Kampung Mrican Ditata Ulang, Warga dan Pemerintah Hadirkan Nilai Tambah

oleh -508 Dilihat
oleh
Kampung Mrican Ditata Ulang, Warga dan Pemerintah Hadirkan Nilai Tambah

Kabupaten Sleman | Revitalisasi kawasan kumuh tidak semata-mata berkaitan dengan memperbaiki kondisi fisik lingkungan. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti memandang penataan kampung sebagai kesempatan untuk menjadikan kawasan lebih bermanfaat dan memiliki nilai tambah bagi warga. Perubahan yang dirancang dengan baik dapat memperkuat fungsi kampung, meningkatkan kenyamanan lingkungan, serta membuka peluang agar potensi setempat berkembang.

Dalam upaya tersebut, kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi unsur penting. Pemerintah dapat mendukung melalui perencanaan, penyediaan infrastruktur, dan pelaksanaan program penataan. Sementara itu, warga memahami kebutuhan sehari-hari, kebiasaan, serta karakter kawasan tempat mereka tinggal. Pengetahuan warga tersebut perlu menjadi bagian dari proses, bukan hanya dipertimbangkan setelah rancangan dibuat. Dengan keterlibatan bersama, penanganan yang dilakukan diharapkan lebih sesuai dengan kondisi nyata dan dapat dipelihara setelah pekerjaan selesai.

Diana juga menekankan perlunya kreativitas dalam merancang penanganan kawasan. Setiap kampung memiliki persoalan dan potensi yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan tidak harus seragam. Perencanaan dapat mencari cara agar ruang dan fasilitas yang tersedia memberi manfaat lebih luas, sekaligus tetap menanggapi kebutuhan lingkungan. Kreativitas di sini bukan sekadar memperindah tampilan, melainkan menyusun solusi yang relevan, bermanfaat, dan dapat diterapkan bersama. Proses yang terbuka terhadap gagasan warga juga membantu memastikan bahwa hasil penataan terasa sebagai bagian dari kehidupan kampung.

Pandangan tersebut disampaikan Diana dalam konferensi pers di sela-sela World Conference on Creative Economy di Jakarta pada Jumat. Konteks ini menempatkan kreativitas sebagai salah satu pendekatan dalam pembangunan kawasan, dengan kerja sama sebagai landasan pelaksanaannya. Revitalisasi yang melibatkan pemerintah dan masyarakat dapat mendorong kampung menjadi lingkungan yang lebih tertata sekaligus produktif. Nilai tambah yang dihasilkan bukan hanya terlihat pada perubahan fisik, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan warga dan kemampuan kawasan untuk mendukung aktivitas mereka. Karena itu, penataan perlu memperhatikan kebutuhan setempat, mengembangkan potensi yang ada, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk turut menentukan arah perubahan.

Kampung Mrican di Yogyakarta menjadi contoh kawasan yang pernah menghadapi persoalan lingkungan dan dikenal sebagai kampung kumuh. Penataan ulang di kawasan ini tidak semata-mata berangkat dari rancangan yang ditentukan dari luar, tetapi dimulai dengan memahami keadaan serta kebutuhan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Warga diajak menyampaikan hal-hal yang mereka perlukan dan perubahan yang mereka inginkan bagi lingkungan tempat tinggal mereka. Langkah awal tersebut memberi ruang bagi pengalaman sehari-hari warga untuk menjadi bahan pertimbangan dalam proses penataan.

Pendekatan ini juga melibatkan pemerintah, yang memberikan arahan mengenai kondisi kampung yang ingin diwujudkan. Dengan demikian, prosesnya menghubungkan aspirasi warga dengan gambaran penataan yang disampaikan pemerintah. Warga dapat menjelaskan persoalan yang mereka hadapi, sementara pemerintah membantu memberi arah tentang tujuan yang hendak dicapai. Peran kedua pihak menjadi bagian penting dalam menentukan dasar pembenahan, tanpa mengabaikan suara masyarakat yang akan merasakan dampaknya secara langsung. Kampung Mrican memperlihatkan bahwa penataan kawasan dapat diawali melalui dialog, bukan hanya melalui keputusan sepihak.

Diana menyampaikan beberapa kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam pembenahan Kampung Mrican, yaitu jalan, pengelolaan sampah, dan penyediaan air. Ketiga hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan dasar warga dan kondisi lingkungan kampung. Penyebutan kebutuhan itu menjadi masukan untuk memahami aspek yang dianggap penting oleh masyarakat, bukan alasan untuk menambahkan rincian teknis yang belum tersedia. Dengan mendengarkan kebutuhan yang disampaikan, proses penataan memiliki pijakan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Karena itu, pengalaman Kampung Mrican menegaskan pentingnya mengidentifikasi prioritas bersama sejak awal. Aspirasi warga dan arahan pemerintah dapat saling melengkapi ketika keduanya dipertemukan dalam proses pembenahan kawasan. Hasilnya diharapkan selaras dengan kebutuhan yang nyata serta tujuan penataan yang telah dibicarakan bersama.

