Boris Bokir Soroti Pentingnya Mendengar Anak Lewat Film Yang Disebut Nakal

oleh -61 Dilihat
oleh
Boris Bokir Soroti Pentingnya Mendengar Anak Lewat Film Yang Disebut Nakal

Jakarta | Aktor sekaligus komika Boris Bokir membintangi film terbarunya yang berjudul Yang Disebut Nakal, diproduseri Diana Limbong. Dalam film ini, Boris memerankan Goklas Panjaitan, seorang pelatih yang membina sekelompok remaja di tempat pembinaan khusus. Kabar mengenai keterlibatan dan perannya tersebut disampaikan saat ia berbincang dengan awak media di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/10/2026). Film ini menjadi karya terbaru yang menghadirkan Boris dalam sebuah peran, sementara keterangan yang disampaikan mengenai tokohnya berfokus pada tanggung jawab sebagai pelatih bagi para remaja.

Sebagai Goklas Panjaitan, Boris berada dalam posisi membina sekelompok remaja di lingkungan tempat pembinaan khusus. Informasi tersebut memberi gambaran dasar tentang karakter yang ia bawakan tanpa mengungkap rincian lain mengenai jalan cerita film. Peran pelatih itu menjadi bagian utama dari pengenalan Boris dalam proyek terbaru ini. Ia tidak hanya diperkenalkan sebagai aktor dan komika, tetapi juga sebagai pemeran yang mengambil karakter dengan tugas mendampingi para remaja. Keterangan tentang tempat pembinaan dan kelompok yang dibina menjadi konteks yang tersedia untuk memahami peran tersebut, tanpa perlu menambahkan detail cerita yang belum disampaikan.

Perbincangan di Kemang itu menjadi kesempatan bagi Boris untuk menyampaikan informasi mengenai film dan karakter yang dimainkannya kepada awak media. Penyebutan nama Goklas Panjaitan sekaligus menjelaskan posisi Boris di tokoh-tokoh dalam film: ia berperan sebagai pelatih yang membina para remaja. Adapun film Yang Disebut Nakal diproduseri Diana Limbong. Dalam pemberitaan mengenai proyek ini, fakta-fakta tersebut menjadi pengantar untuk mengenal keterlibatan Boris, sebelum pembahasan lebih jauh tentang pesan film atau cerita para tokohnya. Dengan demikian, kabar utama yang dapat dicatat adalah kehadiran Boris sebagai pemeran Goklas Panjaitan, sosok pelatih di tempat pembinaan khusus, serta keterlibatan Diana Limbong sebagai produser. Informasi ini disampaikan dalam wawancara media pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Sebutan “nakal” kerap digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang dianggap mengganggu, melanggar aturan, atau tidak sesuai harapan orang dewasa. Namun, Boris Bokir mengingatkan bahwa label tersebut tidak selalu menjelaskan siapa anak itu sebenarnya. Nakal dapat menjadi persepsi yang muncul ketika orang dewasa hanya melihat tindakan di permukaan, tanpa memahami keadaan dan alasan yang melatarbelakanginya.

Dalam pandangannya, perilaku yang dianggap sulit mungkin merupakan cara anak menyampaikan sesuatu yang belum mampu mereka ungkapkan dengan jelas. Bisa jadi mereka sedang mencari perhatian, menghadapi masalah, merasa kecewa, atau belum memahami batasan yang diberikan. Hal itu tidak serta-merta berarti tindakan anak harus dibiarkan. Namun, sebelum memberikan penilaian, orang tua perlu berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi dan membantu anak memahami dampak perilakunya.

Boris menyoroti pentingnya melihat anak secara lebih utuh: ada anak yang “belum dipahami dan belum didengar secara utuh.” Pesan tersebut mengajak orang tua untuk tidak terburu-buru melekatkan cap negatif hanya karena anak bertindak di luar harapan. Label yang terus diulang dapat membuat anak merasa dirinya memang buruk, sekaligus menutup kesempatan untuk membicarakan kebutuhan atau kesulitan yang mungkin ia alami.

Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua tindakan anak. Orang tua tetap dapat menetapkan aturan dan konsekuensi dengan jelas, sambil memberi ruang bagi anak untuk menjelaskan sudut pandangnya. Pertanyaan sederhana seperti apa yang terjadi, apa yang dirasakan, dan apa yang membuatnya bertindak demikian dapat membuka percakapan yang lebih baik daripada teguran yang langsung menghakimi. Dengan begitu, pembicaraan tidak berhenti pada cap “nakal”, tetapi bergerak menuju pemahaman dan penyelesaian.

