondisi Alena disebut memburuk. Dalam unggahan yang beredar, bayi itu kemudian dilaporkan memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Rangkaian informasi tersebut menggambarkan perubahan kondisi Alena dari mengalami demam hingga mendapatkan penanganan medis, tetapi tidak menjelaskan secara pasti penyebab memburuknya keadaan bayi maupun hubungan peristiwa-peristiwa tersebut.

Kabar mengenai meninggalnya Alena kemudian muncul melalui unggahan seseorang yang mengaku sebagai bibinya. Orang tersebut juga menyatakan bahwa dirinya merupakan saudara kandung dari ibu bayi tersebut. Unggahan itu menjadi sumber beredarnya kabar duka mengenai Alena di media sosial. Sampai terdapat penjelasan resmi dari pihak berwenang, keluarga, atau tenaga kesehatan yang menangani, informasi mengenai kronologi dan kondisi Alena sebaiknya disampaikan secara hati-hati. Keterangan yang tersedia tidak dapat digunakan untuk menetapkan penyebab kematian atau menyimpulkan bahwa satu peristiwa tertentu secara langsung menyebabkan peristiwa lainnya.

Spesialis anak dr Denta Satria Kurniawan, SpA, menjelaskan bahwa bayi baru lahir memiliki kondisi tubuh yang masih sangat rentan. Saluran cerna, fungsi ginjal, dan sistem kekebalan tubuhnya belum matang sepenuhnya, sehingga belum mampu mengolah berbagai jenis makanan seperti anak yang lebih besar. Kemampuan menelan pun masih berkembang dan koordinasi mengisap, menelan, serta bernapas belum sempurna.

Karena itu, pemberian makanan seperti pisang, bubur, atau telur pada usia yang terlalu dini dapat meningkatkan risiko tersedak. Makanan yang tidak dapat ditelan dengan baik juga bisa masuk ke saluran napas dan mengganggu pernapasan. Risiko tersebut semakin besar apabila tekstur, jumlah, atau cara pemberian makanan tidak sesuai dengan kemampuan bayi. Masuknya makanan ke saluran napas dapat memerlukan penanganan medis segera.

Selain bahaya tersedak, makanan tambahan juga dapat memicu gangguan pada saluran cerna. Bayi dapat mengalami muntah, kembung, atau diare karena sistem pencernaannya belum siap. Bahan makanan tertentu, termasuk telur, berpotensi menimbulkan reaksi alergi pada bayi yang sensitif. Makanan yang tidak diolah atau disimpan secara higienis juga dapat membawa kuman dan meningkatkan risiko infeksi.

Dokter tersebut menekankan bahwa pemberian makanan terlalu dini dapat mengurangi asupan ASI. Padahal, ASI menyediakan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi sekaligus mengandung antibodi untuk membantu melindungi tubuh dari infeksi. Jika ASI tergantikan oleh makanan yang belum sesuai, bayi berisiko mengalami kekurangan gizi. Pada bayi yang sangat kecil, muntah dan diare dapat berkembang cepat menjadi dehidrasi karena cadangan cairan tubuhnya terbatas. Kondisi ini dapat memburuk dalam waktu singkat dan mengancam nyawa, sehingga setiap tanda gangguan setelah pemberian makanan perlu segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Telur mentah memiliki risiko kontaminasi bakteri Salmonella. Menurut Dr Denta, bakteri tersebut dapat berada di permukaan cangkang maupun masuk ke bagian dalam telur. Kontaminasi bisa terjadi sejak proses pembentukan, penanganan, penyimpanan, atau saat telur dipecahkan dan diolah. Karena itu, telur yang diberikan tanpa dimasak hingga matang tidak dapat dianggap sepenuhnya aman, terutama bagi bayi dan kelompok dengan daya tahan tubuh yang belum optimal.

Pada anak yang lebih besar, infeksi Salmonella umumnya menimbulkan gangguan saluran pencernaan, seperti diare, muntah, nyeri perut, dan demam. Namun, bayi baru lahir memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rendah sehingga infeksi dapat berkembang lebih berat. Bakteri dapat menyebar ke dalam aliran darah dan menyebabkan sepsis, atau mencapai sistem saraf hingga memicu radang selaput otak. Kondisi semacam ini membutuhkan penanganan medis segera.

Bayi juga lebih cepat mengalami dehidrasi ketika muntah dan diare karena cadangan cairan tubuhnya terbatas. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah yang tidak terlalu besar sekalipun dapat mengganggu kondisi bayi secara serius. Jika tidak segera ditangani, dehidrasi yang menyertai infeksi dapat berakibat fatal. Orang tua atau pengasuh perlu mewaspadai tanda bahaya, termasuk bayi tampak lemas, sulit menyusu, jarang buang air kecil, demam, atau mengalami muntah dan diare berulang.

Selain risiko infeksi, telur termasuk salah satu makanan yang cukup sering memicu alergi. Reaksi alergi dapat berupa ruam, bengkak, muntah, gangguan napas, atau tanda lain yang memerlukan pemeriksaan. Meski demikian, penjelasan mengenai risiko telur mentah tidak dengan sendirinya menetapkan penyebab pasti kondisi atau kematian Alena. Penentuan penyebab tetap memerlukan pemeriksaan medis dan informasi klinis yang lengkap, sebagaimana disampaikan dokter.

Baca juga: Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat Intensif, Dugaan Pemberian Telur Mentah Jadi Sorotan | Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat dalam Kondisi Kritis akibat Pemberian Telur Mentah | Bayi Alena Meninggal pada Usia 28 Hari Setelah Sempat Kritis di RSUD Dr Soetomo