Noken Jadi Simbol Tuntutan Mahasiswa Papua kepada Stafsus Mensesneg

oleh -71 Dilihat
oleh
Noken Jadi Simbol Tuntutan Mahasiswa Papua kepada Stafsus Mensesneg

Jakarta | Seorang mahasiswa Universitas Trisakti asal Papua mengangkat noken saat menyampaikan tuntutan kepada Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, dalam aksi unjuk rasa di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Noken yang dibawa dalam aksi tersebut merupakan tas tradisional khas Papua. Kehadirannya membuat benda budaya itu tampak sebagai bagian dari cara mahasiswa tersebut menyampaikan tuntutan.

Dalam peristiwa ini, noken tidak hanya hadir sebagai barang yang dibawa peserta aksi. Tas tradisional tersebut menjadi simbol yang menyertai penyampaian aspirasi kepada pejabat yang dituju. Dengan mengangkat noken, mahasiswa asal Papua itu menampilkan identitas budaya Papua di tengah ruang unjuk rasa di Jakarta, sekaligus menempatkan benda tersebut dalam konteks tuntutan yang disampaikan kepada Binbin.

Aksi berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026. Informasi mengenai peristiwa ini menyebut mahasiswa Universitas Trisakti tersebut menyampaikan tuntutan kepada Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara. Noken diangkat dalam momen itu, sehingga menjadi unsur yang menonjol dalam gambaran aksi. Tidak ada keterangan lain yang diperlukan untuk memahami pokok peristiwa: seorang mahasiswa asal Papua membawa simbol budaya dari daerahnya ketika menyuarakan tuntutan kepada pejabat negara di Jakarta.

Noken dikenal sebagai tas tradisional khas Papua. Dalam peristiwa tersebut, penyebutan noken memberi konteks pada benda yang diangkat mahasiswa, sekaligus menjelaskan mengapa benda itu menjadi sorotan. Penggunaan simbol budaya dalam penyampaian aspirasi dapat membuat sebuah aksi lebih mudah dikenali, tetapi rincian makna yang ingin disampaikan mahasiswa tidak dijelaskan lebih jauh dalam informasi yang tersedia. Karena itu, uraian mengenai kejadian ini berfokus pada tindakan yang tercatat dan identitas noken sebagai tas tradisional Papua.

Dengan demikian, peristiwa tersebut memperlihatkan pertemuan penyampaian tuntutan mahasiswa dan penampilan simbol budaya Papua. Fokusnya adalah tindakan mahasiswa Universitas Trisakti asal Papua yang mengangkat noken saat berbicara kepada Binbin Firman Tresnadi di Jakarta. Noken menjadi penanda visual dalam aksi pada tanggal tersebut, tanpa perlu menambahkan dugaan mengenai tujuan atau pesan khusus di luar keterangan yang ada.

Dalam menjelaskan alasan noken digunakan sebagai simbol tuntutan, mahasiswa Papua menyampaikan makna yang mereka lekatkan pada tas tersebut. Noken, menurut penjelasan itu, dibuat oleh ibu-ibu di Papua. Keterangan ini menjadi bagian penting dari cara mereka menerangkan benda yang dibawa dalam penyampaian aspirasi. Noken tidak hanya disebut sebagai tas, tetapi juga sebagai benda yang memelihara kehidupan. Pernyataan tersebut merujuk pada pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak-anak Papua sejak mereka lahir.

Mahasiswa itu menggambarkan bahwa sejak lahir, anak-anak Papua digendong di dalam noken. Dengan demikian, noken hadir sejak awal kehidupan seorang anak dalam gambaran yang disampaikan. Ungkapan bahwa noken memelihara kehidupan bertumpu pada fungsi tersebut: anak berada dalam gendongan noken ketika masih kecil. Penjelasan ini menekankan hubungan benda yang dibuat oleh ibu-ibu dan pengalaman mengasuh anak, tanpa memperluas maknanya ke tafsir lain yang tidak disampaikan oleh mahasiswa.

Dalam konteks tuntutan kepada staf khusus Menteri Sekretaris Negara, makna yang dijelaskan mahasiswa membantu menerangkan pilihan noken sebagai lambang. Mereka membawa benda yang, menurut penuturan mereka, dekat dengan kehidupan sejak kelahiran. Penjelasan itu dapat dipahami melalui dua hal yang disebut secara langsung: noken dibuat oleh ibu-ibu di Papua dan digunakan untuk menggendong anak-anak sejak lahir. Karena itu, gambaran tentang noken sebagai pemelihara kehidupan menjadi inti pernyataan mahasiswa. Makna tersebut disampaikan sebagai alasan di balik penggunaan noken dalam menyuarakan aspirasi, bukan sebagai penjelasan tambahan mengenai adat atau simbolisme lain. Fokusnya tetap pada fungsi yang mereka ceritakan dan pada kedekatan noken dengan kehidupan anak sejak awal. Dengan menyebut pengalaman itu, mahasiswa menerangkan mengapa noken memiliki arti bagi mereka dalam menyampaikan tuntutan. Pernyataan tersebut mempertahankan perhatian pada pembuatnya, yaitu ibu-ibu di Papua, serta pada anak-anak yang digendong di dalamnya sejak lahir. Tidak ada tafsir lain yang perlu ditambahkan untuk memahami inti penjelasan itu: noken digambarkan sebagai benda yang hadir dalam proses menjaga kehidupan sejak seorang anak dilahirkan.

