Tangerang | Tanggamus, Lampung, dan wilayah sekitarnya tercatat mengalami dua kali gempa pada Rabu sore, 28 Oktober 2026. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan pertama terjadi pada pukul 15.22 WIB dengan magnitudo 3,9. Satu menit kemudian, pada pukul 15.23 WIB, gempa berikutnya tercatat dengan magnitudo 4,1. Dengan demikian, kedua kejadian berlangsung berdekatan dalam waktu, tetapi memiliki waktu pencatatan dan nilai magnitudo masing-masing. Informasi tersebut menjadi inti laporan mengenai rangkaian gempa yang mengguncang kawasan Tanggamus dan sekitarnya pada sore hari itu.
Urutan waktu penting untuk membedakan kedua kejadian tersebut. Gempa pertama tercatat lebih dahulu, tepat pada 15.22 WIB, sedangkan kejadian kedua menyusul pada 15.23 WIB. Selisih satu menit itu menjadikan rangkaian ini sebagai dua catatan gempa beruntun dalam rentang waktu singkat. BMKG menganalisis magnitudo gempa pertama sebesar 3,9 dan gempa kedua sebesar 4,1. Angka tersebut menunjukkan besaran masing-masing kejadian sebagaimana disampaikan dalam analisis lembaga tersebut, bukan gabungan dari keduanya. Karena itu, kronologi dan magnitudo perlu dibaca secara terpisah saat memahami laporan kejadian ini.
Catatan BMKG menempatkan dua gempa tersebut pada Rabu sore, 28 Oktober 2026, dengan kawasan Tanggamus, Lampung, dan sekitarnya sebagai wilayah yang disebut dalam laporan. Penyebutan waktu dalam WIB juga memperjelas bahwa kejadian pertama dan berikutnya berlangsung hanya berselang satu menit menurut waktu setempat. Informasi yang tersedia dalam laporan ini berfokus pada waktu kejadian serta magnitudo hasil analisis BMKG. Detail tersebut memberikan gambaran pokok mengenai urutan dua gempa, tanpa mencampuradukkan angka untuk masing-masing peristiwa. Dengan membaca kronologi secara berurutan, masyarakat dapat memahami bahwa terdapat dua kejadian terpisah yang tercatat pada pukul 15.22 dan 15.23 WIB.
Gempa pertama tercatat dengan episenter pada koordinat 5,40 derajat Lintang Selatan dan 104,67 derajat Bujur Timur. Titik tersebut berada di darat, sekitar 9 kilometer di barat laut Tanggamus. Kedalamannya tercatat 4 kilometer. Rangkaian informasi ini menunjukkan lokasi dan kedalaman untuk kejadian pertama, bukan untuk gempa susulan yang terjadi setelahnya. Dengan mencermati koordinat, arah, jarak, dan kedalaman secara bersamaan, pembaca dapat membedakan laporan gempa pertama dari laporan kejadian kedua yang memiliki posisi berdekatan. Meski selisih koordinatnya relatif kecil, setiap angka tetap merujuk pada titik episenter dan parameter masing-masing gempa, sehingga perlu dibaca sesuai urutan pencatatannya.
Gempa kedua memiliki episenter pada koordinat 5,43 derajat Lintang Selatan dan 104,65 derajat Bujur Timur. Lokasinya juga berada di darat, tetapi jaraknya sekitar 6 kilometer di barat laut Tanggamus. Kedalaman yang dilaporkan untuk kejadian kedua adalah 5 kilometer. Jadi, angka 5,43 LS dan 104,65 BT, jarak 6 kilometer, serta kedalaman 5 kilometer seluruhnya merujuk pada gempa kedua. Data tersebut berbeda dari gempa pertama, yang berada pada koordinat 5,40 LS dan 104,67 BT, berjarak 9 kilometer dari arah barat laut Tanggamus, dan memiliki kedalaman 4 kilometer. Penyandingan ini membantu menghindari kekeliruan saat membaca dua laporan yang lokasinya sama-sama berada di sekitar wilayah tersebut.
Kedua episenter terletak di darat dan berada di sisi barat laut Tanggamus, tetapi koordinat, jarak dari wilayah acuan, serta kedalamannya tidak sama. Gempa pertama tercatat lebih jauh, yakni sekitar 9 kilometer, dengan kedalaman 4 kilometer. Gempa kedua berada sekitar 6 kilometer dari Tanggamus dan tercatat pada kedalaman 5 kilometer. Perbedaan itu penting dicatat ketika membahas karakter setiap kejadian secara terpisah. Informasi episenter menunjukkan letak titik gempa di permukaan peta, sedangkan kedalaman menggambarkan jarak titik tersebut dari permukaan bumi. Keduanya merupakan rincian yang berbeda dan tidak boleh dipertukarkan. Penyebutan urutan kejadian bersama angka-angka tersebut membuat lokasi masing-masing gempa lebih jelas tanpa menyamakan parameter keduanya.
