Hanura Siapkan Rekrutmen Tokoh Eksternal untuk Perkuat Target Pemilu 2029

oleh -72 Dilihat
oleh
Hanura Siapkan Rekrutmen Tokoh Eksternal untuk Perkuat Target Pemilu 2029

Jakarta | Partai Hanura mempertimbangkan perekrutan tokoh politik dari luar partai melalui mekanisme yang disebut “naturalisasi” sebagai salah satu upaya memperkuat daya saing pada Pemilu 2029. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung perebutan kursi legislatif, dengan mempertimbangkan potensi setiap daerah pemilihan (dapil). Perekrutan figur eksternal tidak dipastikan berlaku sama di seluruh wilayah, sebab keputusan akan mengikuti hasil survei dan pemetaan yang dilakukan partai.

Ketua Tim Task Force DPP Hanura, Patrice Rio Capella, menyampaikan bahwa hasil survei dan pemetaan dapil menjadi acuan dalam menentukan apakah partai perlu merekrut tokoh dari luar. Pemetaan itu digunakan untuk melihat daerah mana yang memiliki peluang menghasilkan kursi legislatif. Dengan demikian, pilihan mengenai calon yang akan diusung dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi politik di masing-masing dapil, bukan semata-mata ditetapkan secara seragam untuk semua daerah.

Rio menjelaskan, calon yang nantinya diusung Hanura dapat berasal dari kader internal partai. Selain itu, partai juga membuka kemungkinan menggabungkan kader internal dengan tokoh yang direkrut dari luar melalui mekanisme “naturalisasi”. Komposisi tersebut akan ditentukan dengan merujuk pada hasil pemetaan dan survei, sehingga proses penjaringan figur dapat diarahkan pada kebutuhan serta peluang partai di wilayah terkait. Pernyataan itu menunjukkan bahwa rekrutmen eksternal merupakan opsi, bukan satu-satunya jalur pencalonan.

Keterangan mengenai rencana tersebut disampaikan Rio dalam konsolidasi nasional Hanura di Makassar pada Rabu malam (21/10). Ia kemudian memberikan keterangan tertulis di Jakarta pada Kamis. Dalam penjelasannya, penentuan tokoh yang direkrut tetap berkaitan dengan upaya Hanura memperkuat capaian di pemilihan legislatif mendatang. Survei dan pemetaan dapil menjadi pertimbangan sebelum partai menetapkan strategi pencalonan, termasuk apakah akan mengandalkan kader sendiri atau memadukan mereka dengan figur dari luar. Melalui pendekatan itu, Hanura menyiapkan ruang bagi perekrutan yang dinilai relevan dengan peluang memperoleh kursi, sambil tetap mempertimbangkan peran kader partai dalam daftar calon yang akan diusung pada Pemilu 2029.

Rio memandang perekrutan figur dari luar sebagai salah satu opsi dalam menentukan calon anggota legislatif, bukan keputusan yang dapat diambil secara spontan. Setiap nama, baik berasal dari kalangan internal maupun eksternal, perlu dinilai berdasarkan kebutuhan dan kondisi politik di daerah pemilihan. Karena itu, pembahasan mengenai figur baru semestinya menjadi bagian dari perencanaan yang terukur, bukan sekadar respons terhadap popularitas atau momentum sesaat. Pernyataan tersebut tidak berarti Hanura telah merekrut tokoh tertentu; yang disampaikan adalah kemungkinan yang dapat dipertimbangkan dalam proses pencalonan mendatang.

Sebelum menetapkan pilihan, partai perlu mengukur peluang memperoleh kursi di setiap dapil. Pemetaan itu dapat menjadi dasar untuk melihat wilayah yang memiliki potensi, sekaligus mengenali tantangan yang perlu dihadapi. Setelah gambaran tersebut tersedia, Hanura dapat menimbang kekuatan kader yang telah dibina, rekam kerja mereka, serta potensi elektoral kandidat lain. Pertimbangan tersebut membantu memastikan bahwa keputusan pencalonan sesuai dengan kebutuhan tiap daerah, bukan dibuat seragam tanpa memperhatikan karakter pemilih maupun persaingan setempat. Dengan demikian, figur eksternal dapat dipertimbangkan jika memang membawa nilai tambah yang relevan.

Penguatan figur, menurut pesan Rio, juga perlu berjalan beriringan dengan pembenahan struktur organisasi dan konsolidasi kader. Kandidat yang dikenal luas tidak akan cukup menopang kerja politik apabila jaringan partai di tingkat daerah belum solid atau koordinasi internal belum berjalan baik. Sebaliknya, organisasi yang tertata dapat membantu setiap calon menjangkau masyarakat dan mengubah dukungan menjadi kerja politik yang berkelanjutan. Partai pun tidak semestinya menggantungkan masa depannya pada popularitas satu orang. Organisasi perlu tetap kokoh ketika figur berganti, dengan kader, struktur, dan konsolidasi yang menjaga kesinambungan perjuangan menuju Pemilu 2029.

