Kabupaten Serang | Delapan aki yang menjadi sumber daya peralatan pemantauan Gunung Anak Krakatau (GAK) diketahui hilang dari Stasiun Lava 93 pada 27 September 2026. Kehilangan tersebut mengganggu kelengkapan sistem pengamatan karena aki digunakan untuk memasok listrik bagi berbagai sensor yang merekam kondisi dan aktivitas gunung api. Peralatan itu berperan penting dalam mengirimkan data pemantauan, terutama dari lokasi yang berada di sekitar kawasan Anak Krakatau.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Deny Mardiono, menyampaikan bahwa hilangnya delapan aki tersebut diketahui pada tanggal tersebut. Menurutnya, aki-aki itu ditempatkan untuk mendukung operasional sensor di Stasiun Lava 93. Ketika sumber daya itu tidak lagi tersedia, sebagian perangkat pemantauan tidak dapat bekerja secara normal sehingga informasi yang dihimpun dari stasiun tersebut menjadi kurang lengkap.
Gangguan ini berkaitan dengan perangkat pendukung pemantauan, bukan penghentian total pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan tetap berjalan melalui sarana dan stasiun lain yang masih berfungsi, serta pengamatan langsung oleh petugas. Namun, berkurangnya perangkat aktif di Stasiun Lava 93 dapat memengaruhi cakupan dan kesinambungan data yang diperlukan untuk menilai perubahan aktivitas gunung api.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keamanan fasilitas pemantauan di kawasan gunung api. Aki bukan sekadar perlengkapan pendukung, melainkan komponen yang memungkinkan sensor beroperasi secara berkelanjutan. Kehilangannya membuat sistem pengamatan harus bekerja dengan keterbatasan tertentu sampai sumber daya dan perangkat yang diperlukan dapat dipulihkan. Data dari pemantauan tetap menjadi dasar bagi petugas untuk mengikuti perkembangan GAK dan menyampaikan informasi terkait aktivitasnya kepada pihak berwenang serta masyarakat.
Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berlangsung meskipun delapan aki di Stasiun Lava 93 dilaporkan hilang. Sistem pengamatan gunung api tersebut masih ditopang oleh tiga stasiun, yaitu Stasiun Hupla, Stasiun Tanjung, dan Stasiun Lava 93. Ketiga lokasi itu memiliki peran penting dalam menyediakan informasi mengenai aktivitas kegempaan dan perubahan kondisi visual gunung.
Di Stasiun Lava 93, masih terdapat dua perangkat yang dapat digunakan. Perangkat pertama adalah sensor kegempaan atau seismik, yang berfungsi merekam getaran maupun aktivitas gempa di sekitar Gunung Anak Krakatau. Perangkat kedua berupa kamera pengawas atau CCTV. Kamera tersebut membantu petugas memperoleh gambaran visual mengenai kondisi gunung, termasuk kemungkinan perubahan pada area kawah atau tubuh gunung yang dapat terlihat dari lokasi pemantauan.
Kedua perangkat itu masih memperoleh pasokan daya dari dua aki dan tiga panel surya yang tersisa di Stasiun Lava 93. Meskipun jumlah sumber energi tersebut lebih terbatas dibandingkan kondisi sebelumnya, dukungan itu memungkinkan peralatan utama tetap beroperasi. Data dari sensor dan kamera kemudian dapat dimanfaatkan petugas untuk mengamati perkembangan aktivitas gunung secara berkelanjutan.
Deny menyampaikan pada Senin, 12 Oktober 2026, bahwa Stasiun Lava 93 masih hidup dan pemantauan tetap berjalan menggunakan dua sensor. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hilangnya sebagian aki tidak langsung menghentikan pengawasan. Petugas masih dapat memantau aktivitas kegempaan melalui sensor seismik serta mengamati kondisi visual Gunung Anak Krakatau melalui CCTV. Informasi dari Stasiun Hupla, Stasiun Tanjung, dan perangkat yang tersisa di Stasiun Lava 93 menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan pengamatan gunung api.
Sistem pemantauan di Stasiun Lava 93 belum sepenuhnya pulih setelah delapan aki dilaporkan hilang. Petugas tidak langsung memasang perangkat pengganti karena perlu memastikan aspek keamanan di lokasi tersebut. Langkah ini dipandang penting agar peralatan baru dapat terlindungi dan berfungsi dalam jangka panjang, terutama karena stasiun pemantauan berada di kawasan yang memerlukan pengawasan serta akses khusus. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan aki, tetapi juga kesiapan sarana penyimpanan dan kondisi lingkungan sekitar perangkat.
Kotak penyimpanan peralatan di stasiun itu disebut telah dibongkar oleh pelaku melalui bagian engsel. Kerusakan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa aki dan perangkat baru akan kembali dicuri apabila dipasang sebelum tempat penyimpanannya diperbaiki. Karena itu, pemasangan pengganti masih menunggu penanganan terhadap kotak penyimpanan, termasuk penguatan konstruksi dan pengamanan aksesnya. Pertimbangan tersebut dilakukan untuk mencegah kerugian berulang sekaligus menjaga kesinambungan data pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau bersama Badan Geologi telah berkoordinasi mengenai rencana perbaikan fasilitas penyimpanan dan pemulihan sistem. Proses koordinasi serta penyiapan perbaikan masih berlangsung dan diharapkan segera direalisasikan setelah kebutuhan teknis dan keamanan dipastikan. Di sisi lain, petugas juga masih memulihkan sejumlah peralatan lain yang mengalami kerusakan akibat rangkaian erupsi pada 4–6 September 2026. Perbaikan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan perangkat yang mendukung pengamatan aktivitas gunung. Dengan langkah tersebut, fungsi pemantauan diharapkan dapat kembali berjalan secara lebih aman dan optimal.
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Status Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung api masih memerlukan perhatian dan pemantauan secara berkelanjutan. Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat maupun wisatawan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Batas tersebut menjadi acuan keselamatan bagi setiap pihak yang berada di sekitar wilayah gunung api, termasuk nelayan, pengunjung, serta pihak lain yang melakukan kegiatan di perairan atau kawasan sekitarnya.
Larangan mendekat tetap berlaku meskipun pemantauan di lapangan terus dijalankan. Hilangnya delapan aki di Stasiun Lava 93 menyebabkan sebagian peralatan belum sepenuhnya pulih, tetapi kegiatan pemantauan terhadap kondisi Gunung Anak Krakatau tetap berlangsung. Pemantauan diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat sesuai kondisi yang teramati. Peralatan yang masih dapat digunakan dan sistem pemantauan yang tersedia tetap dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Deny menegaskan bahwa masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Penegasan ini sejalan dengan rekomendasi Badan Geologi selama gunung api masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat diminta mematuhi batas aman yang telah ditetapkan dan tidak memasuki kawasan terlarang. Sementara itu, pemantauan akan tetap berjalan untuk mengikuti kondisi aktivitas gunung api, meskipun sebagian peralatan di Stasiun Lava 93 masih belum kembali berfungsi secara penuh.
Baca juga: Penanganan Karhutla Tetap Berjalan, Pemerintah Belum Menetapkannya sebagai Bencana Nasional | Pembina Pramuka di Palembang Ditangkap, Delapan Siswa Jadi Korban Selama Lima Tahun | Ketegangan Pemilu di India Memuncak, Enam Stasiun Metro Delhi Ditutup







