Jalur Arteri Kelapa Gading Ditargetkan Rampung Sebelum Juni 2027

oleh -48 Dilihat
oleh
Jalur Arteri Kelapa Gading Ditargetkan Rampung Sebelum Juni 2027

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau perkembangan proyek jalan tembus Pulogadung–Kelapa Gading di Jakarta Timur. Dalam peninjauan tersebut, ia menegaskan target penyelesaian jalur yang dikenal sebagai arteri Kelapa Gading itu paling lambat sebelum Juni 2027. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mendorong percepatan pekerjaan agar pembangunan konektivitas tersebut dapat segera dimanfaatkan masyarakat.

Jalur tembus ini memiliki panjang sekitar 1,8 kilometer dan diproyeksikan menjadi salah satu akses alternatif untuk mendukung pergerakan kendaraan di kawasan Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Kehadiran jalan tersebut diharapkan membantu mengurangi kepadatan lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, yang selama ini menjadi salah satu ruas penting sekaligus titik dengan beban kendaraan cukup tinggi.

Pramono menyampaikan bahwa proyek tersebut telah lama tertunda sehingga pelaksanaannya perlu dikawal secara lebih serius. Ia meminta agar proses pembangunan berjalan sesuai tahapan dan tidak kembali mengalami keterlambatan. Penegasan itu disampaikan untuk memastikan target waktu yang telah ditetapkan dapat dipenuhi, sekaligus memberikan kepastian bagi warga dan pengguna jalan yang akan merasakan manfaatnya.

Percepatan proyek jalan tembus Pulogadung–Kelapa Gading juga dipandang penting karena dapat memperkuat hubungan antarkawasan. Selain menyediakan pilihan rute baru, jalur ini berpotensi membagi arus kendaraan yang kini terkonsentrasi di Jalan Perintis Kemerdekaan. Dengan demikian, penyelesaiannya diharapkan tidak hanya memperbaiki aksesibilitas, tetapi juga mendukung kelancaran mobilitas harian masyarakat.

Pemerintah daerah kini perlu memastikan koordinasi pembangunan berlangsung konsisten hingga seluruh pekerjaan selesai. Target sebelum Juni 2027 menjadi batas waktu yang harus dijaga agar proyek tidak kembali tertunda. Pramono menekankan bahwa pengalaman penundaan sebelumnya tidak boleh terulang, sehingga setiap tahapan pembangunan perlu dipantau secara berkala sampai arteri Kelapa Gading dapat dibuka dan digunakan secara optimal.

Proyek jalur arteri yang menghubungkan Pulogadung dan Kelapa Gading telah direncanakan sejak 2006. Namun, pelaksanaannya mengalami berbagai dinamika sejak 2009, sehingga pembangunan tersebut belum sepenuhnya terselesaikan. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa proyek ini merupakan bagian dari rencana lama yang masih menjadi perhatian pemerintah hingga saat ini.

Gubernur DKI Jakarta Pramono menyatakan telah meminta Dinas Bina Marga untuk memprioritaskan proyek-proyek yang belum selesai, tetapi dinilai memiliki manfaat besar bagi mobilitas kota. Instruksi tersebut menempatkan penyelesaian proyek lama sebagai salah satu perhatian dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Pemerintah tidak hanya memusatkan perhatian pada rencana baru, tetapi juga mendorong penuntasan pekerjaan yang sebelumnya telah direncanakan.

Jalan tembus Pulogadung–Kelapa Gading disebut sebagai salah satu proyek yang harus dituntaskan berdasarkan arahan tersebut. Proyek ini disebut bersama proyek yang berada di kawasan Pasar Minggu. Keduanya menjadi bagian dari proyek lama yang kembali diprioritaskan untuk diselesaikan. Keterangan Pramono menegaskan fokus pemerintah terhadap proyek-proyek yang belum rampung dan memiliki manfaat besar bagi mobilitas kota. Dengan demikian, riwayat jalur arteri tersebut tidak hanya berkaitan dengan perencanaan sejak 2006 dan dinamika yang berlangsung sejak 2009, tetapi juga dengan kebijakan untuk menuntaskan pembangunan yang telah lama berjalan. Arahan kepada Dinas Bina Marga menjadi dasar bagi penempatan proyek Pulogadung–Kelapa Gading dalam daftar pekerjaan yang perlu mendapat perhatian dan penyelesaian.

