Jakarta | Gandung Pardiman, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar, meninggal dunia pada Selasa pagi, 27 Oktober 2026. Ia wafat setelah lama berjuang melawan sakit. Kabar tersebut menandai berpulangnya seorang anggota legislatif yang bertugas di Komisi VII DPR. Informasi mengenai peristiwa ini menjadi inti kabar duka yang disampaikan pada Selasa pagi itu, sementara penyebab sakit maupun rincian lain mengenai kepergiannya tidak disampaikan dalam informasi yang tersedia.
Kepergian Gandung Pardiman terjadi setelah perjuangan panjang menghadapi sakit. Dalam menyampaikan kabar ini, keterangan utama yang dapat dipastikan adalah waktu meninggal dunia, yakni Selasa pagi, 27 Oktober 2026, serta perannya sebagai anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar. Tidak ada keterangan tambahan mengenai keadaan kesehatannya sebelum meninggal dunia. Karena itu, berita ini berfokus pada kabar wafat dan identitasnya dalam kapasitas sebagai anggota DPR.
Gandung dikenal dalam konteks tugasnya sebagai bagian dari Komisi VII DPR dan mewakili Fraksi Partai Golkar. Kedua keterangan tersebut menjelaskan posisi yang diembannya ketika kabar wafatnya disampaikan. Ia meninggal dunia setelah lama berjuang melawan sakit, berdasarkan informasi yang menyertai kabar tersebut. Tanpa rincian lebih lanjut mengenai kondisi maupun perawatan yang dijalani, informasi tentang perjuangannya disampaikan secara terbatas dan tidak perlu ditafsirkan melampaui keterangan yang ada.
Kabar meninggalnya Gandung Pardiman pada Selasa pagi membawa perhatian pada kepergiannya setelah perjuangan panjang melawan sakit. Dalam laporan awal, unsur penting yang perlu dicatat ialah nama almarhum, waktu wafat, dan kedudukannya di Komisi VII DPR sebagai anggota dari Fraksi Partai Golkar. Informasi tersebut menjadi dasar pemberitaan mengenai peristiwa ini. Tidak ada tambahan mengenai usia, riwayat jabatan, atau detail lain yang dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia, sehingga uraian ini tetap berpegang pada fakta pokok tersebut.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M Sarmuji, membenarkan kabar wafatnya Gandung Pardiman. Menurut keterangan Sarmuji, Gandung meninggal dunia pada pukul 09.30 WIB. Informasi mengenai waktu tersebut disampaikan sebagai konfirmasi dari pihak Golkar, menyusul kabar duka yang beredar. Keterangan ini menjadi rujukan mengenai waktu wafatnya, sementara keluarga dan kerabat disebut tengah bersiap untuk proses pemakaman pada hari yang sama.
Sarmuji juga menyampaikan rencana pemakaman Gandung akan dilaksanakan pada pukul 17.00. Lokasi pemakaman yang disebutkan adalah Gunungkidul, Yogyakarta. Dengan demikian, waktu serta tempat tersebut merupakan rencana yang diinformasikan oleh Sekjen Golkar, bukan keterangan bahwa pemakaman telah berlangsung. Rencana itu menempatkan prosesi pemakaman beberapa jam setelah kabar wafat disampaikan, pada hari yang sama dengan meninggalnya Gandung.
Informasi mengenai pemakaman penting disampaikan secara cermat agar tidak menimbulkan kesan bahwa prosesi sudah terlaksana. Hingga keterangan Sarmuji tersebut, pemakaman masih disebut sebagai agenda yang akan digelar pada pukul 17.00 di Gunungkidul. Penyebutan lokasi itu merujuk pada wilayah di Yogyakarta sebagaimana disampaikan oleh Sarmuji. Adapun konfirmasi wafat pada pukul 09.30 WIB dan rencana pemakaman merupakan dua keterangan utama yang disampaikan dalam kabar duka ini.
Dalam menyampaikan kabar tersebut, Golkar memberikan informasi dasar mengenai waktu wafat dan rencana pemakaman Gandung. Sarmuji menyebut kedua hal itu sebagai bagian dari keterangan yang diterima dan dibagikan kepada publik. Rincian tersebut membantu menjelaskan perkembangan kabar duka, sekaligus memberikan gambaran mengenai agenda keluarga pada hari itu. Untuk menjaga ketepatan informasi, waktu dan lokasi pemakaman tetap perlu dipahami sebagai rencana yang disampaikan Sarmuji, bukan laporan bahwa prosesi telah selesai atau berlangsung.
