Di Tengah Demo Mahasiswa di Solo, Kapolresta Pilih Guyonan dan Air Mineral

oleh -73 Dilihat
oleh
Di Tengah Demo Mahasiswa di Solo, Kapolresta Pilih Guyonan dan Air Mineral

Kota Solo | Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko hadir membaur di tengah ratusan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (BEM UNS) yang berunjuk rasa di Bundaran Gladag, Solo, pada Kamis petang, 22 Oktober 2026. Kehadirannya menjadi bagian yang menonjol dalam aksi tersebut. Di lokasi, Condro berada di para peserta, bukan hanya mengamati dari kejauhan. Suasana itu memperlihatkan interaksi langsung kepala kepolisian setempat dan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi melalui orasi.

Orasi berlangsung tanpa jarak maupun barikade yang memisahkan polisi dan mahasiswa. Dalam gambaran peristiwa yang disampaikan, kedua pihak berada di ruang aksi yang sama, sementara para mahasiswa terus menyuarakan tuntutan mereka. Keterangan tersebut menekankan suasana tanpa pembatas fisik di peserta dan aparat. Tidak ada gambaran mengenai garis pemisah atau barisan penghalang dalam suasana yang terlihat di Bundaran Gladag pada petang itu.

Pendekatan yang tampak dalam peristiwa ini berbeda dari gambaran pengamanan demonstrasi yang kerap diasosiasikan dengan ketegangan dan jarak aparat dengan massa. Alih-alih tampil terpisah, Kapolresta hadir membaur ketika orasi berlangsung. Kehadiran tersebut menjadi inti dari suasana aksi yang diberitakan, tanpa mengubah fakta bahwa kegiatan itu merupakan unjuk rasa mahasiswa. Gambaran ini juga tidak perlu ditarik menjadi kesimpulan mengenai keseluruhan jalannya aksi atau kebijakan pengamanan di tempat lain. Yang dapat dicatat dari keterangan peristiwa adalah kehadiran Condro di tengah ratusan anggota BEM UNS serta tidak adanya jarak maupun barikade polisi dan mahasiswa selama orasi. Dengan demikian, pembuka peristiwa ini menempatkan perhatian pada cara Kapolresta berada di lokasi dan suasana interaksi yang terlihat, bukan pada rincian lain yang tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia.

Di tengah aksi mahasiswa di Solo, Kapolresta Surakarta, Condro, yang akrab disapa Mbah Con, memilih mendekati peserta dengan cara yang ringan. Ia melontarkan guyonan ketika berada di sekitar mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi. Pendekatan tersebut menghadirkan suasana berbeda di tengah kegiatan yang berlangsung dengan orasi. Interaksi itu tidak mengubah inti aksi, tetapi membuat hubungan aparat dan mahasiswa terasa lebih santai. Mbah Con hadir bukan hanya sebagai pejabat yang memantau situasi, melainkan juga sebagai sosok yang mencoba mencairkan suasana melalui humor.

Di saat yang sama, personel Polresta Surakarta mondar-mandir membagikan air mineral kepada mahasiswa. Sebagian peserta telah lama berorasi dan merasa kehausan, sehingga air minum menjadi bentuk perhatian sederhana di tengah aksi. Para personel bergerak di sekitar lokasi untuk membagikan botol kepada mahasiswa yang membutuhkan. Kehadiran mereka dalam kegiatan tersebut tampak tidak hanya berkaitan dengan pengamanan, tetapi juga dengan upaya membantu peserta yang terus mengikuti aksi. Pemberian air mineral itu berlangsung berdampingan dengan interaksi santai yang dibangun Condro.

Guyonan Mbah Con dan pembagian air mineral membuat suasana aksi berangsur lebih cair. Berdasarkan gambaran dari kegiatan tersebut, suasana yang semula diwarnai penyampaian aspirasi kemudian diselingi tawa. Mahasiswa dan aparat berada dalam ruang interaksi yang lebih terbuka, tanpa menghilangkan konteks bahwa para peserta datang untuk berorasi. Perubahan suasana itu muncul dari hal-hal sederhana: humor dari Kapolresta dan perhatian personel kepada mahasiswa yang kehausan. Momen tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih humanis dalam menghadapi aksi, dengan komunikasi ringan dan kepedulian praktis membantu menjaga suasana tetap kondusif. Tanpa perlu menambah adegan atau percakapan lain, perpaduan kedua hal itu menjadi gambaran utama interaksi di lokasi: aksi tetap berjalan, sementara ketegangan mereda dan suasana menjadi lebih akrab serta penuh tawa.