Pekerjaan di kawasan Kelapa Gading tidak hanya diarahkan pada pembangunan jalan tembus sebagai bagian dari percepatan jalur arteri. Penataan kawasan juga mencakup pembenahan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang berada di sekitar koridor tersebut. Langkah ini diperlukan agar pembangunan infrastruktur berjalan seiring dengan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan serta mendukung aktivitas warga yang menggunakan kawasan Kelapa Gading setiap hari.

Pramono menyoroti kondisi sejumlah ruas jalan yang masih bergelombang. Permukaan jalan yang tidak rata menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani dalam rangkaian penataan tersebut. Perhatian juga diberikan pada kawasan Bundaran Kelapa Gading, yang sebelumnya mengalami masalah pada kondisi jalannya. Pembenahan tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan teknis untuk memperbaiki permukaan jalan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menata konektivitas dan kenyamanan di area yang memiliki intensitas pergerakan tinggi.

Di tengah pengerjaan perbaikan dan penataan fasilitas, pemerintah juga sedang menangani fenomena banjir baru yang muncul di kawasan Kelapa Gading. Persoalan genangan tersebut menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan bersamaan dengan pembangunan jalur arteri. Penanganannya berlangsung dalam konteks penataan kawasan secara lebih luas, sehingga pekerjaan jalan, fasilitas umum, fasilitas sosial, serta pengelolaan air tidak dipisahkan dari kondisi lapangan yang dihadapi masyarakat.

Dengan demikian, percepatan proyek arteri berjalan bersamaan dengan berbagai pekerjaan pendukung di sekitarnya. Pemerintah menempatkan perbaikan ruas jalan yang bergelombang, penanganan area Bundaran Kelapa Gading, serta respons terhadap banjir baru sebagai bagian dari agenda yang saling berkaitan. Rangkaian pekerjaan tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap kawasan tidak terbatas pada penyelesaian jalur penghubung, melainkan juga mencakup fasilitas dan persoalan lingkungan yang menyertainya selama proses penataan berlangsung.

Kepala Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta, Heru Suwondo, menjelaskan bahwa sebagian trase jalur arteri Kelapa Gading sudah dapat dimanfaatkan meskipun pekerjaan secara keseluruhan belum selesai. Kondisi operasional sementara tersebut memungkinkan kendaraan melintas pada ruas yang telah rampung dan tersambung, terutama kendaraan yang bergerak dari arah barat menuju utara.

Untuk mendukung kelancaran perjalanan selama tahap pembangunan, ruas utara–selatan sementara digunakan sebagai jalur dua arah. Pengaturan ini dilakukan agar koneksi antarruas tetap berfungsi sebelum seluruh elemen jalan diselesaikan. Dengan demikian, masyarakat sudah dapat menggunakan sebagian jalur berdasarkan segmen yang tersedia, walaupun pola lalu lintas dan kapasitasnya belum sepenuhnya seperti kondisi akhir yang direncanakan.

Heru menerangkan bahwa keberfungsian sebagian koneksi tersebut tidak berarti seluruh proyek telah beroperasi secara penuh. Masih terdapat pekerjaan yang perlu diselesaikan pada trase dan bagian pendukung lainnya. Fungsi penuh sesuai perencanaan teknis ditargetkan mulai berjalan pada tahun depan. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan jalur arteri dapat digunakan secara lebih terintegrasi, aman, dan mendukung pembagian arus kendaraan di kawasan Kelapa Gading.

Selain menyelesaikan konstruksi, pengembangan jalur ini disiapkan untuk memperkuat konektivitas transportasi publik dan jaringan jalan di sekitarnya. Jalur arteri tersebut nantinya akan mendukung akses menuju rencana stasiun MRT Perintis yang berada di depan Terminal Pulogadung. Kehadiran koneksi ini diharapkan memudahkan perpindahan perjalanan jaringan jalan dan layanan angkutan massal ketika fasilitas tersebut direalisasikan.

Lokasinya juga berada di sekitar jalan tol yang menghubungkan Kelapa Gading dan Pulogebang. Posisi tersebut membuat jalur arteri memiliki peran penting dalam menghubungkan kawasan permukiman, pusat kegiatan, terminal, serta jaringan jalan tol. Pemanfaatan sementara pada ruas yang telah selesai menjadi tahap awal sebelum seluruh konektivitas bekerja sesuai rancangan teknis dan target penyelesaian proyek.