Dalam menyampaikan tuntutannya, mahasiswa mengaitkan noken dengan hubungan masyarakat Papua dan alam. Noken bukan sekadar tas tradisional, tetapi juga memiliki makna yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan yang menyediakan berbagai sumber penghidupan. Alam, dalam pandangan yang disampaikan mahasiswa, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Papua. Karena itu, kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekologis, tetapi juga menyentuh kesejahteraan warga yang terdampak.

Dari pemaknaan tersebut, mahasiswa kemudian mengajukan pertanyaan mengenai perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami dampak karhutla. Ia meminta kepastian apakah layanan kesehatan gratis dijamin bagi warga terdampak, khususnya mereka yang menghadapi gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan setelah kebakaran. Pertanyaan itu menempatkan akses terhadap layanan kesehatan sebagai kebutuhan yang perlu dijawab secara jelas, bukan sekadar sebagai bagian dari respons umum terhadap bencana. Kepastian mengenai pembiayaan layanan dinilai penting agar warga dapat mengetahui bentuk dukungan yang tersedia.

Mahasiswa menyampaikan pertanyaan tersebut kepada Binbin Firman Tresnadi, Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara. Wilayah yang secara khusus disebut dalam pertanyaan itu adalah Papua, Kalimantan, serta pulau-pulau lainnya. Ia meminta penjelasan mengenai jaminan layanan kesehatan gratis bagi warga terdampak karhutla di wilayah-wilayah tersebut. Dengan demikian, pertanyaannya berfokus pada kepastian layanan kesehatan untuk kelompok yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan di lokasi yang disebutkan. Pokok tuntutan ini berangkat dari hubungan alam dan keberlangsungan hidup masyarakat, lalu diarahkan pada kebutuhan konkret warga: memperoleh akses kesehatan tanpa biaya ketika menghadapi dampak karhutla. Mahasiswa tidak memperluas pertanyaan itu ke persoalan atau wilayah lain, melainkan meminta jawaban atas jaminan layanan bagi warga di Papua, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya.

Dalam penyampaian tuntutannya, mahasiswa Papua menegaskan bahwa hal yang mereka cari bukan sekadar pernyataan umum mengenai perhatian pemerintah. Mereka menginginkan kepastian bahwa layanan kesehatan gratis benar-benar dijamin bagi masyarakat yang membutuhkan. Bagi mahasiswa, jaminan tersebut merupakan inti persoalan yang perlu dijawab secara langsung oleh pihak terkait, bukan hanya disampaikan sebagai harapan atau wacana. Karena itu, mereka meminta agar pembicaraan berfokus pada bentuk kepastian yang dapat dipahami dan dipegang masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan kepada Binbin, staf khusus Menteri Sekretaris Negara, dalam rangkaian penyampaian aspirasi mahasiswa. Mereka menggarisbawahi bahwa akses terhadap layanan kesehatan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar warga Papua. Tanpa kepastian mengenai jaminan layanan gratis, menurut tuntutan yang disampaikan, masyarakat masih dapat menghadapi keraguan tentang apakah bantuan itu tersedia ketika diperlukan. Mahasiswa pun menempatkan komitmen terhadap layanan kesehatan sebagai hal yang perlu diperjelas, sehingga aspirasi mereka tidak berhenti pada pengakuan bahwa isu tersebut penting.

Untuk meminta penegasan secara langsung, seorang mahasiswa kemudian menantang Binbin untuk bersalaman. Gestur itu diajukan sebagai bentuk kesanggupan memberikan jaminan layanan kesehatan gratis, bukan sebagai pengganti penjelasan mengenai tuntutan mereka. Dengan cara tersebut, mahasiswa menekankan bahwa mereka mengharapkan komitmen yang tegas dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama menyangkut pemenuhan hak masyarakat atas layanan kesehatan. Inti dari momen itu adalah permintaan agar Binbin menunjukkan kesediaan menjamin layanan gratis melalui ajakan bersalaman. Tantangan tersebut menjadi penegasan bahwa kepastian itulah yang ingin diperoleh mahasiswa dari pihak pemerintah.

Baca juga: Aksi Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda Usai, Aspirasi Disampaikan kepada Stafsus Mensesneg | Stafsus Mensesneg Terima Aspirasi Mahasiswa soal Pimpinan Kementerian Kehutanan | Mahasiswa dari Sejumlah Kampus Bandung Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Tuntutan