Happy Salma Menjaga Nyala Seni Tradisi dan Kisah Sunda

oleh -72 Dilihat
oleh
Happy Salma Menjaga Nyala Seni Tradisi dan Kisah Sunda

Bandung | Selama 19 tahun berkarya, sekitar 80 persen pertunjukan Happy Salma berangkat dari adaptasi karya sastra Indonesia ke panggung. Pilihan tersebut menunjukkan perhatian yang konsisten terhadap cerita dan pemikiran yang tumbuh dari khazanah sastra di negeri ini. Bagi Happy, karya sastra menyediakan bahan untuk diolah menjadi pengalaman pertunjukan sekaligus membuka jalan agar kisah-kisah Indonesia dapat dijumpai oleh penonton melalui medium teater. Proses pengalihwahanaan itu bukan sekadar memindahkan cerita ke panggung, tetapi juga menghadirkan kembali gagasan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, sastra menjadi salah satu pijakan utama dalam perjalanan artistiknya selama hampir dua dekade.

Sisa porsi pertunjukannya memberi ruang bagi eksplorasi lintas disiplin. Meski bentuk dan pendekatannya dapat beragam, eksplorasi tersebut tetap berpijak pada budaya. Keragaman medium tidak berarti meninggalkan akar; sebaliknya, berbagai cara berkarya dapat menjadi jalan untuk menafsirkan dan merawat nilai yang diwariskan. Pandangan itu berkaitan dengan pemaknaan Happy terhadap budaya, yakni bukan hanya kesenian atau tradisi yang tampak, melainkan juga budi pekerti. Budaya, dalam pengertian tersebut, hidup melalui sikap, cara memperlakukan sesama, dan nilai yang dijalankan dalam keseharian. Seni dapat menjadi ruang untuk menjaga hubungan warisan, kehidupan sekarang, dan generasi yang akan datang.

Happy menyampaikan pandangan tersebut di Bumi Sangkuriang pada Sabtu (17/10/2026). Ia ingin terus memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya serta meneruskan warisan leluhur. Keinginan itu menempatkan kerja seni sebagai bagian dari upaya yang lebih luas: menjaga agar nilai dan pengetahuan tidak terputus, sekaligus memberi ruang bagi keduanya untuk terus dimaknai. Adaptasi sastra maupun eksplorasi lintas disiplin dapat mengambil peran dalam usaha tersebut selama tetap berakar pada budaya. Bagi Happy, meneruskan warisan bukan berarti mengulang bentuk lama tanpa perubahan. Yang penting adalah menjaga budi pekerti dan makna yang diwariskan, lalu menghadirkannya kembali dengan cara yang dapat berbicara kepada masyarakat masa kini.

Dalam beberapa tahun terakhir, Happy Salma terlibat dalam pengembangan pertunjukan yang berangkat dari seni tradisi. Keterlibatan tersebut mempertemukan kisah, bentuk pertunjukan, dan kerja para seniman dari berbagai daerah. Tradisi tidak hanya menjadi latar atau rujukan, tetapi juga menjadi sumber penciptaan yang diolah bersama melalui proses kolaboratif. Lewat keterlibatannya, Happy turut menjaga agar kekayaan budaya dapat hadir di panggung masa kini, sekaligus membuka ruang bagi penonton untuk mengenal kembali cerita dan ekspresi seni yang tumbuh dari masyarakat setempat.

Salah satu karya yang menunjukkan pendekatan tersebut adalah Sudamala: Epilog Calonarang. Pertunjukan ini dikerjakan bersama para seniman di Bali dan Taksu Ubud, dengan proses yang berangkat dari keterhubungan pada tradisi setempat. Kolaborasi menjadi bagian penting dalam pembentukan karya, sebab para seniman membawa pengetahuan dan pengalaman yang berbeda ke dalam proses penciptaan. Setelah digarap di Bali, pertunjukan ini dibawa ke Solo, termasuk ke Mangkunegaran dan Gedung Arsip. Perjalanan antarlokasi itu mempertemukan karya dengan ruang dan konteks yang berbeda, tanpa melepaskan kaitannya dengan akar tradisi yang menjadi sumbernya.

Di Bandung, Happy juga terlibat dalam pementasan Kembang Bale di NuArt Sculpture Park. Karya tersebut diproduksi oleh Titimangsa bersama produser Pradetya Novitri dan disutradarai Heliana Sinaga. Keterlibatan para penggerak kreatif ini menegaskan sifat kerja pertunjukan yang dibangun secara kolektif, dari pengelolaan produksi hingga pengarahan artistik. NuArt Sculpture Park menjadi ruang bagi pementasan untuk bertemu dengan penonton dalam lingkungan seni yang khas. Bersama Sudamala: Epilog Calonarang, Kembang Bale memperlihatkan perhatian Happy pada karya yang bersumber dari tradisi, sekaligus pada kolaborasi dengan seniman dan pelaku budaya di berbagai tempat.

