BMKG Ajak Petani Sasak Padukan Warige dengan Prakiraan Iklim

oleh -521 Dilihat
oleh
BMKG Ajak Petani Sasak Padukan Warige dengan Prakiraan Iklim

Mataram | BMKG mendorong petani Sasak menyelaraskan kalender Warige dengan teknologi informasi cuaca dan iklim agar penentuan pola serta waktu tanam dapat dilakukan dengan lebih akurat. Perpaduan pengetahuan lokal dan prakiraan iklim ini diharapkan membantu petani mempertimbangkan kondisi musim sebelum memulai kegiatan pertanian. Dorongan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, dalam konsultasi publik Stasiun Klimatologi NTB yang digelar secara daring dan dipantau di Mataram pada Rabu.

Warige merupakan kalender tradisional masyarakat Sasak yang digunakan sebagai salah satu rujukan dalam membaca waktu dan menyusun kegiatan, termasuk pertanian. Sementara itu, informasi iklim dari BMKG dapat memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca dan musim yang diperkirakan. Dengan mempertimbangkan keduanya, petani dapat memiliki bahan pertimbangan yang lebih luas ketika menentukan kapan menanam serta pola tanam yang sesuai. Pendekatan tersebut tidak menempatkan pengetahuan tradisional dan teknologi sebagai pilihan yang saling bertentangan, melainkan sebagai sumber informasi yang dapat saling melengkapi.

Penyelarasan Warige dengan prakiraan iklim juga penting agar keputusan pertanian tidak hanya bertumpu pada kebiasaan atau perkiraan umum. Informasi cuaca dan iklim dapat digunakan untuk meninjau kembali waktu tanam yang direncanakan, dengan tetap memperhatikan pemahaman lokal yang telah digunakan masyarakat. Dengan demikian, petani memiliki kesempatan untuk menyesuaikan rencana ketika informasi mengenai musim menunjukkan kondisi yang perlu dicermati. Pemanfaatan informasi tersebut diharapkan mendukung perencanaan yang lebih terukur, sekaligus menjaga peran kalender lokal dalam kehidupan masyarakat Sasak.

Melalui konsultasi publik itu, BMKG mendorong agar informasi iklim dapat semakin dipertimbangkan dalam kegiatan pertanian di NTB. Penyampaian prakiraan yang berpadu dengan Warige dapat membantu menjembatani informasi teknis dan kebutuhan petani dalam mengambil keputusan. Upaya ini menekankan pentingnya menggunakan berbagai sumber pengetahuan secara bijak, bukan menggantikan satu rujukan dengan rujukan lain. Bagi petani, pemahaman tentang kondisi iklim dan kalender lokal dapat menjadi dasar untuk menyusun rencana tanam yang lebih sesuai dengan keadaan musim.

Menurut Nuga, Warige tetap memiliki peran penting sebagai pedoman bagi petani Sasak, terutama ketika kondisi iklim berlangsung normal. Pengetahuan tradisional ini memuat pemahaman masyarakat mengenai waktu yang dianggap sesuai untuk memulai kegiatan pertanian. Selama pola cuaca dan iklim tidak mengalami perubahan besar, acuan tersebut masih dapat membantu petani merencanakan musim tanam dan menyesuaikan pekerjaan di lahan. Relevansi Warige dalam keadaan normal menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tetap bernilai dan dapat terus digunakan dalam kehidupan pertanian masyarakat.

Namun, tingkat kecocokan Warige dapat berubah ketika iklim berada dalam kondisi ekstrem. Nuga menjelaskan bahwa fenomena seperti El Niño dan La Niña dapat mengganggu pola yang biasanya menjadi dasar penentuan waktu tanam. Perubahan tersebut dapat memengaruhi awal musim hujan, jumlah curah hujan, maupun lamanya periode kering. Akibatnya, perkiraan berdasarkan kebiasaan iklim sebelumnya tidak selalu sejalan dengan keadaan yang dihadapi petani. Dalam kajian yang ia sebutkan, hanya sekitar 30 hingga 35 persen bagian Warige yang cocok untuk kondisi iklim ekstrem. Angka ini menandakan adanya keterbatasan ketika pedoman tradisional diterapkan tanpa mempertimbangkan perubahan iklim yang sedang berlangsung.

Temuan tersebut bukan alasan untuk menghapus atau meninggalkan Warige. Sebaliknya, hasil kajian itu menunjukkan pentingnya melengkapi pengetahuan tradisional dengan informasi cuaca dan prakiraan iklim yang lebih mutakhir. Petani dapat menggunakan Warige sebagai salah satu rujukan, lalu membandingkannya dengan perkembangan kondisi iklim serta prakiraan dari lembaga terkait, termasuk BMKG. Dengan cara ini, keputusan mengenai waktu tanam dapat mempertimbangkan pengalaman lokal sekaligus kemungkinan perubahan cuaca. Perpaduan kedua sumber informasi juga membantu petani mengenali risiko lebih awal dan mengurangi ketergantungan pada satu acuan saja. Pendekatan tersebut menghargai warisan pengetahuan masyarakat Sasak, sambil memberi ruang bagi penyesuaian ketika El Niño, La Niña, atau kondisi ekstrem lain memengaruhi musim. Warige tetap relevan, tetapi penggunaannya akan lebih tepat bila disertai pemantauan dan informasi iklim terkini.

