Danantara Mulai Membeli Saham Saat Pasar Tertekan, Bidik Emiten BUMN

oleh -74 Dilihat
oleh
TIIF 2026 di Jakarta Bidik Kesepakatan Investasi Teknologi

Jakarta | BPI Danantara Indonesia menyatakan telah mulai membeli saham di pasar Indonesia ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan oleh CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, dalam acara coffee morning Danantara Indonesia di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026. Informasi yang disampaikan menandai keterlibatan Danantara di pasar saham pada periode ketika pergerakan indeks sedang mendapat tekanan, meski tidak disertai rincian nilai transaksi.

Pandu menyampaikan bahwa pembelian telah dilakukan, tetapi informasi yang tersedia belum menjelaskan saham apa saja yang dibeli, kapan transaksi berlangsung, maupun bagaimana strategi investasinya ditetapkan. Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan skala pembelian atau dampaknya terhadap pergerakan saham tertentu. Keterangan tersebut juga tidak memuat angka kinerja IHSG, sehingga kondisi indeks hanya dapat digambarkan sesuai pernyataan bahwa pasar sedang tertekan dalam beberapa waktu terakhir.

Danantara disebut membidik emiten BUMN, sebagaimana tergambar dalam arah pemberitaan mengenai langkah investasi ini. Namun, belum ada rincian emiten yang menjadi sasaran ataupun keterangan mengenai porsi saham yang hendak dimiliki. Perbedaan rencana membidik perusahaan milik negara dan transaksi yang sudah terlaksana penting diperhatikan: pernyataan bahwa pembelian saham telah dimulai tidak dengan sendirinya memastikan saham BUMN tertentu sudah dibeli.

Langkah masuk saat pasar melemah dapat menjadi perhatian bagi pelaku pasar karena keputusan investor institusional kerap dipantau sebagai bagian dari dinamika investasi. Meski demikian, tanpa informasi lebih lanjut, tujuan spesifik pembelian dan pertimbangannya belum dapat dipastikan. Pernyataan Pandu memberikan konfirmasi awal mengenai aktivitas Danantara di pasar saham, tetapi tidak cukup untuk menilai besaran komitmen, pilihan emiten, ataupun pengaruhnya terhadap IHSG. Rincian tersebut perlu menunggu penjelasan resmi berikutnya agar publik dapat memahami cakupan transaksi dan arah investasinya secara lebih utuh.

Danantara mulai masuk ke pasar saham ketika tekanan masih membayangi pergerakan harga. Pandu memandang situasi tersebut bukan semata-mata sebagai hambatan, melainkan juga sebagai peluang investasi. Saat harga saham melemah, investor dapat menilai kembali harga dan prospek suatu perusahaan secara lebih cermat. Namun, kondisi pasar yang tertekan tidak dengan sendirinya membuat setiap saham menjadi menarik. Keputusan investasi tetap bergantung pada penilaian terhadap nilai perusahaan dan potensi bisnisnya. Karena itu, langkah Danantara perlu dipahami sebagai upaya memanfaatkan kesempatan yang muncul di pasar, dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing emiten, bukan sekadar mengikuti penurunan harga saham secara umum.

Pembelian saham oleh Danantara telah dimulai, menurut keterangan Pandu. Langkah tersebut menandai bahwa lembaga ini mulai merealisasikan strategi investasinya di tengah kondisi pasar yang sedang melemah. Meski demikian, pembelian tidak berarti akan dilakukan tanpa batas atau terhadap seluruh saham yang tersedia. Danantara akan terus mencermati perkembangan harga dan menilai apakah suatu emiten menawarkan peluang yang sesuai. Pendekatan ini memberi ruang bagi pengelola investasi untuk memilih waktu dan sasaran secara selektif. Dengan demikian, tekanan pasar menjadi salah satu pertimbangan dalam mencari peluang, sementara kualitas dan prospek perusahaan tetap berperan dalam menentukan keputusan.

Ke depan, pembelian dapat berlanjut selama harga saham dinilai menarik dan prospek perusahaan dianggap baik. Kedua pertimbangan tersebut menjadi dasar untuk menilai apakah investasi masih sejalan dengan tujuan Danantara. Harga yang turun mungkin membuka peluang, tetapi prospek usaha yang memadai juga diperlukan agar keputusan tidak hanya bertumpu pada momentum jangka pendek. Pandu menyampaikan bahwa aktivitas pembelian berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa strategi Danantara bersifat selektif dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Jika harga tidak lagi dinilai menarik atau prospek emiten tidak memenuhi pertimbangan investasi, pembelian tidak otomatis diteruskan. Pendekatan itu mengaitkan peluang saat pasar tertekan dengan evaluasi perusahaan yang mendasarinya.

