Jejak Capt. Nazahar Naamin dalam Perjalanan Kontainerisasi Pelabuhan Indonesia

oleh -49 Dilihat
oleh
Jejak Capt. Nazahar Naamin dalam Perjalanan Kontainerisasi Pelabuhan Indonesia

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) meresmikan Gedung Serbaguna Capt. Naamin di Jakarta Utara pada Kamis, 8 Oktober 2026. Peresmian ini menandai upaya untuk mengabadikan nama dan pengabdian Capt. Nazahar Naamin, sosok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan kepelabuhanan Indonesia. Penamaan gedung tersebut tidak sekadar menjadi identitas bagi sebuah fasilitas, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi insan pelabuhan yang telah bekerja pada masa awal perubahan sistem layanan di Tanjung Priok.

Capt. Nazahar Naamin dikenal sebagai salah satu insan pelabuhan yang terlibat dalam fase awal peralihan Tanjung Priok menuju era kontainerisasi. Perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan pelabuhan Indonesia, seiring kebutuhan terhadap proses bongkar muat yang lebih teratur, efisien, dan sesuai dengan dinamika perdagangan modern. Dalam konteks itu, jejak pengabdian Capt. Naamin merepresentasikan peran generasi terdahulu yang ikut membangun fondasi bagi perkembangan industri kepelabuhanan nasional.

Pemberian nama Gedung Serbaguna Capt. Naamin juga membawa pesan lintas generasi. Penghormatan tersebut menghubungkan pengalaman dan dedikasi para pelaku sejarah pelabuhan dengan tantangan yang dihadapi insan pelabuhan pada masa kini. Dengan mengenang kontribusi tokoh yang berada dalam fase awal kontainerisasi, JICT turut mendorong agar nilai ketekunan, profesionalisme, dan pengabdian terus diteruskan oleh generasi berikutnya.

Di tengah perkembangan pelabuhan yang semakin dinamis, pengenalan terhadap sejarah memiliki arti strategis. Kisah Capt. Naamin dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi baru insan pelabuhan Indonesia mengenai pentingnya peran manusia dalam setiap tahap perubahan. Peresmian gedung ini pun menjadi penanda bahwa kemajuan infrastruktur dan layanan pelabuhan perlu berjalan seiring dengan penghargaan terhadap mereka yang telah meletakkan dasar bagi perjalanan tersebut.

Pada awal dekade 1970-an, operasional pelabuhan Indonesia berada dalam masa perubahan penting. Sebagian besar kegiatan bongkar muat masih mengandalkan pola konvensional, dengan muatan yang ditangani secara satuan, menggunakan tenaga kerja dan peralatan yang belum dirancang khusus untuk arus peti kemas. Pada masa itu, peti kemas belum menjadi wajah utama pelabuhan nasional. Namun, pertumbuhan perdagangan dan kebutuhan mempercepat distribusi barang mulai mendorong perubahan menuju sistem yang lebih terstandar, terukur, dan terintegrasi.

Di Tanjung Priok, perubahan tersebut berlangsung melalui pengembangan terminal peti kemas serta penyesuaian bertahap terhadap infrastruktur, peralatan, tata ruang, dan prosedur pelayanan. Peralihan dari kargo konvensional ke sistem kontainerisasi tidak sekadar mengganti cara memindahkan barang. Pelabuhan juga harus membangun pola operasi baru, menyiapkan sumber daya manusia, memperkenalkan teknologi pendukung, dan menyelaraskan hubungan kapal, lapangan penumpukan, gudang, serta jaringan transportasi darat. Proses ini menuntut kepemimpinan yang mampu memahami kebutuhan teknis sekaligus mengelola perubahan organisasi.

Sejak 1973, Capt. Nazahar Naamin bertugas di unit terminal container Tanjung Priok. Penugasan tersebut menempatkannya pada salah satu fase awal pengembangan kontainerisasi di Indonesia. Dalam peran sebagai kepala unit terminal peti kemas, ia berada di lingkungan yang tengah merumuskan standar kerja, membentuk kebiasaan operasional, dan mengembangkan kapasitas pelayanan. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan awal ketika sistem peti kemas mulai memperoleh tempat dalam kegiatan pelabuhan nasional.

Perjalanan kepemimpinannya kemudian berlanjut sebagai kepala cabang Pelabuhan Tanjung Priok, sebelum dipercaya menjabat direktur usaha Pelindo II. Urutan tanggung jawab tersebut memperlihatkan perkembangan pengalaman Capt. Naamin dari pengelolaan unit operasional menuju pengawasan pelabuhan secara lebih luas dan pengambilan keputusan pada tingkat korporasi. Setiap tahap berlangsung ketika perdagangan berbasis peti kemas terus berkembang, sementara sistem, infrastruktur, teknologi, dan pola kerja pelabuhan masih menyesuaikan diri. Karena itu, kiprahnya tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan fondasi operasional Tanjung Priok pada era awal kontainerisasi.

