BMKG Prediksi Pertumbuhan Awan Hujan di Kalteng dan Sumsel dalam Lima Hari

oleh -51 Dilihat
oleh
BMKG Prediksi Pertumbuhan Awan Hujan di Kalteng dan Sumsel dalam Lima Hari

Jakarta | Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan tergolong tinggi di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Kedua provinsi tersebut diperkirakan mengalami kondisi yang mendukung terbentuknya awan hujan, tetapi awal periode prakiraannya tidak sama. Faisal memberikan keterangan mengenai potensi cuaca itu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 26 Oktober. Tidak ada tahun yang dicantumkan dalam keterangan tersebut.

Untuk Kalimantan Tengah, potensi pertumbuhan awan hujan berlangsung mulai hari ketika pernyataan disampaikan dan berlanjut selama lima hari berikutnya. Dengan demikian, prakiraan mencakup hari Senin, 26 Oktober, serta lima hari sesudahnya. Rentang ini menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan awan hujan diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa hari, bukan hanya pada satu waktu tertentu. Meski demikian, prakiraan mengenai potensi awan tidak dengan sendirinya memastikan hujan akan turun merata di seluruh wilayah provinsi sepanjang periode tersebut.

Sementara itu, di Sumatra Selatan, periode yang diperkirakan memiliki potensi pertumbuhan awan hujan tinggi dimulai sehari setelah pernyataan Faisal, yakni pada Selasa, 27 Oktober, dan berlanjut selama lima hari. Perbedaan waktu mulai ini penting diperhatikan ketika membaca informasi BMKG: prakiraan untuk Kalimantan Tengah telah dimulai pada hari penyampaian keterangan, sedangkan prakiraan Sumatra Selatan baru berlaku mulai keesokan harinya. Kedua rentang tersebut sama-sama berlangsung beberapa hari, tetapi tidak dimulai serentak.

Pernyataan BMKG itu memberikan gambaran awal mengenai wilayah dan waktu yang perlu dicermati dalam prakiraan cuaca jangka pendek. Informasi tersebut menyebut potensi pertumbuhan awan hujan, sehingga masyarakat sebaiknya membedakannya dari kepastian terjadinya hujan di lokasi tertentu. Cuaca dapat bervariasi antardaerah, bahkan dalam satu provinsi, sementara kondisi aktual dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Karena itu, warga di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan dapat memantau pembaruan prakiraan resmi BMKG selama rentang yang disebutkan, terutama sebelum merencanakan kegiatan luar ruang atau perjalanan. Dengan memperhatikan perkembangan informasi, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas tanpa menganggap seluruh wilayah akan mengalami hujan dengan waktu dan intensitas yang sama.

Pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah tidak hanya menjadi perhatian dalam prakiraan cuaca, tetapi juga berkaitan dengan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) secara masif, terutama di kawasan yang terdeteksi memiliki banyak titik panas. Langkah ini ditujukan untuk mendukung upaya menghadirkan hujan dan membantu mengurangi dampak kekeringan serta potensi meluasnya kebakaran.

Dalam pelaksanaan OMC untuk penanganan karhutla, BMKG mengombinasikan penggunaan es kering atau dry ice dengan garam, yakni natrium klorida (NaCl). Bahan tersebut disemai ke dalam awan dengan harapan dapat mendorong proses pembentukan hujan, apabila kondisi atmosfer mendukung. Penyemaian dilakukan melalui penerbangan dan disesuaikan dengan pemantauan cuaca serta keberadaan awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan. Karena itu, operasi memerlukan pengamatan berkelanjutan agar penerbangan dan penyemaian dapat diarahkan ke wilayah yang memerlukan dukungan.

Faisal menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca tersebut dilaksanakan atas arahan Presiden. Untuk mendukung kegiatan di lapangan, pengerahan armada mencakup pesawat Hercules, CN-295, serta pesawat lain milik TNI. Keterlibatan berbagai jenis pesawat memungkinkan operasi dilakukan dengan dukungan sarana yang tersedia, sementara koordinasi lintas lembaga diperlukan untuk menentukan prioritas wilayah dan menyesuaikan kegiatan dengan perkembangan cuaca. OMC merupakan salah satu bagian dari penanganan karhutla, bukan pengganti upaya pemadaman maupun langkah pencegahan di darat.