Sarmuji menyampaikan bahwa Gandung Pardiman telah mengalami sakit selama beberapa waktu sebelum wafat. Meski kondisi tersebut membatasi dirinya, menurut keterangan Sarmuji, semangat Gandung tetap terlihat. Ia sesekali masih mengikuti berbagai kegiatan, sehingga keadaan kesehatannya tidak serta-merta membuatnya sepenuhnya berhenti terlibat. Keterangan ini menggambarkan bahwa di tengah masa sakit, Gandung masih berupaya hadir ketika keadaan memungkinkan. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci jenis penyakit maupun kapan persisnya kondisi itu mulai dialami.
Keikutsertaan Gandung dalam kegiatan disebut berlangsung sesekali, bukan sebagai aktivitas yang terus-menerus. Hal itu penting untuk dipahami sesuai batas keterangan yang tersedia: semangatnya mendorongnya tetap mengikuti kegiatan tertentu, tetapi tidak ada penjelasan lebih jauh mengenai bentuk, tempat, atau frekuensi kegiatan tersebut. Karena itu, kisah ini tidak perlu ditafsirkan sebagai gambaran bahwa ia selalu aktif atau menjalani agenda tertentu secara rutin selama sakit. Yang dapat dicatat adalah bahwa ia masih berusaha terlibat pada beberapa kesempatan.
Pernyataan Sarmuji juga menempatkan semangat Gandung sebagai bagian dari kenangan terhadap dirinya. Dalam masa ketika ia sedang sakit, kehadiran sesekali di berbagai kegiatan menunjukkan bahwa ia tetap memiliki dorongan untuk berpartisipasi, sejauh situasi memungkinkan. Sikap tersebut menjadi salah satu hal yang dikenang oleh rekan-rekannya, tanpa mengurangi kenyataan bahwa ia tengah menghadapi kondisi kesehatan yang serius. Tanpa informasi tambahan, penjelasan tentang masa sakit Gandung sebaiknya tetap berpegang pada keterangan bahwa sakit itu telah berlangsung beberapa waktu dan bahwa ia sesekali masih mengikuti kegiatan. Tidak ada dasar untuk menyebut diagnosis, menetapkan durasi tertentu, atau menguraikan kegiatan secara spesifik. Dengan batas tersebut, gambaran tentang keteguhan dan semangatnya tetap dapat disampaikan secara proporsional, sekaligus menghormati informasi yang benar-benar telah diutarakan Sarmuji.
Dalam mengenang Gandung Pardiman, Sarmuji menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian utama dari perjalanan hidup almarhum. Gandung, menurut penilaiannya, bukan sekadar menjalankan peran dalam organisasi politik, melainkan mencurahkan hidup untuk melayani rakyat melalui Partai Golkar. Kenangan itu menggambarkan sosok yang memandang kerja politik sebagai tanggung jawab dan jalan untuk hadir di tengah kebutuhan masyarakat.
Dedikasi tersebut, sebagaimana dikenang Sarmuji, tampak pada kesungguhan Gandung dalam menjalankan visi yang diyakininya. Ia menilai Gandung sebagai pemimpin berdedikasi tinggi, dengan sikap yang keras ketika berupaya mewujudkan tujuan. Ketegasan itu menjadi bagian dari karakter kepemimpinannya: ia berpegang pada arah perjuangan dan bekerja dengan keseriusan untuk menjalankannya. Bagi Sarmuji, semangat tersebut melekat pada cara Gandung mengabdikan diri melalui Golkar.
Kenangan atas keteguhan Gandung sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian politik menuntut komitmen yang panjang. Melayani rakyat tidak berhenti pada jabatan atau masa tertentu, tetapi tercermin dalam kesediaan untuk terus bekerja dan memperjuangkan visi. Sarmuji mengenang Gandung melalui nilai-nilai itu, sebagai pribadi yang menaruh tenaga dan hidupnya pada pelayanan masyarakat. Dedikasi yang ia tunjukkan menjadi bagian penting dari jejak yang ditinggalkannya di Partai Golkar.
Kepergian Gandung pada usia ketika ia masih berjuang melawan sakit membuat kenangan tentang pengabdiannya terasa semakin kuat. Namun, bagi Sarmuji, sosoknya tidak hanya dikenang karena akhir perjalanan hidupnya, melainkan juga karena cara ia menggunakan hidup tersebut: untuk melayani rakyat melalui Partai Golkar. Gambaran Gandung sebagai pemimpin yang berdedikasi tinggi dan keras dalam menjalankan visi menjadi penghormatan atas komitmen yang ia pegang. Warisan terpenting dari kenangan itu adalah teladan tentang kesungguhan mengabdikan diri kepada masyarakat.
Baca juga: Gandung Pardiman Wafat, Golkar Kehilangan Kader Senior dari DIY | Gandung Pardiman Wafat di Yogyakarta pada Usia 73 Tahun | Gandung Pardiman Wafat pada Usia 73 Tahun, Dimakamkan di Gunungkidul



