Konsolidasi nasional Hanura di Sulawesi Selatan menjadi ruang bagi pengurus untuk menyamakan langkah dalam menghadapi agenda politik mendatang. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta anggota DPRD tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Kehadiran berbagai unsur organisasi itu memperlihatkan bahwa pembahasan tidak hanya berfokus pada tingkat provinsi, tetapi juga melibatkan struktur dan perwakilan partai di daerah.

Kunjungan Tim Task Force DPP Hanura ke Sulawesi Selatan merupakan agenda konsolidasi yang ke-24. Dalam rangkaian tersebut, penguatan organisasi dibahas bersamaan dengan upaya partai menyiapkan diri menghadapi Pemilu 2029. Salah satu langkah yang disoroti ialah menjajaki tokoh-tokoh potensial dari luar partai untuk diajak bergabung. Penjaringan ini menjadi bagian dari strategi memperluas dukungan dan menambah kapasitas organisasi di wilayah tersebut.

Ketua DPD Hanura Sulawesi Selatan, Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, menyampaikan bahwa pihaknya telah memantau sejumlah tokoh yang dinilai potensial. Pendekatan kepada mereka, menurutnya, dilakukan secara kekeluargaan dengan mengajak para tokoh untuk menjadi bagian dari Hanura. Upaya tersebut tidak sekadar diarahkan pada penambahan nama atau figur, tetapi juga dimaksudkan untuk memperkuat kerja organisasi serta mendorong pencapaian politik yang lebih baik.

Penjajakan tokoh eksternal itu ditujukan untuk memperkuat struktur dan daya kerja Hanura di Sulawesi Selatan, sekaligus meningkatkan perolehan kursi pada Pemilu 2029. Kondisi kursi saat ini menjadi salah satu latar dalam menetapkan sasaran tersebut. Hanura Sulawesi Selatan memiliki satu kursi di DPRD provinsi dan 20 kursi di DPRD kabupaten/kota. Dengan keadaan itu, konsolidasi dan upaya merangkul figur baru ditempatkan sebagai bagian dari persiapan untuk membangun dukungan yang lebih luas. Pengurus daerah diharapkan dapat mengembangkan komunikasi dengan tokoh potensial, sambil menjaga koordinasi tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Langkah tersebut menjadi ikhtiar partai dalam memperkuat organisasi sekaligus menyiapkan peningkatan representasi pada pemilu mendatang.

Ketua DPD Partai Hanura Sulawesi Selatan, Rio, menyampaikan bahwa partainya membidik satu hingga dua kursi DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan pada Pemilu 2029. Sasaran tersebut menjadi salah satu arah kerja organisasi dalam menghadapi kontestasi mendatang. Untuk mencapainya, Hanura menyiapkan dua jalur yang berjalan beriringan: memperkuat mesin politik dan menuntaskan kepengurusan partai hingga tingkat kecamatan. Keduanya dipandang sebagai bagian dari persiapan yang perlu dilakukan sejak dini, bukan sekadar agenda menjelang pemungutan suara.

Penguatan mesin politik diarahkan untuk memantapkan kesiapan partai dalam menjangkau masyarakat dan menjalankan kegiatan politik di wilayahnya. Di sisi organisasi, penyelesaian kepengurusan di berbagai tingkatan diharapkan membuat struktur Hanura lebih lengkap dan terkoordinasi. Kehadiran pengurus hingga kecamatan menjadi sasaran penting agar kerja partai dapat menjangkau wilayah secara lebih merata. Dalam kerangka tersebut, DPD Hanura Sulawesi Selatan menempatkan pembentukan pengurus anak cabang atau PAC sebagai salah satu pekerjaan yang perlu dituntaskan.

DPD Hanura Sulawesi Selatan menargetkan pembentukan PAC di seluruh kecamatan dapat dirampungkan dalam waktu sekitar enam bulan. Target ini merupakan rencana organisasi yang disampaikan partai, bukan capaian yang telah dipastikan selesai. Proses pembentukan kepengurusan tersebut menjadi bagian dari upaya konsolidasi, sekaligus melengkapi penguatan mesin politik yang disiapkan untuk Pemilu 2029. Dengan demikian, dua jalur persiapan yang disebut Rio mencakup pembangunan struktur sampai tingkat kecamatan dan penguatan kerja politik partai. Hanura menempatkan upaya konsolidasi itu sebagai landasan untuk mengejar sasaran elektoral di Sulawesi Selatan. Sasaran yang disampaikan Rio adalah memperoleh satu hingga dua kursi DPR RI dari Sulawesi Selatan pada Pemilu 2029.

Baca juga: Perkuat OMC, TNI Siapkan Tambahan Tiga Pesawat Khusus Penyemai Udara | Hanura Perkuat Kader dan Struktur Partai untuk Menembus Parlemen pada 2029 | Bank Mandiri Perkuat Layanan Digital, Emas, dan Interaksi Nasabah