Dalam rangka meninjau serta menangani persoalan karhutla, Faisal bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kunjungan ke sejumlah provinsi tersebut berkaitan dengan kondisi titik panas dan kebutuhan penanganan di lapangan. Kehadiran para pejabat juga mendukung koordinasi mengenai pelaksanaan operasi, termasuk penentuan wilayah prioritas. Dengan menggabungkan pemantauan atmosfer, penyemaian awan, dukungan armada, dan koordinasi antarlembaga, pemerintah berupaya memperkuat respons terhadap karhutla di wilayah terdampak.

Faisal menjelaskan bahwa salah satu tahapan operasi modifikasi cuaca (OMC) adalah menggunakan dry ice untuk membongkar lapisan inversi. Lapisan ini berada pada ketinggian sekitar 6.000 hingga 7.000 kaki dan dapat menahan asap sehingga terkumpul di bawahnya. Dengan mengganggu lapisan tersebut, asap diharapkan dapat terangkat ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi kepekatan asap, terutama ketika kondisi atmosfer membuat asap sulit menyebar.

Setelah asap terangkat, panas matahari dapat mendorong proses penguapan dan membantu pembentukan awan hujan. Berikutnya, BMKG melakukan penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl), yang berperan sebagai bahan semai untuk mendukung pertumbuhan butir air di dalam awan. Urutan tersebut menggambarkan mekanisme yang disampaikan Faisal: dry ice digunakan untuk membuka lapisan inversi, sementara NaCl digunakan dalam tahap penyemaian awan. Hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang dapat disemai, sehingga operasi ini tidak berarti hujan akan terbentuk secara otomatis di setiap lokasi.

Kebutuhan upaya penanganan asap juga berkaitan dengan meningkatnya kebakaran di sejumlah lokasi dalam rentang dua hingga empat minggu sebelum musim hujan. Sumber menyebut bahwa setelah OMC dengan dry ice dan NaCl diterapkan, hujan berintensitas tinggi dilaporkan terjadi di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Selatan. Informasi itu menunjukkan urutan kejadian yang dilaporkan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa operasi tersebut menjadi satu-satunya penyebab hujan. Curah hujan dan perubahan kondisi asap dapat dipengaruhi berbagai faktor cuaca setempat. Karena itu, dampak OMC sebaiknya dipahami sesuai keterangan sumber: upaya penyemaian dilakukan untuk mendukung pertumbuhan awan hujan dan mengurangi kepekatan asap, sementara laporan hujan menggambarkan kondisi yang terjadi setelah pelaksanaan operasi.Sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Peralihan ini tidak berlangsung serentak di seluruh daerah, sehingga waktu awal musim hujan dapat berbeda satu wilayah dan wilayah lainnya. Setelah musim hujan mulai, periode puncak secara umum diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari. Perkiraan tersebut menjadi gambaran bagi masyarakat mengenai perubahan pola musim pada akhir tahun dan awal tahun berikutnya, meskipun kondisi hujan di setiap daerah dapat memiliki karakteristik masing-masing.

Faisal menjelaskan bahwa awal musim hujan rata-rata mengalami kemunduran sekitar dua hingga tiga dasarian, atau setara dengan 20–30 hari. Kemunduran ini dikaitkan dengan pengaruh El Niño. Dengan demikian, hujan dapat mulai datang lebih lambat dibandingkan waktu yang biasanya tercatat dalam pola klimatologis. Meski awal musim bergeser, sifat hujan diperkirakan berada pada kategori normal. Penilaian normal tersebut mengacu pada perbandingan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir, bukan berarti hujan akan turun dengan intensitas yang sama setiap hari atau merata di setiap tempat.

Faisal juga mengingatkan bahwa hujan yang terkumpul dalam suatu periode dapat terjadi dalam durasi yang lebih pendek. Artinya, jumlah hujan yang secara umum termasuk normal masih mungkin turun dalam rentang waktu lebih singkat, sehingga masyarakat perlu memperhatikan perkembangan cuaca setempat. Ia meminta masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya. Peringatan ini disampaikan seiring periode yang diperkirakan menjadi puncak musim hujan, yakni Desember, Januari, dan Februari.

Baca juga: BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027 | BMKG Prediksi Musim Hujan Bergeser hingga Sebulan akibat El Niño | Hujan di Merapi Picu Peringatan Potensi Lahar dan Awan Panas