Banjarmasin | Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Helvi Moraza, membuka Gelar Kumitra Jambore 2026 pada Minggu di halaman Mahligai Pancasila, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pembukaan tersebut menandai dimulainya kegiatan yang membawa perhatian pada kolaborasi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah itu. Acara ini digelar di salah satu lokasi penting di Banjarmasin dan mempertemukan agenda pengembangan UMKM dengan semangat kerja sama.
Kehadiran Helvi Moraza dalam pembukaan menempatkan dukungan terhadap UMKM sebagai bagian utama dari penyelenggaraan jambore. Nama kegiatan, Gelar Kumitra Jambore 2026, juga menegaskan tema kemitraan dan pertemuan yang menjadi fokus acara. Melalui penyelenggaraan ini, kolaborasi didorong sebagai pendekatan untuk mendukung UMKM Kalimantan Selatan, sekaligus membuka ruang bagi para pihak untuk memberi perhatian pada kebutuhan dan potensi pelaku usaha.
Informasi mengenai pembukaan menjadi inti peristiwa: Helvi Moraza secara resmi membuka kegiatan tersebut di halaman Mahligai Pancasila. Keterangan yang tersedia menyebut hari pelaksanaan sebagai Minggu, tanpa mencantumkan tanggal tertentu. Karena itu, penyebutan waktu tidak perlu diperluas dengan tanggal atau jadwal lain. Demikian pula, rincian susunan acara maupun peserta tidak disebutkan dalam informasi dasar mengenai pembukaan ini.
Penyelenggaraan di Banjarmasin menempatkan Kalimantan Selatan sebagai latar bagi upaya mendorong kolaborasi UMKM. Dalam konteks tersebut, jambore menjadi kesempatan untuk mengangkat pentingnya hubungan dan kerja bersama dalam mendukung pelaku usaha. Namun, inti pemberitaan tetap pada peresmian pembukaan oleh Wakil Menteri UMKM, bukan pada rincian kegiatan lanjutan yang belum disampaikan. Dengan demikian, informasi pokoknya mencakup siapa yang membuka, nama kegiatan, waktu secara umum, serta lokasi penyelenggaraan.
Gelar Kumitra Jambore 2026 pun hadir sebagai agenda yang diarahkan untuk mendorong kolaborasi bagi UMKM Kalsel. Pembukaan oleh Helvi Moraza memberikan penanda resmi atas pelaksanaan kegiatan di Mahligai Pancasila. Bagi pembaca, peristiwa ini memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM daerah menjadi perhatian dalam sebuah kegiatan yang mengusung kemitraan. Informasi tersebut menjadi landasan untuk memahami tujuan umum jambore, tanpa mengasumsikan hasil, bentuk kerja sama, atau program khusus yang tidak tercantum dalam keterangan.
Kumitra Jambore 2026 di Banjarmasin dirancang sebagai ruang kolaborasi yang melibatkan berbagai unsur, bukan sekadar agenda pemerintah untuk pelaku usaha. Kegiatan ini mempertemukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan dunia usaha, lembaga keuangan, asosiasi, serta para pengusaha UMKM. Keterlibatan banyak pihak tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama yang lebih luas, sekaligus memperkuat dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah di Kalimantan Selatan.
Menurut Helvi, penyelenggaraan acara ini juga menyatukan empat program dari unit eselon I di kementeriannya. Penggabungan tersebut menjadi bentuk dukungan negara terhadap kemajuan UMKM, khususnya di Kalimantan Selatan. Dengan berbagai program berjalan dalam satu kegiatan, pelaku usaha dapat bertemu dengan pihak yang memiliki peran berbeda dalam ekosistem usaha, mulai dari pemerintah hingga mitra pembiayaan dan organisasi yang menaungi pengusaha.
Kolaborasi antarpihak dinilai penting karena tantangan UMKM tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Pemerintah dapat menghadirkan kebijakan dan program, sementara pemerintah daerah memahami kebutuhan serta kondisi usaha di wilayahnya. Dunia usaha, lembaga keuangan, dan asosiasi dapat turut membuka akses, berbagi pengetahuan, serta membangun jejaring. Adapun pengusaha UMKM menjadi bagian utama dalam proses tersebut, dengan pengalaman langsung mengenai kebutuhan dan hambatan yang dihadapi saat mengembangkan usaha.
Helvi menyampaikan bahwa semangat kerja bersama itu sejalan dengan amanat Presiden agar Kabinet Merah Putih mengabdi kepada bangsa dan melayani kegiatan masyarakat. Pesan tersebut, menurutnya, menjadi landasan bagi kementerian untuk menghadirkan dukungan yang dapat dirasakan secara nyata. Dalam konteks Jambore, pelayanan diwujudkan melalui ruang pertemuan dan kerja sama yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pemangku kepentingan terkait.
