Kota Tangerang Selatan | Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel air yang digunakan warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar bakteri pada sejumlah sampel berada pada tingkat tinggi. Salah satu hasil tercatat mencapai 955, termasuk sampel air dari rumah Rizky Dewantoro di Blok A.
Pemeriksaan juga mencatat perbedaan angka pada sampel yang diambil dari lokasi lain. Sampel air dari rumah di Blok B1/11 menunjukkan kadar E. coli sebesar 660. Sementara itu, hasil uji terhadap air dari reservoir mencatat angka 14. Angka-angka tersebut disampaikan dalam rangkaian pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan terhadap air yang digunakan pelanggan di perumahan tersebut.
Fitria Oriza, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tangsel, menjelaskan bahwa kadar ideal E. coli dalam air adalah nol. Dengan demikian, temuan bakteri pada sampel menunjukkan bahwa air yang diperiksa belum memenuhi kondisi ideal tersebut. Fitria juga menyatakan bahwa air yang disalurkan kepada pelanggan tidak layak digunakan.
Temuan pemeriksaan ini menjadi perhatian karena sampel berasal dari air yang digunakan di lingkungan hunian, termasuk air dari rumah warga dan reservoir. Perbedaan angka antarsampel tercatat dalam hasil pengujian, tetapi informasi yang tersedia tidak merinci penyebab variasi tersebut. Keterangan mengenai kadar ideal dan kelayakan air disampaikan oleh pihak Dinas Kesehatan sebagai bagian dari penjelasan atas hasil pemeriksaan.
Hasil tersebut disampaikan pada Sabtu (17/10/2026). Data pemeriksaan mencakup angka 955 pada sampel dari rumah Rizky Dewantoro di Blok A, 660 pada sampel rumah di Blok B1/11, serta 14 pada sampel dari reservoir. Dinas Kesehatan menyebut kadar yang seharusnya terdapat dalam air adalah nol, dan menyatakan air yang disalurkan kepada pelanggan tidak layak digunakan.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menyarankan agar penggunaan sementara air yang dipasok PT Arfa Putra Soegama kepada pelanggan di Serpong Lagoon dihentikan. Anjuran tersebut disampaikan setelah pemeriksaan menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam air, dengan jumlah yang dilaporkan mencapai ratusan. Hasil itu menjadi perhatian karena air yang digunakan warga sehari-hari perlu memenuhi persyaratan kesehatan dan aman bagi kebutuhan rumah tangga.
Rekomendasi penghentian sementara dimaksudkan sebagai langkah kewaspadaan selama persoalan kualitas air ditangani. Dinkes mengingatkan bahwa air yang terkontaminasi dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan, terutama bila tetap digunakan untuk keperluan yang memungkinkan air tertelan atau bersentuhan dengan tubuh. Karena itu, warga disarankan untuk tidak mengabaikan hasil pemeriksaan dan mengikuti imbauan kesehatan terkait penggunaan pasokan tersebut. Anjuran ini merupakan rekomendasi, bukan keterangan bahwa penghentian pasokan atau pemakaian telah dilakukan.
Fitria menyampaikan, apabila air itu tetap digunakan, jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan dapat bertambah. Keluhan yang disebutkan meliputi mual, muntah, pusing, diare, hingga demam tinggi. Gejala tersebut perlu diperhatikan, khususnya jika muncul setelah seseorang menggunakan air dari pasokan yang terdampak. Warga yang merasakan keluhan disarankan mencari bantuan tenaga kesehatan, sementara pemantauan atas kondisi masyarakat dan kualitas air menjadi hal penting untuk mencegah risiko yang lebih luas.
Untuk memenuhi kebutuhan minum, warga dianjurkan menggunakan air kemasan yang higienis. Pilihan ini menjadi langkah sementara agar konsumsi air tetap terjaga selama ada kekhawatiran atas kontaminasi. Warga juga sebaiknya mencermati informasi resmi dari Dinas Kesehatan dan pihak terkait mengenai hasil pemeriksaan serta tindak lanjutnya. Sampai terdapat informasi yang memastikan kualitas pasokan aman, anjuran untuk menghentikan sementara penggunaan air tersebut perlu dipahami sebagai upaya perlindungan kesehatan, bukan sebagai kepastian bahwa seluruh pelanggan telah berhenti menggunakannya.
Fitria meminta pengelola melakukan pemeriksaan dan perbaikan teknis sebelum distribusi air kembali dijalankan. Salah satu perhatian utama ialah memastikan kadar sisa klor bebas tetap sesuai persyaratan teknis pada jam-jam distribusi. Pengukuran tidak cukup dilakukan hanya di instalasi pengolahan, tetapi perlu mencakup titik terjauh dalam jaringan, termasuk sambungan rumah. Pemeriksaan di lokasi tersebut membantu memastikan air yang diterima pelanggan masih memiliki kadar disinfektan yang memadai sepanjang proses penyaluran.