Danantara menyatakan ingin menambah kepemilikan pada sejumlah saham perusahaan milik negara, terutama ketika tekanan pasar membuka peluang untuk masuk atau meningkatkan posisi investasi. Langkah tersebut bukan berarti seluruh saham BUMN akan dibeli, melainkan mencerminkan minat untuk menelaah emiten-emiten yang dinilai sesuai dengan tujuan pengelolaan investasi. Pandu menjelaskan bahwa keputusan penambahan kepemilikan tetap mempertimbangkan potensi keuntungan dan profil risiko dari setiap investasi.

Dalam menentukan langkah, Danantara memperhitungkan keseimbangan risiko dan imbal hasil yang mungkin diperoleh. Harga saham yang melemah dapat membuat valuasi terlihat lebih menarik, tetapi kondisi pasar saja tidak menjadi dasar yang cukup untuk mengambil keputusan. Analisis juga perlu mencermati kemampuan perusahaan menghasilkan kinerja, peluang pertumbuhan usaha, serta berbagai faktor yang dapat memengaruhi prospek ke depan. Dengan pendekatan tersebut, tekanan pasar dipandang sebagai konteks untuk menilai peluang, bukan alasan untuk mengabaikan risiko.

Menurut penilaian Danantara, saham-saham BUMN memiliki fundamental yang baik, prospek pertumbuhan yang menjanjikan, dan valuasi yang menarik. Pandangan ini menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat kemungkinan menambah kepemilikan, seiring upaya memperoleh keuntungan yang sepadan dengan risiko. Meski demikian, penilaian terhadap kelompok emiten tersebut tidak otomatis berlaku sama bagi setiap perusahaan. Kondisi keuangan, kualitas pengelolaan, posisi usaha, dan prospek masing-masing emiten tetap perlu diperiksa secara terpisah sebelum keputusan investasi dibuat.

Pandu menegaskan bahwa fokus Danantara berada pada fundamental perusahaan dan potensi keuntungan dari investasi yang dipertimbangkan. Karena itu, rencana tersebut tidak dapat dibaca sebagai penetapan saham tertentu sebagai pilihan atau rekomendasi. Pertimbangan akan bergantung pada hasil analisis terhadap perusahaan serta kecocokannya dengan sasaran investasi dan batas risiko yang dapat diterima. Pendekatan ini memungkinkan Danantara menilai peluang pada saham BUMN secara selektif, sembari tetap memperhatikan bahwa pergerakan harga pasar dapat berubah dan hasil investasi tidak selalu sesuai harapan.

Menurut Pandu, pelaksanaan investasi Danantara di pasar saham telah mulai berjalan. Langkah tersebut dilakukan ketika pasar berada dalam tekanan, sejalan dengan pandangan lembaga itu mengenai prospek perusahaan-perusahaan BUMN yang tercatat di pasar modal. Dengan demikian, pembelian saham bukan semata respons terhadap pergerakan harga dalam jangka pendek, melainkan bagian dari penilaian terhadap peluang investasi pada emiten milik negara. Pandu menyampaikan bahwa keputusan untuk mulai berinvestasi konsisten dengan keyakinan Danantara terhadap prospek perusahaan BUMN. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pelaksanaan investasi dan pandangan mengenai potensi perusahaan berjalan beriringan, tanpa mengubah pertimbangan yang digunakan dalam memilih saham.

Dalam konteks pasar yang sedang tertekan, pandangan atas prospek perusahaan menjadi salah satu landasan untuk menilai peluang. Tekanan pasar dapat memengaruhi harga saham, tetapi keputusan investasi tetap perlu memperhatikan kondisi dan potensi perusahaan yang bersangkutan. Pandu menegaskan bahwa Danantara melihat prospek perusahaan BUMN di pasar modal secara positif. Namun, pandangan tersebut tidak berarti seluruh saham perusahaan negara otomatis menjadi sasaran pembelian. Setiap pilihan tetap perlu ditimbang berdasarkan karakteristik masing-masing emiten dan kelayakannya sebagai investasi. Karena itu, informasi mengenai dimulainya pembelian saham perlu dibaca bersama dengan prinsip seleksi yang disampaikan, bukan sebagai sinyal bahwa Danantara akan membeli semua saham BUMN atau mengabaikan keadaan pasar.

Penilaian terhadap perusahaan dan harga saham menjadi bagian penting dalam menentukan keputusan. Kriteria yang disebut Pandu mencakup fundamental perusahaan, prospek ke depan, serta harga yang dinilai menarik. Selain itu, Danantara mempertimbangkan hubungan risiko yang mungkin dihadapi dan potensi imbal hasil dari investasi.

Baca juga: BEI Keluarkan Saham Berkonsentrasi Tinggi dari Penghitungan IHSG Mulai November | IHSG Berbalik Menguat, Saham BUMN Jadi Penopang di Tengah Sorotan Buyback | BI Siapkan Saham sebagai Aset Lindung Nilai Vastra Mulai 2027