Destry Damayanti: Peluang The Fed Menahan Suku Bunga pada Oktober Menguat

oleh -63 Dilihat
oleh
Destry Damayanti: Peluang The Fed Menahan Suku Bunga pada Oktober Menguat

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa peluang Federal Reserve atau The Fed untuk menahan suku bunga acuannya pada salah satu pertemuan yang tersisa tahun ini semakin menguat. Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan dalam pembacaan terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, terutama setelah sikap sejumlah pejabat The Fed dinilai mulai melunak. Jika sebelumnya kenaikan suku bunga masih menjadi skenario yang dominan, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan semakin mempertimbangkan dampak pengetatan moneter terhadap perekonomian.

Perubahan sikap itu turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar. Pada saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berlangsung pada September, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober dipandang sangat tinggi, yakni sekitar 90 persen. Angka tersebut menunjukkan kuatnya keyakinan pasar bahwa bank sentral AS masih akan melanjutkan kebijakan suku bunga tinggi untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Pada periode tersebut, ketahanan ekonomi AS dan tekanan harga yang belum sepenuhnya mereda menjadi dasar utama bagi perkiraan kenaikan lanjutan.

Namun, probabilitas tersebut kemudian menurun seiring munculnya sejumlah perkembangan baru. Pasar mulai menilai bahwa The Fed dapat memilih untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat yang berlaku sambil mengevaluasi dampak kebijakan sebelumnya. Pelunakan pernyataan dari beberapa anggota komite, disertai perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sektor keuangan, memperkuat pandangan tersebut. Pergeseran ekspektasi ini tidak serta-merta berarti siklus pengetatan telah berakhir, tetapi menunjukkan bahwa keputusan The Fed akan semakin bergantung pada data ekonomi yang tersedia sebelum setiap pertemuan. Bagi pasar global, perubahan probabilitas tersebut menjadi sinyal penting karena kebijakan suku bunga AS berpengaruh terhadap arus modal, nilai tukar, serta kondisi likuiditas di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Destry Damayanti menjelaskan bahwa pandangan pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve mengalami perubahan cukup tajam pada akhir September. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan masih sangat besar. Probabilitas tersebut sempat mencapai 90 persen, mencerminkan keyakinan bahwa The Fed akan kembali memperketat kebijakan untuk merespons tekanan inflasi dan menjaga ekspektasi harga.

Namun, penilaian itu kemudian berbalik. Berdasarkan perkembangan terbaru, probabilitas kenaikan suku bunga turun menjadi 40 persen, sebelum kembali melemah hingga 30 persen. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Dengan kata lain, pelaku pasar menilai ruang bagi bank sentral Amerika Serikat untuk mempertahankan tingkat suku bunga saat ini semakin terbuka.

Menurut Destry, perubahan probabilitas itu tidak terjadi secara terpisah dari komunikasi dan sikap The Fed. Pasar terus mencermati data ekonomi, terutama perkembangan inflasi, kondisi tenaga kerja, serta pernyataan para pejabat bank sentral. Setiap informasi baru kemudian memengaruhi penilaian investor mengenai seberapa ketat kebijakan moneter akan dipertahankan.

Peluang Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober dinilai semakin terbuka apabila kondisi perekonomian Amerika Serikat hingga akhir bulan tetap menunjukkan pola yang konsisten. Destry Damayanti menyebut, dalam skenario tersebut, kemungkinan bank sentral Amerika Serikat tidak menaikkan suku bunga akan menjadi besar. Pertimbangan itu terutama berkaitan dengan kebutuhan The Fed untuk menilai dampak kebijakan moneter yang telah berjalan terhadap inflasi, pasar tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi secara menyeluruh.

Meski demikian, keputusan pada Oktober belum dapat dipandang sebagai penentu akhir arah kebijakan moneter. The Fed masih memiliki pertemuan pada Desember yang dapat menjadi ruang untuk melakukan penyesuaian apabila data ekonomi menunjukkan perubahan berarti. Karena itu, penahanan suku bunga pada Oktober tidak serta-merta menandakan bahwa siklus kenaikan telah berakhir atau bahwa tingkat suku bunga akan langsung bergerak menuju penurunan. Bank sentral tetap akan menimbang keseimbangan pengendalian inflasi dan risiko perlambatan ekonomi.

Destry menegaskan bahwa kebijakan The Fed bersifat data dependent, yakni sangat bergantung pada perkembangan data dan kondisi ekonomi Amerika Serikat. Data inflasi, pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga, serta pasar tenaga kerja akan menjadi sejumlah indikator penting yang diperhatikan sebelum keputusan diambil. Perubahan pada indikator tersebut dapat memengaruhi penilaian terhadap tekanan harga maupun ketahanan ekonomi, sehingga prospek kebijakan tetap dapat berubah. Dengan demikian, peluang penahanan suku bunga pada Oktober memang menguat, tetapi kepastian arah kebijakan secara keseluruhan masih menunggu perkembangan data hingga akhir tahun.

Bank Indonesia tetap mengambil sikap forward looking dalam mencermati arah kebijakan moneter global. Sikap tersebut diperlukan karena keputusan The Fed pada pertemuan berikutnya masih dapat berubah, termasuk kemungkinan kembali menaikkan suku bunga. Dalam menghadapi berbagai kemungkinan itu, BI menyiapkan sejumlah alternatif kebijakan yang dapat disesuaikan dengan perkembangan dan keputusan yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat.

Destry Damayanti menyampaikan bahwa BI akan menyesuaikan langkahnya dengan kebijakan The Fed, apa pun pilihan yang akhirnya ditetapkan. Dengan demikian, BI tidak hanya mencermati peluang The Fed menahan suku bunga pada Oktober, tetapi juga tetap mempersiapkan diri apabila arah kebijakan tersebut kembali mengetat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa BI berupaya menjaga kesiapan dalam merespons perubahan kebijakan global tanpa mendahului keputusan yang belum ditetapkan.

Posisi tersebut sejalan dengan mandat Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sekaligus menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Kesiapan menyiapkan berbagai alternatif kebijakan menjadi bagian dari upaya BI untuk menjalankan mandat tersebut secara berimbang. Stabilitas tetap menjadi perhatian, sementara kondisi ekonomi yang mendukung juga perlu dipelihara. Karena itu, setiap penyesuaian akan dilakukan dengan mempertimbangkan kebijakan The Fed dan perkembangan yang menyertainya. BI akan terus melihat arah keputusan tersebut secara menyeluruh sebelum menentukan langkah yang sesuai. Dengan sikap yang forward looking, BI berusaha memastikan respons kebijakannya tetap selaras dengan dinamika global, sekaligus mendukung terciptanya iklim ekonomi yang kondusif sesuai mandatnya.