Jakarta | Film drama sosial Empat Musim Pertiwi resmi tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Karya garapan sutradara Kamila Andini dan produksi Forka Films ini menghadirkan kisah tentang kepulangan seorang perempuan ke lingkungan desa yang menyimpan berbagai persoalan, luka, serta penolakan. Kehadirannya di layar lebar menjadi penanda penting bagi sebuah cerita yang menempatkan pengalaman perempuan dan dinamika kehidupan sosial sebagai pusat perhatian.
Sebelum diputar secara luas, film tersebut lebih dahulu diperkenalkan melalui acara penayangan perdana yang berlangsung di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat, 2 Oktober 2026. Acara ini menjadi kesempatan awal bagi publik untuk mengenal drama sosial yang mengangkat hubungan pengalaman personal dan kondisi masyarakat di sekitarnya. Penayangan perdana itu juga mendahului jadwal kehadiran film di bioskop-bioskop Indonesia pada pekan berikutnya.
Empat Musim Pertiwi berfokus pada perjuangan hidup seorang perempuan ketika harus berhadapan dengan trauma, ketangguhan diri, dan penerimaan sosial. Kepulangannya ke desa tidak sekadar menjadi perjalanan untuk kembali ke tempat asal, tetapi juga membuka kembali persoalan yang mungkin selama ini belum terselesaikan. Dalam ruang sosial tersebut, film ini menyoroti bagaimana relasi antarwarga, penilaian lingkungan, dan sikap penolakan dapat memengaruhi pilihan serta kehidupan seseorang.
Putri Marino tampil sebagai pemeran utama dalam film ini. Kehadirannya menjadi salah satu daya tarik yang memperkuat penggambaran sosok perempuan yang menghadapi luka dan tekanan dari lingkungan sekitar. Melalui perpaduan drama personal dan persoalan sosial, film garapan Kamila Andini tersebut menyajikan perhatian terhadap ketahanan perempuan sekaligus hubungan manusia dalam kehidupan desa. Tema-tema itu menjadikan Empat Musim Pertiwi sebagai film yang membahas pengalaman emosional dan realitas sosial secara beriringan.
Setelah menjalani hukuman penjara dan meninggalkan desa selama dua puluh tahun, Pertiwi memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Kepulangan itu menjadi titik penting dalam hidup seorang perempuan yang dikenal tegas, berani, dan tidak mudah tunduk pada penilaian orang lain. Ia kembali bukan karena masa lalu telah sepenuhnya selesai, melainkan karena menyadari bahwa ada luka yang perlu dihadapi. Desa yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya kini terasa asing, sementara kenangan lama terus mengikuti setiap langkahnya.
Kedatangan Pertiwi tidak disambut dengan kehangatan. Keluarga dan warga desa masih menyimpan ingatan pahit tentang peristiwa yang pernah membawanya ke balik jeruji besi. Tatapan curiga, percakapan yang terhenti, serta jarak yang sengaja diciptakan menjadi bentuk penolakan sosial yang harus diterimanya setiap hari. Tidak semua orang bersedia mendengar penjelasan atau melihat perubahan dalam dirinya. Bagi sebagian warga, masa lalu telah membentuk kesimpulan yang sulit digoyahkan, sehingga kepulangan Pertiwi dianggap sebagai gangguan terhadap ketenangan desa.
Di tengah suasana tersebut, Pertiwi berusaha menata kembali hidupnya. Ia harus mencari tempat dalam lingkungan yang tidak lagi mengenalinya sebagai bagian dari komunitas. Keinginannya untuk menjalani hari secara mandiri berhadapan dengan bisik-bisik, prasangka, dan hubungan keluarga yang telah berubah. Namun, sikap tegasnya tidak membuatnya mudah menyerah. Pertiwi memilih menghadapi penolakan secara langsung, sembari perlahan membuka kembali peristiwa kelam yang selama ini diselimuti diam.
Alur film mengikuti perjuangan Pertiwi untuk merebut kembali kendali atas kehidupannya. Proses itu tidak berlangsung sederhana, sebab kepulangannya memaksa keluarga dan warga desa berhadapan dengan ingatan yang ingin mereka lupakan. Tanpa memberikan jawaban secara tergesa-gesa, kisah ini menempatkan Pertiwi sebagai perempuan yang berani menanggung akibat masa lalu sekaligus mencari kesempatan untuk memulai kembali. Perjalanannya memperlihatkan bahwa pulang dapat menjadi bentuk keberanian: kembali ke tempat yang menolak, menghadapi luka yang belum sembuh, dan membangun masa depan di tengah penilaian yang terus membayangi.
