Erick Thohir Desak Penindakan Tegas atas Serangan terhadap Bus Persib U-18

oleh -73 Dilihat
oleh
Erick Thohir Desak Penindakan Tegas atas Serangan terhadap Bus Persib U-18

Kota Bandung | Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengecam penyerangan terhadap rombongan Persib Bandung U-18 yang terjadi di rest area Batang Kilometer 360, Minggu malam, 11 Oktober 2026. Insiden tersebut menjadi perhatian serius karena menyasar rombongan tim muda yang sedang melakukan perjalanan. Tindakan kekerasan itu tidak dapat dipandang sebagai bagian dari rivalitas atau luapan emosi suporter, melainkan sebagai perbuatan kriminal yang harus diproses sesuai hukum.

Erick menyampaikan sikap tersebut saat berada di Solo, Senin, 12 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan penyerangan terhadap pemain, ofisial, maupun anggota rombongan olahraga. PSSI, menurut Erick, menolak segala bentuk kekerasan yang mengancam keselamatan pelaku sepak bola, terlebih terhadap kelompok usia muda yang semestinya mendapat perlindungan selama menjalani kegiatan pertandingan dan perjalanan.

Dalam keterangannya, Erick juga mengingatkan adanya kesepakatan PSSI dengan FIFA untuk memastikan suporter, baik yang mendukung tim nasional maupun klub, dapat pulang ke rumah dengan selamat. Komitmen itu menempatkan keamanan sebagai bagian penting dari penyelenggaraan sepak bola, bukan sekadar tanggung jawab klub atau panitia pertandingan. Karena itu, keselamatan rombongan Persib Bandung U-18 perlu menjadi perhatian bersama, termasuk aparat penegak hukum dan seluruh pihak yang berkaitan dengan sepak bola nasional.

Pernyataan Erick menjadi dasar tuntutan agar insiden di rest area tersebut ditangani secara serius, menyeluruh, dan transparan. Aparat diharapkan segera mengusut kronologi, mengidentifikasi pihak yang terlibat, serta mengambil langkah hukum terhadap pelaku apabila bukti telah terpenuhi. Penindakan tegas diperlukan untuk mencegah kejadian serupa berulang dan menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh menjadi ruang bagi intimidasi maupun kekerasan.

Erick Thohir mendesak pihak liga dan klub terkait segera menindaklanjuti serangan terhadap bus Persib U-18 secara serius. Ia meminta seluruh fakta dalam perkara tersebut diusut secara menyeluruh dan setiap pihak yang terbukti terlibat dikenai sanksi berat, baik melalui mekanisme disiplin sepak bola maupun proses hukum yang berlaku. Menurut Erick, langkah tegas diperlukan untuk menunjukkan bahwa kompetisi sepak bola Indonesia memiliki standar keamanan dan integritas yang tidak dapat dikompromikan.

Erick menegaskan bahwa tindakan merampas, merusak bus, serta memukul ofisial bukan bagian dari perilaku suporter sepak bola Indonesia. Perbuatan tersebut telah melampaui batas dukungan di dalam olahraga dan masuk dalam kategori kriminal. Karena itu, penyelesaian kasus tidak cukup hanya melalui permintaan maaf atau hukuman administratif ringan. Liga dan klub harus mengambil sikap jelas agar pelaku tidak merasa memiliki ruang untuk mengulangi tindakan serupa, sementara identitas pihak yang bertanggung jawab perlu disampaikan secara transparan berdasarkan hasil penyelidikan.

Ia juga menyampaikan bahwa kepolisian telah bekerja sama dalam penanganan perkara tersebut. Erick meminta proses penegakan hukum dilakukan setinggi-tingginya, sehingga korban memperoleh perlindungan dan masyarakat mendapat kepastian bahwa kekerasan di sekitar pertandingan tidak akan dibiarkan. Penindakan yang konsisten dinilai penting untuk mencegah munculnya preseden buruk dalam pembinaan pemain muda dan penyelenggaraan kompetisi.

Erick khawatir insiden ini menjadi pengulangan dari berbagai peristiwa kelam yang pernah mencoreng sepak bola Indonesia. Ia menilai semua pemangku kepentingan harus menjadikan kasus tersebut sebagai peringatan untuk memperbaiki pengamanan, pengawasan suporter, dan koordinasi antarlembaga. Kejadian itu, menurutnya, sangat tidak bisa ditoleransi karena mengancam keselamatan atlet, ofisial, serta masa depan sepak bola nasional. Sanksi tegas diharapkan menjadi pijakan untuk membangun budaya pertandingan yang aman, tertib, dan menghormati hukum.

