Kabupaten Banyuwangi | Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Pantai Boom Banyuwangi menjadi panggung pertunjukan kolosal Gandrung Sewu. Dengan latar Selat Bali, sekitar 1.300 penari bergerak serempak dalam formasi yang memenuhi area pantai. Tabuhan gamelan mengalun kuat, berpadu dengan gemuruh ombak yang menyentuh pesisir. Perpaduan bunyi tradisi dan alam itu membangun suasana khas, sekaligus menegaskan kedekatan pertunjukan dengan lingkungan Banyuwangi. Dari kejauhan, laut dan garis pantai menjadi latar visual bagi gerak para penari, sementara ribuan penonton menyaksikan kemegahan sajian budaya tersebut secara langsung. Panggung terbuka ini menjadikan setiap gerak, irama, dan perubahan cahaya terasa terhubung dengan lanskap pesisir yang luas, menghadirkan pengalaman pertunjukan yang berbeda.
Tahun ini, Gandrung Sewu mengangkat tema “Kembang Darmo”, yang menjadi benang merah bagi rangkaian gerak dan tampilan para penari. Tema tersebut hadir dalam pertunjukan melalui koreografi massal, kostum, serta penggunaan properti yang dirancang khusus. Salah satu daya tariknya adalah konsep glow in the dark, yang membuat para penari tampak bercahaya ketika bergerak dalam suasana pantai yang temaram. Instrumen khusus yang mereka gunakan turut menyala, menciptakan paduan visual warna, gerak, dan irama. Ketika formasi berubah, cahaya yang mengikuti penari membentuk pola-pola menarik di tengah kegelapan. Efek ini tidak hanya memperkuat suasana, tetapi juga memberi penonton cara baru untuk menikmati unsur tradisi dalam pertunjukan berskala besar.
Memasuki penyelenggaraan tahun ke-14, festival ini memadukan seni tari tradisional dengan unsur pertunjukan modern tanpa menghilangkan ciri khasnya. Tata cahaya atraktif menyoroti perubahan formasi, sementara drone show menambah dimensi visual dari atas kawasan pantai. Kehadiran teknologi tersebut melengkapi tabuhan gamelan dan gerak ribuan penari, membuat suasana pertunjukan terasa semakin hidup. Di tengah langit malam, sorotan lampu, penari yang bercahaya, serta tampilan drone berpadu dengan latar laut dan Selat Bali. Ragam unsur tersebut dirancang sebagai bagian dari satu pengalaman yang menyeluruh, bukan sekadar pelengkap. Dengan skala besar dan suasana pesisir yang kuat, Gandrung Sewu 2026 kembali memperlihatkan bagaimana seni, alam, dan teknologi dapat bertemu dalam perayaan budaya Banyuwangi.
Empat siswi Sekolah Rakyat Banyuwangi terpilih untuk menjadi bagian dari pertunjukan kolosal Gandrung Sewu 2026. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa peserta didik sekolah tersebut turut mengambil peran dalam salah satu perhelatan seni budaya yang melibatkan banyak penari. Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SD dan SMP, Winarno, menyampaikan bahwa para siswi terpilih melalui proses seleksi yang ketat. Mereka disaring dari banyak peserta ekstrakurikuler tari, kemudian bergabung dengan ratusan penari lain yang tampil dalam festival.
Keempat peserta yang lolos ialah Nurul Hikmah Rania Safitri, siswi kelas XII; Ervina Dwi Nanda, siswi kelas XI; Mariyani Astuti, siswi kelas XI; serta Fenita Berlian, siswi kelas VIII. Perbedaan tingkat kelas tidak menghalangi mereka untuk mengikuti proses persiapan dan tampil bersama para penari lainnya. Kesempatan tersebut juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk terlibat langsung dalam pertunjukan budaya berskala besar. Seleksi yang dilalui menandai kemampuan mereka untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan, sekaligus menempatkan nama Sekolah Rakyat Banyuwangi dalam kemeriahan festival.
Dalam penampilan itu, para penari mengenakan kostum yang mencerminkan kekayaan visual tari Gandrung. Busana mereka berupa kain beludru hitam dengan ornamen kuning keemasan dan hiasan manik-manik. Selendang menjadi bagian dari kelengkapan kostum, dipadukan dengan kain batik yang dikenakan sebagai bawahan. Penampilan dilengkapi mahkota omprong berwarna keemasan dan merah, yang menghadirkan aksen mencolok di panggung. Perpaduan warna, bahan, dan aksesori tersebut membentuk tampilan seragam para penari dalam sajian kolosal. Melalui keikutsertaan empat siswi ini, peserta didik Sekolah Rakyat Banyuwangi turut hadir dalam pertunjukan yang mempertemukan banyak penari dan menampilkan unsur tradisi kepada para penonton Gandrung Sewu 2026.
