BMKG Jelaskan Perbedaan Fungsi Dry Ice dan Garam dalam Penanganan Asap Karhutla

oleh -145 Dilihat
oleh
BMKG Jelaskan Perbedaan Fungsi Dry Ice dan Garam dalam Penanganan Asap Karhutla

Jakarta | BMKG menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dalam operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan bertujuan mendatangkan hujan. Bahan tersebut dimanfaatkan untuk membantu menstabilkan profil suhu atmosfer dan mengurai kondisi udara yang membuat asap tertahan di dekat permukaan. Dengan perubahan kondisi atmosfer itu, kepekatan asap diharapkan berkurang, terutama pada lapisan udara yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsyo, menyampaikan penjelasan tersebut dalam konferensi pers mengenai perkembangan bencana di Indonesia. Keterangan itu disiarkan melalui kanal YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Jumat, 23 Oktober 2026. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa dry ice memiliki fungsi berbeda dari bahan yang lazim digunakan dalam upaya modifikasi cuaca untuk merangsang pembentukan hujan. Dalam konteks penanganan asap, perhatian utamanya ialah kondisi atmosfer, bukan menghasilkan presipitasi.

Penggunaan dry ice juga tidak berarti asap karhutla dapat dihilangkan secara langsung. Asap tetap berasal dari kebakaran, sehingga pengendalian sumber api menjadi hal penting dalam penanganan bencana. Metode ini diharapkan membantu mengurangi konsentrasi asap yang berada dekat permukaan dengan memengaruhi susunan suhu udara. Dampaknya bergantung pada keadaan atmosfer dan pelaksanaan operasi, sehingga tidak tepat dipahami sebagai solusi tunggal atau jaminan bahwa kualitas udara segera pulih. Penjelasan BMKG membantu membedakan tujuan intervensi tersebut dari pemadaman kebakaran maupun upaya mendatangkan hujan. Dengan memahami fungsi dry ice secara lebih tepat, masyarakat dapat melihat operasi ini sebagai salah satu langkah untuk menangani kondisi atmosfer yang berkontribusi terhadap penumpukan asap, bukan sebagai cara menghapus asap dari lingkungan. Informasi mengenai tujuan dan batas metode tersebut juga penting agar publik tidak menyamakan setiap operasi modifikasi cuaca dengan kegiatan penyemaian awan untuk meningkatkan curah hujan. BMKG menyatakan harapannya pada pengurangan kepekatan di sekitar permukaan, sementara asap dan dampak kebakaran tetap memerlukan penanganan berkelanjutan.

Dalam kondisi atmosfer normal, udara di dekat permukaan bumi yang menerima panas cenderung bergerak naik, sementara udara yang lebih dingin turun. Sirkulasi vertikal ini membantu mencampur udara pada ketinggian berbeda dan mengencerkan asap serta polutan. Namun, pola tersebut dapat berubah ketika terjadi inversi suhu. Pada keadaan ini, udara yang lebih hangat berada di atas lapisan udara yang lebih dingin dekat permukaan. Susunan suhu yang tidak biasa itu membuat atmosfer lebih stabil dan membatasi pergerakan udara ke atas.

Terhambatnya pencampuran vertikal berdampak pada penyebaran asap kebakaran hutan dan lahan. Asap yang dilepaskan dari permukaan tidak mudah naik melewati lapisan udara hangat di atasnya. Akibatnya, asap dan polutan dapat tertahan serta terkumpul di lapisan bawah atmosfer, terutama di sekitar wilayah sumber kebakaran. Jika kondisi ini berlangsung, konsentrasi asap di dekat permukaan dapat meningkat dan kualitas udara memburuk. Sebaliknya, tanpa penghalang inversi, gerakan udara vertikal yang lebih leluasa dapat membantu membawa sebagian asap ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, asap pekat dapat terjebak hingga ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki, bahkan lebih tinggi. Ketinggian tersebut menunjukkan bahwa sebaran asap tidak selalu terbatas pada jarak dekat permukaan, meskipun gerak vertikal atmosfer sedang terhambat. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menggambarkan lapisan inversi sebagai penghalang aliran udara vertikal. Gambaran itu menjelaskan mengapa asap dapat tertahan dalam lapisan tertentu, alih-alih segera tersebar ke atas. Seberapa lama dan luas asap bertahan juga bergantung pada keadaan atmosfer setempat. Karena itu, memahami inversi suhu penting untuk membaca dinamika asap karhutla dan menilai kondisi penyebarannya, bukan hanya melihat arah angin di permukaan. Informasi meteorologis ini membantu menjelaskan mengapa asap dapat tetap pekat meskipun sumbernya berada di satu lokasi, serta mengapa pemantauan perlu memperhatikan susunan udara pada berbagai ketinggian.

