Kabupaten Mahakam Ulu | Pagi di APMS Kompak, Long Pahangai I, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, dimulai dengan suasana sibuk di tepi Sungai Mahakam. Air sungai sedang surut, sementara ketinting berderet menunggu giliran untuk mengisi bahan bakar. Di darat, warga datang membawa jeriken kosong, sebagian masih mengenakan perlengkapan pertanian. Mereka menanti dengan tertib, mengamati antrean perahu dan memastikan persediaan cukup sebelum kembali menempuh perjalanan.
Sejumlah warga baru saja mengikuti Festival Hudoq Pekayang, perayaan masyarakat Dayak Bahau yang berlangsung selama tiga hari, pada 20–22 Oktober 2026. Festival tersebut menghadirkan warga dari berbagai kampung di Kecamatan Long Pahangai. Setelah rangkaian kegiatan berakhir, mereka perlu menyiapkan perjalanan pulang ke kampung masing-masing. Mengisi persediaan BBM menjadi salah satu kebutuhan penting, baik bagi pemilik ketinting maupun warga yang membawa jeriken untuk keperluan perjalanan dan kegiatan sehari-hari.
Sebanyak 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai menjadi bagian dari wilayah yang dilayani di sekitar APMS Kompak. Jarak antarkampung dan kondisi perjalanan di kawasan hulu membuat ketersediaan bahan bakar berpengaruh langsung terhadap mobilitas warga. Ketinting digunakan untuk menyusuri sungai, sementara BBM yang dibawa dalam jeriken membantu memastikan perjalanan dapat berlangsung setelah warga meninggalkan lokasi festival. Karena itu, antrean pagi tersebut tidak sekadar menunjukkan kegiatan jual beli, tetapi juga mencerminkan persiapan masyarakat menghadapi perjalanan kembali.
Di perahu yang menunggu dan jeriken yang dibawa ke tempat pengisian, suasana pagi memperlihatkan hubungan erat layanan BBM dan rutinitas di Hulu Mahakam. Warga datang dari berbagai arah untuk memenuhi kebutuhan sebelum pulang, dengan latar sungai yang surut dan aktivitas yang terus berjalan. Seusai perayaan bersama, pasokan bahan bakar membantu mereka melanjutkan perjalanan menuju kampung, sekaligus menjaga kelancaran mobilitas di wilayah yang sangat bergantung pada jalur sungai.
Bagi Juk Ding, warga Kampung Liu Mulang yang tinggal lebih jauh ke hulu, ketersediaan bahan bakar berkaitan langsung dengan perjalanan pulang dan kegiatan sehari-hari. Ia datang menggunakan ketinting sambil membawa jeriken kosong untuk diisi. Cara tersebut menunjukkan bahwa bahan bakar bukan sekadar persediaan untuk kendaraan, melainkan kebutuhan yang perlu dipikirkan sebelum kembali ke kampung. Di kawasan hulu Mahakam, warga mengandalkan jalur sungai untuk bepergian, sehingga memastikan bahan bakar tersedia menjadi bagian penting dalam mengatur mobilitas. Pengalaman Juk Ding memperlihatkan bagaimana persediaan yang dibawa pulang dapat mendukung perjalanan sekaligus aktivitas yang menantinya setelah tiba di Liu Mulang.
Juk Ding menyampaikan bahwa 10 liter Pertalite cukup untuk perjalanan pulang ke Liu Mulang pada keesokan harinya. Setelah digunakan untuk perjalanan tersebut, masih ada sisa bahan bakar yang dapat dipakai untuk pergi ke ladang. Keterangan ini menggambarkan kebutuhan yang ia perhitungkan berdasarkan pengalamannya sendiri, tanpa harus mengubahnya menjadi ukuran umum bagi warga lain atau perjalanan lain. Banyak hal dapat memengaruhi pemakaian bahan bakar, sementara cerita Juk Ding secara khusus menjelaskan kecukupan bagi rencana perjalanannya. Dengan demikian, jumlah yang dibawanya memiliki manfaat ganda: menunjang perjalanan pulang dan menyediakan bahan bakar untuk kegiatan di ladang.
Jeriken kosong yang dibawa Juk Ding menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan tersebut. Ia mengisi persediaan sebelum menempuh perjalanan kembali, agar ketinting dapat digunakan dan masih tersisa bahan bakar untuk pergi ke ladang. Pengalaman ini menegaskan pentingnya ketersediaan Pertalite bagi warga yang tinggal di kampung-kampung di sepanjang hulu. Bagi Juk Ding, pasokan yang memadai membantu menghubungkan perjalanan di sungai dengan pekerjaan sehari-hari. Ceritanya juga menunjukkan bahwa kebutuhan bahan bakar tidak berhenti saat seseorang tiba di rumah; persediaan yang dibawa turut mendukung kegiatan berikutnya. Karena itu, akses terhadap BBM berperan dalam menjaga kelancaran mobilitas dan mendukung kehidupan warga di Liu Mulang.