Melalui keterlibatan lintas sektor dan penyatuan program tersebut, Jambore diharapkan memperkuat hubungan kebijakan, dukungan daerah, dan kebutuhan usaha di lapangan. Kolaborasi yang terbangun dapat menjadi pijakan bagi langkah lanjutan untuk mendukung pertumbuhan UMKM Kalimantan Selatan, sekaligus mendorong agar berbagai sumber daya dan inisiatif yang tersedia bekerja secara lebih terarah.
Melalui tema “Bertemu, Bermitra, Bertumbuh”, Kumitra Jambore 2026 mengangkat tujuan untuk mendukung pelaku UMKM agar dapat memperoleh layanan, menjalin kemitraan, dan menemukan akses pasar. Helvi menjelaskan bahwa ketiga hal tersebut penting bagi keberlangsungan usaha. Kegiatan ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan pelaku usaha dengan dukungan yang dapat membantu mereka menjalankan usaha, bukan sekadar menjadi ruang pertemuan. Dengan demikian, tema tersebut merangkum harapan agar UMKM memiliki dukungan yang relevan untuk melanjutkan kegiatan usahanya dan membuka peluang untuk berkembang.
Layanan menjadi salah satu bagian dari tujuan itu. Pelaku UMKM diharapkan dapat memperoleh layanan yang membantu usaha mereka berjalan. Helvi menekankan pentingnya dukungan tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari para pelaku usaha. Bagi banyak keluarga, keberlangsungan usaha berkaitan dengan kemampuan untuk menopang kehidupan rumah tangga. Karena itu, tujuan kegiatan tidak hanya berbicara tentang usaha sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga tentang perannya dalam mendukung kehidupan keluarga. Dukungan yang dapat dijangkau pelaku usaha dipandang sebagai bagian penting agar kegiatan mereka tetap berjalan.
Kemitraan dan akses pasar melengkapi tujuan tersebut. Melalui kemitraan, pelaku UMKM diharapkan dapat memperoleh mitra pembudayaan yang mendukung perjalanan usaha mereka. Sementara itu, akses pasar menjadi kebutuhan agar produk atau usaha dapat menemukan ruang untuk berkembang. Helvi menyampaikan bahwa pelaku usaha memerlukan layanan, mitra pembudayaan, dan pasar supaya usaha dapat berjalan, menopang kehidupan keluarga, serta bertumbuh. Penekanan ini menjaga fokus kegiatan pada kebutuhan yang saling terkait: keberlangsungan usaha, dukungan bagi keluarga, dan peluang perkembangan. Dengan membawa tema “Bertemu, Bermitra, Bertumbuh”, Jambore mendorong perhatian pada kolaborasi sebagai jalan untuk mendekatkan pelaku UMKM kepada dukungan tersebut. Tujuan itu menggambarkan arah kegiatan bagi UMKM Kalsel tanpa mengabaikan kebutuhan dasar pelaku usaha untuk menjalankan usahanya secara berkelanjutan.
Potensi usaha mikro, kecil, dan menengah di Kalimantan Selatan terlihat dari jumlah pelaku yang terus bertambah. Helvi menyampaikan bahwa hingga 2025, jumlah UMKM di provinsi tersebut tercatat lebih dari 518 ribu. Angka ini bertambah sekitar 8.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan besarnya peran UMKM dalam kegiatan ekonomi daerah sekaligus peluang untuk memperluas jangkauan usaha, meningkatkan kualitas produk, dan memperkuat daya saing pelaku usaha lokal.
Di Banjarmasin, data yang diterima Helvi mencatat terdapat sekitar 51 ribu UMKM. Jumlah itu menjadi gambaran penting mengenai aktivitas ekonomi masyarakat di kota tersebut, dari usaha rumahan hingga bisnis yang melayani pasar lebih luas. Helvi berharap jumlah UMKM di Banjarmasin dapat meningkat melalui kegiatan Kumitra Jambore 2026. Harapan itu sejalan dengan dorongan agar pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk bertemu, bertukar pengalaman, dan membangun kolaborasi yang bermanfaat bagi perkembangan bisnis masing-masing.
Kolaborasi dapat membantu pelaku UMKM mengenali kebutuhan usaha dan membuka peluang untuk memperluas jaringan. Namun, pengembangan usaha juga memerlukan dukungan yang sesuai, termasuk akses terhadap pembiayaan. Karena itu, kegiatan ini turut memuat langkah konkret untuk mendekatkan layanan permodalan kepada pelaku usaha mikro. Dalam acara tersebut dilangsungkan akad Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi usaha mikro yang memenuhi persyaratan. Pelaksanaan akad ini menjadi bagian dari upaya mempermudah akses modal, sehingga pelaku yang layak dapat memperoleh pembiayaan untuk mendukung kebutuhan serta kegiatan usahanya.
Baca juga: Perkuat OMC di Kalsel, TNI Kirim Pesawat Hercules C-130 Tambahan ke Banjarmasin | TVRI dan Perempuan Indonesia Maju Bahas Peluang Kolaborasi Tayangan | Asetku Dorong Pemahaman Keuangan Digital Lewat Jakarta Financial Festival 2026



