Ana Oktavia Setiowati, Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Tangerang, mengonfirmasi adanya dua guncangan utama yang terjadi di wilayah Tanggamus. Penjelasan tersebut merujuk pada analisis BMKG terhadap informasi lokasi episenter dan kedalaman hiposenter dari kedua kejadian. Dengan demikian, keterangan lembaga ini berfokus pada karakteristik sumber gempa yang tercatat, bukan pada perkiraan penyebab di luar hasil analisis tersebut.
Menurut BMKG, apabila ditinjau dari posisi episenter serta kedalaman hiposenternya, kedua gempa itu termasuk gempa dangkal. Gempa dangkal merupakan kejadian yang sumbernya berada relatif dekat dengan permukaan bumi. Dalam kasus Tanggamus ini, BMKG mengaitkan kedua guncangan dengan aktivitas sesar aktif. Kategori tersebut menggambarkan proses tektonik yang menjadi sumber gempa berdasarkan parameter yang tersedia, tanpa menyebutkan identitas sesar tertentu.
Pernyataan Ana menegaskan bahwa dua guncangan utama itu dianalisis sebagai kejadian gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Informasi episenter menunjukkan lokasi sumber secara mendatar, sedangkan hiposenter menjelaskan kedalaman sumber gempa. Kedua parameter tersebut menjadi bagian dari dasar BMKG dalam menjelaskan jenis kejadian dan kaitannya dengan aktivitas tektonik. Penjelasan ini tidak dengan sendirinya memastikan bahwa seluruh dampak di suatu lokasi sama, karena tingkat guncangan yang dirasakan dapat berbeda sesuai kondisi setempat.
BMKG tidak menyampaikan dugaan mengenai sesar spesifik yang memicu gempa tersebut dalam keterangan ini. Karena itu, informasi mengenai sumber kejadian sebaiknya dipahami sesuai batas penjelasan yang telah diberikan: dua guncangan utama di Tanggamus tergolong gempa dangkal dan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif berdasarkan lokasi episenter serta kedalaman hiposenternya. Pemahaman yang cermat terhadap keterangan resmi membantu masyarakat membedakan hasil analisis seismologi dari spekulasi yang belum dikonfirmasi.
Laporan yang dihimpun setelah dua gempa dangkal beruntun di Tanggamus menyebutkan bahwa guncangan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah dengan intensitas yang berbeda. Informasi tersebut menggambarkan pengalaman warga, bukan ukuran yang sama untuk setiap lokasi. Karena itu, keterangan mengenai intensitas perlu dibaca sesuai titik pengamatan yang disebutkan dalam laporan, tanpa menganggap seluruh kawasan mengalami getaran dengan tingkat serupa.
Salah satu lokasi yang secara khusus dicatat adalah Kotaagung, dengan intensitas III MMI. Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah. Orang yang berada di dalam ruangan dapat merasakan adanya guncangan, sementara sensasinya digambarkan seakan-akan ada truk berlalu. Deskripsi tersebut menjadi acuan untuk memahami bagaimana gempa dirasakan warga di lokasi itu, bukan pernyataan bahwa semua orang atau semua bangunan mengalami sensasi yang persis sama.
Perbedaan intensitas yang dilaporkan dapat berkaitan dengan kondisi setempat dan pengalaman masing-masing orang saat gempa terjadi. Namun, berdasarkan keterangan yang tersedia, rincian tingkat intensitas di luar Kotaagung tidak perlu diasumsikan. Catatan III MMI hanya menjelaskan laporan untuk Kotaagung, sedangkan laporan dari wilayah lain tidak dirinci dalam keterangan ini. Dengan membatasi penjelasan pada informasi tersebut, gambaran yang disampaikan tetap sesuai dengan sumber.
Bagi warga, laporan rasa getaran membantu menjelaskan bahwa peristiwa itu tidak hanya tercatat melalui pengukuran, tetapi juga dialami langsung oleh sebagian masyarakat. Meski demikian, keterangan mengenai apa yang terasa tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kerusakan atau dampak tertentu. Informasi yang tersedia di sini berfokus pada sensasi guncangan, terutama laporan Kotaagung: getaran nyata di dalam rumah dan terasa seperti truk yang sedang melintas.
Baca juga: 20 Gempa Susulan Tercatat di Tanggamus, BMKG Minta Warga Tetap Tenang | Gempa Magnitudo 4,7 di Tanggamus: Waktu, Pusat, dan Wilayah yang Merasakan



