Dalam menghadapi aksi mahasiswa di Solo, Condro memandang kehadiran kepolisian terutama sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Ketika situasi demonstrasi berlangsung kondusif, tugas polisi bukan menciptakan kesan bahwa keadaan harus terus dikendalikan secara ketat. Aparat tetap berada di lokasi, tetapi perannya diarahkan untuk mendukung jalannya penyampaian aspirasi agar berlangsung tertib dan nyaman. Cara pandang ini menempatkan pelayanan sebagai inti tugas, bukan semata-mata pengamanan.

Condro menilai mahasiswa di Solo telah menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan pendapat. Mereka dipandang mampu mengutarakan aspirasi dengan baik, sehingga polisi tidak perlu memperlakukan aksi tersebut seolah-olah merupakan ancaman. Penilaian itu menjadi dasar bagi pendekatan yang lebih terbuka dan komunikatif. Kehadiran aparat tetap diperlukan untuk membantu menjaga kelancaran kegiatan, tetapi responsnya disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama ketika peserta aksi dapat menyampaikan tuntutan secara tertib.

Dalam pandangannya, demonstrasi merupakan hak warga negara, termasuk mahasiswa, untuk menyampaikan pendapat. Karena itu, kepolisian memiliki tanggung jawab untuk membuat para peserta merasa nyaman saat menjalankan hak tersebut. Sikap yang ramah dan komunikasi yang tidak kaku dapat membantu membangun suasana yang saling menghormati aparat dan demonstran. Pendekatan seperti itu juga menunjukkan bahwa pengelolaan aksi tidak selalu harus berpusat pada tindakan pengamanan, khususnya jika keadaan tetap terkendali.

Pilihan untuk berinteraksi secara santai, termasuk melalui guyonan dan pemberian air mineral, sejalan dengan cara Condro memahami peran polisi dalam situasi tersebut. Gestur itu bukan pengganti tanggung jawab aparat, melainkan bagian dari upaya melayani peserta aksi dan menjaga hubungan tetap baik. Dengan mengakui kedewasaan mahasiswa serta hak mereka untuk menyampaikan aspirasi, polisi dapat hadir tanpa menghalangi jalannya demonstrasi. Fokusnya adalah memastikan mahasiswa dapat berbicara dengan nyaman, sementara kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.

Aksi mahasiswa di depan Balai Kota Solo dan kawasan Bundaran Gladag disebut berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga peserta membubarkan diri. Situasi tersebut menjadi penutup rangkaian penyampaian aspirasi di dua titik itu. Selama kegiatan berlangsung, pengamanan dilakukan tanpa penggunaan water cannon maupun gas air mata, menurut keterangan yang tersedia. Tidak disebutkan adanya tindakan pembubaran dengan kedua perangkat tersebut. Catatan mengenai kondisi aksi tetap terbatas pada keadaan di lokasi hingga massa bubar; karena itu, tidak perlu menarik kesimpulan lebih jauh mengenai dampak kegiatan atau hal lain yang tidak tercantum dalam sumber.

Di tengah pengamanan, Kapolresta memilih pendekatan komunikasi yang lebih menenangkan. Ia menyampaikan guyonan kepada peserta dan membagikan air mineral, alih-alih menggunakan cara yang berpotensi meningkatkan ketegangan. Interaksi tersebut berlangsung sebagai bagian dari upaya menjaga suasana selama aksi, sementara petugas tetap berada di lokasi untuk melakukan pengamanan. Pendekatan ini juga disertai komunikasi dengan mahasiswa. Sumber menggambarkan cara tersebut sebagai bentuk penanganan yang mengedepankan suasana tenang, bukan penggunaan water cannon atau gas air mata. Rincian itu menjadi bagian dari laporan mengenai situasi aksi, tanpa uraian tambahan tentang respons setiap peserta.

Hingga kegiatan berakhir, kondisi di depan Balai Kota Solo dan Bundaran Gladag dilaporkan tetap aman, tertib, dan kondusif. Mahasiswa kemudian membubarkan diri, dan aksi disebut selesai tanpa penggunaan water cannon maupun gas air mata. Dalam laporan tersebut, pengamanan dikaitkan dengan guyonan Kapolresta, pembagian air mineral, serta komunikasi yang menenangkan. Dengan demikian, gambaran penutup yang disampaikan berfokus pada keadaan di lokasi sampai massa bubar dan cara petugas menjaga situasi. Tidak terdapat keterangan dalam sumber yang menjadi dasar untuk menyimpulkan dampak lanjutan dari aksi tersebut. Uraian ini mencatat kondisi yang dilaporkan, tanpa menambahkan penilaian di luar informasi mengenai pengamanan dan proses pembubaran.

Baca juga: Ajudan Gubernur Kaltim Dikembalikan ke Kesatuan, Propam Selidiki Insiden dengan Mahasiswa | IDI Jelaskan Asal Sensasi Manis Tipis pada Air Mineral