Medan | Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mendorong lulusan sarjana dan magister untuk mempelajari serta menguasai potensi perdagangan karbon. Ajakan tersebut disampaikan dalam prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) periode 2026 di Medan, Sumatera Utara, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Pesan itu ditujukan kepada para lulusan agar memperluas wawasan dan mempertimbangkan peluang yang berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan.
Dalam acara tersebut, Jumhur menempatkan perdagangan karbon sebagai bidang yang patut dipahami generasi terdidik. Pemahaman yang memadai dapat membantu lulusan melihat hubungan upaya pengendalian emisi, perlindungan lingkungan, dan kegiatan ekonomi. Karena itu, penguasaan pengetahuan mengenai mekanisme serta potensi pasar karbon dinilai relevan bagi mereka yang ingin berkontribusi dalam beragam sektor, baik melalui pekerjaan profesional maupun pengembangan gagasan dan usaha.
Ajakan untuk mendalami bidang ini juga menjadi dorongan agar lulusan tidak hanya mengandalkan bekal akademik dari program studi masing-masing. Perkembangan kebijakan dan praktik yang berkaitan dengan lingkungan dapat membuka kebutuhan akan sumber daya manusia dengan pengetahuan lintas disiplin. Lulusan S1 dan S2, dengan bekal keilmuan serta kemampuan belajar, dapat mengikuti perkembangan tersebut dan mengenali ruang kontribusi yang sesuai dengan keahlian mereka. Sikap terbuka terhadap bidang baru menjadi salah satu cara untuk merespons perubahan kebutuhan dunia kerja.
Prosesi wisuda itu turut dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad, Rektor UMSU Akrim Lubis, serta Kepala LLDikti Wilayah I Sumatera Utara Saiful Anwar Matondang. Kehadiran para pimpinan tersebut menandai pentingnya momentum wisuda bagi perguruan tinggi dan para lulusan. Dalam konteks itu, pesan Jumhur memperluas makna perayaan akademik: selain merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan, para wisudawan juga diajak menyiapkan diri menghadapi peluang dan tantangan baru.
Dengan mengenali potensi perdagangan karbon sejak dini, lulusan dapat membangun pemahaman yang lebih baik tentang keterkaitan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan. Bekal tersebut diharapkan mendorong mereka untuk terus mencari informasi, meningkatkan kompetensi, dan menilai peluang secara cermat. Pesan yang disampaikan di hadapan wisudawan UMSU itu sekaligus mengingatkan bahwa pengetahuan baru dapat menjadi modal penting untuk mengambil bagian dalam perubahan yang sedang berlangsung.
Jumhur Hidayat menilai persoalan lingkungan telah menjadi perhatian bersama, bukan lagi isu yang hanya dibahas oleh kelompok pemerhati alam. Kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan tumbuh di berbagai lapisan, mulai dari individu dan komunitas hingga pemerintah dan negara. Perhatian tersebut juga mendorong kebutuhan untuk memulihkan lingkungan yang telah terdampak oleh aktivitas manusia. Upaya pemulihan, menurut pandangan ini, perlu berjalan seiring dengan perubahan cara masyarakat dan industri menggunakan sumber daya alam.
Dalam menjelaskan urgensi persoalan tersebut, Jumhur mengaitkannya dengan peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas ini menahan panas dan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi. Dampaknya tidak terbatas pada perubahan temperatur, tetapi juga mencakup kenaikan permukaan laut serta perubahan pola iklim. Rangkaian perubahan tersebut dapat mengganggu kegiatan ekonomi, terutama sektor yang sangat bergantung pada kondisi alam. Pertanian, misalnya, menghadapi risiko ketika musim bergeser, cuaca menjadi kurang menentu, atau ketersediaan air berubah.
Emisi karbon dioksida (CO2) dari aktivitas manusia dan kegiatan industri menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan iklim. Pembakaran bahan bakar dan proses produksi dapat melepaskan emisi yang menambah konsentrasi gas rumah kaca. Karena itu, berbagai pihak di dunia meminta agar emisi gas rumah kaca ditekan. Pengurangan emisi dipandang sebagai langkah penting untuk membatasi dampak perubahan iklim, sekaligus mengurangi tekanan terhadap masyarakat dan sektor ekonomi yang rentan terhadap gangguan lingkungan.
Pemahaman mengenai dampak industri dan penebangan hutan juga telah berkembang. Jika sebelumnya aktivitas tersebut kerap dinilai terutama dari hasil produksi atau manfaat ekonominya, kini perhatian turut diarahkan pada konsekuensi ekologisnya. Emisi, pencemaran, peningkatan gas rumah kaca, kerusakan lapisan ozon, dan bertambahnya paparan sinar ultraviolet menjadi bagian dari diskusi publik tentang lingkungan. Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa keputusan ekonomi dan pengelolaan alam memiliki kaitan dengan kualitas lingkungan dalam jangka panjang. Dengan memahami hubungan tersebut, masyarakat dapat melihat perlunya langkah pemulihan dan pengendalian dampak, bukan sekadar menanggapi kerusakan setelah terjadi.
