Jakarta | Kampung Somang berada di Kabupaten Lebak, Banten, dan menjadi salah satu permukiman yang masuk ke dalam area genangan Bendungan Karian. Sebelum pembangunan bendungan, kampung ini merupakan tempat tinggal warga yang menjalani kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut. Ketika proyek bendungan dilaksanakan, wilayah Somang termasuk lahan yang harus dikosongkan dan kemudian ditenggelamkan untuk membentuk waduk. Karena itu, saat permukaan air surut, jejak kampung yang biasanya berada di bawah genangan dapat kembali terlihat. Kemunculan itu mengingatkan bahwa ruang tampung bendungan dahulu merupakan bagian dari lingkungan dan permukiman masyarakat.
Pembangunan Bendungan Karian mulai dilakukan pada 2015. Infrastruktur ini dirancang sebagai bendungan besar dengan kapasitas tampung sekitar 315 juta meter kubik dan luas genangan mencapai 1.773 hektare. Skala tersebut menunjukkan perubahan bentang alam yang luas, dari wilayah yang sebelumnya terdiri atas kampung, lahan, dan kawasan sekitar menjadi waduk. Pengadaan lahan dan pengosongan permukiman menjadi bagian penting dari proses pembangunan, sebab area yang dibutuhkan untuk menampung air mencakup sejumlah kampung. Somang merupakan salah satu nama yang kemudian melekat pada kisah perubahan tersebut.
Bendungan Karian dibangun untuk mendukung kebutuhan air masyarakat dan kegiatan di wilayah yang lebih luas. Pasokan airnya diharapkan memberi manfaat bagi sejumlah daerah di Provinsi Banten, DKI Jakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat. Ketersediaan tampungan dapat membantu memenuhi kebutuhan air baku bagi rumah tangga maupun berbagai kegiatan perkotaan dan ekonomi. Bendungan juga berperan dalam pengelolaan sumber daya air, termasuk menyimpan air untuk digunakan sesuai kebutuhan. Manfaat bagi wilayah penerima ini hadir berdampingan dengan perubahan besar yang dialami masyarakat di lokasi pembangunan.
Somang bukan satu-satunya kampung yang terdampak pembangunan Bendungan Karian. Kampung Karian, Susukan, dan Cibolang juga termasuk permukiman yang ditenggelamkan setelah area tersebut dijadikan bagian dari genangan waduk. Dengan demikian, surutnya air bukan sekadar memperlihatkan sisa bangunan atau bentang lama, tetapi juga membuka kembali perhatian terhadap tempat-tempat yang pernah dihuni warga. Penyebutan kampung-kampung tersebut membantu menjelaskan cakupan dampak proyek, sekaligus memberi konteks bagi perubahan yang terlihat ketika permukaan air bendungan menyusut.
Kronologi perubahan kawasan yang kini dikenal sebagai lokasi Bendungan Karian dapat ditelusuri dari informasi mengenai kampung-kampung yang berada di area tersebut. Pada 2017, sejumlah kampung telah masuk dalam wilayah yang dialihfungsikan menjadi bendungan. Keterangan ini menandai perubahan fungsi kawasan: tempat yang sebelumnya dikenal sebagai kampung kemudian tercakup dalam area bendungan. Informasi yang tersedia tidak merinci tahapan perubahan itu, sehingga kronologi pada periode tersebut terbatas pada keterangan bahwa kampung-kampung itu telah berada di area yang dialihfungsikan.
Peristiwa berikutnya yang disebut dalam urutan waktu adalah peresmian Bendungan Karian pada 2024. Bendungan tersebut diresmikan oleh Joko Widodo, yang pada saat itu disebut sebagai presiden ke-7 Indonesia. Dengan peresmian tersebut, kawasan yang pada 2017 telah dicatat sebagai area alih fungsi hadir dalam konteks sebuah bendungan yang telah diresmikan. Keterangan ini memberikan penanda waktu yang jelas informasi tentang kampung-kampung di area bendungan dan peresmian Bendungan Karian, tanpa menjelaskan proses pembangunan di kedua waktu itu.
Ketika air bendungan menyusut, Kampung Somang kembali terlihat, sebagaimana tergambar dalam konteks pemberitaan mengenai kawasan tersebut. Kemunculan kembali itu menghubungkan keadaan bendungan saat ini dengan riwayat perubahan fungsi wilayah yang telah disebut sebelumnya. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebutkan kapan tepatnya air mulai menyusut, berapa lama kampung terlihat, ataupun rincian mengenai kondisi kawasan pada saat itu. Karena itu, kronologi yang dapat disampaikan secara terbatas mencakup tiga penanda: sejumlah kampung telah masuk dalam area yang dialihfungsikan pada 2017, Bendungan Karian diresmikan pada 2024 oleh Joko Widodo, dan Kampung Somang kembali terlihat saat air bendungan menyusut. Urutan tersebut membantu menempatkan kemunculan kawasan dalam rentang waktu yang diketahui, tanpa menambahkan rincian yang tidak tercantum dalam bahan sumber.
