Dampak Asap Karhutla pada Tubuh: Dari Iritasi hingga Gangguan Pernapasan

oleh -62 Dilihat
oleh
Dampak Asap Karhutla pada Tubuh: Dari Iritasi hingga Gangguan Pernapasan

Palembang | Paparan asap kebakaran hutan dan lahan tidak selalu langsung dikenali sebagai penyebab keluhan yang muncul. Selain iritasi pada mata atau saluran pernapasan, seseorang dapat mengalami sakit kepala, mual, serta tubuh terasa cepat lelah. Keluhan-keluhan ini kerap dianggap sebagai gangguan biasa, sehingga hubungan dengan kualitas udara yang sedang tercemar tidak segera disadari. Padahal, dalam situasi kebakaran, asap dapat menjadi paparan yang memengaruhi kondisi tubuh, termasuk melalui gejala yang tidak secara khusus terasa sebagai masalah pernapasan.

Dokter spesialis paru Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa orang yang terpapar asap sering tidak mengaitkan gejala tersebut dengan asap kebakaran. Sakit kepala, rasa mual, dan kelelahan dapat tampak tidak berkaitan satu sama lain, atau disangka muncul karena penyebab lain. Karena itu, keluhan awal berpotensi luput dikenali sebagai dampak paparan. Penjelasan ini menekankan bahwa dampak asap tidak selalu hadir dalam bentuk sesak atau batuk yang mudah dikenali. Perubahan kondisi tubuh yang terasa ringan sekalipun dapat menjadi petunjuk paparan, meskipun gejala itu sendiri tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.

Menurut Agus, penjelasan tersebut selaras dengan literatur dan penelitian yang pernah dilakukan bersama timnya saat kebakaran hutan di Palembang dan Riau pada 2015. Pengalaman penelitian itu menjadi konteks yang mendukung pemahaman bahwa keluhan seperti sakit kepala, mual, dan cepat lelah dapat dialami oleh orang yang terpapar, tetapi tidak selalu dikaitkan langsung dengan asap. Dengan demikian, perhatian terhadap pola keluhan dan keadaan lingkungan saat gejala muncul penting untuk membantu seseorang mempertimbangkan kemungkinan paparan, tanpa serta-merta menyimpulkan bahwa asap merupakan satu-satunya penyebab.

Pernyataan Agus tersebut disampaikan dalam tayangan DetikSore pada Selasa, 20 Oktober 2026. Pesan utamanya adalah bahwa dampak paparan asap karhutla dapat mencakup keluhan umum yang mudah terabaikan. Mengenali kaitan yang mungkin ada kondisi udara dan perubahan pada tubuh dapat membantu masyarakat lebih peka terhadap gejala awal. Jika keluhan muncul ketika asap berada di sekitar, kondisi itu layak diperhatikan sebagai kemungkinan dampak paparan, sekalipun orang yang mengalaminya tidak langsung merasakan gangguan pernapasan.

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu komponen berbahaya yang dapat terdapat dalam asap kebakaran hutan dan lahan. Gas ini tidak selalu dapat dikenali melalui indra, sehingga keberadaannya di udara tidak bisa dinilai hanya dari bau atau tampilan asap. Saat terhirup, CO dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh. Dampak yang muncul bergantung pada kadar gas di udara dan lamanya seseorang terpapar; gejalanya dapat berkembang dari keluhan awal menjadi lebih berat.

Pada tahap awal paparan, keluhan yang dapat dirasakan lain sakit kepala, mual, dan kelelahan. Gejala-gejala tersebut dapat terasa umum dan tidak langsung menunjukkan penyebabnya. Dalam situasi asap karhutla, keluhan ini perlu dipahami sebagai kemungkinan dampak paparan CO, bukan sebagai tanda yang hanya disebabkan oleh gas tersebut. Kondisi dan respons setiap orang dapat berbeda, sementara tingkat paparan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jenis keluhan yang muncul.

Jika konsentrasi CO lebih tinggi, gejala yang disebutkan dapat menjadi lebih berat. Sakit kepala dapat terasa hebat, disertai sesak napas, mual, hingga muntah. Perubahan dari keluhan ringan menuju gejala berat menggambarkan bahwa paparan CO bisa memberi dampak yang serius pada tubuh. Keluhan tersebut juga dapat muncul bersamaan, tetapi urutan dan kombinasi gejalanya tidak selalu sama pada setiap orang.