Dalam membicarakan karya-karya yang mengangkat kisah Sunda, Happy Salma menyebut Citraresmi dan Pitaloka sebagai bagian dari pilihan cerita yang ia perhatikan. Penyebutan kedua nama tersebut menunjukkan adanya perhatian pada kisah yang tumbuh dari lingkungan budaya Sunda, sekaligus pada kemungkinan menghadirkannya kembali kepada khalayak melalui seni. Cerita-cerita semacam ini tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai bahan yang dapat terus dibicarakan dalam kehidupan sekarang. Bagi Happy, kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu alasan penting untuk mengangkat kisah-kisah tersebut.

Kedekatan itu berkaitan dengan hubungan cerita, lingkungan budaya, dan pengalaman orang yang menerimanya. Kisah Sunda dapat terasa akrab karena berangkat dari latar yang dikenal, menggunakan ingatan budaya yang hidup, serta menyentuh persoalan yang dapat dipahami lintas generasi. Dengan demikian, upaya membawa cerita ke ruang pertunjukan bukan semata-mata soal memperkenalkan kembali sebuah judul. Ia juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berjumpa dengan kisah yang memiliki kaitan dengan kehidupan dan identitas mereka. Pandangan ini menempatkan seni tradisi sebagai sesuatu yang tetap memiliki ruang dalam percakapan masa kini.

Selain Citraresmi dan Pitaloka, Happy Salma juga menyebut alih wahana buku Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H. Buku tersebut berkisah tentang Inggit Garnasih, dan pengalihwahanaannya memperlihatkan perhatian pada kisah tokoh yang hadir dalam ingatan masyarakat. Penyebutan karya ini berdampingan dengan cerita Sunda lainnya, meskipun sumbernya berupa buku dan kisahnya berpusat pada Inggit. Perbedaan bentuk asal tidak meniadakan kemungkinan sebuah cerita untuk menjangkau penonton melalui medium yang berbeda. Bagi Happy, cerita-cerita yang dekat dengan masyarakat layak terus dihadirkan dan dirawat. Citraresmi, Pitaloka, serta Kuantar ke Gerbang menjadi contoh karya yang disebutnya dalam kaitan dengan upaya membawa kisah budaya dan tokoh kepada khalayak. Tanpa perlu mengubah isi atau menambahkan rincian tentang pementasannya, perhatian pada karya-karya tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga hubungan seni dan kisah yang dikenal masyarakat.

Menurut Happy Salma, kegiatan Lestari Tradisi pada era 1980-an di Selabintana, Sukabumi, membawa dampak yang terasa pada kehidupan seni. Semangat berkesenian yang sebelumnya sempat redup kembali menyala. Perubahan itu bukan sekadar hadirnya sebuah kegiatan, melainkan tumbuhnya dorongan untuk kembali berkarya dan memberi ruang bagi kesenian tradisi untuk bergerak. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pertemuan dengan seni dapat membangkitkan perhatian dan gairah yang sempat melemah. Dalam cerita Happy, nyala itu kemudian tampak melalui respons para seniman yang terdorong untuk menciptakan karya baru.

Para seniman terinspirasi oleh era 1980-an dan mulai menyusun koreografi baru. Inspirasi tersebut menjadi titik berangkat bagi mereka untuk mengolah gerak dan gagasan ke dalam bentuk pertunjukan, dengan tetap berpijak pada semangat berkesenian yang tumbuh kembali. Lestari Tradisi, dalam pengalaman yang dikenang Happy, menjadi pemantik bagi proses kreatif itu. Kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah pengalaman bersama dapat membuka kemungkinan bagi seniman untuk mengeksplorasi karya, sekaligus merawat hubungan dengan kesenian yang mereka hidupi. Sejumlah kawan kemudian diberangkatkan ke Osaka Expo. Informasi ini menjadi bagian dari kisah perjalanan tersebut, tanpa perlu menambahkan keterangan lain mengenai siapa mereka ataupun peran yang dijalankan di sana.

Bagi Titimangsa, seni tradisi memiliki tujuan yang melampaui pertunjukan. Melalui seni, ikatan orang Sunda dengan keseniannya diharapkan dapat dikuatkan kembali. Ikatan itu berkaitan dengan rasa memiliki, pengalaman bersama, dan hubungan antargenerasi yang terjalin melalui kebudayaan. Mengingat kesenian juga berarti mengenang kebersamaan dan persahabatan yang menyertai perjalanan hidup masyarakat. Pada saat yang sama, seni tradisi membuka jalan untuk mengingat asal-usul: dari mana seseorang berasal, nilai apa yang diwariskan, serta bagaimana hubungan dengan akar budaya dapat terus dijaga.

Baca juga: Lestari Tradisi Bandung Hidupkan Kembali Pop Sunda Era 1990-an | Anggaran Rp10,6 Miliar untuk Menjaga Jalan Nasional Blora–Rembang