Kabupaten Bekasi | Sebanyak 2.150 pesepak bola muda yang tergabung dalam 74 tim mengikuti Blispi Youth Cup 2026 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Turnamen yang berlangsung pada 25–28 Oktober ini digelar untuk memperebutkan Piala Ketua DPD RI. Jumlah peserta dan tim tersebut menjadikan ajang ini sebagai pertemuan besar bagi pemain muda dari berbagai daerah.
Para peserta bertanding dalam empat kelompok usia, yakni di bawah 10 tahun, di bawah 12 tahun, di bawah 14 tahun, dan di bawah 16 tahun. Pembagian kategori ini menghadirkan kesempatan bagi pemain dari rentang usia berbeda untuk berpartisipasi dalam turnamen yang sama. Seluruh pertandingan berlangsung dalam jadwal yang telah ditetapkan selama empat hari pelaksanaan di kawasan Cikarang.
Keikutsertaan tim dari berbagai daerah mempertemukan para pemain muda dalam satu arena, dengan Stadion Wibawa Mukti menjadi lokasi utama kegiatan. Mereka datang sebagai bagian dari 74 tim yang meramaikan kompetisi, membawa pengalaman dan latar belakang masing-masing. Turnamen ini berpusat pada partisipasi pemain usia dini dan remaja, sebagaimana tercermin dalam empat kelompok umur yang dipertandingkan.
Blispi Youth Cup 2026 menggabungkan skala peserta yang besar dengan cakupan usia yang beragam. Sebanyak 2.150 pemain muda mengikuti agenda tersebut untuk bersaing memperebutkan Piala Ketua DPD RI. Dengan berlangsungnya pertandingan dari 25 hingga 28 Oktober, stadion di Kabupaten Bekasi menjadi titik berkumpul bagi tim-tim peserta dari berbagai daerah. Informasi mengenai jumlah peserta, kelompok umur, lokasi, dan jadwal menggambarkan lingkup pelaksanaan turnamen tahun ini, tanpa mengubah fokus utama pada keterlibatan para pemain muda.
Ketua Umum Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (Blispi), Subagja Suihan, menilai Blispi Youth Cup 2026 sebagai penyelenggaraan yang istimewa. Menurutnya, turnamen tahun ini memperoleh dukungan langsung dari Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin. Dukungan tersebut dipandang penting bagi upaya memperkuat pembinaan sepak bola usia dini dan memperluas kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang. Kehadiran dukungan dari tingkat nasional juga menjadi dorongan bagi penyelenggara untuk menjaga kompetisi tetap terarah, sekaligus memberi ruang kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan di lapangan.
Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga sarana menjaring bakat dari berbagai penjuru Nusantara. Melalui rangkaian pertandingan, pemain muda dapat memperoleh pengalaman berkompetisi, sementara kemampuan mereka berpeluang terpantau untuk dibina lebih lanjut. Tujuan tersebut sejalan dengan kebutuhan membangun jalur pengembangan yang terbuka dan berjenjang, sehingga talenta dari daerah memiliki kesempatan untuk melangkah menuju tingkat nasional. Dengan menghimpun peserta dari beragam wilayah, turnamen juga mempertemukan pemain dengan latar pembinaan dan pengalaman yang berbeda.
Blispi telah menjalankan peran sebagai wadah pembinaan sepak bola pelajar secara berjenjang sejak 2013. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, organisasi itu telah mengembangkan pembinaan selama 13 tahun, dengan kompetisi sebagai salah satu bagian dari prosesnya. Sejumlah pemain yang kemudian dikenal di level nasional pernah mengikuti pembinaan Blispi, lain Bagas Kaffa, Bagus Kahfi, Ernando Ari, Septian David Maulana, dan Egy Maulana Vikri. Kehadiran nama-nama tersebut menunjukkan bahwa jalur pembinaan pelajar dapat menjadi salah satu ruang awal bagi pemain untuk mengasah keterampilan dan memperoleh pengalaman. Bagi peserta Blispi Youth Cup 2026, kesempatan tampil di turnamen menjadi bagian dari proses belajar, pengukuran kemampuan, dan pengembangan potensi. Dengan demikian, Blispi menempatkan kompetisi bukan semata sebagai perebutan gelar, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pembinaan yang membantu menyiapkan pemain muda untuk menghadapi tahapan berikutnya dalam sepak bola.Subagja berharap kehadiran Shin Tae-yong, mantan pelatih tim nasional Indonesia, dapat menjadi dorongan bagi para peserta Blispi Youth Cup 2026 untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Menurutnya, kesempatan tampil di hadapan sosok yang memiliki pengalaman melatih di level nasional dapat menambah semangat pemain muda. Para peserta diharapkan bermain dengan percaya diri, disiplin, dan sungguh-sungguh, sekaligus memperlihatkan potensi yang dapat dikembangkan melalui pembinaan berikutnya. Harapan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan turnamen ini bukan hanya ajang pertandingan, tetapi juga ruang bagi pemain untuk memperoleh perhatian dan kesempatan berkembang.