Kepulangan Pertiwi tidak serta-merta menghapus luka yang dibawanya. Setelah lama berhadapan dengan penolakan dan penilaian warga desa, ia masih harus berjuang menghadapi ingatan traumatis, rasa malu, serta ketakutan untuk kembali menjadi bagian dari lingkungan yang pernah menjauhinya. Kehadiran Bisma menjadi salah satu perubahan penting dalam perjalanan tersebut. Ia menyambut Pertiwi tanpa menjadikan masa lalu perempuan itu sebagai alasan untuk menghakimi. Sikap Bisma memberi ruang bagi Pertiwi untuk berbicara, diam, dan menjalani proses pemulihan sesuai kemampuannya sendiri.
Niken juga hadir sebagai bagian dari lingkaran kecil yang membantu Pertiwi bertahan. Dukungan mereka tidak selalu berbentuk nasihat atau tindakan besar, melainkan kesediaan untuk mendengarkan dan tetap berada di dekatnya ketika hubungan dengan warga belum pulih. Dalam kebersamaan itu, Pertiwi perlahan menemukan kembali arti kehidupan yang sempat hilang. Ia mulai memahami bahwa dirinya tidak sepenuhnya ditentukan oleh penolakan desa maupun pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Namun, proses tersebut berlangsung tidak lurus. Keraguan dan kenangan buruk masih muncul, terutama ketika ia berhadapan dengan tatapan atau sikap warga yang belum menerima kepulangannya.
Mak Ira menjadi figur pelindung yang penting bagi Pertiwi dalam masa yang rapuh itu. Sebagai mantan pekerja seksual yang mengelola warung di lereng Gunung Bromo, Mak Ira memahami bagaimana stigma sosial dapat membatasi seseorang. Pengalamannya membuat ia mampu melihat Pertiwi dengan empati, bukan dengan prasangka. Warung Mak Ira kemudian menjadi tempat yang lebih aman, ketika ruang-ruang sosial lain masih terasa mengancam. Perlindungan tersebut tidak menghilangkan konflik atau memaksa warga segera berubah, tetapi memberi Pertiwi kesempatan untuk memulihkan diri sambil menghadapi kenyataan bahwa penerimaan sosial masih berlangsung secara terbatas dan penuh ketegangan.
Jajaran pemain Empat Musim Pertiwi mempertemukan aktor lintas generasi dengan latar pengalaman yang beragam. Setiap pemeran membawa karakter penting dalam perjalanan Pertiwi, baik pada masa dewasa, masa remaja, maupun melalui hubungan keluarga dan lingkungan sosial yang membentuk kehidupannya.
Putri Marino, dengan nama lengkap Ni Luh Dharma Putri Marino, memerankan Pertiwi. Ia disebut lahir di Denpasar pada 4 Agustus 1993 dan dikenal melalui sejumlah karya, lain Posesif, Losmen Bu Broto, The Architecture of Love, serta Gadis Kretek. Peran Pertiwi remaja dimainkan oleh Shofia Shireen, aktris kelahiran Makassar, 29 Maret 2009. Ia pernah tampil dalam The Doll 2, Lampor: Keranda Terbang, dan Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan.
Arya Saloka berperan sebagai Bisma. Aktor kelahiran Denpasar, 27 Juni 1991, tersebut dikenal luas melalui Ikatan Cinta dan Gadis Kretek. Christine Hakim memainkan Mak Ira, mantan pekerja seksual yang tinggal di lereng Gunung Bromo. Kehadiran karakter ini menjadi bagian dari lingkungan sosial yang mengitari kehidupan Pertiwi.
Hana Pitrashata Malasan memerankan Niken. Aktris sekaligus model kelahiran Tokyo, 28 Juni 1991, itu pernah masuk nominasi FFI 2025 melalui film The Shadow Strays. Iswadi Pratama memainkan ayah Pertiwi. Ia merupakan seniman, sastrawan, dan sutradara teater asal Lampung yang lahir pada 8 April 1971.
Hargi Sundari berperan sebagai ibu Pertiwi pada masa lalu. Seniman kethoprak dan aktris kelahiran Jakarta, 29 Juni 1967, ini pernah membintangi serial Tilik. Sementara itu, Fajar diperankan oleh Totos Rasiti, aktor dan pelawak lulusan Institut Kesenian Jakarta yang lahir di Tegal pada 24 Agustus 1971. Susunan pemeran tersebut memperlihatkan perpaduan pengalaman film, televisi, teater, dan seni pertunjukan dalam menghidupkan dunia cerita.
Baca juga: El Niño Ekstrem Menguat, Indonesia Menghadapi Ancaman Kemarau Panjang dan Cuaca Berubah