Jumhur Hidayat mengajak para lulusan UMSU melihat upaya pemulihan lingkungan bukan hanya sebagai kewajiban ekologis, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun kegiatan ekonomi. Menurut gagasan yang ia sampaikan, kesepakatan untuk merestorasi hutan dan kawasan pesisir dapat membuka nilai ekonomi baru, selama manfaat lingkungan tersebut dapat diukur dan dikelola secara tepat. Pendekatan ini menghubungkan perlindungan alam dengan kemungkinan terciptanya sumber pendapatan yang mendukung keberlanjutan kawasan.
Ia mencontohkan perdagangan oksigen dan karbon sebagai peluang yang dahulu mungkin tidak banyak dibayangkan. Hutan dan mangrove menyerap karbon serta menghasilkan manfaat ekologis, sehingga kawasan-kawasan tersebut berpotensi memiliki nilai dalam mekanisme perdagangan karbon. Indonesia, dengan bentang hutan dan pesisir mangrove yang luas, memiliki modal alam yang dapat dipertimbangkan dalam pembahasan tersebut. Jumhur juga menyebut kawasan mangrove di Deli Serdang sebagai contoh potensi lokal yang dapat dikembangkan, apabila perlindungan, pengukuran, dan tata kelolanya dilakukan secara memadai.
Untuk menggambarkan kemungkinan nilai ekonominya, Jumhur mengilustrasikan bahwa oksigen yang dihasilkan kawasan mangrove atau hutan di Deli Serdang bisa dibeli oleh Microsoft di Amerika Serikat. Ia menyebut nilai dari peluang semacam itu dapat mencapai jutaan dolar AS. Pernyataan tersebut merupakan ilustrasi mengenai skala potensi yang ia lihat, bukan kepastian bahwa transaksi tertentu telah terjadi atau bahwa setiap kawasan otomatis memperoleh nilai sebesar itu. Nilai perdagangan karbon memiliki perhitungan tersendiri, dengan aspek seperti jumlah karbon yang diserap, metode pengukuran, verifikasi, dan ketentuan pasar yang perlu diperhatikan. Karena itu, peluang tersebut perlu dipelajari secara serius sebelum dijadikan dasar perencanaan. Lulusan dapat mendalami prinsip ekonomi karbon, mekanisme kredit karbon, serta cara memastikan manfaatnya bagi lingkungan dan masyarakat setempat. Pemahaman yang cermat dibutuhkan agar restorasi tidak sekadar menghasilkan klaim ekonomi, tetapi benar-benar menjaga ekosistem sekaligus memberi manfaat jangka panjang. Dengan demikian, gagasan Jumhur menempatkan pemulihan alam dan peluang usaha dalam satu pembahasan, tanpa mengabaikan kebutuhan akan data, pengawasan, dan aturan yang jelas.Jumhur Hidayat mendorong lulusan UMSU untuk memandang perdagangan karbon bukan hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai bidang yang perlu dikaji dari sisi ekonomi. Menurutnya, pembahasan mengenai nilai sumber daya alam sebaiknya mencakup pula keanekaragaman hayati. Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dan dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Jika biodiversitas darat dan laut diperhitungkan bersama, Jumhur menyebut gabungan kekayaan Indonesia itu sebagai yang terbesar di dunia.
Meski potensinya luas, ia menilai belum tersedia mekanisme kredit atau penetapan nilai ekonomi biodiversitas seperti yang ia bicarakan. Ketiadaan tata cara yang jelas membuat manfaat ekonomi dari kekayaan hayati belum dapat dihitung dan disalurkan secara terstruktur. Karena itu, kajian mengenai cara memberi nilai pada biodiversitas dinilai penting, termasuk untuk memahami hubungan pelestarian alam, pemanfaatan sumber daya, dan peluang ekonomi bagi masyarakat serta wilayah asalnya. Pendekatan tersebut juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan agar pemanfaatan tidak mengurangi kekayaan alam yang menjadi dasar nilai tersebut.
Jumhur mengaitkan peluang itu dengan temuan dan kegiatan di negara-negara industri.
Baca juga: Cak Imin Minta Pembinaan Sekolah Rakyat Disesuaikan dengan Potensi Siswa | Peta Potensi Hujan dan Cuaca Ekstrem di Indonesia: Wilayah yang Perlu Diwaspadai | Stimulus Pemerintah Pangkas Tarif Penerbangan Ekonomi pada Libur Nataru 2026–2027



