Subagja menyampaikan rencana untuk memilih 18 pemain terbaik dari turnamen tersebut. Para pemain terpilih direncanakan menjalani pembinaan lanjutan di Korea Selatan dengan melibatkan Shin Tae-yong dan Simon Tahamata. Rencana ini dimaksudkan untuk memberi pemain pengalaman latihan dan pengembangan yang lebih terarah, sekaligus memperluas kesempatan mereka mempelajari pendekatan sepak bola di luar negeri. Namun, proses seleksi, keberangkatan, serta pelaksanaan pembinaan itu masih merupakan rencana yang disampaikan Subagja, bukan kegiatan yang telah terlaksana. Karena itu, belum ada keterangan bahwa 18 pemain sudah ditetapkan atau telah berangkat ke Korea Selatan.
Subagja juga menyebut data pemain Blispi akan disampaikan kepada Shin Tae-yong agar dapat menjadi bahan perhatian dalam melihat potensi para peserta. Selain itu, ia mengatakan telah meminta Ketua DPD RI menyediakan seorang pencari bakat untuk membantu memantau pemain. Keterlibatan pencari bakat tersebut diharapkan mendukung proses pengamatan secara lebih luas, sementara penyampaian data dapat membantu pihak terkait meninjau profil pemain. Meski demikian, kedua hal itu masih berupa rencana dan permintaan yang disampaikan Subagja. Belum dinyatakan bahwa data tersebut telah diserahkan, pencari bakat telah ditugaskan, atau hasil pemantauan telah menghasilkan keputusan seleksi. Dengan demikian, kesempatan pembinaan di Korea Selatan tetap bergantung pada pelaksanaan rencana dan proses pemilihan pemain ke depan.
Sultan Bachtiar Najamudin menilai masih banyak talenta sepak bola di berbagai daerah yang belum memperoleh kesempatan pembinaan secara memadai. Potensi para pemain muda tersebar luas, tetapi akses terhadap pelatih, fasilitas, kompetisi berkualitas, dan jalur pengembangan belum merata. Karena itu, penyelenggaraan Blispi Youth Cup 2026 dipandang bukan semata sebagai ajang pertandingan, melainkan bagian dari upaya membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang melalui sepak bola sejak usia dini. Pendidikan olahraga yang dimulai lebih awal, menurut pandangan tersebut, dapat membantu membangun kemampuan teknis sekaligus kedisiplinan, kerja sama, dan karakter pemain.
Ia menekankan bahwa pembinaan tidak seharusnya berhenti ketika turnamen selesai. Kompetisi dapat menjadi titik awal untuk mengenali kemampuan pemain, tetapi perkembangan mereka memerlukan tindak lanjut yang jelas. Pelatihan perlu disusun secara terukur, dengan tahapan sesuai usia dan kebutuhan, serta dijalankan secara berkelanjutan. Evaluasi berkala dapat membantu pelatih memahami kemajuan setiap pemain dan menentukan aspek yang perlu diperkuat. Dengan pendekatan seperti itu, pengalaman bertanding tidak hanya menjadi kenangan, tetapi dapat terhubung dengan proses pembelajaran dan peningkatan kualitas yang konsisten setelah para peserta kembali ke daerah masing-masing.
Kerja sama dengan Blispi, lanjutnya, membuka kesempatan untuk menemukan bakat daerah sejak tahap awal dan memperluas perhatian terhadap pemain yang mungkin belum terjangkau sistem pembinaan yang lebih besar. Harapannya, turnamen ini menjadi salah satu jalur yang memungkinkan pemain muda memperoleh pendampingan, pengalaman, dan kesempatan berkembang, hingga kelak ada di mereka yang mampu memperkuat tim nasional. Sultan juga berpandangan bahwa Indonesia mempunyai masa depan sepak bola yang cemerlang, ditopang oleh banyaknya anak muda yang berminat dan berbakat. Namun, optimisme tersebut perlu diiringi kerja nyata. Pemerataan pembinaan, kesinambungan pelatihan, kualitas kompetisi, serta koordinasi antarpihak masih menjadi pekerjaan yang harus dibenahi agar potensi itu dapat tumbuh menjadi prestasi.
Baca juga: Panggung Basket Nasional: Pemain Indonesia Jadi Sorotan di IBL All Indonesian 2026 | Osteoporosis Dapat Mengintai Sejak Muda: Pesan Perwatusi pada HON 2026



