Ketika anak merasa didengar, orang tua memiliki peluang lebih besar untuk mengetahui kebutuhan di balik perilakunya. Pendekatan ini juga membantu membangun hubungan yang aman, sehingga anak lebih berani berbicara saat menghadapi masalah. Pesan Boris bukan untuk meniadakan batasan, melainkan mengingatkan bahwa sebelum menilai, orang dewasa perlu mendekat, mendengarkan, dan memahami. Di balik tindakan yang tampak mengganggu, mungkin ada cerita yang belum sempat disampaikan.

Boris Bokir mengingatkan bahwa perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan orang tua tidak otomatis berarti mereka nakal atau memiliki kebiasaan buruk. Dalam pandangannya, orang dewasa perlu melihat alasan di balik tindakan anak sebelum memberi penilaian. Hal yang tampak mengganggu atau tidak biasa bisa saja menunjukkan rasa ingin tahu, kesenangan, atau minat yang belum mendapat ruang untuk berkembang. Karena itu, respons orang tua sebaiknya tidak berhenti pada larangan dan teguran. Mereka perlu membuka percakapan, mencari tahu apa yang disukai anak, lalu mempertimbangkan cara yang tepat untuk mendampingi mereka.

Salah satu contoh yang disampaikan Boris adalah anak yang senang bermain dan berenang di sungai. Bagi orang tua, kebiasaan itu mungkin terlihat merepotkan atau berisiko, terutama jika anak pulang dalam keadaan basah dan kotor. Namun, kesenangan tersebut juga dapat menjadi petunjuk bahwa anak tertarik pada air atau memiliki bakat dalam berenang. Setelah memastikan keselamatan sebagai prioritas, orang tua dapat mengarahkan minat itu melalui kegiatan yang lebih teratur, seperti latihan renang dengan pendamping yang kompeten. Dengan begitu, energi dan ketertarikan anak tidak sekadar ditekan, tetapi dibantu tumbuh menjadi kemampuan.

Boris juga menyinggung remaja yang berlatih band hingga malam. Mereka pernah dicap sebagai rombongan anak nakal, padahal kegiatan bermusik dapat menjadi titik awal perjalanan menuju pengalaman dan pencapaian yang bermakna. Anak-anak yang berkumpul untuk berlatih mungkin sedang belajar bekerja sama, disiplin, dan menekuni sesuatu yang mereka cintai. Dari kebiasaan itu, bukan tidak mungkin mereka berkembang menjadi anak-anak band hebat. Contoh tersebut menegaskan pentingnya orang tua mendengar sebelum menyimpulkan. Mendengar bukan berarti membiarkan semua hal tanpa batas; orang tua tetap dapat membuat aturan tentang waktu, keamanan, dan tanggung jawab. Namun, arahan akan lebih efektif jika diberikan setelah memahami minat dan kebutuhan anak. Dengan perhatian dan bimbingan yang tepat, kebiasaan yang semula dianggap menyimpang dari harapan keluarga dapat menjadi jalan untuk mengenali potensi anak dan membantu mereka mengembangkannya secara sehat.

Keterlibatan dalam film Yang Disebut Nakal membuat Boris Bokir kembali memikirkan cara orang tua memahami anak. Sebagai ayah dari satu anak, ia melihat bahwa pengasuhan bukan hanya tentang memberi arahan atau menetapkan aturan. Anak juga perlu mendapat ruang untuk menyampaikan keinginan, pendapat, dan aspirasinya. Dengan begitu, orang tua dapat mengetahui apa yang sedang dirasakan anak, bukan sekadar menilai perilakunya dari sudut pandang orang dewasa.

Pemikiran tersebut berangkat pula dari pengalaman Boris saat masih kecil. Ia menggambarkan pola didikan pada masanya sebagai pola yang cenderung satu arah: orang tua menyampaikan keputusan, sementara anak lebih banyak menerima. Cara seperti itu mungkin dianggap wajar pada zamannya, tetapi pengalaman tersebut membuatnya menyadari pentingnya memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara. Mendengarkan bukan berarti semua permintaan harus dituruti, melainkan memberi perhatian pada alasan dan perasaan di balik permintaan itu.

Dalam menjalani peran sebagai ayah, Boris menilai komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua dan anak memahami posisi masing-masing. Ketika anak menyampaikan keinginan, orang tua dapat mengajukan pertanyaan, menjelaskan pertimbangan, serta membicarakan batasan yang berlaku. Proses tersebut membuat anak merasa didengar, sekaligus membantu mereka belajar bahwa keinginan perlu dipertimbangkan bersama kondisi dan tanggung jawab lain.

Karena itu saat terjadi perbedaan pendapat Boris menyarankan agar orang tua mendengarkan anak terlebih.