Hujan di Merapi Picu Peringatan Potensi Lahar dan Awan Panas

oleh -71 Dilihat
oleh
Hujan di Merapi Picu Peringatan Potensi Lahar dan Awan Panas

Jakarta | Hujan mengguyur lereng selatan Gunung Merapi pada Senin, 26 Oktober 2026, dan menjadi perhatian dalam pemantauan aktivitas gunung tersebut. Berdasarkan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), hujan mulai terpantau di Stasiun Kaliurang pada pukul 14.55 WIB. Pemantauan ini memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca di sekitar Merapi, terutama karena hujan dapat memengaruhi keadaan material vulkanik yang berada di lereng dan alur sungai.

Data pengamatan mencatat curah hujan sebesar 6,3 milimeter selama 30 menit, dengan intensitas 12,4 milimeter per jam. Hujan masih berlangsung ketika laporan disampaikan pada pukul 15.25 WIB. Dengan demikian, angka tersebut menggambarkan kondisi selama periode pengamatan, bukan akumulasi akhir hujan pada hari itu. Perubahan intensitas maupun lamanya hujan dapat memengaruhi jumlah air yang mengalir di kawasan hulu, sehingga perkembangan cuaca setempat perlu terus dicermati.

Hujan di lereng Merapi mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan ancaman lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di gunung tersebut. Aliran air dapat membawa material vulkanik yang sebelumnya mengendap di lereng atau di sepanjang sungai, terutama ketika curah hujan terjadi di kawasan hulu. Potensi ini tidak dengan sendirinya memastikan bahwa lahar akan terjadi, tetapi menjadi alasan bagi petugas dan masyarakat untuk memperhatikan informasi resmi serta kondisi aliran sungai. Pemantauan hujan, termasuk catatan dari Stasiun Kaliurang, membantu memberikan dasar untuk menilai perkembangan situasi. Warga yang beraktivitas di sekitar alur sungai berhulu Merapi sebaiknya mengikuti arahan pihak berwenang dan memperbarui informasi melalui kanal resmi. Kewaspadaan juga penting apabila hujan berlanjut atau kondisi cuaca berubah, karena situasi di kawasan hulu dapat berkembang selama periode hujan. Informasi yang tersedia pada pukul 15.25 WIB menunjukkan bahwa hujan belum berhenti, sehingga pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengetahui perubahan curah hujan dan menilai potensi dampaknya terhadap sungai-sungai di lereng selatan Merapi.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran dan banjir lahar hujan di sekitar Gunung Merapi. Imbauan ini terutama ditujukan kepada warga yang tinggal atau beraktivitas di kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan. Hujan di wilayah puncak dapat memicu aliran material vulkanik melalui sungai, sedangkan aktivitas guguran berpotensi menimbulkan bahaya bagi area di sekitarnya. Karena itu, warga perlu memahami kondisi wilayah masing-masing dan tidak menganggap situasi aman hanya karena tidak melihat tanda bahaya secara langsung. Informasi resmi mengenai tingkat aktivitas serta rekomendasi keselamatan perlu diperhatikan secara berkala, khususnya ketika cuaca berubah dan hujan turun di hulu sungai.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, meminta warga menjauhi daerah yang berpotensi terdampak serta alur sungai yang berhulu di Merapi. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa ancaman dapat muncul di kawasan yang dilalui aliran, termasuk saat hujan deras menyebabkan lahar bergerak ke hilir. Masyarakat di sekitar sungai perlu menghindari bantaran dan tidak mendekati alur untuk memantau kondisi, mengambil material, atau melakukan kegiatan lain. Warga juga sebaiknya mengenali jalur evakuasi dan lokasi aman yang tersedia di lingkungan masing-masing. Kewaspadaan perlu dijaga oleh seluruh kelompok masyarakat, termasuk pengunjung, pekerja, dan pengguna jalan di kawasan lereng, bukan hanya oleh penduduk yang tinggal dekat puncak.

Selain menjauhi wilayah berbahaya, masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang disampaikan BPPTKG dan pihak berwenang lainnya. Batas kawasan rawan ditetapkan untuk mengurangi risiko, sehingga larangan memasuki zona bahaya perlu diperlakukan sebagai langkah perlindungan, bukan sekadar imbauan. Warga hendaknya tidak beraktivitas di area yang dinyatakan terlarang, sekalipun kondisi tampak tenang atau akses menuju lokasi terlihat mudah. Jika menerima informasi mengenai peningkatan risiko, ikuti arahan petugas setempat dan gunakan sumber informasi resmi agar tidak bertindak berdasarkan kabar yang belum terverifikasi. Sikap disiplin, kesiapan menghadapi perubahan situasi, serta kepatuhan terhadap arahan dapat membantu melindungi keselamatan diri dan orang lain.