Lebih dari lima dekade setelah fase awal kontainerisasi diperkenalkan di Indonesia, operasi terminal peti kemas telah mengalami perubahan besar, baik dari sisi skala maupun kompleksitas. Perkembangan arus perdagangan, meningkatnya ukuran kapal, serta tuntutan efisiensi telah mendorong terminal untuk mengembangkan infrastruktur dan tata kelola yang semakin terintegrasi. Dalam konteks tersebut, Jakarta International Container Terminal (JICT) kini memiliki kapasitas layanan lebih dari 2 juta TEUs per tahun. Angka ini mencerminkan transformasi panjang dari sistem pelabuhan konvensional menuju operasi terminal modern yang berorientasi pada kecepatan, ketepatan, keselamatan, dan konektivitas.

Penguatan JICT tidak berhenti pada peningkatan kapasitas. Agenda pengembangan terminal mencakup modernisasi peralatan, digitalisasi proses operasional, penguatan ketahanan operasi, pengembangan sumber daya manusia, serta penerapan konsep green terminal. Modernisasi peralatan diperlukan untuk menjaga produktivitas dan keandalan layanan, sementara digitalisasi mendukung pengambilan keputusan berbasis data serta meningkatkan visibilitas arus barang. Pada saat yang sama, aspek keberlanjutan dan ketahanan menjadi semakin penting dalam menghadapi gangguan rantai pasok, perubahan regulasi, dan tuntutan pengurangan dampak lingkungan.

Direktur Utama JICT, Ade Hartono, memandang terminal modern saat ini sebagai hasil dari perjalanan panjang yang dibangun lintas generasi, bukan pencapaian yang muncul secara seketika. Setiap periode menghadirkan persoalan dan tanggung jawab yang berbeda. Generasi terdahulu menghadapi fase kelahiran kontainerisasi, ketika pelabuhan perlu menyesuaikan infrastruktur, pola kerja, dan kompetensi untuk menerima sistem baru. Generasi masa kini menghadapi tantangan yang lebih berlapis, meliputi digitalisasi, otomasi, keberlanjutan, ketahanan operasi, serta perubahan rantai pasok global. Perbedaan tantangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan pelabuhan merupakan proses berkelanjutan. Warisan pengalaman dari masa lalu menjadi dasar untuk membangun terminal yang lebih adaptif, efisien, tangguh, dan bertanggung jawab pada masa depan.

Pengabadian nama Capt. Nazahar Naamin pada salah satu gedung di lingkungan Jakarta International Container Terminal (JICT) memiliki makna yang melampaui sebuah penanda fisik. Nama tersebut menjadi pengingat atas keberanian, ketekunan, dan tanggung jawab yang pernah ditunjukkan dalam perjalanan pengembangan kontainerisasi pelabuhan Indonesia. Di tengah perubahan teknologi, tuntutan efisiensi, serta dinamika perdagangan global, nilai-nilai itu tetap relevan sebagai landasan bagi insan pelabuhan dalam menjalankan perannya.

Komisaris Utama JICT, WS Wiryawan, memandang penghormatan tersebut bukan sekadar upaya mengenang masa lalu. Menurutnya, pengabadian nama Capt. Naamin diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya untuk memahami bahwa kemajuan pelabuhan lahir dari keberanian mengambil langkah awal, kesediaan memikul amanah, dan komitmen menghadirkan perubahan. Warisan itu tidak berhenti pada sejarah, tetapi dapat diteruskan melalui tindakan nyata sesuai tantangan dan kebutuhan setiap zaman.

Harapan tersebut juga mencakup lahirnya capt. Naamin-capt. Naamin baru, yaitu para insan pelabuhan yang berani memulai, mampu menjaga kepercayaan, serta memiliki keteguhan untuk membawa pembaruan. Mereka diharapkan tidak hanya menguasai aspek teknis dan operasional, tetapi juga memahami pentingnya integritas, kolaborasi, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Dengan demikian, nilai kepelabuhanan dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar pengabdiannya.

Bagi keluarga, penghormatan itu memiliki arti emosional dan historis yang mendalam. Mieke Naamin, istri mendiang Capt. Nazahar Naamin, menyampaikan terima kasih kepada JICT karena tetap mengingat pengabdian suaminya. Nama yang tercantum pada gedung tersebut menjadi lambang pengakuan bahwa kerja keras dan dedikasi Capt. Naamin masih diingat serta memiliki arti bagi generasi masa kini. Melalui penghormatan itu, jejak pengabdiannya tetap hadir sebagai teladan bagi mereka yang melanjutkan perjalanan sektor pelabuhan Indonesia.