Pengelola juga perlu menelusuri kondisi jaringan perpipaan, khususnya bagian yang berdekatan dengan saluran limbah maupun septic tank. Pemeriksaan ini ditujukan untuk menemukan kemungkinan kerusakan, kebocoran, atau jalur masuk kontaminan yang dapat memengaruhi mutu air. Selain evaluasi jaringan, kualitas air baku perlu diuji secara rutin. Pengujian dilakukan terhadap parameter kimia dan mikrobiologi agar perubahan mutu dapat diketahui dan ditangani sebelum air didistribusikan kepada warga.
Di luar pengujian laboratorium, pemantauan operasional harian perlu mencakup pH, total dissolved solids (TDS), dan sisa klor. Catatan hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi pengelola untuk menilai kestabilan proses pengolahan serta menentukan tindakan korektif jika ditemukan penyimpangan. Pengawasan berkala terhadap parameter tersebut melengkapi pemeriksaan kimia dan mikrobiologi, bukan menggantikannya. Dengan demikian, penilaian terhadap mutu air mempertimbangkan kondisi sumber, proses pengolahan, dan kualitas air pada jaringan distribusi.
Penyaluran melalui instalasi pengolahan air (WTP) dapat kembali beroperasi setelah hasil laboratorium menunjukkan bahwa air telah memenuhi persyaratan. Selain itu, perbaikan teknis harus diverifikasi oleh perangkat daerah Kota Tangerang Selatan sebelum pengoperasian kembali dilakukan. Selama proses pemeriksaan dan tindak lanjut berlangsung, warga diimbau rutin membersihkan tandon air di rumah. Air yang terdampak juga tidak digunakan untuk memasak, mandi, ataupun menyikat gigi. Warga sebaiknya mengikuti informasi resmi mengenai hasil pengujian dan waktu aman penggunaan air.
PT Arfa Putra Soegama, perusahaan yang disebut sebagai penjual jaringan air di Serpong Lagoon, menyampaikan tanggapan berbeda mengenai hasil pemeriksaan kualitas air. Perusahaan menyatakan telah melakukan pengujian di laboratorium dan mengklaim kadar E. coli dalam air berada di bawah angka 150. Pernyataan tersebut tidak sejalan dengan angka-angka sampel yang sebelumnya disampaikan Dinas Kesehatan. Perbedaan hasil itu menjadi bagian penting dari informasi yang tersedia, tetapi keterangan mengenai metode, waktu, maupun titik pengambilan sampel tidak dijelaskan dalam bahan sumber. Karena itu, klaim perusahaan dan hasil yang dipaparkan dinas perlu disampaikan sebagai keterangan masing-masing pihak, bukan dianggap sebagai hasil yang telah diselaraskan atau dipastikan setara.
Perusahaan juga menyebut mutu air baku mengalami penurunan akibat musim kemarau. Menurut klaim PT Arfa Putra Soegama, kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas air yang disalurkan ke kawasan Serpong Lagoon. Namun, keterangan yang tersedia tidak memerinci perubahan parameter air baku, durasi dampak kemarau, ataupun data pengujian yang mendasari penjelasan tersebut. Informasi ini merupakan penjelasan dari pihak perusahaan dan tidak dengan sendirinya menetapkan bahwa musim kemarau menjadi penyebab kontaminasi yang terdeteksi. Untuk memahami kaitannya, diperlukan rincian pemeriksaan dan penjelasan teknis yang dapat dibandingkan, tetapi rincian semacam itu tidak tercantum dalam bahan sumber yang menjadi dasar bagian ini.
Dalam menjelaskan kemungkinan lokasi kontaminasi, PT Arfa Putra Soegama mengklaim bahwa E. coli berasal dari jaringan pipa menuju rumah pelanggan. Klaim tersebut disampaikan sebagai tanggapan perusahaan, bukan sebagai kesimpulan independen mengenai sumber kontaminasi. Bahan sumber tidak memberikan keterangan yang cukup untuk menentukan apakah dugaan itu telah dibuktikan melalui penelusuran jaringan, pemeriksaan lanjutan, atau pengujian pada titik-titik berbeda. Dengan demikian, klaim tentang penurunan mutu air baku dan asal kontaminasi dari pipa tetap perlu dipisahkan dari hasil sampel yang disampaikan Dinas Kesehatan.



