Diana menggambarkan penataan Kampung Mrican melalui perubahan yang terlihat pada lingkungan sehari-hari. Sungai ditata, jalan menjadi lebih rapi, dan pengelolaan sampah dilakukan melalui tempat pengolahan sampah terpadu. Ketiga hal tersebut menjadi bagian dari upaya membenahi kawasan kampung, sekaligus menunjukkan bahwa penataan tidak hanya menyangkut satu titik. Lingkungan yang lebih tertata dapat membantu warga menjalankan kegiatan harian di ruang kampung dengan kondisi yang lebih teratur.

Pengelolaan sampah melalui fasilitas terpadu juga memberi kerangka bagi warga untuk menangani sampah secara lebih terarah. Keterangan Diana menempatkan fasilitas ini sebagai salah satu hasil penataan, tanpa merinci jenis pengolahan maupun besaran sampah yang dikelola. Demikian pula, penataan sungai dan jalan disebut sebagai perubahan lingkungan yang telah dilakukan, bukan sebagai ukuran dampak tertentu. Dengan demikian, gambaran yang muncul berfokus pada perbaikan fisik dan pengelolaan kawasan yang dapat diamati.

Di samping perubahan lingkungan, Diana menyebut perempuan di kampung tersebut telah menghasilkan produk kreatif yang dapat dijual. Kegiatan ini memperlihatkan adanya ruang bagi warga untuk mengembangkan hasil karya menjadi barang yang memiliki nilai jual. Uraian tersebut tidak menyebut jenis produk, jumlah produksi, maupun nilai pendapatan, sehingga peluang kegiatan warga dapat dipahami sesuai keterangan yang tersedia. Perempuan menjadi bagian dari aktivitas kampung yang tidak terbatas pada urusan lingkungan, tetapi juga mencakup kreativitas dan kegiatan produktif.

Diana juga menyinggung adanya kegiatan perdagangan dan pendidikan di Kampung Mrican. Keduanya merupakan unsur kegiatan warga yang hadir bersama perubahan lingkungan dan produksi kreatif. Keterangan itu memberi gambaran bahwa kampung memiliki beragam aktivitas, tanpa menyatakan seberapa besar perdagangan berlangsung atau capaian pendidikan yang telah diraih. Secara keseluruhan, hasil penataan yang ia sampaikan mencakup sungai, jalan, dan pengelolaan sampah, sementara kehidupan warga juga diwarnai produk kreatif perempuan, perdagangan, serta pendidikan. Uraian ini menampilkan perubahan dan peluang kegiatan secara proporsional, berdasarkan hal-hal yang disebutkan Diana.Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengapresiasi penataan terpadu Kampung Mrican, Condongcatur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan seluas kurang lebih lima hektare itu telah mengalami perubahan berarti: dari lingkungan padat dan kumuh menjadi kawasan yang lebih tertata, sehat, serta nyaman bagi warga. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa penataan kampung dapat menghadirkan manfaat nyata ketika kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan dipertimbangkan bersama.

Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian adalah konsep 3M, yakni mundur, munggah atau naik, dan madhep kali atau menghadap sungai. Melalui prinsip ini, rumah-rumah warga ditata dengan jarak yang lebih baik dari aliran sungai, sebagian bangunan dinaikkan, dan orientasi hunian diarahkan ke sungai. Pola tersebut mengubah kebiasaan lama ketika rumah membelakangi air. Sungai yang sebelumnya berada di sisi belakang permukiman kini menjadi bagian yang terlihat dan diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Penataan ini juga mendorong hubungan yang lebih baik ruang hunian dan lingkungan sekitarnya.

Menurut AHY, perubahan orientasi tersebut tidak sekadar memperbaiki tampilan kampung. Penataan dapat meningkatkan estetika kawasan sekaligus membantu sirkulasi udara di bangunan. Pengaturan ruang dan posisi rumah juga dinilai berkontribusi dalam mengurangi risiko banjir, meskipun upaya pengelolaan sungai dan lingkungan tetap diperlukan. Selain itu, tersedianya ruang terbuka yang lebih baik memberi warga tempat untuk beraktivitas dan berinteraksi. Manfaat ini terutama penting bagi anak-anak, yang membutuhkan ruang aman dan nyaman untuk bermain serta tumbuh di lingkungan tempat tinggalnya.

Apresiasi terhadap Kampung Mrican menegaskan bahwa penataan kawasan tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik semata.

Baca juga: Hangatnya Api Unggun, Hangat pula Persaudaraan Satgas TMMD ke 130 Kodim Mansel dengan Warga Kampung Yamboi | Satgas TMMD ke-130 Kodim 1808/Mansel, Sosialisasikan Bahaya Karhutla Kepada Warga Kampung Yamboi | Pantang Pulang Sebelum Gelap, Satgas TMMD ke-130 Bersama Warga Kampung Yamboi Terus Berjibaku Membangun Jalan