Karena itu, CO perlu diperhitungkan sebagai salah satu bahaya dalam asap karhutla, berdampingan dengan komponen asap lain yang dapat mengganggu kesehatan. Sakit kepala, mual, atau kelelahan merupakan keluhan yang mungkin muncul pada tahap awal, sedangkan sakit kepala hebat, sesak napas, mual, dan muntah termasuk gejala yang dapat terjadi pada konsentrasi lebih tinggi. Gejala saja tidak memberikan ukuran pasti mengenai kadar CO atau lama paparan. Paparan tidak memiliki satu pola keluhan yang seragam; memahami spektrum gejala membantu menjelaskan bagaimana dampak gas ini dapat meningkat seiring kondisi paparannya.

Asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengurangi jarak pandang atau menimbulkan bau menyengat. Di dalamnya terdapat gas iritan dan partikel halus, yang dikenal sebagai particulate matter (PM). Ketika terpapar, mata dan saluran pernapasan dapat mengalami iritasi, terutama jika seseorang berada di lingkungan berasap dalam waktu lama atau menghirup asap dengan konsentrasi tinggi. Keluhan yang dapat muncul meliputi mata merah dan berair, hidung berair, sakit tenggorokan, serta batuk. Respons tubuh bisa berbeda-beda, bergantung pada tingkat paparan dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Menurut Agus, gas dan partikel yang terhirup dapat mengiritasi lapisan pelindung saluran napas. Lapisan ini berfungsi membantu melindungi jaringan di dalam hidung hingga paru-paru dari zat yang masuk bersama udara. Saat terpapar asap, iritasi dapat menimbulkan rasa gatal atau tidak nyaman di tenggorokan dan memicu peningkatan produksi dahak. Akibatnya, seseorang mungkin lebih sering berdeham atau batuk untuk mengeluarkan lendir dan partikel yang mengganggu. Batuk merupakan salah satu respons tubuh, tetapi paparan yang terus berlangsung dapat membuat keluhan terasa lebih berat.

Iritasi juga dapat berkembang menjadi pembengkakan pada saluran pernapasan. Ketika saluran menyempit akibat pembengkakan, aliran udara menjadi lebih sulit dan dapat memicu sesak napas. Karena itu, dampak asap karhutla tidak terbatas pada mata, hidung, dan tenggorokan, meskipun keluhan di bagian-bagian tersebut kerap muncul lebih awal. Gangguan dapat menjalar ke saluran napas yang lebih dalam dan mengganggu kenyamanan bernapas. Keluhan yang menetap, memburuk, atau disertai kesulitan bernapas perlu diperhatikan. Mengurangi paparan asap, misalnya dengan menghindari aktivitas di luar saat udara berasap dan menggunakan pelindung yang sesuai, dapat membantu membatasi iritasi. Namun, perlindungan tersebut tidak menghilangkan risiko sepenuhnya, sehingga orang yang mengalami gejala berat sebaiknya mencari pertolongan tenaga kesehatan.

Orang yang telah memiliki penyakit pernapasan perlu lebih saat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan. Asap dapat memperburuk keluhan yang sudah ada, termasuk memicu kekambuhan asma. Karena itu, penderita sebaiknya memperhatikan perubahan kondisi tubuh selama kualitas udara memburuk dan mengurangi paparan sebisa mungkin. Asap yang terlihat tipis pun tidak selalu berarti udara aman untuk dihirup. Risiko dapat muncul ketika seseorang berada di luar ruangan, tetapi paparan juga mungkin terjadi di dalam rumah apabila asap masuk melalui pintu, jendela, atau celah bangunan. Langkah pencegahan dan penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing, serta mengikuti saran tenaga kesehatan yang merawatnya.

Dampak akut pada penderita asma dapat berkembang bertahap. Keluhan asma bisa muncul lebih sering daripada biasanya, kemudian disertai napas berbunyi atau mengi. Jika gangguan bertambah berat, penderita mungkin memerlukan pertolongan medis dan harus pergi ke rumah sakit. Perubahan seperti meningkatnya frekuensi gejala atau kesulitan bernapas patut ditanggapi dengan serius, bukan dianggap sebagai gangguan ringan yang pasti segera hilang. Penderita dan keluarga dapat mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter, serta mencari bantuan apabila kondisi tidak membaik atau memburuk. Namun, tingkat keparahan dan respons setiap orang tidak sama. Tidak semua orang akan mengalami rangkaian keluhan yang serupa, sehingga pengamatan terhadap kondisi pribadi tetap penting.

Rangkaian keluhan yang muncul dalam waktu dekat perlu dibedakan dari risiko yang mungkin berkaitan dengan paparan asap selama berbulan-bulan.

Baca juga: Modifikasi Cuaca Tekan Asap Karhutla, Hujan Mulai Turun di Sejumlah Daerah | Asap Karhutla Ganggu Aktivitas dan Kesehatan Warga Palembang | Spanduk Tuntutan di Tugu Tani, Demonstran Soroti Karhutla dan Banjir