Bagi warga di kawasan hulu Mahakam, bahan bakar memiliki peran yang melampaui kebutuhan untuk menggerakkan ketinting. Perahu kecil tersebut memang membantu warga menyusuri sungai dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi kegiatan sehari-hari juga memerlukan tenaga mesin untuk berbagai keperluan. Bahan bakar dapat digunakan untuk mengoperasikan mesin penggiling padi, yang membantu proses pengolahan hasil panen menjadi bahan pangan. Dengan dukungan mesin, pekerjaan menggiling padi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan rumah tangga dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Karena itu, kegunaan bahan bakar berkaitan erat dengan aktivitas warga di darat maupun di sungai, bukan hanya dengan perjalanan menggunakan perahu.
Kebutuhan lainnya muncul ketika warga pergi ke ladang. Perjalanan menuju area tempat bekerja dapat melibatkan penggunaan kendaraan atau perahu bermesin, bergantung pada lokasi dan jalur yang ditempuh. Bahan bakar mendukung mobilitas tersebut sehingga warga dapat mencapai ladang untuk melakukan berbagai pekerjaan. Dalam kehidupan sehari-hari, perjalanan semacam ini menjadi bagian dari kegiatan mengolah lahan dan merawat tanaman. Mesin juga dapat digunakan saat warga berburu atau mencari ikan. Kedua kegiatan itu memerlukan perjalanan menuju lokasi tertentu, sehingga sarana transportasi bermesin membantu warga bergerak mengikuti kebutuhan dan tujuan masing-masing. Penggunaan bahan bakar pun terhubung dengan kegiatan mencari pangan, selain mendukung pekerjaan di ladang.
Beragam pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa bahan bakar menunjang sejumlah aktivitas yang saling berkaitan. Ketinting membantu perjalanan melalui sungai, mesin penggiling padi mendukung pengolahan hasil panen, sementara perjalanan ke ladang, berburu, dan mencari ikan merupakan kegiatan lain yang dapat mengandalkan mesin. Peran bahan bakar hadir dalam tahap-tahap praktis kehidupan warga, mulai dari mobilitas hingga pengolahan pangan. Kebutuhan setiap kegiatan tentu mengikuti tujuan dan cara warga menjalankannya, sehingga penggunaan bahan bakar tidak terbatas pada satu jenis pekerjaan. Dalam konteks hulu Mahakam, ketersediaan bahan bakar memungkinkan berbagai mesin digunakan sesuai kebutuhan sehari-hari. Gambaran ini memperlihatkan hubungan langsung bahan bakar dan rutinitas warga, tanpa mengabaikan keragaman kegiatan yang mereka lakukan di lingkungan sekitar.
Musim kemarau membawa perubahan nyata pada kondisi Sungai Mahakam di wilayah hulu. Ketika hujan berkurang dan debit air menyusut, permukaan sungai turun sehingga bagian-bagian yang biasanya tertutup air mulai terlihat. Batu-batu dan batang kayu di dasar sungai muncul di jalur pelayaran. Perubahan ini membuat perjalanan tidak lagi berlangsung seleluasa saat permukaan air lebih tinggi, terutama bagi perahu berukuran besar yang membutuhkan ruang cukup untuk melintas dengan aman.
Rendahnya permukaan air menuntut pelaku perjalanan untuk lebih memperhatikan keadaan sungai. Ruang gerak perahu menjadi terbatas, sementara batu dan kayu yang tampak di sepanjang jalur dapat menghalangi lintasan. Akibatnya, perahu besar tidak leluasa bergerak melewati sejumlah bagian sungai. Kondisi tersebut turut memengaruhi kegiatan pengangkutan barang menuju kawasan hulu, termasuk pengiriman bahan bakar minyak (BBM). Dengan demikian, kemarau bukan hanya mengubah keadaan alam, tetapi juga menjadi kendala bagi kelancaran perjalanan dan distribusi pasokan ke wilayah yang mengandalkan jalur sungai.
Hambatan pada jalur air membuat upaya menjaga pasokan BBM perlu menyesuaikan keadaan lapangan. Kasnawi, operator APMS Kompak Long Pahangai, menyampaikan bahwa ketika pengiriman melalui sungai terganggu, pasokan tetap diupayakan melalui jalur darat. Upaya tersebut menjadi bagian dari usaha agar pengiriman tetap berjalan di tengah kondisi sungai yang surut. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana kegiatan penyediaan BBM di wilayah hulu berkaitan erat dengan perubahan musim dan akses perjalanan.
Baca juga: Penguatan Harmonisasi Raperda: Lima Langkah Menjaga Mutu Regulasi Daerah | Strategi Penerbitan SBN 2026 untuk Menjaga Target Defisit APBN



