Winarno menyampaikan kebanggaannya atas terpilihnya empat siswi Sekolah Rakyat untuk menjadi bagian dari kemegahan Gandrung Sewu 2026. Kesempatan tersebut dinilai memiliki arti penting bagi sekolah, karena para siswi dapat ikut ambil bagian dalam sebuah pergelaran budaya yang menjadi perhatian masyarakat. Keikutsertaan mereka juga menunjukkan bahwa peserta didik Sekolah Rakyat dapat berkontribusi dalam kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian tradisi daerah.
Bagi Winarno, partisipasi empat siswi itu bukan sekadar pengalaman tampil dalam sebuah acara. Keterlibatan mereka menjadi kontribusi Sekolah Rakyat dalam menyukseskan program pemerintah sekaligus melestarikan budaya bangsa. Kedua hal tersebut berjalan seiring: para siswi memperoleh ruang untuk berpartisipasi, sementara budaya lokal mendapat dukungan dari generasi muda. Dengan demikian, keterlibatan mereka membawa makna bagi sekolah maupun upaya menjaga warisan budaya.
Winarno berharap pengalaman ini dapat memberi dorongan positif bagi para siswi dan lingkungan sekolah. Ia berharap mereka mampu menjadi inspirasi bagi adik-adik kelasnya, sehingga semakin banyak peserta didik yang terdorong untuk mengenal dan mencintai budaya daerah. Pengalaman mengikuti Gandrung Sewu diharapkan dapat menumbuhkan kekaguman terhadap kekayaan budaya yang dimiliki daerah, tanpa melepaskan perhatian pada nilai penting pelestariannya.
Harapan tersebut secara khusus berkaitan dengan Gandrung, yang dikenal sebagai ikon Kabupaten Banyuwangi. Winarno menginginkan anak-anak tidak hanya melihat Gandrung sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga memiliki rasa cinta dan kekaguman terhadap budaya daerah tersebut. Dengan hadirnya empat siswi Sekolah Rakyat dalam Gandrung Sewu 2026, ia berharap semangat untuk mengenal dan menjaga budaya Banyuwangi dapat tumbuh di kalangan peserta didik. Keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk turut menyukseskan program pemerintah serta memperkuat kepedulian generasi muda terhadap budaya bangsa, terutama tradisi Gandrung yang menjadi kebanggaan daerah.
Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SMA, Chitra Arti Maharani, memandang keterlibatan peserta didik dalam Gandrung Sewu 2026 sebagai kesempatan belajar yang memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar mendukung program pemerintah. Melalui partisipasi dalam festival tersebut, siswa dapat berjumpa langsung dengan seni tradisi Banyuwangi dan memahami nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Pengalaman itu diharapkan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa, bukan hanya sebagai pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga sebagai warisan yang patut dijaga dan diteruskan.
Keikutsertaan dalam pertunjukan juga membuka ruang bagi sekolah untuk mengenali minat serta potensi peserta didik. Proses latihan dan persiapan dapat menjadi sarana menjaring talenta siswa, sekaligus memberi mereka pengalaman bekerja bersama dalam mencapai tujuan. Di dalamnya, peserta belajar menjalankan tanggung jawab, menjaga disiplin, dan berusaha memberikan penampilan terbaik. Pengalaman tersebut berpotensi menumbuhkan jiwa kompetitif yang sehat, dengan mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan dan berani tampil di hadapan khalayak.
Tujuan itu sejalan dengan fungsi Gandrung Sewu sebagai festival yang menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian seni tradisi Banyuwangi. Keterlibatan anak muda membantu menjaga agar kesenian daerah tetap dikenal dan dapat diwariskan lintas generasi. Dengan tampil dalam sebuah perhelatan budaya, para peserta tidak hanya menjadi penonton atau penerima pengetahuan, tetapi turut mengambil bagian dalam penyajian tradisi. Peran aktif tersebut dapat memperkuat hubungan mereka dengan identitas budaya daerah sekaligus memperluas pemahaman tentang keberagaman budaya Indonesia.
Festival ini juga memiliki cakupan aspirasi yang lebih luas. Atraksi yang disajikan diarahkan untuk menyasar panggung dunia, sehingga keterlibatan peserta didik dapat menjadi pengalaman awal dalam memperkenalkan seni Banyuwangi kepada khalayak yang lebih luas. Bagi Chitra, kesempatan seperti ini menyatukan pembelajaran budaya, pengembangan potensi, dan dukungan terhadap program pemerintah.
Baca juga: Hotspot Karhutla di Indonesia Turun Menjadi 317, Pemeriksaan Lapangan Berlanjut



