Kesaksian ofisial tim, Pandu Persada, menggambarkan situasi ketika bus Persib U-18 berhenti di sebuah rest area yang berdekatan dengan rombongan suporter berinisial J. Rombongan tersebut diketahui baru pulang dari Yogyakarta. Dalam kondisi itu, Pandu hendak kembali menuju bus tim setelah berada di sekitar area pemberhentian. Namun, situasi di dekat kendaraan telah berubah dan tidak lagi berlangsung seperti semula.

Menurut Pandu, ketika ia hendak kembali, bus Persib U-18 sudah dikerumuni sejumlah orang. Pada saat yang sama, rekannya, Ridwan, ditarik oleh salah seorang suporter. Pandu menyaksikan Ridwan berusaha menuju kendaraan tim dalam situasi tersebut. Setelah berhasil masuk ke dalam bus, Ridwan tidak lagi berada di luar. Sementara itu, Pandu tertinggal di luar kendaraan ketika kerumunan masih berada di sekitar bus.

Pandu kemudian dipaksa melepaskan jersey Persib yang dikenakannya. Setelah itu, ia dikeroyok oleh orang-orang yang berada di lokasi tersebut. Kesaksian tersebut menjadi bagian dari kronologi mengenai detik-detik penyerangan terhadap rombongan Persib U-18, tanpa mengubah urutan kejadian yang disampaikan Pandu. Dalam peristiwa itu, Pandu akhirnya jatuh. Setelah ia berada dalam kondisi tersebut, salah satu orang meminta Pandu pergi. Kesempatan itu kemudian digunakan Pandu untuk melarikan diri dari lokasi. Kesaksian Pandu memperlihatkan bahwa dirinya tertinggal setelah Ridwan berhasil masuk ke bus, sebelum akhirnya menghadapi pengeroyokan dan berupaya menyelamatkan diri.

Pandu menceritakan bahwa dirinya berupaya menyelamatkan diri dengan berlari menuju sebuah kios tambal ban setelah bus Persib U-18 diserang. Dalam situasi tersebut, ia mencari tempat yang dinilai lebih aman untuk menghindari para penyerang. Setelah itu, Pandu memperoleh perlindungan dari petugas di area istirahat atau rest area. Bantuan tersebut membuatnya dapat berlindung dan melewati situasi yang menegangkan setelah insiden terjadi.

Menurut Pandu, penyerangan terhadap rombongan bus tersebut perlu diusut secara menyeluruh oleh kepolisian. Ia berharap aparat dapat mengungkap rangkaian kejadian, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, serta mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum. Harapan itu disampaikan agar kasus tersebut tidak berhenti pada informasi awal, melainkan diproses sampai terdapat kejelasan mengenai latar belakang dan pelakunya.

Pandu juga menyebutkan bahwa para penyerang menutupi wajah mereka. Kondisi itu membuat para pelaku sulit dikenali, sekaligus menjadi tantangan bagi proses penyelidikan. Di tengah perkembangan penanganan perkara, Pandu menyinggung kabar mengenai penangkapan salah seorang yang diduga terlibat dalam penyerangan. Namun, informasi tersebut belum dijelaskan lebih lanjut mengenai kepastian status penangkapan maupun jumlah orang yang diamankan.

Karena itu, kabar mengenai adanya seseorang yang ditangkap masih dipandang sebagai informasi yang perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi dari pihak berwenang. Pandu berharap kabar tersebut benar-benar menjadi perkembangan baik bagi pihaknya dan membantu kepolisian mengungkap perkara secara tuntas. Ia juga menantikan kejelasan lebih lanjut agar seluruh rangkaian insiden dapat dipahami berdasarkan hasil penyelidikan, bukan semata-mata informasi yang beredar.

Baca juga: Respons Pemerintah Indonesia atas Protes Negara Tetangga terhadap Asap Karhutla | Polisi Menangani Kekerasan terhadap Petugas Satpol PP Seusai Penertiban di Bulungan | Serangan Siber Mengganggu Layanan Tabung Haji Malaysia, Dana Nasabah Dipastikan Aman