Dry ice dan garam memiliki fungsi berbeda dalam penanganan asap karhutla. Dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang disebarkan dari pesawat pada lapisan inversi yang menjadi sasaran. Lapisan ini dapat bertindak seperti penghalang di atmosfer, sehingga asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan sulit bergerak naik. Akibatnya, asap dapat tertahan di dekat permukaan dan menyebar di wilayah sekitarnya. Dalam kondisi tersebut, penyemaian dry ice ditujukan untuk memengaruhi keadaan atmosfer pada lapisan yang menahan asap, bukan untuk menghasilkan hujan secara langsung.

Ketika dry ice berubah dari padat menjadi gas melalui proses sublimasi, karbon dioksida menyerap panas dari lingkungan sekitarnya. Penyerapan panas itu menimbulkan pendinginan lokal di area penyebaran. Perubahan suhu setempat diharapkan dapat mengubah kestabilan atmosfer dan melemahkan lapisan inversi. Jika penghalang tersebut melemah, aliran konveksi berpeluang terbuka kembali. Asap kemudian dapat bergerak ke lapisan yang lebih tinggi dan menyebar, sehingga tidak terus terkumpul di dekat permukaan. Dampak ini bergantung pada kondisi atmosfer dan sasaran operasi; mekanisme tersebut berbeda dari upaya memicu pertumbuhan hujan.

Sementara itu, garam atau natrium klorida (NaCl) digunakan dalam penyemaian awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Partikel garam disebarkan ke awan untuk membantu pembentukan dan pertumbuhan butir air, sehingga peluang terjadinya hujan dapat meningkat apabila kondisi awan mendukung. Karena itu, pemilihan bahan mengikuti hasil pemantauan cuaca dan tujuan penanganan. Dry ice dipertimbangkan ketika inversi menahan asap, sedangkan awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas. Garam digunakan ketika pemantauan menunjukkan adanya awan yang mendukung pembentukan hujan. Dengan demikian, keduanya bukan bahan yang saling menggantikan: satu diarahkan untuk membantu mengurangi hambatan atmosfer terhadap pergerakan asap, dan satu lagi untuk mendukung proses hujan di awan yang sesuai.

Upaya modifikasi cuaca dalam penanganan asap karhutla diharapkan dapat membantu mengangkat asap dari lapisan dekat permukaan dan mendorong penyebarannya secara vertikal. Jika proses tersebut berlangsung, kepekatan asap yang dihirup dan terlihat masyarakat di sekitar lokasi kebakaran berpotensi berkurang. Dampaknya bukan sesuatu yang dapat dipastikan, sebab hasilnya dipengaruhi kondisi atmosfer serta perkembangan kebakaran di lapangan. Karena itu, keberhasilan operasi perlu dinilai bersama dengan pemantauan kualitas udara dan kondisi cuaca.

Asap yang lebih tersebar ke lapisan udara lebih tinggi juga berpotensi memperbaiki jarak pandang atau visibilitas di wilayah terdampak. Dalam kondisi tertentu, pengurangan konsentrasi partikel di dekat permukaan dapat turut menurunkan indeks PM2.5. Namun, perubahan tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena modifikasi cuaca dilakukan. Kepekatan asap masih dapat dipengaruhi sumber emisi yang terus berlangsung, arah dan kecepatan angin, serta stabilitas atmosfer. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara.

Budi menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca berjalan berdampingan dengan penanganan langsung terhadap titik api. Pemadaman dari darat tetap dilakukan, sementara water bombing menggunakan helikopter menjadi bagian dari upaya untuk menjangkau dan mengatasi kebakaran. Dengan demikian, modifikasi cuaca bukan pengganti pemadaman, melainkan salah satu langkah pendukung dalam penanganan karhutla. Koordinasi berbagai upaya tersebut diperlukan agar respons di lapangan dapat menyesuaikan dengan situasi kebakaran dan kondisi lingkungan yang berubah.

Tri Handoko Seto juga menyampaikan bahwa penyebaran asap dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan. Awan yang tumbuh kemudian berpotensi menjadi sasaran penyemaian dalam operasi modifikasi cuaca, sesuai kondisi yang tersedia. Peluang itu tetap bergantung pada dinamika atmosfer dan tidak menjamin hujan akan turun di lokasi kebakaran.

Baca juga: Penanganan Karhutla: 243 Orang dan 13 Korporasi Jadi Tersangka | Penanganan Karhutla: Polri Tetapkan 11 Korporasi Pemilik Konsesi 209.933 Hektare sebagai Tersangka | BMKG Luruskan Isu Siklon Champi dan Asap Karhutla di Indonesia