Pada Desember 2024, Kampung Somang mulai tenggelam seiring meningkatnya intensitas hujan. Perubahan itu berlangsung ketika curah hujan makin tinggi, sehingga air di kawasan tersebut bertambah dan mulai menutupi kampung. Wilayah Kampung Somang disebut memiliki luas sekitar 5 kilometer persegi. Dengan demikian, yang terdampak bukan hanya satu titik kecil, melainkan kawasan kampung yang cukup luas. Peristiwa ini menjadi perhatian karena kampung yang sebelumnya tampak di daratan perlahan terendam saat kondisi hujan semakin intens.
Kaitan utama tenggelamnya Kampung Somang dan Bendungan Karian terletak pada posisi kampung tersebut sebagai lokasi penampungan air bendungan. Karena berada di kawasan yang digunakan untuk menampung air, kampung itu ikut terdampak ketika hujan meningkat dan air bertambah. Hubungan sebab-akibat yang tercatat dalam peristiwa ini jelas: intensitas hujan yang meningkat mendahului naiknya air, sementara posisi Kampung Somang di area penampungan membuatnya mulai tenggelam. Perubahan tersebut bukan digambarkan sebagai peristiwa yang terpisah dari fungsi kawasan bendungan.
Waktu kejadian juga penting untuk memahami perubahan yang terlihat. Pada Desember 2024, seiring intensitas hujan yang meningkat, kawasan Kampung Somang mulai tenggelam karena berada di lokasi penampungan air Bendungan Karian. Keterangan ini menjelaskan mengapa kampung tersebut dapat terendam, sekaligus mempertahankan urutan peristiwa sebagaimana disebutkan: hujan semakin intens, kemudian air menutupi kawasan kampung. Luas yang disebut mencapai 5 kilometer persegi memberi gambaran tentang cakupan wilayah, tanpa mengubah hubungan hujan, fungsi penampungan, dan kondisi kampung. Peristiwa itu menunjukkan bahwa perubahan air di sekitar bendungan berkaitan langsung dengan keadaan permukiman yang berada di area tampung. Saat hujan meningkat pada periode tersebut, Kampung Somang mulai tenggelam dalam konteks fungsinya sebagai bagian dari lokasi penampungan air Bendungan Karian.
Pada Juli 2026, permukaan air Bendungan Karian mulai menyusut seiring berlangsungnya musim kemarau. Penurunan tersebut perlahan mengubah pemandangan di sekitar waduk: bagian yang sebelumnya tertutup air mulai terbuka, dan jejak Kampung Somang kembali terlihat. Garis air yang mundur menyingkap tepian serta bidang tanah yang lama berada di bawah genangan. Dari kejauhan, kawasan itu tampak muncul bertahap, mengikuti perubahan tinggi muka air. Rumah dan bagian kampung yang dahulu terendam menjadi penanda bahwa wilayah tersebut pernah dihuni sebelum kawasan bendungan terbentuk. Pada tahap ini, kemunculannya berlangsung seiring surutnya air, sementara permukaan yang terbuka masih memperlihatkan bekas genangan dan kondisi tanah yang lembap di sejumlah bagian.
Perubahan berlanjut hingga Oktober 2026, ketika kekeringan panjang yang dipicu El NiƱo membuat kawasan bekas kampung benar-benar muncul ke permukaan. Air yang terus menyusut membuka hamparan tanah lebih luas dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Bagian-bagian yang semula masih berada di bawah permukaan kini terlihat jelas, termasuk lahan di sekitar lokasi permukiman lama. Tanah di kawasan itu tampak retak-retak, membentuk pola garis yang menyebar pada permukaan kering. Pemandangan tersebut memperlihatkan kontras dengan kondisi ketika kampung tertutup air: tepian waduk menjauh, sedangkan area yang sebelumnya tergenang kini menjadi bagian dari lanskap terbuka. Perubahan ini berlangsung dalam rentang beberapa bulan, dari tanda-tanda awal pada Juli hingga kemunculan kawasan secara menyeluruh pada Oktober.
Kampung Somang yang sempat terendam kini terlihat kembali di tengah bentang bekas dasar waduk. Sisa-sisa kawasan permukiman dan tanah di sekelilingnya membentuk pemandangan berbeda dari saat air bendungan berada lebih tinggi.
Baca juga: Saat Air Bendungan Karian Surut, Permukiman Lama Kembali Terlihat | Lanjutkan Pembangunan MCK Warga Kampung Yamboi Gunung : Progres Capai 50 Persen | Kebakaran TPA Supit Urang Hanguskan 15,5 Hektare, Asap Masih Terlihat



