Rekomendasi potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran mencakup sejumlah sungai pada sektor selatan hingga barat daya serta sektor tenggara. Jarak yang disebutkan merupakan jarak potensi bahaya maksimal untuk masing-masing sungai. Rincian ini membedakan sungai berdasarkan sektor dan batas jarak yang tercantum, sehingga nama aliran dan angka maksimum perlu dibaca secara berpasangan. Pada sektor selatan hingga barat daya, terdapat empat sungai dengan jarak potensi bahaya yang berbeda, sementara sektor tenggara mencakup dua sungai.

Di sektor selatan hingga barat daya, Sungai Boyong memiliki jarak potensi bahaya maksimal 5 kilometer. Batas tersebut berlaku untuk potensi bahaya di sepanjang sungai yang disebutkan dalam rekomendasi. Sementara itu, Sungai Bedog memiliki jarak potensi bahaya maksimal 7 kilometer. Angka 7 kilometer juga menjadi jarak maksimal yang dicantumkan untuk Sungai Krasak dan Sungai Bebeng. Dengan demikian, pada sektor ini, Boyong memiliki batas maksimal 5 kilometer, sedangkan Bedog, Krasak, dan Bebeng masing-masing memiliki batas maksimal 7 kilometer.

Untuk sektor tenggara, rekomendasi mencakup Sungai Woro dengan jarak potensi bahaya maksimal 3 kilometer. Sungai Gendol memiliki jarak potensi bahaya maksimal 5 kilometer. Kedua angka tersebut menunjukkan batas maksimal yang dicantumkan secara terpisah untuk masing-masing sungai. Jarak pada Sungai Woro adalah 3 kilometer, sedangkan jarak pada Sungai Gendol adalah 5 kilometer. Rincian sektor tenggara ini terdiri atas dua sungai dengan jarak potensi bahaya yang tidak sama.

Secara keseluruhan, daftar jarak potensi bahaya tersebut meliputi Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer; Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga maksimal 7 kilometer; Sungai Woro hingga maksimal 3 kilometer; serta Sungai Gendol hingga maksimal 5 kilometer. Pengelompokan berdasarkan sektor memperjelas cakupan rekomendasi tanpa menyamakan jarak antar-sungai. Setiap angka tetap merujuk pada sungai yang disebutkan, dengan nilai maksimal sebagaimana tercantum: 3 kilometer untuk Woro, 5 kilometer untuk Boyong dan Gendol, serta 7 kilometer untuk Bedog, Krasak, dan Bebeng.

Status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan bahwa potensi bahaya tetap perlu diperhatikan, terutama di wilayah yang berada di sekitar kawasan rawan bencana. Masyarakat dan pihak terkait diimbau untuk mengikuti informasi resmi serta mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku. Kondisi cuaca, termasuk hujan di sekitar Merapi, juga menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko terjadinya aliran lahar dari material vulkanik yang menumpuk di lereng dan alur sungai.

Berdasarkan hasil pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), suplai magma ke dalam sistem Merapi masih berlangsung. Keadaan tersebut dapat mendukung terjadinya guguran lava maupun awan panas guguran di kawasan potensi bahaya. Awan panas dapat bergerak mengikuti lembah dan alur sungai yang berhulu di puncak, sehingga warga perlu memahami jalur yang berisiko dan menghindari aktivitas di area terlarang. Perkembangan aktivitas gunung juga dapat berubah, sehingga pemantauan berkelanjutan dan penyampaian informasi yang akurat tetap penting.

Selain ancaman awan panas guguran, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lahar hujan, khususnya ketika hujan turun dengan intensitas tinggi di kawasan puncak dan lereng. Material vulkanik yang terbawa aliran air berpotensi meluncur melalui sungai berhulu di Merapi dan membahayakan warga maupun pengguna jalur di sekitarnya. Abu vulkanik akibat erupsi juga dapat mengganggu jarak pandang serta kesehatan pernapasan.

Baca juga: Peringatan Hujan Ekstrem di Tengah Musim Kemarau: Dinamika Cuaca Indonesia | Peringatan Hujan 26 Oktober: Jawa Barat Siaga, Puluhan Wilayah Berpotensi Diguyur