BMKG menegaskan bahwa upaya mengenalkan prakiraan iklim berbasis sains dan teknologi bukan dimaksudkan untuk meninggalkan Warige atau mengesampingkan tradisi yang telah lama menjadi pegangan petani Sasak. Pengetahuan lokal tersebut tumbuh dari pengalaman masyarakat dalam membaca alam dan menentukan waktu kegiatan pertanian. Karena itu, Warige tetap dipandang sebagai bagian penting dari cara masyarakat memahami musim dan mengelola usaha tani. Informasi meteorologi dapat melengkapi pertimbangan yang sudah digunakan, bukan menggantikannya secara sepihak.

Nuga menjelaskan bahwa kondisi geografis dan topografi wilayah yang beragam ikut membentuk karakter iklim setempat. Perbedaan bentang alam dapat memengaruhi keadaan cuaca, ketersediaan air, serta waktu tanam yang sesuai di setiap lokasi. Keragaman itu juga turut membentuk pola pertanian tradisional dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Dalam konteks tersebut, kearifan lokal memiliki nilai karena lahir dari pengamatan yang berlangsung lama dan berkaitan dengan lingkungan tertentu. Pengalaman petani, termasuk cara mereka menggunakan Warige, menjadi salah satu sumber pemahaman mengenai perubahan musim dan kebutuhan pertanian.

BMKG berencana mendorong diskusi dan kolaborasi dengan pihak-pihak yang selama ini menggunakan Warige. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, membahas dasar penentuan waktu dalam tradisi, serta melihat kesesuaiannya dengan informasi iklim yang tersedia. Melalui komunikasi dua arah, pengetahuan lokal dapat diselaraskan dengan data dan prakiraan berbasis sains tanpa menghilangkan konteks budaya maupun pengalaman masyarakat. Kolaborasi juga memungkinkan informasi iklim disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kebutuhan petani dan kondisi wilayah masing-masing. Dengan demikian, keputusan pertanian dapat mempertimbangkan beragam sumber pengetahuan secara proporsional. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai mitra, sekaligus membuka peluang agar Warige dan prakiraan iklim saling melengkapi dalam membantu petani merencanakan kegiatan budidaya.

Warige merupakan sistem penanggalan tradisional sekaligus pengetahuan perbintangan kuno yang telah digunakan secara konsisten oleh masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Bagi komunitas setempat, Warige bukan sekadar cara menghitung hari. Sistem ini juga menjadi panduan untuk membaca perubahan alam dan menentukan kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan pertanian.

Pembacaan Warige bertumpu pada pengamatan terhadap rasi bintang, benda-benda langit, serta tanda alam yang terlihat di lingkungan sekitar. Pengetahuan tersebut diwariskan lintas generasi dan digunakan untuk memperkirakan pergantian musim maupun keadaan cuaca. Dari berbagai petunjuk itu, masyarakat dapat menyusun perkiraan mengenai waktu yang dianggap sesuai untuk memulai masa tanam. Dengan demikian, Warige memiliki hubungan erat dengan cara petani Sasak menyesuaikan kegiatan pertanian terhadap siklus alam.

Pengetahuan tradisional ini masih dilestarikan oleh para tokoh adat di Lombok. Salah satu wujudnya ialah musyawarah adat yang dikenal sebagai Sangkep Warige. Dalam pertemuan tersebut, tokoh adat membahas penanggalan dan tanda alam sebagai dasar untuk menentukan waktu pelaksanaan tradisi menangkap cacing laut nyale. Nyale memiliki nama ilmiah Palola viridis dan kemunculannya menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Lombok. Musyawarah itu memperlihatkan bahwa Warige tetap berperan dalam kehidupan budaya, sekaligus menunjukkan bagaimana pengamatan alam dibicarakan dan diwariskan secara bersama.

Meski demikian, perkiraan berdasarkan kalender tradisional dapat dilengkapi dengan informasi meteorologi dan klimatologi terkini. BMKG mengajak petani mempertimbangkan prakiraan cuaca dan iklim saat menentukan waktu tanam, bukan hanya mengandalkan penanggalan adat. Perpaduan pengetahuan lokal dengan data prakiraan dapat membantu petani menilai kondisi yang mungkin dihadapi, merencanakan kegiatan pertanian, serta mengantisipasi perubahan musim.

Baca juga: Sekolah Lansia Fatmawati Padukan Pemeriksaan Kesehatan, Pembelajaran, dan Musik Angklung